Sudah lebih dari satu jam mereka menunggu, namun seperti nya belum ada jawaban yang mereka temukan. Mahendra menghela nafas kasar, lalu bangkit dari duduk nya. Kaki nya hendak melangkah namun tiba tiba diri nya tercengang saat melihat putra yang ditunggu sedari tadi. Bahkan berhari hari Mahendra rindukan, kini berdiri di depan pintu dengan menggandeng seorang wanita cantik seumuran dengan menantu nya.
Bryan yang biasanya selalu berpakaian rapi, tampil modis dan elegan. Bukan hanya membuat dia tampan tapi selalu mempesona. Namun kini, kaos putih panjang yang nampak agak kebesaran dan celana kolor hitam panjang kini melekat pada tubuh dari putra Mahendra itu. Sungguh seperti pemuda desa pada umum nya. Meskipun wajah tampan itu tak pernah tergantikan. Bryan selalu kelihatan tampan dalam keadaan apapun.
" Ya Allah... ternyata benar, Betapa hancur nya menantu ku kemarin saat melihat kenyataan pahit ini. " Batin Mahendra dalam hati nya. Sungguh baru kali ini Mahendra yang keras dan tegas bisa berubah menjadi serapuh ini saat melihat keadaan putra nya.
" Bryan putra ku " Ucap Mahendra lalu mendekat dan merangkul putra nya
" Maaf anda siapa " Ucap Bryan sambil melepas tangan Mahendra yang melingkar di pundak nya.
Mahendra tak percaya jika putra satu satu nya peninggalan istri nya itu kini tak mengenali nya. Mahendra semakin yakin bahwa putra nya itu amnesia.
Mahendra menatap Bryan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aneh, kalau memang putra nya itu amnesia kenapa dia bisa berada di rumah ini. Mahendra ingat betul, mobil yang dikendarai putra nya saat kecelakaan naas itu nampak hancur. Siapa saja di dalam nya kemungkinan selamat sangatlah kecil. Kalau pun selamat pasti akan mengalami luka yang sangat serius. Tapi ini, putra nya tidak mengalami luka apa pun. Bahkan putra nya dalam keadaan baik baik saja.
Mahendra nampak memijat pelipis nya yang kini berdenyut. Apa yang sebenarnya terjadi ?. Apakah dia bukan Bryan. Tidak mungkin, 20 tahun hidup bersama putra nya Mahendra tidak mungkin lupa.
Ekor Mata Mahendra kemudian melirik gadis yang berdiri di samping putra nya. Bahkan putra nya menggandeng tangan gadis itu. Lalu siapa gadis ini ?.
" Tuan Muda, ini Papa anda " Ucap salah seorang kepercayaan Mahendra. " Apakah Tuan ingat ?"
Bryan nampak diam. Ditatapnya pria paruh baya yang memakai jas di depan nya itu. Rapi dan nampak berwibawa. Sudut mata Bryan kemudian melirik ke arah pemuda seumuran dia yang berdiri di sebelah Mahendra yang tak lain adalah Bastian. Dahi nya nampak berkerut. " Pria ini bukankah yang kemarin datang dengan beberapa gadis itu, dan salah satu dari mereka mengaku istri ku. " Batin Bryan.
" Gimana Bryan, kamu ingat kan " kini Bastian bertanya pada tuan muda sekaligus sahabat nya dari kecil itu.
Bryan menggeleng. Tangan nya kemudian terangkat untuk memegang kepala nya yang tiba tiba merasa kesakitan.
" Arkhhhh.... " Bryan memegang erat kepala nya.
" Bagas kamu kenapa, " Nayla tampak khawatir pada pria yang lebih dari seminggu ini telah mengisi hari hari nya.
" Bryan kamu kenapa, kepala mu sakit nak, kita kerumah sakit ya " ucap Mahendra pada putra nya itu. Tangan Mahendra bergerak memegang pundak Bryan namun Nayla menepis nya.
" Maaf, tuan tuan ini ada keperluan apa datang kerumah saya dan mengusik kehidupan kami, Bahkan apa yang tuan tuan ini lakukan sudah menyakiti calon suami saya. " ucap Nayla tajam.
