...༻◊༺...
Ponsel berdering. Arga yang tak sengaja tertidur di mobil, segera terbangun. Dia melihat hari sudah siang. Buru-buru Arga memeriksa ponsel. Dirinya menemukan Agni melakukan panggilan.
"Sayang! Aku--"
"Kau kemana saja, Mas? Kalau pergi itu bilang-bilang! Aku kan jadi khawatir," potong Agni. Mengomel karena mencemaskan sang suami.
"Maafkan aku. Ada pekerjaan mendadak tadi malam. Aku mungkin akan pulang nanti siang," kata Arga. Ia memutuskan akan pulang setelah bertemu dengan Laras.
"Harusnya kau bilang sejak awal! Menyebalkan sekali." Agni langsung mematikan telepon. Dia terdengar sangat kesal.
Arga mengusap kasar wajahnya. Ia merasa omelan Agni kembali lagi setelah beberapa minggu. Arga jadi berpikir, hubungannya dengan perempuan itu akan memburuk lagi jika dirinya kembali impoten.
"Aku harus secepatnya bertemu Sukma!" gumam Arga. Ia segera menjalankan mobil. Arga dan Laras sepakat bertemu di sebuah restoran. Mereka akan bicara sekalian makan.
Setibanya di restoran, Arga langsung masuk. Ia mencari meja kosong. Akan tetapi dirinya bisa melihat Laras yang sudah duduk menunggu. Perempuan itu memilih tempat di bagian balkon.
"Apa kau menunggu lama?" tanya Arga sembari duduk di hadapan Laras.
"Tidak. Baru saja aku datang. Pesanlah dulu makanan yang kau inginkan," sahut Laras.
Arga mengangguk. Dia menyebutkan pesanannya pada pelayan yang bertugas. Sambil menunggu hidangan tersaji, Arga dan Laras bicara.
"Bagaimana? Apa keputusanmu? Kau mau lanjut atau berhenti?" tanya Arga.
Suasana begitu hening. Hanya ada hembusan angin yang sesekali menerpa. Terlebih keadaan restoran masih sepi karena jam makan belum tiba.
"Ini benar-benar rumit. Apakah sebaiknya kita temui Mbah Seno saja? Aku pikir pasti ada cara lain," ucap Laras.
"Menurutku semuanya sudah jelas. Sekarang pilihannya ada di tangan kita." Arga memancarkan tatapan penuh harap. Ia melanjutkan, "sejujurnya... Aku ingin tetap melanjutkan. Aku tidak mau impoten lagi."
"Enaknya jadi lelaki. Kau tidak tahu bagaimana penderitaan perempuan saat harus menanggung resikonya!" Laras menunjukkan kekesalannya. Sebagai perempuan yang hamil, dia tentu merasa tersiksa dengan keadaan begitu. Baik fisik maupun mentalnya.
Arga tertohok dengan perkataan Laras. Kepalanya langsung tertunduk. Setidaknya dia memahami apa yang dirasakan Laras. Kesunyian kembali menyelimuti.
"Apakah itu berarti kau memutuskan akan berhenti?" imbuh Arga. Dia menyimpulkan begitu karena ucapan menohok Laras tadi.
Laras tak kuasa menahan tangis. Hingga cairan berjatuhan dari matanya. "Ini benar-benar sulit bagiku..." ungkapnya.
Arga cemas, dia segera duduk ke samping Laras. Berusaha menenangkan perempuan tersebut.
"Aku ingin berhenti... Tapi di sisi lain, aku juga ingin mewujudkan keinginanku dan suamiku. Yaitu punya anak..." isak Laras.
"Kita masih punya waktu. Kau bisa memikirkannya lagi sebelum purnama tiba," kata Arga sembari mengelus pundak Laras. Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan.
"Sebaiknya kita makan dulu," saran Arga. Dia kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Laras tampak mengelap wajahnya. Perempuan itu berhenti menangis. Kedatangan pelayan membuatnya malu.
Sambil menikmati makanan, Laras berpikir. Dia mencoba membuat keputusan yang tepat.
Setelah dipikir-pikir, mempertahankan janinnya adalah yang terbaik. Bahkan ketika janin tersebut bukanlah hasil hubungan dengan suaminya. Laras hanya tidak mau mengambil resiko lagi. Mengingat sebelumnya dia sudah keguguran. Apalagi usia Laras untuk mengandung terbilang tidak muda.
Laras meletakkan sendok dan garpunya. Dia menatap Arga yang terlihat lahap memakan makanan. Lelaki itu memang tidak makan sejak tadi malam.
Gelas berisi wine diambil oleh Laras. Ia meminum minuman itu sampai tandas. "Aku sudah membuat pilihan," ungkapnya.
Arga langsung mematung. Menatap Laras dengan rasa penasaran.
"Aku memilih akan tetap melanjutkan ritual kita. Tapi aku punya syarat kali ini," kata Laras.
"Apa?" tanya Arga.
"Aku tidak mau melihat wajahmu. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita," terang Laras.
"Maksudmu? Bagaimana caranya kita melakukan ritual kalau kau tidak mau melihatku?" Arga tak mengerti.
"Aku akan menutup mataku," ucap Laras. "Kau hanya perlu membimbingku melakukannya."
"Kenapa kau tidak mau melihatku? Bisakah kau beritahu aku alasannya?"
"Aku hanya ingin kita tetap menjadi orang asing satu sama lain. Dan satu lagi syaratku, aku tidak mau kita menceritakan kehidupan pribadi masing-masing," tambah Laras.
Arga terdiam seribu bahasa. Entah kenapa dia merasa kecewa dengan syarat yang disebutkan Laras. Akan tetapi apa boleh buat, dirinya harus menerima semua itu bila tak mau menderita impoten lagi.
"Kenapa kau diam saja? Apa itu merepotkanmu?" cecar Laras. Sebab Arga yang tak kunjung bereaksi.
"Tidak. Aku hanya berpikir." Arga Menggeleng. "Baiklah. Aku menyanggupi syarat yang kau berikan," ucapnya.
"Terima kasih. Senang bekerjasama denganmu." Laras tersenyum. Dari kejauhan, dia bisa melihat tiga lelaki memasuki restoran. Mata Laras membulat sempurna saat mengenali salah satu lelaki itu adalah Hery.
"Sial!" Laras buru-buru menyeret Arga pergi bersamanya. Mereka berlari ke tempat dimana Hery tidak bisa melihat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Apa yng akan ke3 laki2 itu akan bicarakan,secara katanya laki2 klo ngobrol suka blak2an 😅😅,,,ak ko agak penasaran,brkl dpt sesuatu 😁😁
2023-10-15
1
fiendry🇵🇸
semangat
2023-10-04
0
Junifa
akhirnya up aku tunggu dari tadi😉
2023-08-23
2