...༻◊༺...
Arga dan Laras memulai ritual dengan saling mencumbu. Keduanya meraba serta memberikan ciuman satu sama lain.
Gairah itu seketika datang. Bahkan setelah hanya melakukan pemanasan dalam beberapa detik.
'Sial! Aku rasa sia-sia saja Laras mengenakan topeng...' batin Arga mengeluh. Dia merasa ritual intim yang sekarang tidak berbeda sama sekali dengan sebelumnya. Bahkan terasa lebih menggebu.
Nampaknya perasaan yang sama juga dirasakan Laras. Ia justru sangat menikmati kegiatan intim sekarang. Mulutnya tak berhenti mengeluarkan lenguhan yang menggelora.
Arga dan Laras tak berhenti saling mengerang. Tubuh keduanya bermandikan dengan keringat.
Entah sudah berapa kali Laras harus menenggak salivanya sendiri karena merasa lelah. Ia juga sudah mencapai kllimaks lebih dari satu kali. Keinginan untuk terus lanjut tidak bisa dibantahnya.
"Akhh! Akhh!" Arga mengerang nyaring sambil menggerakkan pinggulnya. Dia mencengkeram rambut Laras. Tak lama kemudian Arga menggapai puncak kenikmatan. Saat itulah ritual bergairah tersebut berakhir.
Laras dan Arga merasa lemas. Mereka kini sibuk mengatur nafas yang masih belum selesai memburu.
"Mandilah lebih dulu. Karena kau sudah menyiapkan keperluan ritual, maka biarkan aku yang membereskannya," ujar Arga sembari mengenakan handuk kimono. Lalu keluar dari kamar mandi.
Laras mengangguk. Setelah Arga pergi, dia melepas topeng serta penutup mata. Laras termangu sejenak. Sebab dirinya masih merasa ritual yang sekarang masih sama seperti sebelumnya. Meski menutup mata, Laras tetap membayangkan Arga.
Laras mendengus kasar. "Tidak. Ini wajar di percobaan pertama. Aku yakin di ritual berikutnya aku akan terbiasa," gumamnya. Berusaha meyakinkan diri sendiri.
Usai membersihkan diri, Laras langsung pulang. Dia keluar dari kamar hotel tanpa sepengetahuan Arga. Laras memberitahukan kepergiannya melalui pesan.
'Aku sudah pergi. Sekarang kau bisa bereskan semuanya.' Begitulah pesan dari Laras. Arga yang sejak tadi di balkon, segera masuk ke kamar. Ia membersihkan bath up dan dilanjutkan dengan dirinya sendiri.
Seperti biasa, setelah ritual dilakukan, Laras menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Rahasia yang terpendam ingin dia kubur selamanya sampai mati. Laras merasa semakin percaya diri ketika dirinya dan Arga sudah sepakat untuk tetap menjadi asing.
"Hari ini kita pergi ke dokter kandungan bukan?" tanya Hery sembari memeluk Laras dari belakang.
Laras berjengit karena tak mengetahui kedatangan Hery. "Mas! Bikin aku kaget saja," ucapnya.
Satu kecupan mendarat ke pipi Laras. "Sengaja," tanggap Hery.
Laras terkekeh. "Iya, hari ini aku memang ada jadwal ke dokter kandungan. Tapi sekarang masih jam dua belas siang. Kan jadwalnya jam dua sore."
"Nggak apa-apa. Aku nggak sabar pengen lihat anak kita." Hery begitu antusias. Perhatiannya menjadi bertambah setelah mengetahui Laras hamil.
Laras tersenyum kecut saat mendengar Hery menyebut 'anak kita'. Dia merasa harus terbiasa dengan sebutan itu. Entah berapa kali Laras harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya dengan Arga hanya kewajiban belaka. Kewajiban yang harus mereka lakukan agar bisa tetap menjadi pasangan normal.
"Astaga, Mas. Ini masih beberapa minggu. Wajah anak kita belum sepenuhnya terbentuk," kata Laras.
"Biarkan saja. Aku tak peduli." Hery menggesekkan wajahnya ke leher Laras. Sekali lagi dia sukses membuat istrinya tertawa kecil.
"Oh iya, setelah pulang dari dokter, ayo kita temui orang tuaku. Mereka pasti senang mendengar kabar baik ini," sambung Hery.
"Iya, Mas..." Laras tersenyum simpul.
Hari itu Laras dan Hery pergi ke dokter kandungan. Namun ada masalah tak terduga yang di alami pasien lain. Hery dan Laras menerima kabar kalau dokter kandungan yang mereka datangi melakukan malapraktik. Hal tersebut sontak membuat keduanya pergi dari klinik.
"Bisa-bisanya ada dokter yang ceroboh begitu dibiarkan melakukan praktik," gerutu Hery yang merasa tak habis pikir.
"Iya. Untung saja kita mengetahui ini sebelum sempat melakukan pemeriksaan," sahut Laras.
"Aku akan carikan dokter kandungan terbaik untukmu. Kau tenang saja," ujar Hery. Dia dan Laras sepakat untuk pergi menemui kedua orang tuanya. Kabar baik yang mereka bawa, berhasil membuat ayah dan ibunya Hery bahagia.
Saking senangnya, Hendra dan Tia memanjakan Laras. Keduanya bahkan memaksa Hery dan Laras untuk bermalam di rumah.
Kini Laras sedang berada di wastafel. Ia membersihkan piring dan gelas kotor di sana.
"Astaga, Laras. Kenapa kau yang mencuci piring? Ada Bi Ira loh," tegur Tia. Dia langsung menyuruh Laras menyingkir.
"Tapi, Ma. Aku--"
"Sudah! Ayo ikut aku. Kue kesukaanmu sudah siap," potong Tia. Dia memaksa Laras pergi dari dapur.
Laras hanya berusaha memaklumi perhatian yang berlebih dari semua orang terhadapnya. Mengingat mereka sudah lama menanti kehadiran seorang anak keturunan Laras. Sekarang Laras berkumpul di ruang santai bersama Hery, Hendra, dan juga Tia.
"Aku dengar Hery sedang mencari dokter kandungan. Ini Mama kalian kenal dokter kandungan yang katanya bagus sekali. Siapa nama dokternya, Ma? Aku lupa," cetus Hendra.
"Ah... Aku juga lupa namanya. Sebenarnya aku juga tahu dari teman. Soalnya katanya anaknya baru saja melahirkan. Sebentar aku tanya dulu." Tia beranjak mengambil ponsel. Ia kembali lagi setelah beberapa menit berlalu.
"Gimana, Ma?" tanya Hery.
"Namanya Dokter Arga Wijaya! Kata temanku, cari saja alamat kliniknya di internet pasti ketemu!" ungkap Tia.
"Terima kasih, Ma. Aku dan Mas Hery akan mengingatnya," sahut Laras. Ia sama sekali tidak tahu siapa dokter yang disebutkan sang ibu mertua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Devi Handayani
nanti klo anak pas lahir taui tau mukanya mirip bgt ama si arga..... ngimana tuh perasaan herry ngga kebayang deh😓😓😓😓
2023-10-24
2
Mimik Pribadi
Mngkn ini saatnya mereka tau identitas masing2,,,,,kan selama Ritual tau nya cuma Raga dan Sukma doang
2023-10-15
1
fiendry🇵🇸
bakal ketemu lagi ini
2023-10-04
0