...༻◊༺...
Sebelum malam ritual tiba, Arga berpikir keras untuk membuat keputusan. Ia mencoba menghubungi istrinya agar bisa tenang. Mengingat sebelum pergi, Arga bertengkar dengan sang istri.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Agni. Membuat Arga merasa harus menyembuhkan impotennya secepat mungkin. Sebab dia yakin, dengan cara itu kehidupan rumah tangganya bisa kembali mesra.
Malam ritual akhirnya tiba. Baik Laras maupun Arga, keduanya kembali mendatangi gubuk Senopati. Walaupun begitu, mereka tidak datang bersamaan.
Orang pertama yang datang adalah Arga. Dia langsung disuruh Senopati untuk pergi ke telaga hitam lebih dulu.
Laras datang lebih terlambat dibanding Arga. Kini dia sedang berada di gubuk Senopati.
"Lepaskan seluruh pakaianmu dan kenakan ini!" perintah Senopati. Dia memberikan kain batik berwarna cokelat kepada Laras.
"Iya, Mbah." Laras menerima kain batik pemberian Senopati. Dia tersenyum kecut karena berpikir akan melepas pakaian di hadapan lelaki tua tersebut.
"Gantilah pakaianmu di bilik itu," saran Senopati.
"Terima kasih, Mbah." Laras merasa lega saat mengetahui kalau Senopati bukanlah dukun mesum seperti yang dirinya kira.
Usai mengganti pakaian dengan kain batik, Laras dipersilahkan pergi ke telaga hitam seorang diri. Dia hanya dibekali sebuah lampu semprong untuk dibawa.
"Mbah tidak akan ikut denganku? Aku tidak tahu jalan menuju telaga hitam," kata Laras dengan raut wajah penuh keraguan.
Meski sedang bulan purnama, suasana hutan yang sunyi tetaplah mencekam. Terlebih hutan itu terbilang sebagai tempat yang jarang didatangi orang.
"Kau akan tahu. Pergilah!" perintah Senopati. Dia langsung menutup pintu begitu saja.
Laras menenggak salivanya sendiri. Walau takut, dia tetap memaksakan diri.
Tanpa alas kaki, Laras berjalan melewati hutan. Berharap bisa tiba di telaga hitam secepatnya.
Laras berhenti melangkah saat hembusan angin menerpanya. Dia dapat merasakan tekanan angin itu condong mengarah ke suatu tempat.
Berdasarkan instingnya, Laras berjalan mengikuti arah angin. Benar saja, tak lama kemudian dirinya menyaksikan cahaya lampu semprong dari kejauhan.
Laras pun mendatangi tempat dimana lampu semprong yang dilihatnya. Saat itulah dia menemukan telaga hitam. Telaga tersebut dikelilingi bebatuan dan dihiasi dengan pancuran air dari sela-sela dinding batu.
Atensi Laras segera tertuju ke arah lelaki yang duduk di pinggir telaga. Dia langsung berdiri saat melihat kedatangan Laras. Lelaki itu tidak lain adalah Arga.
"Ha-halo..." Laras menyapa dengan canggung. Hal yang sama juga dilakukan Arga. Lelaki itu hanya membalas sapaan dengan senyuman.
Arga tampak bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan kain batik yang terlilit di pinggul.
Suasana hening dalam beberapa saat. Arga dan Laras bingung harus memulai semuanya.
"Apa kita berdua harus masuk ke air?" cetus Arga kikuk. Mengingat Laras adalah wanita asing baginya.
"Entahlah. Apa Mbah Seno memberitahumu tentang itu?" tanya Laras.
Arga menggeleng. "Dia hanya menyuruhku datang ke sini dan melakukan hubungan intim dengan orang asing," ungkapnya.
"Aku rasa akulah orang asing itu. Dan aku rasa kaulah orang asing untukku," sahut Laras. Dia meletakkan lampu semprong ke samping lampu semprong Arga. Lalu turun ke batu untuk menghampiri lelaki tersebut.
"Berhati-hatilah." Arga berinisiatif membantu Laras turun. Apalagi keadaan bebatuan di sana cukup curam dan licin.
"Terima kasih," kata Laras. Dia sudah berdiri di hadapan Arga. "Lebih baik kita lakukan sekarang. Aku ingin semua ini cepat berlalu," usulnya.
"Tapi aku tidak yakin. Aku menderita impoten. Itulah alasanku datang ke sini," tanggap Arga meragu.
"Mbah Senopati pasti punya alasan menyuruh kita melakukan ini." Perlahan Laras melepaskan kain batiknya. Tubuh putih bersih dan polosnya itu terpampang nyata di mata Arga.
"Kau benar. Aku akan mencoba..." Arga menelan ludahnya sendiri. Dia juga segera bergerak melepas kain batik dari pinggulnya. Kini Arga dan Laras sama-sama telanjang bulat.
Meski belum saling menyentuh satu sama lain, organ intim Arga sudah berdiri tegak dengan gagah. Hal itu membuat Arga kaget sekali.
"Ini tidak bisa dipercaya," gumam Arga yang merasa tak percaya. Setelah sekian lama, akhirnya alat vitalnya bisa berfungsi lagi.
Laras tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita bisa melakukan ritualnya sekarang," ujarnya.
"Ya... Aku tahu," Arga tersenyum lebar. Dia langsung meraup bibir Laras dengan mulutnya. Mereka berciuman panas sampai memperdengarkan suara decapan lidah.
Arga terbangkit gairah membara. Apalagi dia sudah lama sekali tidak berhubungan intim. Namun malam itu dirinya bisa melampiaskan semuanya dengan Laras.
Suara lenguhan Laras dan Arga saling bersahutan saat penyatuan terjadi. Mereka berhubungan intim tanpa mengetahui identitas satu sama lain.
Segalanya terasa asing tetapi begitu berselubung kenikmatan. Telaga hitam serta bulan purnama menjadi saksi atas ritual bergairah yang dilakukan Arga dan Laras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Jeankoeh Tuuk
anehh
2023-12-13
0
Siti Marwah
aneeh..larasnya molek kali bodynya
2023-10-18
3
Yurnita Yurnita
perselingkuhan. ya thor
2023-10-08
0