Pagi yang cerah, tetapi tak secerah suasana hati gadis cantik yang masih terlelap itu. Sinar mentari nampak nya sudah mulai menembus tirai kamar Dara. Dara nampak mengerjapkan mata nya berkali kali. Mata nya terasa berat untuk terbuka. Belum lagi kepala nya terasa pusing. Dengan langkah gontai Dara melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Setelah 15 menit pintu kamar mandi terbuka. Kaos putih polos dan celana hitam kini melekat pada tubuh Dara. Dara berjalan menuju ke meja rias. Ditatapnya kaca besar di depan nya itu. Terlihat dengan jelas kedua bola mata Dara yang nampak seperti panda. Rupanya ritual menangis nya seharian kemarin membuat mata nya terlihat bengkak.
Ting
Ponsel di atas meja rias nya itu berbunyi tanda pesan masuk. Dara menarik sedikit sudut bibir nya saat melihat salah satu nama sahabat nya yang mengirimkan pesan.
📱Yola
Pagi Bestie , Jangan sedih ya....
Semangat 🥰
Setelah berbalas pesan dengan sahabat nya Dara lalu berjalan keluar menuruni tangga, rupa nya diruang makan Mama Melinda dan Alex sedang melakukan sarapan. Tapi kali ini tanpa ada nya papa Mahendra.
" Ra, sini ayo kita sarapan " ucap pria yang diam diam sudah lama menaruh hati pada Dara itu.
" Papa sudah berangkat ya kak ", Bukan nya menjawab ajakan Alex , kini Dara beralih menanyakan hal lain. Karena yang Dara ketahui hari ini Papa Mertua nya itu akan pergi ke desa di mana Bryan tinggal.
" Hmmmm " singkat Alex
" Bryan itu sengaja Ra, Pura pura tidak mengenal kamu, palingan karena dia sudah kecantol sama gadis desa itu, Bryan itu nggak benar - benar mencintai mu, dia gak setia, hanya ingin menyakiti mu. Mending kamu lupakan Bryan. " Astaga pagi pagi begini mama mertua nya itu sudah membuat kembali luka di hati nya.
Memang Mama tiri Bryan itu kalau ngomong selalu menusuk di dada. Rasa lapar yang Dara derita kini tiba tiba hilang. Dara mendadak kenyang setelah mendengar ocehan Mama mertua nya itu.
Melinda memang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mengadu domba, membuat Dara semakin membenci Bryan.
" Ra, jangan dengerin mama, mama memang suka begitu, mending kamu sekarang sarapan dulu ya. " bujuk Alex tak mau menyakiti hati Dara.
" Aku belum lapar kak, aku ke atas dulu ". kini Dara kembali ke kamar nya.
"Dasar anak muda, apa sich hebat nya gadis itu. nggak Alex nggak Bryan semua tergila gila. " cibir Melinda memanyunkan bibir nya.
Sedangkan Alex tampak menggelengkan kepala nya melihat tingkah mama nya itu. Saudara ipar Dara itu lalu bangkit dan menuju ke dapur untuk meminta Bibi membawakan makanan ke kamar Dara.
" Bi, " Panggil Alex
" Iya Den Alex, " Jawab Asisten rumah tangga nya.
" Bi, bawakan makanan buat Dara ya "
" Baik Den "
Tak menunggu lama asisten rumah tangga yang bernama Bi Siti itu membawa nampan ke kamar Dara.
" Non, Non Dara " panggi Bi Siti di depan pintu kamar Dara
" Iya Bi , " jawab Dara lalu membuka pintu kamar nya.
" Bibi kenapa repot repot bawa makanan kesini Bi, nanti Dara bisa ambil sendiri. "
" Nggak apa apa non, Tuan Mahendra berpesan agar bibi menjaga non Dara selama den Bryan belum kembali " Jawab Bi Siti
Bi Siti lalu menatap menantu dari majikan nya itu, " Kasihan non Dara " Batin nya.
" Non , Jangan sedih ya, den Bryan pasti kembali " Ucap Bi Siti.
