...༻◊༺...
Pertemuan kedua Arga dan Laras telah tiba. Keduanya sepakat melakukan ritual di sebuah hotel biasa. Mereka sengaja memilih hotel biasa agar kegiatan ritual tidak terlalu mencolok.
Orang yang pertama datang ke hotel adalah Arga. Dia sudah menunggu di kamar. Arga terpaksa berbohong pada Agni mengenai kepergiannya. Ia memberitahu Agni bahwa dirinya pergi dinas keluar kota.
Dua jam kemudian, barulah Laras yang datang. Sama seperti Arga, dia juga berbohong mengenai kepergiannya kepada Hery. Berbeda dengan Arga, Laras beralasan kalau dirinya pergi berkunjung ke rumah keluarga.
Kini Laras sudah berdiri di depan pintu kamar Arga berada. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut kalau dirinya salah kamar.
Pintu perlahan terbuka. Arga menyambut kedatangan Laras dengan senyuman. Memang seasing itulah hubungan mereka. Hanya sekedar keharusan dalam menjalankan ritual.
Laras melangkah masuk ke kamar. Pintu lantas segera dikunci oleh Arga.
"Aku sudah menyiapkan segalanya," imbuh Arga sambil berjalan di belakang Laras.
"Benarkah?" tanya Laras seraya meletakkan tas dan kantong plastik yang dibawanya ke sofa. Kemudian memutar tubuhnya ke arah Gusti.
"Iya. Lihatlah!" Gusti membuka pintu kamar mandi. Memperlihatkan bath up yang sudah di isi dengan air.
"Ada yang masih kurang," cetus Laras. Dia kembali menghampiri sofa. Mengambil kantong plastik yang dibawanya. Kantong plastik itu berisi bunga tujuh rupa.
Laras masuk ke kamar mandi. Ia menghamburkan bunga tujuh rupa ke bath up.
"Kau benar. Untung kau membawanya. Aku lupa mengenai bunga itu," ungkap Arga.
Laras menanggapi dengan senyuman. Dia berkata, "Haruskah kita mulai sekarang ritualnya?"
"Baiklah." Arga mengangguk setuju.
Untuk kali kedua, ritual dilakukan oleh Laras dan Arga. Kali ini mereka melakukannya di kamar mandi.
Lenguhan Laras dan Arga saling sahut menyahut saat mereka berhubungan intim. Bersamaan dengan itu, di luar sedang terjadi badai. Akan tetapi ritual Arga dan Laras tetap berlanjut. Sesekali mereka mengumpat karena merasa saking nikmatnya.
Penyatuan berakhir ketika Laras dan Arga saling terpuaskan. Sekarang yang tersisa hanya deru nafas mereka. Keduanya segera menutupi tubuh masing-masing dengan handuk.
"Sepertinya di luar hujan deras," ucap Arga. Saat itu atensinya tertuju ke arah bath up. Anehnya air di dalam bath up berubah jadi keruh. Padahal tadi Arga ingat sekali kalau air di bath up sangat jernih.
"Aku rasa begitu. Aku akan mandi lebih dulu," sahut Laras. Dia tidak menyadari apa yang dilihat Arga.
"Apa kau sadar kalau air di dalam bath up menjadi keruh?" Arga menatap serius ke arah bath up.
Laras otomatis menatap ke arah yang sama dengan Arga. Dia sadar kalau airnya memang berubah.
"Mungkin itu hal yang normal untuk pelaku ritual seperti kita," tanggap Laras.
"Kau berpikir begitu?" Arga merasa ada yang aneh.
"Ya, tentu saja. Ritual yang kita lakukan berkaitan dengan ilmu mistis. Melihat air jernih yang berubah jadi keruh kurasa lebih baik dari pada melihatnya berubah menjadi air darah." Laras mencoba berpikir positif. Mengingat ini bukan pertama kalinya dia melakukan ritual yang berkaitan dengan ilmu mistis.
Arga mengangguk saja. Dia membiarkan Laras membersihkan diri lebih dulu. Setelah perempuan itu selesai, barulah Arga membersihkan diri.
Kini Laras sedang mengenakan pakaian. Dia berniat ingin langsung pulang. Namun setelah melihat cuaca di luar, dirinya merasa tidak yakin. Alhasil Laras memilih duduk ke sofa. Menunggu badai mereda.
Selang sekian menit, Arga keluar dari kamar mandi. Dia segera mengenakan pakaian.
"Kau belum pulang?" tanya Arga.
"Sedang ada badai di luar. Aku akan menunggu sampai badainya reda," jawab Laras seraya bermain ponsel.
Arga duduk ke sebelah Laras. Dia terlihat terus mengacak-acak rambutnya dengan handuk.
"Apa yang terjadi setelah kita melakukan ritual pertama? Apa kau sekarang hamil?" tanya Arga.
Laras mendengus kasar. "Iya, aku hamil," sahutnya.
"Syukurlah kalau begitu," tanggap Arga.
"Tapi sudah tidak lagi," ungkap Laras dengan semerawut sendu.
"Apa? Maksudnya kau..." Arga mencoba menebak.
"Iya, aku keguguran. Itulah alasan aku melakukan ritual ini lagi."
"Aku yakin kau akan hamil lagi." Arga berusaha menghibur Laras. Perempuan itu hanya tersenyum tipis.
Hening terjadi selang beberapa saat. Sampai Laras mengajukan pertanyaan untuk Arga. "Lalu bagaimana denganmu? Apa milikmu bisa digunakan saat bersama istrimu?"
Arga tersenyum lebar. Kebahagiaan yang dia rasakan terlihat jelas sekali. "Ya, semuanya kembali seperti dulu. Bahkan lebih baik. Aku dan istriku seperti berbulan madu setiap hari," curhatnya.
"Aku ikut senang mendengarnya," komentar Laras.
Lagi-lagi kesunyian menyelimuti. Laras dan Arga memang masih merasa asing satu sama lain. Namun suara petir yang menggelegar dari luar membuat listrik padam.
Laras dan Arga menggunakan senter dari ponsel sebagai sumber cahaya.
"Sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini," ujar Arga.
"Aku rasa begitu." Laras sependapat dengan Arga. Keduanya saling bertukar pandang.
Sebenarnya saat itu ada sesuatu yang berbeda. Hal yang sama-sama dirasakan oleh Arga dan Laras. Jujur saja, keduanya merasa hubungan intim yang mereka lakukan terasa lebih nikmat dari biasanya. Bahkan terasa lebih nikmat dibanding saat bersama pasangan sah masing-masing. Mungkin itulah alasan kenapa Arga dan Laras sesekali mengumpat saat bersenggama.
Meskipun begitu, Laras dan Arga saling menahan diri. Keduanya masih gengsi untuk mengungkapkan. Terlebih mereka masih merasa asing satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Evy
Baru seminggu habis keguguran.. bukannya belum boleh melakukan hubungan intim ya Thor...
2023-12-13
1
Mimik Pribadi
Ko aku merasa ngeri sih thor atas perubahan warna air itu,,,,takut knpa2 dngn mereka berdua,,,,🤔🤔🤔
2023-10-06
2
fiendry🇵🇸
pertanda apakah,airnya berubah warna...
2023-10-04
0