...༻◊༺...
Laras masuk ke ruang pesta sambil bergandengan dengan Hery. Keduanya memang diketahui sebagai pasutri yang harmonis. Bahkan ketika mereka tak kunjung dikaruniai anak.
Hery bekerja sebagai direktur perusahaan tekstil. Dia bisa dibilang memiliki kekayaan melimpah. Sedangkan Laras sendiri adalah gadis beruntung yang telah dipacari Hery semenjak SMA.
"Ngomong-ngomong, yang mana temanmu? Pihak laki-laki atau perempuan?" tanya Laras sembari memperhatikan pasangan pengantin yang asyik berfoto di pelaminan.
"Memangnya kenapa? Apa kau cemburu kalau aku dekat dengan pengantin perempuan?" goda Hery.
"Mas! Aku hanya bertanya. Kenapa kau menganggapnya berlebihan?" Laras terkekeh.
"Karena aku suka melihat sikapmu saat cemburu," balas Hery.
"Mas, apa kau mau kehilangan jatahmu selama seminggu?" Laras mengancam.
Hery memberengut. "Kenapa sasarannya jadi ke jatah sih!" keluhnya. Membuat Laras sontak tertawa geli. Mereka segera duduk ke meja yang telah disediakan. Kebetulan meja makan yang tersedia sudah disiapkan sesuai nomor undangan. Mengingat orang-orang yang datang hanyalah kalangan kerabat dekat.
Hery dan Laras duduk sambil menikmati hidangan yang disajikan. Di meja yang mereka tempati, masih ada dua kursi kosong.
Sesekali orang yang lewat menyapa Hery dan Laras. Mereka mengobrol sejenak karena lama tak bertemu.
"Sejak SMA kau nggak pernah berubah ya. Padahal umur sudah 28 tahun," ujar Rina. Teman SMA Laras.
"Begitulah Laras. Makanya aku tidak pernah melepasnya," sahut Hery. Membuat Laras langsung menyenggolnya dengan siku.
"Tapi sayang ya, kalian masih belum punya anak. Pas tahun pertama pernikahan kalian, aku kira Laras hamil loh. Kalau dulu itu hamil, pasti anaknya seumuran dengan Olive anakku," ucap Rina.
Senyuman di wajah Laras seketika memudar. Jujur saja, topik pembicaraan yang paling dibencinya adalah pertanyaan tentang anak.
"Aku rasa begitu. Kami hanya masih belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak." Berbeda dengan Laras, Hery berusaha menanggapi sindiran Rina dengan bijaksana.
"Mas, aku mau ke toilet." Alhasil Laras memilih kabur ke toilet. Di sana dia mencoba menenangkan diri dengan menatap pantulan cermin.
Tak lama kemudian, seorang perempuan masuk ke toilet. Dia terlihat bergegas ke depan wastafel karena ingin bercermin. Perempuan itu tampak memeriksa riasannya.
"Akhir-akhir ini dia nafsuan sekali," gumam perempuan tersebut pelan. Dia tidak lain adalah Agni.
Agni merasa lipstiknya pudar. Dia ingin mempertebal lipstik sebelum berbaur ke acara. Tetapi setelah memeriksa tas, Agni tidak menemukan lipstiknya.
"Mana lisptikku ya? Perasaan tadi sudah dibawa," gumam Agni yang masih mengobrak-abrik isi tasnya. Namun dia tetap tidak menemukan lipstik.
"Mencari lipstik ya, Mbak? Kalau mau, kau bisa pakai punyaku." Tanpa mengetahui siapa Agni, Laras memberikan lipstiknya.
Agni menoleh. Dia menatap lipstik yang disodorkan Laras. "Apakah tidak apa-apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga baru membelinya. Jadi belum aku pakai. Lihatlah dulu. Aku tidak tahu apakah kau menyukai warnanya," sahut Laras.
Agni mengambil lipstik dari Laras. Ia memeriksa lipstik tersebut. "Ya ampun. Lipstik ini pasti mahal. Aku jadi tidak enak," katanya.
"Ambil saja," tanggap Laras seraya tersenyum. Lalu beranjak keluar toilet.
"Terima kasih, Mbak!" ungkap Agni. Tepat sebelum Laras benar-benar pergi. Laras lantas membalas dengan anggukan.
Setelah Laras pergi, Agni termangu. Dia terpesona dengan sosok Laras.
"Dia perempuan yang luar biasa. Sudah cantik, kaya, baik lagi. Beruntung sekali suaminya," gumam Agni. Dia merasa bersemangat sekali mengenakan lipstik pemberian Laras. Mengingat lipstik milik Laras bukanlah produk kaleng-kaleng.
Usai membenahi riasan, Agni meninggalkan toilet. Dia menemui Arga yang juga baru keluar dari toilet.
"Lain kali, jangan menciumku saat memakai riasan!" timpal Agni pelan namun penuh penekanan.
Arga tergelak. "Kalau tidak mau, harusnya kau menolak. Ini asal terima saja," balasnya.
"Aku istri yang baik. Jadi selalu memberi jatah untuk suami. Walau sekedar ciuman sekali pun." Agni mencubit perut Arga. Meskipun begitu, mereka tetap berjalan sambil bergandengan tangan.
"Kehamilanmu yang kedua ini sepertinya berjalan lancar. Aku jarang melihatmu muntah-muntah," cetus Arga.
"Ya iyalah! Kau nggak ngerasain. Setiap pagi aku mual terus tahu nggak! Dasar paksu. Tahunya wikwik aja," tukas Agni sambil memanyunkan mulut.
"Haish! Selalu salah aku di matamu." Arga kehabisan kata-kata untuk membalas sang istri.
Setelah berjalan beberapa saat, Agni akhirnya menemukan meja yang sesuai dengan nomor undangan miliknya.
"Lihat, Mas! Itu nomor kita!" seru Agni sembari menunjuk meja yang dimaksud. Dia dan Arga buru-buru menghampiri meja tersebut.
Deg!
Arga kaget setengah mati tatkala menyaksikan Laras duduk di tempat yang sama dengannya. Hal serupa juga dirasakan Laras saat melihat Arga. Wajah mereka seketika memucat. Kebetulan itu terasa menegangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Anonymous
kebetulan sekali. Udah diatur sama seno
2023-11-27
1
Devi Handayani
dunia memang selebar daun kelor.... alias sempit.... loe lagi loe lagi😅😅😁😁🤣🤣🤣🤣😁😁😁
2023-10-06
1
Sarita
diewe terus salah ga di ewe marah
2023-10-06
0