" Sore Bi " sapa Dara pada asisten rumah tangga nya yang sedang sibuk di dapur.
" Sore non Dara " jawab Bi Siti dan Bi Tuti serentak.
" Bibi lagi masak apa, Dara bantuin ya " . Ucap Dara menawarkan bantuan.
" Eh, jangan non. " tolak asisten rumah tangga nya dengan halus.
" Nggak apa - apa Bi, lagian Dara bosen di kamar terus ". jawab Dara tersenyum
Memang sejak menjadi menantu keluarga Pradana, Dara belum pernah sekalipun membantu di dapur. Bukan karena Dara malas. Tetapi rumah besar itu memiliki asisten rumah tangga yang cukup untuk mengurus semua nya. Lagian sejak satu hari pernikahan itu berlangsung Dara sudah terkena musibah yang membuat diri nya banyak mengurung diri di kamar.
" Baik Non kalau begitu " akhir nya hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh asisten rumah tangga nya.
Dara mulai menyibukkan diri nya di dapur membantu Bi Siti dan Bi Tuti menyiapkan makan malam.
" Wah non Dara sudah cantik, pinter masak lagi " puji Bi Tuti
Dara hanya tersenyum getir. Hari hari yang seharus nya dia lalui seperti saat ini menyiapkan makanan untuk suami nya, nyata nya semua hanya angan angan.
" Non , " panggil lirih Bi Tuti dan Dara nampak tersentak kaget. " Ah. . . Iya Bi, makanan yang udah jadi aku taruh di meja makan ya Bi " ucap Dara mengalihkan pembicaraan.
Dara lalu berjalan ke meja makan menata makanan yang sudah siap.
" Kasihan non Dara, pengantin baru tapi malah dapat musibah begini. Harus jauh sama suami nya. Malah den Bryan sekarang amnesia. " ungkap asisten rumah tangga nya lain yang baru masuk ke dapur.
" Hustt... jangan keras keras , udah bosen kerja kamu, mau tuan Mahendra memecat kamu karena ketahuan gibahin majikan nya " ketus Bi Tuti kemudian.
" Yaealah. . . gitu aja sewot " jawab asisten rumah tangga yang tugas nya bersih bersih halaman luar rumah itu lalu pergi meninggalkan dapur. Dan Bi Tuti hanya menggelengkan kepala nya.
" Ra, kamu ngapain " Tanya Alex yang baru pulang dari kantor dan hendak menaiki tangga. Namun langkah nya terhenti saat melihat bidadari yang selama ini dia incar , sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Meskipun Dara sudah menjadi milik saudara tiri nya. Namun Alex tetap menyebut Dara bidadari nya. Alex tak pernah rela jika saudara tiri nya bahagia dengan Dara. Bahkan Alex berencana merebut Dara.
" Kak Alex sudah pulang " tanya Dara balik bahkan tanpa menjawab pertanyaan Alex.
Alex nampak mengangguk, kemudian berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas untuk mengambil air dingin. " Enak ya Bi , pulang kerja gini ada yang nyiapin makanan " sindir Alex
" Iya enak atuh den, makanya den Alex cepetan nikah" jawab Bi Tuti
" Sudah ada sich Bi calon nya, cuma sekarang udah jadi milik orang lain " jawab Alex dengan menyunggingkan senyum nya.
Dara nampak mengernyitkan dahi nya tak mengerti maksud ucapan kakak ipar nya itu. Dan lebih memilih kembali ke kamar nya untuk mandi karena kegiatan nya menyiapkan makanan sudah selesai.
" Permisi kak " lalu Dara melewati Alex
" Dara.. Dara.. Cantik tanpa nasib nya kurang baik, baru menikah udah ditinggal aja " lirih Alex yang hanya bisa di dengar oleh nya sendiri.
...****...
Di rumah sederhana itu Beni, Nayla dan Bryan melakukan makan malam. Mereka menikmati makanan masing masing. Seperti biasanya masakan Nayla memang selalu enak.
Setelah makan malam selesai, Nayla bergegas ke dapur untuk mencuci piring piring kotor. Sedangkan Bryan dan Beni kini sedang duduk di ruang tamu.
Kesempatan ini Bryan gunakan untuk menanyakan pada Beni mengenai jati diri nya. Identitas yang selama ini mengganggu pikiran nya.
" Om, ada yang ingin aku tanyakan pada Om " kata Bryan memulai pembicaraan nya.
Beni nampak menarik kedua alis nya. Sebelum akhir nya menjawab. " Iya nak, tanya apa "
" Bisakah Om ceritakan mengenai jati diri Bagas yang sebenarnya "
Beni nampak diam. Dia tidak ingin salah bicara yang akan berakibat fatal nanti nya. Beni sudah berjanji akan membuat putri nya bahagia dengan menikahkan nya dengan pemuda di depan nya ini.
" Om kenapa diam," tanya Bryan sekali lagi karena pria paruh baya di depan nya itu belum menjawab pertanyaan yang ingin sekali Bryan dengar jawaban nya.
Tak mau pemuda di depan nya ini curiga. Disinilah Beni mulai bercerita.
Nama kamu itu Bagas, kamu anak tunggal dari sahabat Om. Ibu mu sudah meninggal sejak kamu kecil. Sedangkan ayah mu menitipkan kamu pada Om karena kami sudah sepakat untuk menjodohkan mu dengan Nayla. Kamu dan Nayla itu saling mencintai. Nayla gadis yang baik dan sangat mencintai mu, Om mohon jangan sakiti anak Om.
Tapi Om, kenapa aku tak ingat apapun. Apa benar aku habis mengalami kecelakaan ? Tanya nya lagi.
" Kamu hanya terbentur ringan, bukti nya kamu baik baik saja kan. " jelas Beni sesuai dengan skenario yang sudah di atur nya dengan seseorang yang ingin menjatuhkan Bryan.
Bukan nya lega, Bryan justru belum sepenuh nya percaya pada Beni. " Aku akan mencari tau sendiri " batin Bryan.
" Aduh, serius sekali pada ngomongin apa sich " tanya Nayla yang sudah selesai beres beres dari dapur dan membawakan dua gelas kopi untuk dua pria berbeda generasi itu.
" Ini buat Ayah dan Kak Bryan " ucap Nayla dengan meletakkan kopi di atas meja.
Tak lama kemudian ponsel milik Beni berdering tanda panggilan masuk. Dengan cepat Beni mengambil ponsel yang tadi dia letakan di samping kopi yang tadi Nayla hidangkan setelah mengetahui siapa yang menghubungi.
" Ayah angkat telepon dulu, lalu Beni beranjak dari duduk nya dan pergi menjauh. Nayla nampak menautkan kedua alis nya. Tumben banget ayah nya ini harus menjauh saat mengangkat telepon, tak seperti biasanya. " Telepon dari siapa sich " Batin Nayla.
" Nay, kakak ke belakang dulu ya " ucap Bryan lalu bangkit dari duduk nya. Dan dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
Beni memilih masuk ke kamar nya. Dilihat nya ponsel yang masih berdering itu dan buru buru menggeser tombol hijau itu.
📞 Pembohong
" Hallo , Apalagi sih telepon " jawab Beni ketus
(........)
" Udah jangan khawatir, aku bisa mengatasi nya. Sekarang kamu transfer uang nya. Karena aku butuh uang itu.
(......)
Langkah Bryan berhenti saat melewati kamar Beni.
"Transfer uang " batin Bryan. Lalu dengan siapa Ayah Nayla itu berbicara. Dan kelihatan nya serius sekali. Bryan mencoba mendekat kan telinga nya agar bisa mendengar lebih jelas apa yang mereka bicarakan. Namun sayang nya suara itu sudah tidak terdengar lagi. Mungkin Beni sudah mematikan sambungan teleponnya.
" Shittt " umpat Bryan dalam hati karena gagal mendapatkan informasi yang bisa saja ini menyangkut diri nya.
Waduh... kira kira siapa ya guys inisial Pembohong itu. Apakah dia orang yang merencanakan kecelakaan Bryan ???
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments