...༻◊༺...
Dua minggu berlalu. Laras sedang berada di kamar mandi. Ia baru saja selesai menggunakan testpack.
Dengan hati-hati, Laras membuka matanya. Berharap testpack menunjukkan garis dua.
Pupil mata Laras membesar ketika mengetahui harapannya terkabul. Testpack menunjukkan garis dua.
Saking senangnya, Laras sampai menangis. Setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya keinginannya untuk punya anak terwujud.
Laras ingin secepatnya memberitahu sang suami mengenai kehamilannya. Namun pada saat itu, terdengar suara mesin mobil Hery dari luar. Pertanda kalau suaminya akan segera berangkat kerja.
Buru-buru Laras berlari keluar kamar mandi. "Mas! Mas, Hery!" panggilnya.
Laras menuruni tangga dengan langkah cepat. Karena terlalu tergesa-gesa, dia terpeleset dan jatuh. Laras bahkan sempat terguling di tangga.
"Aaaarkkhh!" Laras memekik nyaring. Testpack yang ada di tangannya harus terjatuh lebih dahulu ke bawah.
Namun sayangnya teriakan Laras tidak sempat didengar oleh Hery. Lelaki tersebut terlanjur pergi dengan mobilnya.
"Nyonya!" Bi Iyem yang merupakan pembantu di rumah Laras langsung menghampiri. Dia memeriksa keadaan Laras yang jatuh tersungkur di bawah tangga.
"Nyonya tidak apa-apa kan?" tanya Bi Iyem. Saat itulah dia melihat darah bercucuran di antara dua kaki Laras. "Nyonya! Kau berdarah!" ungkapnya panik.
Laras yang mendengar segera memeriksa keadaannya. Benar saja, ada darah yang keluar dari tubuhnya.
"Tidak! Tidak!" Laras syok sekali. Mengingat darah yang keluar berasal dari alat vitalnya. Tangisan bahagia seketika berubah menjadi tangisan kesedihan.
"Ayo, Nyonya..." Bi Iyem membantu Laras pindah ke sofa. "Aku akan menelpon Tuan!" ujarnya sembari beranjak menuju telepon. Namun tangan Laras sigap menghentikan. Perempuan itu tampak memasang tatapan kosong.
"Jangan! Aku tidak mau Mas Hery tahu tentang ini," pinta Laras.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu aku akan menelepon dokter saja," sahut Bi Iyem.
"Tidak usah! Aku akan pergi ke klinik sendiri. Bersihkan saja darah di lantai itu!" tolak Laras datar.
Bi Iyem menatap miris Laras. Dia hanya bisa menurut dan segera membersihkan darah di lantai. Bi Iyem menemukan testpack dengan dua garis merah saat sibuk mengelap lantai. Sekali lagi dia menatap Laras dengan belas kasih. Perempuan itu berjalan melewatinya dengan tatapan kosong.
Laras kembali ke kamar mandi. Ia membersihkan diri dan pergi ke klinik.
Meski sudah mengalami pendarahan, Laras masih berharap janinnya selamat. Tetapi setelah diperiksa, ternyata dia sudah keguguran.
Laras hanya bisa menangis tersedu-sedu. Segala penyesalan merenggut sanubarinya. Seharusnya dia berjalan dengan pelan dan lebih hati-hati. Laras menghabiskan waktu hampir setengah jam menangis di mobil.
Alarm ponsel mendadak berbunyi. Laras segera memeriksa dan melihat pemberitahuan kalau satu minggu lagi akan terjadi bulan purnama.
"Aku harus melakukannya lagi," gumam Laras. Akibat keguguran, dia ingin meneruskan ritual lagi.
Di waktu yang sama, Arga sekarang sedang di kamar mandi bersama Agni. Semenjak sembuh dari impoten, mereka bersikap seperti pasangan yang baru menikah. Hampir setiap hari keduanya bermesraan.
Arga dan Agni berdiri di bawah shower. Keduanya sama-sama tidak mengenakan busana.
Arga berdiri di belakang Agni. Tangannya itu menyentuh lembut tubuh sang istri. Lalu memanjakannya dengan kecupan-kecupan di leher sampai bibir.
Penyatuan segera dilakukan oleh Arga dari belakang. Agni segera mengerang nikmat sambil menopang tubuh ke dinding kamar mandi.
Kegiatan intim berakhir saat Arga dan Agni merasa saling terpuaskan. Sekarang keduanya lemas dan sibuk mengontrol nafas.
"Apakah tidak apa-apa aku terus bercinta saat dalam keadaan hamil begini?" cetus Agni.
"Aku rasa begitu. Kita tak bisa menahan diri," tanggap Arga.
"Kau benar..." Agni terkekeh bersama Arga. Keduanya segera mengenakan handuk.
"Aku duluan! Sepertinya aku sudah telat," kata Arga. Ia melangkah menuju pintu.
"Lagi pula siapa suruh berlama-lama di kamar mandi," sahut Agni.
"Itu gara-gara kau," balas Arga.
Agni tergelak. "Kenapa kau menyalahkanku? Salahkan terongmu itu yang tidak bisa terkendali."
"Terong? Bukankah itu kesukaanmu?" goda Arga.
"Sayang..." Agni kalah telak. Dia lantas hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
Bersamaan dengan itu, Arga mengenakan pakaian. Dia bersiap untuk pergi bekerja. Atensinya tidak sengaja tertuju ke arah kalender yang ada di atas nakas.
'Sebentar lagi bulan purnama. Aku harus melakukan ritual. Kalau tidak, maka aku akan impoten lagi,' batin Arga. Ponselnya tiba-tiba berdering. Pupil mata Arga membesar saat melihat nama Sukma tertera di layar ponsel.
Buru-buru Arga mengambil ponselnya. Sebelum Agni keluar dari kamar mandi. Selanjutnya, Arga beranjak dari kamar. Dia mencari tempat aman untuk bicara dengan Laras di telepon.
"Ada apa?" tanya Arga yang sudah mengangkat telepon.
"Seminggu lagi bulan purnama. Apa kau akan melakukan ritualnya lagi?" ujar Laras dari seberang telepon.
"Ya, aku akan melakukannya."
"Kalau begitu kita akan menyusun pertemuan."
"Baiklah. Sampai ketemu satu minggu lagi."
Pembicaraan Arga dan Laras berakhir. Keduanya tentu merasa berat harus melakukan ritual lagi. Tetapi mau bagaimana? Mereka sama-sama memiliki keinginan yang kuat untuk membahagiakan pasangan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Laras kasian,,,, knpa tidak hati2 sih Laras, ngasih tau dia hamil itu bisa lewat VC klo gak sabar ngasih tau saat sore suaminya pngn kerja,,,
2023-10-06
6
fiendry🇵🇸
cerita nya seru
2023-10-04
0
Junifa
sebenarnya melakukan ritual itu harus tetap dengan orang yang sama atau boleh ganti orang lain lagi😕
2023-08-18
1