Dara mengangguk lalu mengelap sudut mata nya yang berair. Sungguh, setiap kali teringat suami nya itu Dara selalu menitihkan air mata nya.
...****...
Papa Mahendra dan Bastian serta beberapa orang kepercayaan nya kini sudah sampai di desa dimana Bryan tinggal. Diketuk nya pintu rumah sederhana itu.
Tok... Tok... Tok....
Seorang pria paruh baya seumuran dengan Mahendra berdiri saat pintu rumah itu terbuka. Terlihat jelas raut wajah kaget menghampiri pria paruh baya yang tak lain adalah Ayah Nayla.
Dirumah sederhana itu Nayla memang hanya tinggal dengan Ayah nya. Sejak kecil ibu Nayla meninggalkan Nayla dan Ayah nya. Setelah berpisah dengan Ayah Nayla, ibu nya memilih pergi ke kota. Mungkin sekarang ibu Nayla sudah menikah dengan pria kaya di kota.
" Saya Mahendra Pradana " ucap Mahendra dengan sangat tegas dan tampak berwibawa. Seketika membuyarkan lamunan Ayah Nayla.
" Saya B... Beni " Ucap Ayah Nayla terbata bata nampak gugup.
" Maaf , maksud kedatangan kami kemari ingin bertemu dengan pemuda yang tinggal dirumah ini " kini Bastian yang mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang.
" Saya hanya tinggal bersama dengan anak gadis saya, pemuda mana yang anda maksud " Beni nampak beralibi.
" Anda jangan berbohong, tuan muda Pradana ada dirumah ini. Jangan main main. Anda tidak tahu dengan siapa anda berbicara. " Tegas salah satu orang kepercayaan Mahendra kini ikut berbicara.
Beni nampak gelagapan untuk menjawab. Raut wajah nya kini berubah memerah karena gugup. Dia tahu betul siapa yang mereka maksud.
Mahendra mencium bau yang tidak beres disini. Namun bukan Mahendra nama nya jika tidak bersikap tenang.
" Kalau begitu masuklah tuan, kita bicara di dalam " Beni lebih dulu masuk ke dalam rumah nya. diikuti Mahendra dan yang lain nya.
Mereka duduk di kursi kayu diruang tamu. Bastian nampak menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun seperti nya nihil. Orang yang mereka cari memang sedang tidak ada dirumah. Ntah lah pergi kemana.
" Maaf pak Beni, boleh saya izin ke kamar kecil " tanya Bastian.
" Boleh , silahkan lewat sini " tunjuk Beni pada Bastian.
Bastian lalu melangkah menuju ke kamar kecil sesuai arahan Beni. Sepanjang langkah menuju ke kamar kecil. Bastian memang tidak menemukan apapun termasuk Bryan. Rumah itu tampak sepi. Selesai dari kamar kecil Bastian lalu duduk kembali di kursi nya.
" Tunggu sebentar " Beni kemudian pergi menjauh dari ruang tamu. Dirogoh nya ponsel dari saku celana nya dan melakukan panggilan dengan seseorang.
Salah satu orang kepercayaan Mahendra yang menunggu di samping rumah mendengar perbincangan Beni dengan seseorang di balik telepon. Jarak yang agak jauh membuat nya tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Namun dari gerak gerik nya mereka menyimpulkan bahwa ada yang Beni sembunyikan.
" Shiitt.... " umpat Beni lirih. Setelah sambungan telepon itu terputus. Beni lalu memasukan ponsel nya kembali ke saku celana nya dan berjalan menuju ruang tamu dimana Mahendra menunggu nya.
" Maaf pak Beni, kami sudah menunggu terlalu lama, tolong anda katakan dimana tuan muda Pradana yang anda sembunyikan dirumah ini. " Tegas Bastian setelah beberapa detik yang lalu ponsel nya berbunyi tanda pesan masuk dari salah satu orang kepercayaan Mahendra yang mengintai di samping rumah.
" Sudah saya katakan, pemuda yang anda cari tidak ada disini. Anda bisa lihat sendiri kan disini tidak ada siapa siapa. " Beni tetap mengelak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments