...༻◊༺...
Usai melakukan hubungan intim, Arga dan Laras kembali mengenakan kain batik masing-masing. Saat itulah Senopati mendadak muncul dari balik pepohonan.
"Kalian sudah melakukan semuanya," ucap Senopati. Atensi Arga dan Laras langsung tertuju ke arahnya.
"Mbah!" seru Laras. Dia dan Arga segera naik ke tepi, lalu menghampiri Senopati.
"Sekarang selanjutnya kami harus bagaimana?" tanya Arga.
"Maaf aku tidak mengatakan ini sebelumnya. Tapi ritual yang kalian lakukan ini tidak bersifat permanen. Kalian akan kembali mengalami kelainan jika tidak melakukan ritual yang sama di malam purnama berikutnya," terang Senopati seraya menyatukan kedua tangan dari balik punggung.
"Apa? Jadi kami berdua harus rutin melakukan ritual ini setiap bulan purnama?" Laras memastikan.
"Iya. Aku sarankan, tetaplah menjadi orang asing satu sama lain," kata Senopati. "Kalian bisa pulang sekarang. Masalah pembayaran, nanti aku akan mengirimkan seseorang untuk mengambil uangnya pada kalian," ujarnya. Dia melangkah lebih dulu untuk kembali ke gubuk.
"Untuk ritual berikutnya, apakah kami harus melakukannya di telaga hitam lagi?" tanya Arga.
"Tidak. Kalian bisa melakukannya di tempat lain. Harus di tempat yang dekat dengan genangan air bunga tujuh rupa," sahut Senopati.
Arga dan Laras terdiam. Mereka berjalan di belakang mengiringi Senopati.
Setelah mengenakan pakaian kembali, Arga dan Laras pulang. Keduanya sekarang berjalan bersama menuju mobil.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau akan melakukan ritual itu lagi di bulan purnama berikutnya?" celetuk Arga.
"Entahlah. Tapi aku akan terus melakukannya sampai bisa hamil," jawab Laras.
"Oh iya. Kita belum kenal satu sama lain. Namaku--"
"Aku rasa kita tidak perlu mengetahui nama asli masing-masing. Kau ingat apa yang dikatakan Mbah Seno tadi kan? Dia bilang kita harus tetapi menjadi asing satu sama lain," potong Laras.
"Kau benar. Kalau begitu kita bisa memakai nama palsu saja," saran Arga. "Panggil saja aku Raga," katanya.
Laras tersenyum. "Kalau begitu kau bisa memanggilku Sukma."
Sebelum berpisah, Arga dan Laras tak lupa saling bertukar nomor telepon masing-masing. Seterusnya, mereka melakukan perjalanan untuk pulang.
...***...
Arga baru tiba di rumah. Dia langsung masuk ke rumah dengan senyuman ceria. Jujur saja, dirinya ingin cepat-cepat menemui sang istri.
Kala itu waktu sedang larut malam. Kemungkinan istri dan anaknya Arga sudah tidur.
Pelan-pelan Arga membuka pintu kamar. Istrinya yang asyik terlelap di ranjang langsung menyambut.
Arga menyingkap selimut yang menutupi tubuh Agni. Lalu mendekatkan mulut ke teling wanita itu.
"Hai, Sayang..." bisik Arga.
Mata Agni seketika terbuka lebar. Dia kaget dan langsung merubah posisi menjadi duduk.
"Mas Arga!" seru Agni. Wajahnya cemberut karena merasa terganggu dengan kedatangan Arga.
Agni turun dari ranjang. Dia memasang raut wajah marah. "Kemana saja kau?! Tiga hari nggak pulang-pulang! Aku capek begini terus, Mas! Capek!" omelnya sambil menepuk dada karena emosi.
"Sayang, tenanglah. Aku akan jelaskan semuanya." Arga memegangi pundak Agni. Mencoba menenangkan sang istri.
"Lepasin! Apa yang bisa kau lakukan, Mas? Apa?! Memuaskanku saja tidak bisa!" timpal Agni.
"Sekarang aku bisa!" ungkap Arga. Membuat Agni sontak dibuat heran.
"Nggak usah ngawur kau! Dokter sudah memvonismu impoten. Kau tidak bisa memberikan adik untuk Rasya!" Agni tak percaya.
"Bagaimana kalau kita buktikan sekarang?" ujar Arga seraya melepas pakaian. Hingga hanya menyisakan celana pendek.
"Sudahlah! Harus berapa kali kau mencoba. Percobaanmu tidak ada yang berhasil. Aku ingin tidur saja." Agni hendak kembali telentang ke ranjang. Akan tetapi Arga dengan cepat memposisikan diri berada di atas badannya. Tangan lelaki itu melepas piyama Agni.
"Mas!" Agni awalnya memberontak. Namun dia terbuai juga saat Arga mulai mencumbu tubuhnya.
Malam itu Arga bisa membuktikan pada Agni bahwa dirinya sudah tidak impoten. Karena sudah lama tidak bercinta, mereka melakukannya sampai beberapa ronde. Sungguh, Agni merasa dibuat senang sekali.
Di sisi lain, Laras sedang telentang di ranjang. Dia tak bisa tidur karena suaminya kelelahan. Laras jadi merasa enggan mengajak Hery bercinta.
Memang akhir-akhir ini Hery sangat sibuk dengan pekerjaan. Dia cukup sering lembur.
Hery sekarang tertidur nyenyak sekali di samping Laras. Membuat Laras tak tega mengganggunya walau hanya sejenak.
Alhasil Laras memilih akan menunggu waktu yang tepat. Namun sayangnya malam itu Laras tidak bisa tidur. Dia merasa bersemangat sekali atas kehamilannya. Laras bahkan sudah membayangkan lebih dulu bagaimana jadinya kalau dia hamil nanti. Mengingat Hery dan seluruh keluarganya sangat mengharapkan itu terjadi.
Ketika pagi tiba, Hery terbangun dari tidur. Dia langsung disambut oleh Laras yang mengenakan lingerie seksi.
"Selamat pagi, Mas Hery..." sapa Laras dengan nada seksi.
Hery tergelak. "Kau kenapa? Tidak seperti biasanya," komentarnya.
Laras tersenyum nakal dan berbisik, "Aku ingin kita mencoba lagi. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya kali ini kita pasti akan berhasil..."
"Sudahlah, Sayang. Aku tidak mau kau tertekan memikirkan masalah itu. Aku menerimamu apa adanya," ungkap Hery.
"Aku tahu. Itulah yang membuatku bersemangat agar bisa hamil anakmu," tanggap Laras. Dia segera memagut bibir Hery dengan ganas. Mereka bercinta di pagi hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Yurnita Yurnita
ritual zina thor
2023-10-08
4
fiendry🇵🇸
semangat
2023-10-04
0
Masiah Cia
tapi bagaimana kalau Laras hamil anaknya Arga
2023-10-02
1