...༻◊༺...
Pikiran Laras jadi kemana-mana saat menemukan sapu tangan wanita di kantong jas Hery. Meskipun begitu, dia tetap berusaha berpikir logis.
"Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja ini sapu tangan temannya. Mas Hery bisa saja lupa dan memasukkan ini ke saku jasnya. Sebaiknya aku tanya Mas Hery nanti," gumam Laras. Berusaha meyakinkan diri sendiri.
Usai memilih pakaian untuk dicuci, Laras pergi mandi. Ia menjalani kegiatan di rumah seperti biasa. Laras sudah sangat terbiasa dengan aktifitas yang membosankan.
Di sisi lain, Arga baru pulang bekerja. Dia menyapa Rasya sebentar yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Setelah itu, Arga pergi menemui Agni ke kamar. Istrinya tersebut tampak sibuk dengan laptop.
Senyuman nakal mengembang di wajah Arga. Dia diam-diam mendekati Agni dari belakang.
Tepat sebelum Arga tiba, Agni langsung menutup hidungnya. Ia menoleh dan berhasil memergoki niat jahil sang suami.
"Sudah kuduga. Mas Arga bau sekali. Huek! Aku tidak tahan menciumnya," keluh Agni yang langsung merasa mual.
"Bau? Padahal ini bauku yang biasanya kok." Arga yang merasa heran, lantas membaui badannya.
"Kau tahu aku sedang hamil bukan? Mandilah!" titah Agni.
Arga mendengus kasar. Dengan malas, dia berjalan memasuki kamar mandi.
Saat selesai mandi, dia melihat Agni telentang di ranjang. Istrinya itu mencoba untuk tidur.
Arga tersenyum tenang. Dia segera bergabung ke ranjang setelah mengeringkan rambut.
Merasakan adanya pergerakan, mata Agni terbuka lebar. "Mas!" serunya.
"Kenapa? Apa kau masih tidak suka dengan bauku?" tanya Arga.
"Tidak! Entah kenapa aku benci melihatmu. Bisa kah kau malam ini tidur di luar?" tukas Agni seraya berusaha menjaga jarak dari Arga.
"Kau ini kenapa? Tadi kau tidak suka dengan bauku, sekarang tak mau melihatku? Apa aku terlihat jelek di matamu?" tanggap Arga.
"Ya. Aku merasa auramu mirip dengan Joker. Aku sepertinya tidak bisa tidur kalau satu ranjang denganmu," jelas Agni.
"Apa? Joker?" Arga sekali lagi mendengus. Dia berusaha memahami Agni yang sedang terkena demam ngidam. Malam itu Arga terpaksa tidur di kamar tamu.
Hari demi hari, ngidam Agni yang tak mau melihat Arga semakin parah. Dia bahkan terkadang mengusir Arga dengan cara mengomel. Sampai suatu hari, tibalah Agni berada di posisi yang sudah benar-benar tak mau melihat wajah sang suami.
"Mas! Aku tidak tahu kenapa denganku. Tapi aku merasa jijik setiap kali melihat wajahmu! Aku mohon untuk beberapa hari, jangan muncul di hadapanku. Kalau perlu, kau menginap di hotel saja untuk sementara," ujar Agni.
"Sayang! Kau mengidam atau mencoba menyiksaku?" balas Arga yang merasa tak habis pikir. "Aku bahkan tidak bisa--"
"Pergi, Mas! Huek!" potong Agni. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah hebat. "Pergilah kalau kau tak mau aku tersiksa dengan mual berat ini!" suruhnya.
Arga mencoba tabah. Dia tak punya pilihan selain menurut. Dirinya duduk menghempas ke sofa. Bertepatan dengan itu, Rasya datang.
"Papa! Mama kenapa sih marah sama Papa terus? Apa Papa melakukan kesalahan?" tanya Rasya dengan wajah polosnya.
"Enggak, Sya. Mama cuman kecapekan aja. Kan mama juga lagi hamil adikmu," tutur Arga. "Jangan terlalu dipikirin ya. Nanti Papa sama mama baikan lagi kok," tambahnya.
Rasya menganggukkan kepala. Dia mencoba memahami.
"Oh iya, kau ada les kan jam tiga ini? Kenapa nggak siap-siap?" ujar Arga sengaja merubah topik pembicaraan.
"Iya, Pa. Aku mau siap-siap dulu." Rasya segera pergi ke kamar.
Arga tersenyum tipis. Selepas Rasya beranjak, dia kembali galau. Arga juga terpikirkan pertanyaan putranya tadi.
"Kesalahan ya?" gumam Arga sambil mengingat kesalahannya. Yaitu ritual bergairah yang harus dia lakukan dengan wanita lain. Ketika memikirkan itu, Arga merasa bersalah. Namun jika tidak begitu, maka sekarang Agni tidak akan bisa hamil.
Secara alami, Arga jadi memikirkan Laras. Ia bahkan mengingat secara bertahap adegan panas mereka. Akibatnya, organ intim Arga jadi menegang.
"Sial! Bini lagi ngidam nggak pengen lihat aku lagi!" keluh Arga. Dia buru-buru ke kamar mandi.
Tubuh Arga melemas saat selesai menuntaskan hasratnya seorang diri. Dia berusaha keras untuk berhenti memikirkan Laras.
"Apa sebaiknya aku berhenti saja melakukan ritual? Sia-sia aku sembuh kalau istri nggak mau," gumam Arga dengan pundak melemah.
Di waktu yang sama, Laras sedang sendirian di rumah. Malam itu kebetulan Hery tidak pulang karena ada dinas.
Laras tidak bisa tidur karena memikirkan kecurigaannya terhadap Hery. Sebab lelaki tersebut menjawab kalau sapu tangan yang ada di jasnya milik sang ibu.
"Apa aku tanyakan saja sama Mama?" pikir Laras. Dia memutuskan beranjak dari tempat tidur. Lalu berkendara menuju rumah ibu mertua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
fiendry🇵🇸
parah sekali ngidam istrimu pak Dokter
2023-10-04
1
Junifa
ngidamnya agni menyiksa arga
2023-08-27
0
Myra Myra
upah sesorang detektif cari tahu...nk tahu sape jgk Ae selingkuhan Heri...jgn Agi dh Ae...
2023-08-27
0