Deg
Mahendra seketika melotot saat gadis itu memanggil nama Bagas pada putra nya. Bahkan dengan lantang mengatakan calon suami nya. Cobaan apa lagi ini Ya Allah... batin Mahendra sakit saat gadis itu dengan berani berani nya berbuat seperti itu pada nya.
" Maaf Nona, anda jangan berbuat semena mena pada tuan Mahendra, apakah anda tidak bisa bersikap lebih sopan " Ucap Bastian dengan nada yang naik satu tingkat.
" Sebaiknya anda pergi. Orang yang anda cari seperti nya tidak ada disini " Ucap Beni dengan nada yang tidak kalah tinggi.
" Saya peringatkan sekali lagi, jika sesuatu terjadi pada Tuan Muda Pradana, atau anda terbukti menyembunyikan sesuatu, anda tanggung sendiri akibat nya. Belum tau Anda berhadapan dengan siapa. " Tegas salah seorang suruhan Mahendra sebelum meninggalkan rumah sederhana itu.
Mahendra dan Bastian serta orang-orang Mahendra kini masuk ke dalam mobil. Sebelum pulang ke kota, Mahendra ingin bertemu Pak Seto. Mahendra tidak ingin pulang sia sia. Dia yakin ada sesuatu yang tidak beres disini.
Sampailah mereka dirumah Pak Seto.
" Pak ... Pak... ada 2 mobil mewah berhenti di halaman rumah kita pak. Siapa pak, Ayo kita lihat. " ucap istri pak Seto itu pada suami nya.
" Siapa buk " jawab pak Seto yang kini juga penasaran.
Pak Seto yang sedang duduk santai menikmati secangkir kopi itu lalu bangkit mengikuti istri nya menuju ke ruang tamu.
" Permisi, Selamat siang pak " ucap Bastian
" Selamat siang den, " jawab pak Seto dengan senyum setelah mengetahui siapa yang datang.
" Mari masuk den, Den Bastian datang kemari dengan siapa ?
" Ini Tuan Mahendra pak " Jelas Bastian kemudian.
" Masya Allah tuan, Mari mari silahkan masuk, maaf rumah kami sederhana ".
Mahendra tersenyum lalu masuk ke dalam diikuti orang orang nya.
" Buk, ini Tuan Mahendra yang kaya raya itu buk. kemarin bapak sudah kesana. Rumah nya memang seperti istana buk. " ucap Pak Seto memberi tahu pada istri nya.
Istri pak Seto itu nampak mengangguk. " ibu ke belakang dulu pak, bikin minum "
" Tidak perlu repot bu, kami hanya sebentar " Jawab Mahendra.
" Tidak repot pak, permisi " Istri pak Seto lalu beranjak ke dapur.
" Pak Seto terima kasih bapak sudah jauh jauh datang ke kota untuk memberitahu keberadaan putra kami. Tanpa bapak, saat ini saya belum tau bagaimana keadaan putra saya ". Mahendra mengucapkan rasa terima kasih nya pada pak Seto.
" Tuan Mahendra tidak perlu berterima kasih " jawab Pak Seto.
Mahendra mengangguk. " Lalu bagaimana Putra nya itu bisa berada dirumah Pak Beni? tolong bapak ceritakan ? "
Pak Seto mulai bercerita,
Sekitar satu minggu yang lalu waktu saya pulang dari kebun. Saya melihat mobil hitam berhenti di depan rumah pak Beni, Selang beberapa menit pak Beni keluar dengan 2 orang lelaki membopong tubuh putra tuan, saat itu tuan muda sedang tidak sadarkan diri. Saat melewati rumah pak Beni saya sempat bertanya, dan pak Beni menjawab bahwa pemuda itu adalah anak sahabat nya. yang akan tinggal beberapa minggu disini. Saya melihat kepala tuan muda yang dibalut seperti habis terbentur, luka di tangan dan kaki nya.
" Begitu lah tuan cerita nya " Jelas pak Seto apa ada nya.
Mahendra nampak mengangguk mengerti. Setelah mendapatkan informasi yang cukup Mahendra berpamitan untuk kembali ke kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments