...༻◊༺...
Laras melemparkan senyum. Arga pun membalas senyuman perempuan itu. Keduanya segera berhenti bertatapan.
"Perlukah kita menghubungi pihak hotel?" cetus Arga.
"Biarkan saja. Hotel ini memang agak tua. Kita seharusnya tidak memilih hotel ini," sahut Laras sembari berdiri. Dia berjalan ke arah ranjang.
"Kalau lelah, kau bisa tidur. Aku rasa sebaiknya kita pulang besok saja," saran Arga.
"Ya, aku juga berpikir begitu. Kalau kau juga lelah, kau bisa tidur di ranjang bersamaku. Toh kita sudah saling menyentuh satu sama lain," ajak Laras. Dia sudah telentang di ranjang. Siap untuk tidur.
"Kau duluan saja," tanggap Arga.
Laras lantas memejamkan matanya. Namun dia tidak bisa tidur. Di saat seperti sekarang, dirinya memikirkan Hery. Rasa bersalah terkadang menghantui. Apalagi malam itu Laras merasa menikmati kegiatan intimnya bersama Arga dibanding pertama kalinya.
'Ini gila. Kenapa malam ini terasa berbeda? Apakah ini hal yang wajar?' batin Laras.
Arga tiba-tiba mendekat. Dia ikut tidur di ranjang bersama Laras. Keduanya mencoba tidur saling membelakangi.
Hening menyelimuti suasana. Hanya ada suara derasnya hujan dan juga petir dari luar.
"Raga? Apa kau sudah tidur?" imbuh Laras. Sejak tadi dia tidak bisa tidur.
"Apa kau tidak bisa tidur juga?" Arga menyahut. Ternyata dia juga tidak bisa tidur seperti Laras. Keduanya lantas membalikkan badan. Sekarang posisi mereka dalam keadaan saling berhadapan.
"Apa kau memikirkan istrimu?" tanya Laras.
"Tentu saja. Aku merasa bersalah karena sudah melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Sepertinya ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa bercinta dengannya seperti dulu," ungkap Arga panjang lebar.
"Kau pasti sudah melakukan segala cara untuk sembuh," tebak Laras.
Kelopak mata Arga melebar. "Bagaimana kau tahu?"
"Karena aku sudah melewati banyak hal agar bisa hamil," ungkap Laras.
Perlahan Arga menggenggam tangan Laras. Dia berucap, "Aku yakin kau akan hamil lagi. Aku akan berdoa untukmu."
"Terima kasih." Laras tersenyum. Lagi-lagi dia dan Arga saling bertukar pandang. Seolah ada sesuatu yang ingin mereka lakukan, namun tidak mampu untuk dikatakan.
Saat itulah Arga merasakan sesuatu dalam dirinya. Dia merasa alat vitalnya menegang. Terutama saat atensinya tak luput dari belahan dada Laras yang terlihat. Buru-buru Arga melepas tangan Laras.
"Aku mau ke toilet!" Arga mencoba menahan diri. Dia beranjak ke toilet sambil membawa ponselnya sebagai penerang.
Laras mengerutkan dahi. Tetapi dia berhasil mengetahui sesuatu yang berusaha ditutupi Arga. Dirinya dapat melihat kalau ada yang mencuat dari balik celana lelaki tersebut.
Dengan cepat Laras menangkap tangan Arga. Menghentikan pergerakan lelaki itu.
"Apa yang akan kau lakukan di toilet?" timpal Laras. Dia masih dalam posisi duduk. Mendongak menatap Arga yang berdiri di depannya.
Arga tertawa hambar. Dia berupaya bersikap biasa saja. "Kenapa kau menanyakan hal konyol? Tentu saja aku ingin kencing," ujarnya.
"Benarkah? Bukan karena ingin mengurus itu?" Laras menunjuk dengan matanya. Dia menatap ke arah bawah perut Arga.
"Sukma! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kumohon jangan tersinggung. Aku tidak tahu ini tiba-tiba terjadi," jelas Arga. Dia takut Laras akan terlecehkan karena organ intimnya yang mendadak aktif sendiri.
Laras berdiri. Dia tidak mengatakan apapun dan malah melepas pakaian satu per satu. "Aku rasa kau juga merasakan hal yang sama malam ini," ucapnya.
Arga membeku. Dia menenggak salivanya sendiri ketika melihat tubuh Laras tak lagi mengenakan satu helai benang pun.
"Apakah baik-baik saja kita melakukannya lagi?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya kita sama-sama tak bisa menahan diri," sahut Laras. Lalu melepaskan kemeja Arga.
Arga yang sudah bertelanjang dada, segera melepas seluruh celananya. Lalu dia dan Laras saling mencumbu. Perlahan keduanya menjatuhkan diri ke ranjang. Mereka melakukan hubungan intim untuk kali kedua malam itu.
Secara bergantian, ponsel Arga dan Laras mati. Menandakan kalau ponsel keduanya sudah kehabisan baterai. Satu-satunya penerangan mereka hanya kilatan petir yang sesekali muncul dari jendela.
Arga dan Laras sama sekali tak peduli dengan kegelapan. Mereka tetap bercinta di atas ranjang. Keringat dan juga dessahan gila menyelimuti suasana. Untuk sejenak mereka melupakan rasa bersalah atau pun pasangan masing-masing. Memang, napsu terkadang bisa membuat siapa saja lupa diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Siti Marwah
jangan² tumbalnya anaknya laras yg keguguran
2023-10-18
1
Siti Marwah
kayaknya dukun nya serem banget aliran sesat ada yg ditutup²in sprtinya
2023-10-18
1
Mimik Pribadi
Mbah dukunnya kurang ngasih penjelasan ini thor,,,,Ada dampaknya apa tidak jika mereka melakukannya lgi diluar hari ritual yng sdh ditentukan,,,,,
2023-10-06
1