" Ma... Mama... " Teriak Papa Mahendra saat pintu rumah mewah itu terbuka.
" Maaf Tuan, nyonya sedang pergi " jawab salah satu asisten rumah tangga nya.
" Dara sudah pulang Bi "
" Belum Tuan "
Papa Mahendra memang sudah mendengar kabar dari Bastian bahwa Bryan sudah ditemukan. Itu sebabnya setelah meeting di kantor selesai Mahendra buru buru pulang kerumah untuk mengetahui keadaan putra nya. Belum sempat Papa Mahendra melangkah menaiki tangga, terdengar suara mobil di luar sana.
" Om, " panggil Bastian
Mahendra menoleh dan mendapati Bastian di susul menantu dan ketiga sahabat dari menantu nya itu. Mata Mahendra menyipit saat mengetahui wajah sembab gadis gadis di depan nya. Dan bukankah tadi mereka menemui Bryan. lalu kenapa putra nya itu tidak ikut pulang bersama. Apa yang terjadi dengan putra nya.
" Dara, apa yang terjadi Nak " lirih Mahendra yang begitu khawatir dengan menantu nya itu. Bukan hanya sebagai menantu, tetapi Dara adalah Putri dari sahabat Almarhumah Mama Bryan.
" Bryan tidak mengenal Dara Om " jelas Yola
" Apa ? Apa maksud mu nak " Mahendra nampak tidak percaya dengan ucapan sahabat dari menantu nya itu.
" Benar Om, seperti nya kecelakaan itu telah membuat Bryan kehilangan ingatan nya. Bahkan Bryan tidak ingat dengan kami semua" kini Bastian yang menjelaskan.
" Bryan Amnesia .. " Papa Mahendra reflek menutup mulut nya tidak percaya.
" Bastian, besok kita pergi ke desa itu. Ajak beberapa orang kepercayaan kita. " ucap Papa Mahendra dengan tegas.
" Biarkan Papa dan Kak Bastian besok pergi, kamu dirumah dulu nak, Dara pasti capek dan butuh istirahat. Papa dan Kak Bastian yang akan mencari tahu apa yang sebenar nya terjadi. " ucap Mahendra lembut pada menantu nya itu.
Kemudian menatap sahabat Dara. " Antar Dara ke kamar ya nak. Om, berterima kasih sekali Yola, Cici dan Loly sudah menemani Dara. Setelah Dara tenang di kamar nya. Kalian bisa pulang nak "
" Iya Om "
Mereka berempat naik ke atas menuju ke kamar Dara dan membersihkan diri. Sedangkan Bastian kini berada di ruang kerja Mahendra untuk membicarakan masalah Bryan yang kemungkinan besar mereka yakini Amnesia sejak kecelakaan tragis itu.
Dikamar Dara, Keempat gadis itu sudah selesai dengan urusan mandi nya. Yola menghampiri Dara yang sedang berdiri di balkon kamar nya menikmati udara sore hari yang cukup dingin.
" Ra, " panggil Yola. Dara yang membelakangi Yola itu nampak tidak menjawab. Yola menghampiri Dara dan berdiri tepat di sebelah Dara.
" Ra, udara di luar dingin. Angin nya nggak baik buat kesehatan. Kita masuk ya. Kamu harus makan dulu. Cici sama Loly lagi ambil makanan buat kamu ". Dara diam dan hanya menggelengkan kepala nya.
Yola menghela nafas panjang. Dia tahu bagaimana yang dirasakan sahabat nya saat ini. Tangan nya terangkat untuk memegang pundak Dara, Dara membalikan badan nya. Yola Melihat dengan jelas air mata yang sudah membasahi wajah sahabat nya itu. Dipeluk nya sahabat nya itu berharap lebih tenang.
Tak lama kemudian Loly dan Cici datang membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Dara.
" Ra, makan dulu ya. Kamu harus makan, kalau enggak makan nanti kamu sakit " ucap Cici sahabat yang paling lembut dan pengertian itu.
" Kalau nanti kamu sakit, Bagaimana kamu bisa merebut Bryan kembali, emang kamu mau Bryan diambil pelakor itu " ketus Loly kemudian dan mendapat hadiah toyoran di keningnya dari Yola.
" Aduh sakit bege ". gerutu Loly mengelus kening nya.
Diantara ketiga nya memang Loly dan Yola yang kalau bicara suka ceplas ceplos.
Tak disangka, tingkah konyol sahabat nya itu malah bikin Dara tersenyum walaupun hanya tipis.
" Ra, kamu istirahat ya, kita mau pulang dulu. Besok pagi kita bertiga harus ke kampus. setelah pulang dari kampus kita kesini lagi ya. Jangan sedih, kita selalu ada buat kamu " ucap Loly sebelum ketiga nya keluar dari kamar Dara. Dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Dara. Detik kemudian ketiga nya memeluk Dara.
Setelah kejadian kecelakaan yang menimpa suami nya itu, Dara memang izin tidak berangkat ke kampus untuk sementara waktu. Tentu lah dosen di kampus nya mengizinkan. karena kampus mewah dan megah itu adalah milik keluarga Pradana.
Saat menuruni tangga, di ruang makan terlihat Papa Mahendra, Melinda dan Alex sedang melakukan makan malam.
" Kalian belum pulang, ayo makan malam sekalian." Ajak Papa Mahendra kepada ketiga gadis itu.
" Terima Kasih Om, Tapi kami langsung pulang saja, " Jawab Cici dengan sopan.
" Sudahlah jangan sungkan. Duduklah, kita makan bersama. "
Akhir nya mereka mendudukan diri di meja makan. meskipun agak canggung, tapi mereka tidak bisa menolak ajakan papa mertua dari sahabat nya itu.
" Bagaimana Dara, dia sudah makan." ucap Papa Mahendra sambil mengelap sudut bibir nya dengan tisu.
" Dara sudah makan tapi dikit om, sekarang lagi istirahat om ." jawab Loly
Papa Mahendra tampak mengangguk. Kini Mahendra beralih menatap Alex serius. " Besok Papa dan Bastian akan pergi Lex. Kamu urus kantor ya."
" Memang nya Papa mau kemana? " Jawab Alex masih dengan mengunyah makanan nya.
" Papa mau menemui Bryan "
Uhukk... uhukk....
Alex tersedak karena terkejut dengan ucapan Papa nya. memang hanya Alex yang belum mengetahui kalau Bryan sudah ditemukan.
" Minum dulu kak " Yola menyodorkan minuman untuk Alex
" Makasih "
" Shitt , Bryan sudah ditemukan." Umpat Bryan tentunya dalam hati. Tak lama kemudian Alex bangkit dari duduk nya dan meninggalkan ruang makan tanpa sepatah kata pun. Alex menaiki tangga dengan perasaan kesal.
" Kebiasaan anak itu, main pergi begitu saja. " kesal papa Mahendra pada putra sambung nya itu.
Yola, Loly dan Cici yang sudah selesai makan pun kini berpamitan pulang karena hari memang semakin malam.
" Papa kenapa sich, tidak mempercayakan saja perusahaan pada Alex. Mama yakin Alex bisa kok. Apa yang harus kita tunggu dari Bryan. Bryan itu sedang hilang ingatan. Dan ntah sampai kapan kita juga tidak akan tahu." Istri Dari Mahendra itu kini bersuara.
" Tunggu, bagaimana mama tau Bryan hilang ingatan, sedangkan mama aja baru pulang dari acara arisan mama yang nggak jelas itu. " tanya Mahendra penuh selidik.
" Tadi sebelum mama berangkat kan mama udah tau dari pria tua yang datang kemari memberikan kabar bahwa Bryan sudah ketemu. " Detik kemudian Melinda mengalihkan pembicaraan.
" Jadi gimana? papa mau kan memberikan posisi CEO itu untuk Alex. "
" Cukup ya Ma, " bentak Mahendra, lalu bangkit dari duduk nya dan lebih memilih masuk ke ruang kerja nya.
Seperti nya Melinda lupa. Mahendra adalah laki laki tegas. Setiap ucapan dan keputusan tidak ada yang bisa membantahnya.
...****...
" Shitt... " lagi lagi Alex mengumpat di dalam kamar nya. Tangan nya mengepal sempurna. Sorot mata Alex terlihat penuh amarah. Berulang kali pria itu mengacak acak rambut nya nampak frustasi. Sejak kecelakaan naas yang menimpa saudara tirinya itu seakan terbuka jalan untuk nya mendekati Dara dan mengambil hati Papa Mahendra agar diri nya bisa dipercaya menjadi CEO di perusahaan Pradana Group. Namun berita Bahwa Bryan sudah ditemukan kini membuat kacau pikiran nya. " Arkhhhh.... "
" Alex apa yang terjadi " ucap Melinda yang tiba tiba masuk ke kamar putra nya itu.
Alex diam dan tidak menghiraukan kedatangan mama nya. " Lex, " merasa Alex tidak menjawab kini Melinda kembali memanggil nya.
" Kenapa sich Ma, Bryan harus ditemukan. aku jadi gagal lagi kan mendapatkan posisi CEO itu, dan semakin sulit juga aku mendapatkan hati bidadari ku. " protes Alex pada Mama nya itu.
Bukan nya menjawab Melinda justru menyungging kan senyum nya. " Kamu tenang saja, Bryan amnesia. Bahkan pada istri nya saja dia tidak ingat. Bryan tidak ingat pada siapa pun." terang Melinda dengan senyum jahat nya.
" Mama serius " kini Alex menatap Mama nya. " Jadi Kecelakaan itu membuat Bryan Amnesia. " detik kemudian Alex tertawa. " Yes, ini kesempatan terbaik ."
" Tentu " Ucap Melinda menyunggingkan senyum nya. Menepuk pundak putra nya itu, kemudian pergi meninggalkan kamar putra nya.
Sedangkan di kamar Dara, Gadis itu nampak memandangi foto kebersamaan nya dengan Bryan. Teringat jelas satu minggu yang lalu saat suami nya itu mengucap janji pernikahan.
Kamar pengantin yang masih tercium dengan jelas wangi wangi bunga pernikahan itu, kini Dara tempati seorang diri. Hening, hanya suara isak tangis Dara yang terdengar lirih di malam panjang itu.
" Bryan,, apa yang terjadi. Aku sangat merindukan mu, apa kamu tidak rindu pada ku.. hiks hikss...." Kelelahan menangis kini gadis cantik itu tertidur dengan tangan yang masih memeluk foto Bryan. Pertemuan nya dengan suami nya hari ini memang sangat menguras tenaga dan pikiran Dara.
" Tidak Bryan... Tidak... Bryan.... Ahhhhhhh "
Dara spontan membuka mata nya. Tangan nya meraba raba ke kanan dan ke kiri mencari cari suami nya itu. Dia baru sadar bahwa suami nya itu sedang tidak bersama nya. Dara lalu bangun dan duduk dengan nafas naik turun. terlihat keringat dingin nampak membanjiri wajah cantik nya. Dara nampak menggelengkan kepala nya berulang ulang. Ntah sedang mengigau atau mimpi buruk. yang jelas teriakan nya barusan berhasil membuat Alex yang kebetulan sedang melewati kamar Dara mendengar teriakan itu.
Tok.. Tok... Tok..
" Ra... Dara kamu kenapa... " ucap seseorang di balik pintu. namun tidak ada jawaban dari Dara.
" Ra... buka pintu nya " ucapnya kemudian karena Dara tidak memberi nya jawaban.
Ceklek
" A.. aku nggak apa apa kak, aku hanya mimpi buruk, aku takut Bryan meninggalkan ku selama nya kak, " Isak tangis itu kembali terdengar. Ntah sudah berapa kali dalam sehari ini Dara menangis. Seakan air mata itu tidak ada habis nya.
Tangan Alex terangkat untuk mengusap lembut rambut Dara. " Kamu tenang ya Ra, ada aku disini ".
Deg
Dengan segera Dara menjauh dari Alex. " Maaf ya kak aku masuk lagi. " sungguh sangat tidak baik di saat malam begini berdua dengan kakak ipar nya. Meskipun sebenar nya tidak terjadi apa apa. Dara masuk ke kamar mandi dan membasuh wajah nya. Wajah cantik itu memang terlihat sembab dan layu. Sungguh lelah Dara seharian ini. Dilirik nya jam menunjukan pukul 1 dini hari. Dara kembali naik ke ranjang nya. Ditarik nya selimut tebal itu dan mulai memejamkan kembali matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments