Pagi itu, Dara dan ketiga sahabat nya terlihat bangun lebih pagi. Berbeda sekali dengan rutinitas nya di kota. Biasanya jam segini mereka masih bergelut di alam mimpi nya. Setelah membersihkan diri keempat gadis itu sudah mengenakan pakaian olahraga untuk melakukan lari pagi. Kapan lagi menikmati udara desa di pagi hari yang sejuk.
" Loh . . Pada mau kemana non. Ini masih pagi" ucap Bu Seto yang sedang sibuk memasak di dapur saat gadis gadis itu menghampiri nya.
" Kita mau lari pagi buk, seperti nya udara sangat sejuk " jawab Dara.
Bu Seto nampak mengangguk. " hati hati ya non, jangan jauh jauh jalan nya".
" Sip buk " ucap Loly dengan mengacungkan jempol nya.
Suasana pagi hari di desa rupa nya sangat ramai. Lalu lalang orang dengan berbagai aktifitas. Ada yang berangkat ke pasar, bekerja di sawah atau di kebun, ada juga yang hanya sekedar lari pagi seperti yang Dara dan sahabat nya lakukan.
Kedatangan ke empat gadis itu di desa rupa nya menarik perhatian banyak warga terutama kaum adam. Terdengar bisik bisik lirih yang masih terdengar di telinga, banyak yang memuji kecantikan gadis kota ini. Pesona Dara dan ketiga sahabat nya memang tidak bisa diragukan lagi.
Tak terasa mereka berlari cukup jauh dari rumah pak Seto. Tiba tiba ada segerombol pemuda yang mencoba mengganggu Dara. Namun dengan sigap seseorang datang menolong dan menghajar segerombol orang itu.
Buugh... Buugh.. !!
Pukulan bertubi tubi pria tampan itu layangkan pada pria pria pengecut di depan nya.
" Sudah cukup kak " Teriak Dara menghentikan. Dan segerombol pemuda itu memilih kabur.
Dara sungguh terkejut bukan main, saat pria yang menolong nya tak lain adalah Bryan.
" Kak Bryan " lirih Yola, Cici dan Loly hampir bersamaan.
Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Seperti seorang putri yang diselamatkan oleh pangeran nya.
" Kamu nggak apa apa kan, ada yang terluka." Tanya Bryan penuh perhatian dengan pandangan mata yang terus mencari cari apakah gadis di depan nya ini terluka atau tidak.
Dara diam, jantung nya berpacu sangat cepat seakan melompat dari tempat nya. Rasanya bibir manis ini sangat sulit berucap. Lagi lagi bulir bulir bening itu telah membendung memenuhi kelopak mata Dara.
" Hey " Panggil Bryan lagi karena Dara masih tetap diam. " Kok malah diam " ucap nya.
" Aku enggak apa apa kak " Satu kata yang lolos dari mulut Dara. Dan Bryan nampak mengangguk dengan satu tangan yang masih memegang pundak Dara dan satu tangan lagi memegang tangan Dara. Misi pertama yang cukup dramatis.
" Ra, kamu nggak apa apa kan " Tanya sahabat Dara yang ikut panik dan Dara tampak menggeleng pelan.
Entah dorongan dari mana, tangan Bryan terangkat untuk mengusap lembut air mata gadis di depan nya itu. Dara terpaku, sentuhan lembut dari tangan Bryan yang sangat Dara rindukan kini bisa Dara rasakan meskipun hanya sekilas.
" Kamu kenapa menangis, ada yang sakit " tanya Bryan lagi. Dan lagi lagi Dara menggeleng.
Ketiga sahabat Dara tersenyum bahagia melihat adegan di depan nya.
Terlihat dengan jelas, keringat yang telah membasahi dahi Bryan. Ingin sekali Dara mengusapnya tapi dia urungkan niat nya.
" Ini air minum untuk mu " Dara menyodorkan satu botol air minum untuk Bryan dan Bryan menerima nya. Hanya ini yang bisa Dara lakukan.
" Terima kasih " lalu Bryan meneguk nya.
Dara tau, Bryan adalah pria yang sangat suka olahraga. Bahkan lari pagi adalah rutinitas yang tidak pernah Bryan tinggalkan setiap hari nya. Dan ternyata benar, mereka bertemu sekarang. Melihat Bryan yang tampak sendirian, kesempatan ini Dara gunakan untuk dekat dengan Bryan.
Mengesampingkan status mereka sebagai suami istri. Kini Dara harus bersabar untuk sementara waktu karena suami nya itu memang sedang amnesia. Kini Dara harus bermain cantik dan rapi.
" Terima kasih ya kak sudah menolong kita " ucap Dara. Dan dibalas anggukan kepala oleh Bryan.
" Aku Dara, " Ucap Dara mengulurkan tangan nya.
" Kamu gadis itu kan " tunjuk Bryan dengan raut wajah yang nampak mengingat ingat. Lalu membalas uluran tangan Dara. " aku Bagas " ucap nya kemudian. Dan Dara hanya tersenyum getir. Lagi lagi Dara harus menerima kenyataan pahit ini.
" Sabar Dara, sabar... suami mu itu masih amnesia " Batin Dara menguatkan hati nya.
" Mereka semua teman mu " tanya Bryan menunjukan ke arah ketiga sahabat Dara.
" Halo kak, kita sahabat Dara " ketiga gadis itu lalu memperkenalkan diri mereka. Dan Bryan hanya mengangguk dengan senyum.
" Kalian tinggal di desa ini " Tanya Bryan lagi Dan mereka berempat mengangguk.
Mereka lalu melanjutkan kegiatan lari pagi nya. Sambil berbincang bincang. Sungguh Dara sangat bahagia. Bisa dekat dengan suami nya seperti ini. meskipun suami nya masih hadir sebagai sosok orang lain.
Saat sedang asyik mengobrol tiba tiba kaki Dara tersandung batu dan...
Brukkk
" Dara " Pekik ketiga sahabat nya. Dara terjatuh dan meringis. Rupa nya lutut nya terluka.
" Kamu terluka " ucap Bryan. Tangan Bryan terulur untuk membantu Dara berdiri. " Bisa jalan nggak ". Bryan lalu memapah Dara untuk berjalan. Namun seperti nya kalau seperti ini akan lama sampai kerumah.
" Aku gendong ya " tawar Bryan. Dan Dara nampak melotot. Tanpa mendapat persetujuan dari Dara pria tampan itu lalu menunduk dan memberikan punggung nya untuk Dara. " Ayo naik " ucap nya lagi. Namun Dara masih diam.
" Ayo Ra. Kita bisa lama nanti nyampek rumah nya " titah Yola. Lalu Dara naik ke punggung Bryan. Detik kemudian seulas senyum terbit dari sudut bibir ketiga sahabat nya.
Rasanya Dara rela harus terjatuh setiap hari . Jika itu bisa membuat Bryan memberikan perhatian nya pada Dara. Bryan berjalan lebih depan dengan menggendong Dara. Disusul ketiga sahabat Dara dibelakang yang menyaksikan adegan di depan nya itu.
" Untung si nenek lampir 2 tidak ikut , Kalau ikut mana bisa kita lihat adegan romantis seperti ini. " ucap Loly dengan dagu yang menunjuk ke arah dua anak manusia di depan nya.
" Nenek lampir 2 , siapa " tanya Yola dengan mengerutkan dahi nya.
Loly memutar kedua bola mata nya malas lalu menjawab pertanyaan dari sahabat nya itu. " itu Si Nayla" dan sukses mengundang tawa kedua sahabat nya.
Bisa aja si Loly. Kemarin bilang Melinda nenek lampir. Dan sekarang menyebut Nayla dengan nenek lampir 2. Memang gokil sahabat dari Dara ini.
Merasa sudah dekat dengan rumah pak Seto. Mereka menghentikan kekehan mereka dan meminta Bryan untuk menurunkan Dara.
" Tempat tinggal kita sudah dekat kak, Kak Bagas antar sampai sini saja. Biar kita yang bantu Dara. " Ucap Cici lalu Bryan menurunkan Dara.
" Kalian yakin bisa " Tanya Bryan
" Bisa kak"
" Makasih ya kak" Ucap Dara dan Bryan mengangguk lalu berjalan menjauh.
" Ehemmmm ..." kedip non , kedip... " goda ketiga sahabat nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments