...༻◊༺...
Jantung Laras rasanya mau meledak! Bagaimana bisa suaminya pergi ke restoran yang sama dengannya?
"Kenapa? Apa kau melihat kenalanmu?" tanya Arga menebak. Ia dan Laras bersembunyi dibalik dinding.
"Bukan kenalan lagi. Tapi suamiku!" sahut Laras. Dia terlihat berusaha mengintip ke arah suaminya berada. Laras merasa semakin panik saat melihat Hery dan dua rekannya duduk di dekat pintu menuju balkon.
"Sial! Aku rasa kita terjebak," ucap Laras seraya menyandar ke dinding.
"Maksudmu?" Arga penasaran. Dia lantas mencoba mengintip. Namun Laras sigap menghentikan pergerakannya.
"Jangan coba-coba! Mereka sangat dekat!" Laras memperingatkan.
Arga mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia mencoba mencari jalan keluar. Namun satu-satunya jalan keluar adalah pintu.
"Tidak ada jalan lain selain pintu," cicit Arga.
"Aku tahu!" sahut Laras. Tanpa sadar, dia menggenggam tangan Arga erat sekali. Perempuan itu panik sekali. Mungkin bisa dibilang dia sudah berada di tahap ketakutan.
Arga menghembuskan nafas dari mulut. Dia memikirkan cara untuk membantu Laras. Hingga ide cemerlang muncul dalam benaknya. Ia segera memberitahu Laras akan hal tersebut.
"Diamlah di sini. Kau bisa pergi saat aku mengajak Hery bicara. Mengerti?" ujar Arga.
"Mengerti!" Laras mengangguk.
Arga pun berderap menuju pintu. Tetapi dia langsung kembali menghampiri Laras karena ingin menanyakan sesuatu lagi.
"Kenapa kau kembali?" timpal Laras.
"Kau tidak bilang kalau Hery bersama dua orang!" balas Arga.
"Kau tenang saja. Dua orang itu tidak mengenalku. Kau hanya perlu membawa Hery pergi." Laras memegangi pundak Arga. Lelaki itu sontak mengangguk dan segera kembali melakukan rencananya.
Arga berusaha berjalan dengan tegap dan normal. Langkahnya melambat saat sudah mendekati posisi Hery.
"Kau! Bukankah kau Hery?" sapa Arga sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah Hery.
"Kau... Suaminya Agni bukan?" Hery menanggapi sapaan Arga.
"Benar sekali." Arga membenarkan. Dia dan Hery lantas saling bersalaman. Hery bahkan memperkenalkan Arga kepada dua rekannya.
"Her, apa kau punya waktu? Bisakah kita bicara empat mata? Pas sekali aku bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ujar Arga. Bicara pelan ke telinga Hery.
"Tentu saja." Hery setuju saja. Arga pun mengajaknya bicara ke meja yang jauh dari pintu balkon.
Saat itulah Laras keluar dari persembunyian. Dia menggunakan masker untuk menutupi wajah. Untung saja pelariannya berjalan mulus kala itu. Laras mendengus lega ketika dirinya sudah berjalan keluar dari restoran.
Di waktu yang sama, Arga sedang berduaan bersama Hery. Dia merasa lega saat mendapat pesan dari Laras.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hery.
Mata Arga terbelalak. Dia tentu bingung harus membicarakan apa dengan Hery.
"Ini tentang... Maksudku..." Arga jadi berbelit-belit karena berusaha mencari topik yang tepat untuk dibicarakan.
Kening Hery mengernyit. Dia merasa aneh sekaligus curiga.
"Maksudnya aku ingin membicarakan perihal kedekatanmu dengan Agni. Kalian terlihat akrab sekali kemarin. Itu agak menggangguku." Arga melontarkan topik yang tidak penting sama sekali. Dia bahkan tak pernah sekali pun curiga dengan hubungan Agni dan Hery. Mengingat hubungan mereka jelas hanya kerjasama.
Arga memejamkan mata serelah berucap begitu. Dia yakin dirinya akan dianggap sebagai suami pencemburu sekarang. Apalagi bila Hery menceritakan hal tersebut pada Agni nanti.
"Ah, benarkah?" Hery tampak kaget. Dia jadi tidak nyaman. "Maafkan kalau itu mengganggumu. Tapi hubunganku dan Agni hanya sekedar kerjasama. Perlu kah aku mengganti pengacara lain agar kau tidak terganggu?"
"Tidak! Jangan. Aku hanya memastikan saja. Jika itu bukan apa-apa, maka aku akan percaya," ucap Arga seraya tersenyum kecut. "Ya sudah kalau begitu. Aku ingin langsung pergi. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman."
"Tidak masalah." Hery mencoba memahami. Dia dan Arga saling berpamitan.
"Apa kau makan sendirian di sini?" tanya Hery. Atensinya juga tak bisa lepas dari penampilan Arga yang terlihat acak-acakan. Mengingat sejak semalam dia belum membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Iya. Aku habis pulang dari kantor." Arga hanya menjawab begitu. Selanjutnya, dia bergegas pergi.
Ketika sudah di mobil, Hery memeriksa ponselnya. Dia menerima pesan baru dari Laras. Kebetulan perempuan tersebut sudah pulang lebih dulu.
'Terima kasih untuk yang kau lakukan tadi. Maaf sebelumnya, tapi aku ingin kau menganggap pertemuan kita tadi adalah yang terakhir. Jangan pernah tertarik kepadaku, Raga. Ayo kita lakukan ritual secara profesional.'
Arga mendengus kasar saat membaca pesan Laras. Dia merasa aneh karena dirinya kecewa akan hal itu.
"Sudahlah, Arga! Laras melakukan hal yang benar! Berhentilah tertarik kepadanya. Dia hanyalah orang asing. Kau bahkan tidak tahu nama aslinya!" Arga berbicara kepada dirinya sendiri. Mulai sekarang, dia akan fokus dengan kehidupan pribadinya. Terutama Agni yang juga sedang mengandung anaknya.
"Oke. Aku akan menganggap itu sebagai pertemuan terakhir kita," gumam Arga. Dia juga terpikir untuk tidak melihat wajah Laras saat melakukan ritual lagi.
"Aku harus membeli topeng," cetus Arga sambil menjalankan mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
fiendry🇵🇸
semoga semuanya baik2 saja
2023-10-04
1