...༻◊༺...
Laras menghabiskan waktu sendirian di balkon. Dia tidak menyangka, kehamilan yang sudah dinantinya sejak dulu akan menjadi seperti ini.
'Aku harus mengakhiri semuanya. Dengan begitu hidupku bisa tenang. Aku juga bisa memiliki keluarga seperti yang selama ini kubayangkan. Aku hanya tinggal merahasiakan semuanya sebaik mungkin,' batin Laras. Senyuman akhirnya mengembang di wajahnya.
Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Laras masih di balkon sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Dari balkon, Laras bisa melihat pintu gerbang rumahnya. Di sana dia melihat seorang wanita aneh yang menatap tepat ke arahnya. Tampilan wanita itu jadul sekali. Dia mengenakan kebaya putih dengan rambut yang digelung. Pakaiannya persis seperti wanita jawa di zaman dulu.
Laras pun curiga. Dia buru-buru turun dari balkon. Lalu menghampiri pagar. Laras melihat wanita berpakaian kebaya itu masih berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Permisi... Apa ada yang bisa dibantu?" tanya Laras.
Wanita berkebaya itu tersenyum. "Mbah Seno mengirimku untuk menemuimu," ucapnya.
Pupil mata Laras membesar. Dia menoleh ke kanan dan kiri dengan cepat. Berharap tidak ada yang melihat. "Tunggulah di sini!" suruhnya yang langsung dijawab wanita berkebaya tersebut dengan anggukan.
Laras mengambil mobilnya. Untuk berjaga-jaga, dia akan bicara di luar rumah. Dimana semua orang tidak akan ada yang tahu.
Laras menyuruh si wanita berkebaya ikut bersamanya. Dia menghentikan mobil di tempat sepi, lalu bicara.
"Apakah ini mengenai uang yang harus kubayar? Jadi aku harus membayar berapa?" tanya Laras.
"Sebelumnya perkenalkan namaku Ajeng. Aku keponakan Mbah Senopati," tutur Ajeng.
"I-iya. Aku Laras," tanggap Laras yang merasa canggung. Dia merasakan ada aura aneh yang menyelimuti sosok Ajeng. Arah pandangan wanita itu seakan tidak berisi.
Hening menyelimuti suasana dalam sepersekian detik. Saat Laras mengangakan mulut karena hendak bicara, Ajeng lebih dulu bersuara.
"Jadi begini... Kata Mbah, saat bulan purnama baru ini, kau dan lelaki itu berhubungan intim setelah melakukan ritual utama. Benarkah itu?" tanya Ajeng. Matanya mendelik penuh selidik. Dia tersenyum tetapi senyumannya begitu kaku.
"Em..." Laras menenggak salivanya sendiri. Keringat panas dingin langsung menyelimuti. Dia takut dirinya akan mendapatkan resiko berat karena kesalahan malam itu.
Meskipun begitu, Laras memberanikan diri menganggukkan kepala. Mengiyakan bahwa apa yang diketahui Senopati itu memang terjadi.
"Kalau begitu, kalian sudah melakukan kesalahan besar. Apa yang kalian lakukan itu akan membuatmu semakin saling terikat. Apalagi sekarang kau mengandung bayi dari lelaki itu bukan?" tukas Ajeng.
"I-iya..." Laras terisak sambil memegangi perutnya.
Ajeng berseringai. Dia berucap, "Bayi itu akan mati kalau kau tidak melakukan ritual di bulan purnama berikutnya."
"Apa?!" Laras dibuat kaget sekali. Padahal baru saja beberapa menit lalu dia memutuskan ingin berhenti melakukan ritual.
"Tidak bisa begitu! Apakah ada jalan lain? Mungkinkah aku bisa hamil lagi setelah bayi dalam perutku ini mati?" tanya Laras yang merasa tak mau lagi terikat dengan Arga.
Ajeng tergelak. "Tentu saja tidak! Kau akan kembali mandul seperti dulu!" sahutnya gamblang.
Tangisan Laras kian menjadi-jadi. Dia begitu frustasi.
Di sisi lain, Arga mengalami hal serupa dengan Laras. Tetapi bedanya, dia ditemui oleh seorang lelaki bernama Raden. Lelaki yang juga mengenakan pakaian kuno. Kini Arga dan Raden juga sedang bicara di dalam mobil.
Arga sangat syok saat mendengar berita tentang kehamilan Laras. Dia menjadi sangat bersalah akan hal itu. Arga bahkan berteriak histeris dan meneteskan air mata.
"Mengenai pembayaran, kau dan perempuan itu harus membangun sebuah rumah di tempat yang di inginkan Mbah Seno. Tepatnya di hutan bagian barat Gunung Kidul," jelas Raden.
"Baiklah." Arga mengangguk. Dia kemudian menundukkan kepala ke bawah. Tenggelam dalam penyesalan. Tanpa dirinya sadari, Raden pergi begitu saja tanpa pamit.
Arga baru sadar dengan kepergian Raden ketika kepalanya mendongak. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi Laras.
"Raga! Aku baru saja mau menghubungimu. Aku--"
"Aku sudah mendengar semuanya! Karena kesalahan kita di malam itu, semuanya jadi kacau. Kita harus bertemu dan bicara!" potong Arga. Dia dan Laras sama-sama meredam tangis. Menahan rasa sesak di dada.
"Ya sudah. Kita bertemu besok! Kita juga harus membicarakan masalah pembayaran kan?" tanggap Laras.
"Iya..." lirih Arga. Dia dan Laras membisu beberapa saat.
"Maafkan aku... Kau jadi mengandung anakku sekarang..." ungkap Arga.
"Tidak. Di sini kita berdua sama-sama salah. Kita harus menghadapi resikonya. Aku akan memikirkan semuanya baik-baik malam ini," sahut Laras. Pembicaraannya dan Arga berakhir di sana.
Karena kabar tak terduga, Arga merasa tak bisa kembali pulang ke rumah. Dia menghabiskan waktu semalaman di dalam mobil. Di waktu yang sama, ternyata Laras juga berbuat hal serupa. Rasa bersalah yang begitu besar, membuat mereka tak mampu menemui pasangan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Msh agak bureng sih sebenarnya,,,,sblm keguguran Laras bener hamil anaknya Harry y thor,dan Agni hamil anaknya Arga kan,karna stlh hubungan intim Laras dan Arga di danau kondisi mereka tiba2 sembuh total,,,,,Sedangkan Hamilnya Laras karna kesalahan mereka karna berhubungan diluar Ritual yng dianjurkan,,,,,
2023-10-15
4
mamah teby
salahnya karena nambah ronde kedua ya Thor
2023-09-08
1
Junifa
yei semakin seru👏🎉😄
2023-08-22
1