...༻◊༺...
"Eh, Mbak! Kita ketemu lagi," sapa Agni yang merasa mengenali Laras.
"I-iya." Laras menyapa dengan tergagap. Senyumannya juga begitu canggung.
"Kau Agni Clarista bukan?" tanya Hery tiba-tiba. Membuat Agni sontak membulatkan mata.
"Kau mengenalku?" tanggap Agni terheran.
"Iya. Aku Hery Darmawan!" ungkap Hery.
"Astaga, benar! Maafkan aku karena baru mengenalimu." Agni akhirnya mengingat Hery. Mereka pernah beberapa kali bertemu. Mereka saling mengenal karena Agni bekerja sebagai pengacara. Perempuan itu sekarang sedang mengurus kasus di perusahaan Hery.
"Kau pasti punya banyak klien sampai bisa melupakanku," komentar Hery.
"Bukan begitu. Penampilanmu tampak berbeda sekali. Biasanya kan pakai setelan jas rapi terus," balas Agni. Setelah bertegur sapa, dia dan Hery memperkenalkan pasangan mereka satu sama lain.
Arga dan Laras berusaha bersikap normal sebisa mungkin. Keduanya sama-sama menyemat senyuman palsu di wajah. Meskipun begitu, mereka kesulitan berinteraksi karena merasa tegang.
Saling terdiam, itulah yang dilakukan Arga dan Laras. Ada kalanya mereka bertukar pandang. Saat itu, keduanya teringat dengan apa yang terjadi tadi malam.
Laras berdehem karena suasana sekarang membuatnya tidak aman. Dia mencoba menenangkan diri dengan menenggak salivanya sendiri. Apalagi ketika Laras melihat Arga terlihat lebih tampan dari biasanya.
Sementara Arga membuang muka dari Laras. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Laras. Kecantikan perempuan itu, membuatnya tak karuan. Arga hanya bisa melampiaskan kegelisahan dengan cara menggerak-gerakkan kaki.
Saking gugupnya, tangan Laras sampai gemetaran saat mengangkat gelas. Untung saja Hery dan Agni tidak melihatnya begitu. Hanya Arga yang menyadari hal tersebut. Dari sana lelaki tersebut tahu bahwa Laras pasti juga gugup sepertinya.
"Kau kenapa diam saja sejak tadi?" bisik Agni. Dia merapikan anak rambut Arga yang agak berantakan. Entah kenapa hal itu menarik perhatian Laras.
"A-aku mendadak sakit perut," kilah Arga.
"Benarkah?" Agni menatap penuh selidik. "Jangan sampai kentut ya. Kalau ada yang bau, itu berarti berasal darimu," tambahnya.
Arga terkekeh canggung. Dia memperhatikan Laras yang juga terlihat di ajak bicara oleh Hery.
Punggung Laras tampak di elus oleh Hery. Lelaki itu memperlakukan Laras dengan baik. Entah kenapa hal tersebut membuat Arga tidak suka. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati.
Bersamaan dengan itu, pengantin tiba-tiba menyuruh kerabatnya berfoto. Hery menjadi salah satu yang di ajak.
"Ayo!" ajak Hery sembari menuntun Laras berdiri.
"Her! Kita foto bareng kelompok dulu ya! Tinggal dulu istrimu itu," ujar pengantin pria yang merupakan temannya Hery.
"Tapi--"
"Sudahlah, Mas. Aku di sini saja nggak apa-apa," potong Laras.
"Kau yakin? Aku bisa memaksa Alfi agar kau bisa ikut," ujar Hery.
"Ish! Jangan mengada-ngada deh. Pergi sana!" suruh Laras.
"Ya sudah kalau begitu." Hery tak bisa memaksa. "Agni! Jagain istriku ya," ucapnya.
"Mas! Apaan sih. Emangnya aku anak kecil pakai dijagain segala?" protes Laras dengan dahi berkerut. Hery pun beranjak sambil tergelak. Lelaki itu tak tahu menahu dengan suasana buruk hati sang istri.
"Hery sayang banget sama kamu, Mbak. Wajarlah cantik begini istrinya," puji Agni.
"Bukan begitu. Dia memang agak berlebihan," tanggap Laras.
"Agni! Hey!" teman Agni dari kejauhan memanggil. Dia melambaikan tangan penuh semangat. Dirinya tak bisa menghampiri Agni karena anaknya yang tampak rewel.
"Shena!" Agni langsung berdiri. "Mas, aku ke sana bentar!" katanya seraya beranjak.
"Eh, tapi--" Arga ingin mencegah pergerakan Agni, tetapi istrinya itu terlanjur pergi.
Kini di meja hanya ada Arga dan Laras berduaan. Keduanya masih saling menatap dan membisu.
"Aku akan menyusul suamiku." Laras buru-buru beranjak. Namun karena terlalu berdesakan, dia tak sengaja menyenggol gelas hingga terjatuh. Gelas itu menumpahkan air dan langsung pecah di lantai.
Gaun Laras sontak jadi basah. Bagian kakinya bahkan berdarah karena terkena pecahan kaca.
Mendengar keributan itu, semua atensi orang tertuju pada Laras dan Arga. Termasuk Hery dan Agni.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arga yang bergegas mengambilkan tisu. Lalu mencoba membersihkan air yang ditumpahkan Laras. "Kau berdarah!" serunya.
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya sendiri," kata Laras. Namun Arga tetap berusaha membantu. Bahkan mencoba menangani luka Laras.
"Hentikan, Ga." Laras kembali memperingatkan. Apalagi ketika melihat Hery dan Agni tampak berjalan ke arahnya.
Arga masih saja sibuk mencoba mengobati luka di kaki Laras. Dia berjongkok di depan kaki perempuan itu.
"Suamiku dan istrimu kemari!" kata Laras pelan sambil membungkuk.
Arga tetap saja tidak beranjak. Dia menangani luka di kaki Laras dengan baik. Bahkan menempelinya dengan plester luka.
Bertepatan dengan itu, Hery dan Agni datang. Hery segera menghampiri Laras.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hery yang langsung memeriksa keadaan Laras.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Su-suami temanmu juga sudah mengobatinya untukku," jawab Laras. Ia tak bisa menatap ke arah Arga.
"Maaf kalau aku lancang. Tapi aku tidak bisa diam kalau melihat seseorang terluka," ungkap Arga.
"Tidak apa-apa. Harusnya aku berterima kasih karena kau sudah mengobati luka istriku," tanggap Hery.
"Harap dimaklumi. Suamiku ini dokter. Jadi nalurinya begitu. Makanya plester luka selalu ada di dompetnya." Agni masuk ke pembicaraan untuk membela sang suami.
Mendengar profesi Arga, pupil mata Laras membesar. Barulah dia berani menatap Arga. 'Jadi dia seorang dokter?' batinnya.
"Benarkah? Dokter apa?" tanya Hery penasaran.
"Dokter kandungan," jawab Arga.
"Hebat sekali. Kalau Agni hamil, dia tidak perlu repot lagi mencari dokter," komentar Hery.
"Benar sekali. Aku juga tidak perlu membayar," tanggap Agni. Suasana kembali mencair. Mereka bahkan pergi ke sudut untuk bicara. Membiarkan para pelayan membersihkan pecahan kaca.
Arga menatap Laras dengan enggan. Meski bertemu dalam suasana umum, keduanya masih belum mengetahui nama asli satu sama lain. Mengingat Hery dan Agni juga tidak menyebut nama pasangan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
fiendry🇵🇸
makin seru
2023-10-04
2
mamah teby
dokter jg percaya dukun 😂😂😂
2023-09-08
1
Junifa
wah semakin penasaran kelanjutannya🥰
2023-08-20
1