...༻◊༺...
Kedatangan Laras disambut Tia dengan baik. Mereka lalu mengobrol dan makan kue bawaan dari Laras.
"Ini buatanmu?" tanya Tia seraya mencicipi kue kering buatan Laras.
"Iya, Ma. Gimana rasanya?" tanggap Laras.
"Mantul! Kue buatanmu tidak pernah gagal. Tapi kau jangan sampai kecapekan ya. Soalnya masih hamil muda," ujar Tia. Dia lanjut memakan kue buatan Laras.
Laras tersenyum tipis. Dia bersiap menanyakan maksud kedatangannya. Yaitu menanyakan perihal sapu tangan yang ditemukannya.
"Oh iya, Ma. Apa ini sapu tanganmu?" tanya Laras seraya memperlihatkan sapu tangan yang dimaksud kepada Tia.
Dahi Tia berkerut. Ia memperhatikan sapu tangan yang diperlihatkan sang menantu. "Bukan. Memangnya kenapa?" jawabnya.
Kelopak mata Laras melebar. Meskipun begitu, dia berusaha menutupi yang sebenarnya kepada Tia.
"Bukan apa-apa. Aku menemukannya kemarin saat bermalam di sini," jelas Laras.
"Benarkah? Dimana kau menemukannya?" tanpa diduga, Tia melontarkan pertanyaan begitu.
"Aku--"
Bersamaan dengan itu, telepon rumah berbunyi. Membuat perkataan Laras otomatis terhenti. Dia merasa sangat lega akan hal tersebut. Tia lantas beranjak untuk mengangkat telepon.
Usai Tia selesai menelepon, Laras pamit pulang. Dia beralasan kalau dirinya ada janji.
Dalam perjalanan pulang, Laras dihantui rasa penasaran. Kecurigaannya terhadap Hery menguat setelah memastikan sapu tangan yang ditemukannya bukan milik Tia. Hal itu mengartikan bahwa Hery berbohong dengan pernyataannya.
"Kenapa Mas Hery membohongiku?" gumam Laras. Perasaannya semakin mengganjal saat mengingat Hery yang selalu pulang malam.
Laras menghentikan mobil saat lampu merah menyala. Dia mendadak diserang mual. Untung saja dirinya tidak sampai muntah.
Ketika lampu hijau menyala, Laras menjalankan mobil. Dia menepi ke pinggir jalan karena terpikirkan sesuatu.
Laras mengambil ponsel. Dia menelepon seseorang bernama Fita. Yaitu salah satu teman sekaligus sekretaris yang bekerja di perusahaan suaminya.
"Halo? Kenapa Mbak Laras?" sambut Fita dari seberang telepon.
"Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan," kata Laras.
"Tentu saja. Tapi aku hanya punya waktu besok. Kebetulan hari ini ada banyak pekerjaan."
"Iya, tidak apa-apa. Nanti aku akan menghubungimu." Laras mengakhiri panggilan lebih dulu.
Setelah mendapat telepon dari Laras, Fita mengelus dada. Dia tampak menunjukkan wajah tegang. Kebetulan sekarang Fita sedang berada di ruangan Hery. Mereka hanya berduaan di sana. Keadaan Hery dan Fita terlihat acak-acakan. Mereka tadi asyik bercumbu, namun harus berhenti karena panggilan telepon Laras.
"Dia bilang apa?" tanya Hery yang juga tampak tegang.
"Dia ingin bertemu denganku, Mas!" sahut Fita. Dia menatap Hery dengan serius. Apalagi saat lelaki itu terkesan menunjukkan gelagat sedang berpikir.
"Apa sekarang kau akan mencampakkanku?" tukas Fita.
"Fita, bisakah kau pergi? Aku ingin sendiri sekarang," kata Hery.
"Kau sebaiknya mengatakan hubungan kita kepada Laras! Apa kau tidak kasihan dengan Rista? Aku sekarang juga sedang hamil muda!" ujar Fita sembari geleng-geleng kepala. Kemudian keluar dari ruangan.
Hery mencengkeram kepalanya. Dia tiba-tiba menyesali perbuatannya. Mengingat Hery tidak akan pernah menduga Laras bisa hamil. Masalah besarnya sekarang adalah, Fita memiliki anak bersama Hery.
Fita sendiri merupakan perempuan yang dinikahi Hery secara siri. Itu semua dilakukannya karena sangat ingin memiliki anak dari darah dagingnya sendiri. Hal tersebut mungkin seperti obsesi bagi Hery.
Jujur saja, sebelum mempunyai hubungan khusus dengan Fita, sikap Hery sangat dingin saat bersama Laras. Semuanya berubah ketika dirinya sudah memiliki wanita lain. Sosok Fita sebenarnya berperan besar pada sikap mesra Hery terhadap Laras.
Setelah mendengar fakta kehamilan Laras, segalanya menjadi rumit bagi Hery. Padahal dia telah bersiap ingin mengatakan hubungannya dengan Fita kepada Laras dan keluarganya.
Waktu menunjukkan jam lima sore. Hery biasanya langsung pergi ke rumah Fita. Alasan dirinya pulang malam sebenarnya karena lebih memilih mengurus keluarga keduanya.
Hery biasanya pulang larut malam. Kini dia baru saja masuk ke rumah. Hery merasa berbeda kali ini. Sebab Laras tidak menunggu kedatangannya seperti biasa. Ia menemukan istrinya sudah tertidur di ranjang.
"Mungkin karena dia hamil," gumam Hery. Mencoba berpikir positif. Dia sebenarnya penasaran terhadap apa yang akan dibicarakan Laras dengan Fita besok. Namun Hery memutuskan akan bertanya nanti saja.
Sebelum tidur, Hery mandi terlebih dahulu. Kemudian bergabung dengan Laras ke ranjang. Tanpa diduga, pergerakan Hery membuat Laras terbangun.
"Mas?" Laras merubah posisi menjadi duduk. Ia menutupi hidung serta mulutnya.
"Kau bangun? Maaf sudah membangunkanmu," tanggap Hery sambil mendekat. Tetapi Laras dengan cepat menghindar. Perempuan itu malah mual.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hery cemas.
"Mas, aku tidak tahu kenapa. Tapi aku merasa mual saat kau berada di dekatku," ungkap Laras.
"Apa?" Hery terkejut.
"Maafkan aku. Tapi bisakah malam ini kau tidur di kamar sebelah?" pinta Laras.
Hery terdiam sejenak. Dia mengangguk dan segera beranjak dari ranjang. Dirinya mencoba memahami Laras. Mengingat istrinya tersebut sedang hamil.
"Kenapa aku jadi begini? Kenapa aku merasa jijik dengan suamiku sendiri?" gumam Laras.
Ia mengerutkan dahi saat melihat Hery keluar dari kamar. Laras sebenarnya merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Hal yang paling aneh adalah, Laras justru terus kepikiran Arga. Malam itu dia bahkan memimpikan lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Zerazat
dua dua nya sama sama selingkuh tapi duluan Henry sampai udah punya anak
2023-12-22
0
Princess Ren
wajarlah,, orang suami mu itu selingkuh 🤧🤧🤧🤧🤧
2023-10-06
1
fiendry🇵🇸
nah kan pantasan Hery nggak masalah Laras mandul, ternyata sudah punya anak toh ...
2023-10-04
0