...༻◊༺...
Setelah mandi, Laras duduk di ruang tamu. Dia akan menunggu suaminya pulang.
Beberapa jam berlalu, Hery tak kunjung pulang. Padahal hari sudah larut malam. Laras bahkan tak sengaja tertidur di sofa.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, Laras terbangun. Dia melihat Hery datang.
"Apa kau menungguku?" tanya Hery seraya melonggarkan dasi.
"Iya, Mas. Aku menunggumu pulang sejak sore," jawab Laras.
"Maafkan aku. Harusnya kau tadi menelepon," ujar Hery. Dia mengajak Laras ke kamar. "Kau tidurlah! Aku akan mandi dulu," ucapnya.
Namun Laras dengan cepat menahan kepergian Hery. "Ayo kita mandi bersama!" ajaknya.
"Em..." Hery tersenyum kecut. "Aku mengerti maksudmu, Sayang. Tapi maafkan aku, sekarang aku merasa sangat lelah sekali," ungkapnya yang secara halus menolak ajakan Laras.
Laras melepaskan genggamannya. Dia berusaha menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja dengan penolakan itu.
"Tentu saja. Harusnya aku paham kau kelelahan," kata Laras.
"Sekali lagi maaf ya, Sayang." Hery mengecup kening Laras. Kemudian beranjak ke kamar.
Kini Laras termangu sembari melipat tangan di depan dada. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mendapat penolakan. Bisa dibilang Laras dan suaminya sudah jarang berhubungan intim. Hery akan bersedia di waktu tertentu saja.
"Bagaimana aku bisa hamil anaknya kalau begini?" gumam Laras. Dia berusaha tabah dan segera beranjak ke ranjang. Laras mencoba untuk tidur.
Satu minggu berlalu. Laras masih tidak bisa mengajak Hery untuk berhubungan intim. Dalam seminggu itu, sang suami selalu pulang malam, dan jika di pagi hari, Hery selalu berdesakan pergi bekerja. Membuat Laras merasa tidak tega untuk menyela walau hanya sebentar.
Memang sikap Hery begitu manis dan mesra pada Laras. Namun lelaki itu masih minim meluangkan waktu bersama istrinya sendiri. Kemungkinan Hery juga sudah putus asa memiliki anak. Hingga sekarang yang dirinya pikirkan adalah bekerja.
Di suatu pagi, Laras mengalami mual-mual. Sesekali dia juga akan muntah. Itu terus terjadi dalam beberapa hari. Hery yang sudah sering mendengarnya, sontak jadi khawatir.
"Sayang? Kau baik-baik saja?" Hery mengetuk pintu kamar mandi.
"Masuklah! Pintunya tidak dikunci," suruh Laras. Hery pun masuk ke kamar mandi dan langsung menghampiri.
"Aku terus muntah-muntah akhir-akhir ini. Aku takut penyakit maghku kambuh," ungkap Laras.
"Ayo kita ke dokter!" ajak Hery.
"Tapi kau kan harus bekerja," tanggap Laras.
"Mana mungkin aku bisa pergi bekerja saat melihat keadaan istriku begini," ujar Hery. Dia dan Laras lantas pergi ke dokter. Tanpa mencurigai apapun.
Selepas mendapat pemeriksaan, dokter memberitahukan kondisi Laras. Tanpa disangka, dokter memberikan kabar baik untuk Hery dan Laras. Sebab Laras terbukti sedang mengandung.
Mendengar hal itu, Hery sangat senang. Ia bahkan berulang kali bertanya pada dokter. Takut kalau apa yang dikatakan dokter hanyalah candaan. Namun Hery tidak bisa membantah saat melihat hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa Laras seratus persen positif hamil.
"Kau hamil, Sayang! Ini benar-benar kabar gembira. Akhirnya kesabaran kita berbuah manis!" seru Hery. Dia memeluk erat dan menciumi Laras dengan perasaan bahagia.
"Iya, Mas! Aku sangat senang." Laras terisak. Dia membalas pelukan Hery dengan senang hati.
Puas merayakan kabar gembira, Laras dan Hery kembali pulang. Keduanya berjalan sambil tersenyum serta bergandengan.
"Kita harus kasih kejutan untuk ayah dan ibu," imbuh Hery.
"Mereka pasti kaget," sahut Laras.
Ponsel Hery mendadak berdering. Dia segera mengangkat panggilan telepon. Lalu menyuruh Laras masuk lebih dulu ke mobil.
Ketika di mobil, senyuman lebar Laras langsung memudar. Dia meremas roknya dengan dua tangan. Bagaimana tidak? Laras sangat ingat betul kalau dirinya tidak pernah berhubungan intim dengan Hery pasca keguguran. Hal tersebut mengartikan kalau janin dalam rahim Laras bukanlah anaknya bersama sang suami. Melainkan anak hasil dari ritual yang dilakukan Laras dan Arga.
"Ini tidak mungkin terjadi!" gumam Laras. Menggeleng tak percaya. Dia membekap mulutnya sendiri karena merasa syok.
...***...
Sebelum tidur, Arga dan Agni melakukan hubungan intim. Keduanya melakukan itu setelah memastikan putra mereka tertidur.
Anehnya Arga merasa gairahnya tidak memuncak. Hingga aktifitas intim dilakukan cukup lama.
Sementara Agni, sudah dua kali merasakan puncak kenikmatan. Waktu sudah setengah jam lebih, namun Arga tak kunjung mencapai puncak.
"Apa masih belum juga? Pinggangku sudah penat, Mas! Kenapa akhir-akhir ini kau begini?" ujar Agni. Dia bahkan sudah lelah melenguh.
"Maaf. Kau istirahat saja. Kita akhiri di sini." Arga mengakhiri kegiatan intim dan berlari masuk ke kamar mandi. Ia yang mencemaskan Agni, memilih menuntaskan puncaknya sendiri.
Agni mendengus kasar sambil geleng-geleng kepala. "Dia semakin kuat saja. Mungkin lain kali dia bisa membuatku kebas sampai kejang," keluhnya seraya terkekeh. Dia sama sekali tak curiga dengan perubahan Arga.
Di kamar mandi, Arga tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencapai puncak. Sebab saat dia mengingat Laras, hasrat Arga langsung memuncak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
seperti nya Ada wanita lain dengan suaminya
2024-12-13
0
Anonymous
anaknya arga...astagaaa
2023-11-27
0
Princess Ren
jgn2 hery selingkuh sm agni 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔. karena agni hamil sedangkan Arga dodolnya ngga bisa berdiri. hery pun sebaliknya, g pernah mau menyentuh Laras... kan membagongkan 🤔🤔🤔🤔
2023-10-06
2