" Tetapi tidak seharusnya saya begini, walaupun Mas Ardi sudah meminta saya untuk menghilangkan batasan di antara kita. Tetapi tetap saja masih harus ada batasan di antara kita, walaupun kini kita sudah bukan atasan dan bawahan lagi. Di dalam sebuah pertemanan juga harus ada batasan, dan bahkan batasan itu jauh lebih banyak daripada batasan sebagai atasan dan bawahan." jelas Azilla.
" Yang kamu katakan memang benar, terutama batasan di antara pria dan wanita. Tetapi untuk saat ini lupakan sajalah batasan itu, karena jika kamu memikirkan mengenai batasan itu maka kamu akan merasa canggung." jelas Ardi dan Azilla pun langsung melihat ke arah sekitar.
" Setelah mendengar perkataan Mas Ardi, kini aku bareng Ibu menyadari kalau kami hanya berdua saja di tepi pantai ini." batin Azilla.
" Kamu kenapa Azilla, sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Untuk hari ini saja lupakan semua yang ada di dalam pikiranmu, jangan pikiran kembali mengenai Riko. Besok hari aku akan mengantarmu di sebuah perusahaan, dan aku yakin kamu pastinya akan lebih nyaman di perusahaan itu. Karena kamu tidak akan bertemu lagi dengan Riko, dan di perusahaan itu juga sangat menjunjung silaturahmi jadi perbuatan seperti yang dilakukan Riko tidak akan mungkin terjadi." jelas Ardi yang membanggakan perusahaannya tetapi menyamarkannya sebagai perusahaan orang lain.
" Alhamdulillah kalau memang seperti itu, terima kasih karena telah meresmikan perusahaan yang memiliki sikap toleransi yang cukup bagus. Dan insya Allah saya akan betah di sana, dan kejadian yang membuat saya menjadi seperti tadi tidak akan terulang kembali. Dan saya janji Mas Ardi tidak akan melihat tampang saya seperti tadi, saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik agar tidak merusak nama Mas Ardi di mata perusahaan itu." jelasnya dengan tersenyum.
" Saya tidak masalah kalau memang kamu tidak betah di perusahaan itu, bila memang kamu tidak betah di sana kamu bisa mengadu kepada saya. Maka saya akan mencarikan perusahaan yang lain, agar kamu bisa merasa nyaman." jelasnya.
" Tidak usah sampai seperti itu Mas, saya jadi merasa tidak nyaman. Karena saya telah banyak merepotkan Mas Ardi, padahal seharusnya hal seperti ini tidak boleh terjadi." jelasnya.
" Itu semua tidak masalah Azilla, kamu adalah orang yang sangat baik. Karena itu saya juga harus membalas kebaikanmu, dan saya yakin kamu juga adalah orang yang kompeten. Dan kamu pasti bisa menjalankan semuanya dengan baik, dan mudah-mudahan saja kamu juga bisa menjadi lulusan terbaik di kampus mu." ucap Ardi dengan tersenyum dan senyuman tersebut membuat Azilla meleleh.
" Mengapa Mas Ardi harus tersenyum sih, hal itu membuatku tidak bisa berkutik. Senyumannya membuatku terpanah, dan kini aku berada di antara dilema." batinnya.
Mereka pun kini menyusuri sudut pantai, keduanya berlarian di bawah terangnya bulan purnama. Tanpa mereka sadari awan gelap pun tiba, derai derai pun mulai menetes membasahi tubuh mereka. Mereka pun mulai mencari tempat perteduan, dan mereka pun duduk di sebuah gubuk untuk berlindung dari derai yang sangat deras.
Angin bertiup dengan sangat kencang, dan Azilla pun merasa kedinginan dengan suasana itu. Ardi yang mengetahuinya pun langsung memeluk Azilla, sontak saja ia pun merasa terkejut dengan hal tersebut. Tetapi kini ia tidak bisa berkata apa-apa, karena hal yang dilakukan oleh Ardi membuatnya merasa nyaman.
