18

" Tetapi tidak seharusnya saya begini, walaupun Mas Ardi sudah meminta saya untuk menghilangkan batasan di antara kita. Tetapi tetap saja masih harus ada batasan di antara kita, walaupun kini kita sudah bukan atasan dan bawahan lagi. Di dalam sebuah pertemanan juga harus ada batasan, dan bahkan batasan itu jauh lebih banyak daripada batasan sebagai atasan dan bawahan." jelas Azilla.

" Yang kamu katakan memang benar, terutama batasan di antara pria dan wanita. Tetapi untuk saat ini lupakan sajalah batasan itu, karena jika kamu memikirkan mengenai batasan itu maka kamu akan merasa canggung." jelas Ardi dan Azilla pun langsung melihat ke arah sekitar.

" Setelah mendengar perkataan Mas Ardi, kini aku bareng Ibu menyadari kalau kami hanya berdua saja di tepi pantai ini." batin Azilla.

" Kamu kenapa Azilla, sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Untuk hari ini saja lupakan semua yang ada di dalam pikiranmu, jangan pikiran kembali mengenai Riko. Besok hari aku akan mengantarmu di sebuah perusahaan, dan aku yakin kamu pastinya akan lebih nyaman di perusahaan itu. Karena kamu tidak akan bertemu lagi dengan Riko, dan di perusahaan itu juga sangat menjunjung silaturahmi jadi perbuatan seperti yang dilakukan Riko tidak akan mungkin terjadi." jelas Ardi yang membanggakan perusahaannya tetapi menyamarkannya sebagai perusahaan orang lain.

" Alhamdulillah kalau memang seperti itu, terima kasih karena telah meresmikan perusahaan yang memiliki sikap toleransi yang cukup bagus. Dan insya Allah saya akan betah di sana, dan kejadian yang membuat saya menjadi seperti tadi tidak akan terulang kembali. Dan saya janji Mas Ardi tidak akan melihat tampang saya seperti tadi, saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik agar tidak merusak nama Mas Ardi di mata perusahaan itu." jelasnya dengan tersenyum.

" Saya tidak masalah kalau memang kamu tidak betah di perusahaan itu, bila memang kamu tidak betah di sana kamu bisa mengadu kepada saya. Maka saya akan mencarikan perusahaan yang lain, agar kamu bisa merasa nyaman." jelasnya.

" Tidak usah sampai seperti itu Mas, saya jadi merasa tidak nyaman. Karena saya telah banyak merepotkan Mas Ardi, padahal seharusnya hal seperti ini tidak boleh terjadi." jelasnya.

" Itu semua tidak masalah Azilla, kamu adalah orang yang sangat baik. Karena itu saya juga harus membalas kebaikanmu, dan saya yakin kamu juga adalah orang yang kompeten. Dan kamu pasti bisa menjalankan semuanya dengan baik, dan mudah-mudahan saja kamu juga bisa menjadi lulusan terbaik di kampus mu." ucap Ardi dengan tersenyum dan senyuman tersebut membuat Azilla meleleh.

" Mengapa Mas Ardi harus tersenyum sih, hal itu membuatku tidak bisa berkutik. Senyumannya membuatku terpanah, dan kini aku berada di antara dilema." batinnya.

Mereka pun kini menyusuri sudut pantai, keduanya berlarian di bawah terangnya bulan purnama. Tanpa mereka sadari awan gelap pun tiba, derai derai pun mulai menetes membasahi tubuh mereka. Mereka pun mulai mencari tempat perteduan, dan mereka pun duduk di sebuah gubuk untuk berlindung dari derai yang sangat deras.

Angin bertiup dengan sangat kencang, dan Azilla pun merasa kedinginan dengan suasana itu. Ardi yang mengetahuinya pun langsung memeluk Azilla, sontak saja ia pun merasa terkejut dengan hal tersebut. Tetapi kini ia tidak bisa berkata apa-apa, karena hal yang dilakukan oleh Ardi membuatnya merasa nyaman.

" Apa ini yang aku rasakan sebenarnya, hal ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku merasa nyaman ketika di dalam dekapannya, sungguh ini adalah hal yang aneh dan belum pernah terjadi di dalam hidupku." batinnya.

