...༻◊༺...
Laras langsung mandi saat pulang ke rumah. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk membuat kue. Laras hobi memasak. Meskipun begitu, dirinya memilih jadi ibu rumah tangga atas dasar permintaan Hery.
Membuat kue adalah pelarian Laras dari banyaknya kekalutan. Ia biasanya membuat kue bolu dengan rasa vanilla. Laras berharap, dengan rencana barunya terkait ritual bergairah, dia tidak akan merasa terganggu lagi.
"Andai Nyonya membuat toko kue, aku yakin pasti akan laris manis," puji Bi Iyem yang membantu Laras membuat adonan.
"Bisa aja, Bi Iyem," tanggap Laras sembari tersenyum tipis. Ia biasanya menghabiskan waktu untuk melakukan yoga dan membaca.
Kini Laras duduk di depan jendela. Dia menutup buku yang dibacanya sejenak. Lalu memegangi perut.
"Semua ini pasti tidak akan membosankan lagi saat kau lahir nanti," ucap Laras. Dia bertekad akan melupakan fakta bahwa jabang bayi dalam kandungannya adalah anak Arga. Dirinya berjanji tidak akan membicarakan hal itu sedikit pun sampai mati.
Hari itu, Hery pulang lebih cepat dari biasanya. Dia membelikan Laras berbagai kebutuhan ibu hamil. Dari mulai susu, makanan sehat, bahkan baju baru.
"Astaga, Mas. Bukankah ini berlebihan?" tukas Laras. Walau berucap begitu, dia sebenarnya senang. Hery memang tahu bagaimana caranya memanjakan istri.
"Tentu tidak. Istriku sekarang hamil, aku harus memberikan penjagaan maksimal. Apa kau tidak senang aku bertindak begini?" Hery memeluk pinggang Laras. Dia memegangi wajah sang istri dan memancarkan tatapan lekat.
"Senang banget! Makasih ya, Sayang..." Laras mengecup singkat bibir Hery. Keduanya lantas saling berpelukan.
"Oh iya, jam berapa kau pulang?" tanya Hery seraya melepas pelukan.
"Em... Sekitar jam sepuluhan tadi," jawab Laras yang segera beranjak dari hadapan Hery. Mengingat dia berbohong akan kepergiannya tadi malam. Laras mengatakan dirinya menginap di rumah orang tua. Ia terpaksa berbohong kalau ibunya sedang sakit.
"Lantas bagaimana kabar ibumu? Harusnya aku ikut denganmu tadi malam. Apa yang akan dipikirkan ibumu nanti mengenai menantunya," ungkap Hery.
"Tidak usah, Mas. Ibu sudah membaik kok. Makanya aku bisa pulang sekarang." Laras berusaha menjawab dengan tenang.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Hery. Dia segera berderap menuju kamar mandi.
Di sisi lain, Arga sekarang sedang makan malam bersama istri dan putranya. Untung saja hari itu Arga bisa mengatasi kemarahan Agni. Meskipun dia harus berjanji tidak akan pergi dengan cara menghilang seperti tadi malam.
"Ngomong-ngomong adikku nanti cowok atau cewek?" cetus Rasya. Dia sudah tak sabar menanti kehadiran adik barunya.
"Eh, Mama kamu baru hamil tiga minggu, masih belum ketahuan, Sya..." jawab Arga.
"Aku harus menunggu sampai kapan sih? Aku padahal udah nggak sabar buat main bareng." Rasya memanyunkan mulutnya.
"Emang kamu maunya cowok atau cewek?" tanya Agni.
"Apa aja deh. Tapi bagusnya cowok sih, biar kami bisa main bola bareng," ungkap Rasya yang telah membayangkan bagaimana serunya bermain bersama sang adik.
"Haish! Emangnya kalau cewek nggak bisa main bola?" Arga yang gemas, mengusap puncak kepala Rasya. Semua orang di meja makan tergelak bahagia.
Saat berada dalam suasana keluarga seperti sekarang, Arga sadar kalau itu sangat berharga. Ia akan berusaha memberikan terbaik kepada keluarganya.
'Orang seperti Sukma tidak pantas menghancurkan semua ini. Ya, anggap saja kita mulai semuanya dari awal,' batin Arga.
Hari demi hari berlalu. Tibalah bulan purnama. Arga dan Laras sepakat akan bertemu di hotel yang berbeda dari sebelumnya. Mereka sama-sama mempersiapkan sesuatu dengan cara yang berbeda.
Kali ini orang yang pertama kali tiba di hotel ada Laras. Dia menutup matanya saat mendengar pintu di ketuk. Laras menutupi matanya dengan kain hitam. Ia sengaja tidak mengunci pintu agar Arga bisa langsung masuk, dan dirinya tidak perlu repot beranjak.
"Masuklah!" suruh Laras.
Arga yang baru saja datang segera masuk ke kamar. Dia tentu tak lupa mengunci pintu. Arga berjalan pelan menghampiri Laras. Dirinya menyaksikan perempuan itu duduk di sofa dengan mata tertutup.
"Kau bilang di telepon kalau kau juga punya syarat untukku. Apa itu?" cetus Laras.
"Aku juga tak ingin melihat wajahmu," sahut Arga.
Dahi Laras berkerut. "Kalau begitu, apa kau..." ucapnya. Menduga Arga akan memasang topeng di wajahnya.
"Ya, aku akan memakaikan wajahmu dengan topeng." Arga duduk ke hadapan Laras. Dia menyerahkan topeng yang dia bicarakan ke tangan perempuan tersebut.
"Baiklah. Aku tidak masalah. Tapi sepertinya karena topeng, kita akan kesulitan berciuman."
"Tidak. Karena aku sengaja membeli topeng yang hanya menutupi bagian dahi sampai hidungmu saja."
"Benarkah?" Laras meraba topeng pemberian Arga. Kemudian memakainya. Benar saja, topeng itu hanya menutupi wajah sampai area hidungnya.
"Kita tidak perlu berlama-lama. Sebaiknya kita langsung lakukan ritualnya," imbuh Arga sambil melepas pakaiannya satu per satu.
"Ya. Aku sudah menyiapkan semuanya di kamar mandi." Laras berdiri dan mulai menanggalkan pakaiannya. Dia mengandalkan arahan dari Arga untuk masuk ke kamar mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Lanjuut
2023-10-15
1
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2023-08-25
0