" Apa ini yang aku rasakan sebenarnya, hal ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku merasa nyaman ketika di dalam dekapannya, sungguh ini adalah hal yang aneh dan belum pernah terjadi di dalam hidupku." batinnya.
" Senangnya hatiku karena kamu tidak menolaknya Azilla, semenjak kamu hadir dalam hidupku semuanya menjadi berubah. Kini aku semakin tidak ingin melepaskan mu, dan aku ingin dalam waktu dekat membuatmu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Tetapi setelah mengetahui prinsipmu, sepertinya hal itu akan sangat sulit untuk dilakukan. Karena itu aku akan menunggumu hingga lulus, dan mudah-mudahan saja setelah itu kamu mau berada di sisiku untuk selamanya." batin Ardi.
Keduanya hanyut dalam lamunannya masing-masing, kini Fahmi merasa bosan karena harus menunggu di dalam mobil. Ia pun berniat untuk menelepon Ardi, tetapi ketika melihat kebersamaan Ardi dan juga Azilla ia pun mengurungkan niatnya. Karena ia tidak mau mengganggu momen keduanya, dan hal tersebut akan berdampak pada pekerjaannya.
" Lebih baik aku tidak mengganggu mereka, atau Ardi akan memotong gajiku kembali. Dan hal itu sudah sangat menyebalkan, karena aku harus mengurangi budget pengeluaran ku bila hak itu terjadi." ucapnya dengan menatap ke arah Ardi.
Fahmi pun kembali ke dalam mobil, ia pun memutuskan untuk menunggu hingga Ardi memanggilnya. Dan kini keduanya tetap berteduh di dalam kubu kecil tersebut, mereka terus saja dalam posisi awal. Hingga tanpa terasa tiba-tiba handphone Ardi berdering, Ardi pun merasa kesal karena hal itu. Tetapi ia pun segera melihat nama yang tertulis, kini raut wajahnya berubah menjadi panik. Karena nama yang tertulis adalah nama Deni, ya itu keponakan kesayangannya.
" Siapa yang telepon?" tanya Azilla yang melihat raut wajah Ardi.
" Deni yang menelpon, aku angkat dulu ya." ucapnya kemudian langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Ayah ada di mana sekarang?" tanyanya.
" Anak Ayah kenapa belum tidur?" tanyanya kembali.
" Ayah nggak enak, bukannya menjawab pertanyaanku justru malah bertanya." ucapnya yang kesal.
" Maafkan ayah Deni, saat ini Ayah sedang berada di luar. Dan mengapa Putra kesayangan Ayah ini belum tidur?" jelasnya.
" Bagaimana bisa aku tidur, ayah saja tidak ada di sampingku. Dan keadilan juga tidak bisa dihubungi, aku kan nggak bisa tidur kalau nggak ada yang cerita." jelasnya dan Ardi pun langsung menepuk jidatnya.
" Maafkan Ayah Deni, Ayah akan segera pulang untuk menidurkan mu." ucapnya yang kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
" Ada apa?" tanya Azilla yang penasaran.
" Aku harus segera pulang sekarang, karena ternyata hingga kini Deni masih belum tidur. Katanya karena aku masih belum pulang, dan dia juga tidak bisa menghubungimu." jelasnya dan Azilla aku mengganggu.
" Sepertinya baterai handphone-ku habis, hingga aku tidak bisa mengangkat telepon dari deni." jelasnya.
" Sudahlah tidak usah dibahas lagi, sekarang lebih baik kamu ikut dulu ke apartemen saya. Karena saya harus segera menidurkan Deni, apakah kamu tidak keberatan Azilla?" ucap Ardi yang memang disengaja.
" oh tentu tidak masalah, tentunya Deni adalah prioritas." jawabnya.
" Terima kasih kalau begitu, setelah Deni tertidur aku akan segera mengantarmu pulang." jelasnya kemudian keduanya langsung berlari menuju mobil.
" Pulang ke rumah, Deni sudah menanti." ucap Ardi kepada Fahmi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments