...༻◊༺...
Pagi telah tiba. Mentari yang cerah muncul setelah badai menyapa.
Laras menjadi orang pertama yang terbangun. Dia menemukan dirinya berada dalam pelukan Arga.
Keadaan rambut Laras tampak acak-acakan. Dia jadi teringat dengan kegiatan tadi malam.
Laras melepaskan diri dari pelukan Arga. Dia merubah posisi menjadi duduk. Menatap Arga dengan perasaan tidak nyaman.
Bukannya merasa senang, mengingat apa yang terjadi tadi malam membuat Laras frustasi. Dia sangat menyesal sudah bercinta dengan Arga untuk kedua kalinya. Terlebih tadi malam segalanya dilakukan begitu panas. Laras dan Arga bahkan melakukan hal yang tak pernah mereka lakukan saat berhubungan intim.
Laras pun menangis. Dia merasa sangat bersalah dengan suaminya.
Mendengar isakan Laras, Arga lantas terbangun. Dia khawatir melihat perempuan itu menangis.
"Sukma! Kau tidak apa-apa? Kenapa menangis?" tanya Arga sembari menyentuh pundak Laras. Akan tetapi langsung ditepis perempuan tersebut.
"Kita melakukan hal yang gila tadi malam... Itu sangat salah, Ga!" ujar Laras seraya berusaha menghentikan tangis.
Arga menundukkan kepala. Ia tak bisa berkata-kata. Sebab dirinya juga merasakan hal yang sama seperti Laras.
"Aku mau pulang sekarang! Yang terjadi tadi malam tidak akan terulang lagi," ucap Laras sembari beranjak dari ranjang. Dia bergegas mengenakan pakaian dan langsung pergi.
Sementara Arga masih mematung di tempat. Ia mengacak-acak rambut frustasi. Gambaran tentang tadi malam sangat jelas di ingatannya.
"Aku merasa tadi malam kalau aku bukanlah diriku," gumam Arga. Dia segera berbenah dan meninggalkan hotel. Di perjalanan, dirinya tak lupa membelikan oleh-oleh untuk Agni dan putranya.
Setibanya di rumah, Agni langsung menyambut kedatangan Arga. Begitu pun putranya yang asyik bermain di minggu pagi.
"Papa! Kau membawakan oleh-oleh untukku?" tanya Rasya.
Arga mengembangkan senyuman ceria. Melihat wajah putranya, membuat suasana hatinya berubah dalam sekejap.
"Lihat yang Papa belikan untukmu," ujar Arga seraya memperlihatkan tas karton berisi mainan. Dia memberikan tas itu pada Rasya. Sang putra lantas melompat kegirangan.
Setelah Rasya pergi untuk bermain, Agni mendekat. "Kau pasti lelah. Sebaiknya kau mandi dan beristirahat," sarannya sambil melepaskan jaket Arga. Dahi perempuan itu berkerut saat mencium aroma bunga melati dari badan sang suami.
"Lelahku sudah hilang saat melihat istriku yang cantik," goda Arga.
"Bisakah kau berhenti?" tanggap Agni. "Ngomong-ngomong, kenapa bau badanmu seperti bunga melati?" tanyanya.
Mata Arga membulat sempurna. Meskipun begitu, dia berusaha bersikap normal.
"Bau melati? Jangan halu deh. Bilang saja kau menyukai aroma badanku yang belum mandi ini," kata Arga. Sengaja merubah topik pembicaraan.
"Cukup, Mas! Mandi sana!" perintah Agni sambil geleng-geleng kepala. Dia memutuskan untuk tidak peduli dengan aroma aneh yang tercium dari badan Arga.
Ketika di kamar. Arga segera mengirim pesan pada Laras. Dia memberitahu Laras agar langsung membersihkan diri saat tiba di rumah.
Bruk!
Pintu mendadak terbuka. Arga dibuat kaget sampai berjengit dibuatnya. Ponselnya bahkan nyaris terlempar. Arga langsung menyimpan ponsel ke saku dan berbalik ke arah pintu. Ternyata orang yang masuk adalah Agni.
"Aku lupa memberitahumu. Hari ini ada acara pernikahan rekan kerjaku. Kau bisa menemaniku pergi kan?" tanya Agni.
"Iya, tentu saja. Apa yang tidak untukmu," sahut Arga.
"Mas, berhentilah membual!" balas Agni. Walaupun begitu, rayuan Arga sukses membuatnya tersenyum.
Di sisi lain, Laras menerima pesan dari Arga. Dia segera membaui badannya. Benar saja, Laras merasa tubuhnya menguarkan aroma bunga yang kuat.
"Aneh sekali. Padahal aku dan dia tidak berendam di air bunga tujuh rupa," gumam Laras. Walaupun begitu, dia tak ambil pusing. Dirinya masuk ke rumah dan ingin cepat-cepat mandi.
Langkah Laras terhenti ketika melihat Hery berdiri dan mendekatinya.
"Akhirnya kau pulang. Kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Hery yang tampak cemas. Ia hendak menyentuh Laras. Akan tetapi perempuan itu menghindar. Laras berusaha keras agar Hery tidak mencium aroma bunga dari tubuhnya.
"Maaf, Mas. Ponselku kehabisan baterai. Aku akan ceritakan semuanya nanti. Aku mau mandi dulu," ujar Laras yang buru-buru masuk ke kamar mandi.
Hery mengerutkan dahi. Dia tidak sedikit pun berpikiran hal yang aneh mengenai Laras. Mengingat dirinya sudah mengenal Laras semenjak SMA.
"Setelah ini bersiaplah! Kita akan pergi ke resepsi pernikahan temanku!" seru Hery.
"Iya, Mas!" Laras menyahut dari kamar mandi.
...***...
Setelah membersihkan diri, Laras langsung berdandan. Ia mengenakan gaun pesta dan membenahi wajah dengan make up tipis.
Dari arah belakang, Hery mendekat. Ia sudah siap dengan kemeja rapi. Hery memeluk Laras dari belakang.
"Istriku cantik sekali," puji Hery.
Laras tersenyum kecut. Ingatan tentang kesalahan tadi malam membuatnya gundah.
"Ada apa? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Hery yang bisa menyaksikan ekspresi sendu di wajah Laras.
"Tidak. Aku baik-baik saja." Laras buru-buru menjawab. Dia memutar tubuhnya menghadap Hery dan tersenyum lebar. "Ayo kita pergi!" ajaknya.
Hery dan Laras segera berangkat ke acara resepsi pernikahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Bnyk keganjilan saat melakukan ritual ke-2 itu thor,,,,,dan ini bener2 bikin aku penasaran ,adakah sesuatu yng salah dngn mereka mengingat sesuatu yng tak biasa itu terjadi thor???
2023-10-06
4
Junifa
pasti resepsi yang sama yang dihadiri agni dan arga
2023-08-20
0