" Senangnya hatiku karena kamu tidak menolaknya Azilla, semenjak kamu hadir dalam hidupku semuanya menjadi berubah. Kini aku semakin tidak ingin melepaskan mu, dan aku ingin dalam waktu dekat membuatmu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Tetapi setelah mengetahui prinsipmu, sepertinya hal itu akan sangat sulit untuk dilakukan. Karena itu aku akan menunggumu hingga lulus, dan mudah-mudahan saja setelah itu kamu mau berada di sisiku untuk selamanya." batin Ardi.

Keduanya hanyut dalam lamunannya masing-masing, kini Fahmi merasa bosan karena harus menunggu di dalam mobil. Ia pun berniat untuk menelepon Ardi, tetapi ketika melihat kebersamaan Ardi dan juga Azilla ia pun mengurungkan niatnya. Karena ia tidak mau mengganggu momen keduanya, dan hal tersebut akan berdampak pada pekerjaannya.

" Lebih baik aku tidak mengganggu mereka, atau Ardi akan memotong gajiku kembali. Dan hal itu sudah sangat menyebalkan, karena aku harus mengurangi budget pengeluaran ku bila hak itu terjadi." ucapnya dengan menatap ke arah Ardi.

Fahmi pun kembali ke dalam mobil, ia pun memutuskan untuk menunggu hingga Ardi memanggilnya. Dan kini keduanya tetap berteduh di dalam kubu kecil tersebut, mereka terus saja dalam posisi awal. Hingga tanpa terasa tiba-tiba handphone Ardi berdering, Ardi pun merasa kesal karena hal itu. Tetapi ia pun segera melihat nama yang tertulis, kini raut wajahnya berubah menjadi panik. Karena nama yang tertulis adalah nama Deni, ya itu keponakan kesayangannya.

" Siapa yang telepon?" tanya Azilla yang melihat raut wajah Ardi.

" Deni yang menelpon, aku angkat dulu ya." ucapnya kemudian langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.

" Ayah ada di mana sekarang?" tanyanya.

" Anak Ayah kenapa belum tidur?" tanyanya kembali.

" Ayah nggak enak, bukannya menjawab pertanyaanku justru malah bertanya." ucapnya yang kesal.

" Maafkan ayah Deni, saat ini Ayah sedang berada di luar. Dan mengapa Putra kesayangan Ayah ini belum tidur?" jelasnya.

" Bagaimana bisa aku tidur, ayah saja tidak ada di sampingku. Dan keadilan juga tidak bisa dihubungi, aku kan nggak bisa tidur kalau nggak ada yang cerita." jelasnya dan Ardi pun langsung menepuk jidatnya.

" Maafkan Ayah Deni, Ayah akan segera pulang untuk menidurkan mu." ucapnya yang kemudian langsung mematikan sambungan telepon.

" Ada apa?" tanya Azilla yang penasaran.

" Aku harus segera pulang sekarang, karena ternyata hingga kini Deni masih belum tidur. Katanya karena aku masih belum pulang, dan dia juga tidak bisa menghubungimu." jelasnya dan Azilla aku mengganggu.

" Sepertinya baterai handphone-ku habis, hingga aku tidak bisa mengangkat telepon dari deni." jelasnya.

" Sudahlah tidak usah dibahas lagi, sekarang lebih baik kamu ikut dulu ke apartemen saya. Karena saya harus segera menidurkan Deni, apakah kamu tidak keberatan Azilla?" ucap Ardi yang memang disengaja.

" oh tentu tidak masalah, tentunya Deni adalah prioritas." jawabnya.

" Terima kasih kalau begitu, setelah Deni tertidur aku akan segera mengantarmu pulang." jelasnya kemudian keduanya langsung berlari menuju mobil.

" Pulang ke rumah, Deni sudah menanti." ucap Ardi kepada Fahmi.

Episodes
1 Hilang
2 Pemecatan Azilla
3 Mencari Tempat Magang
4 Hari Pertama Magang
5 Pertemuan Dengan Deni
6 Rumah Azilla
7 Kisah Hidup Deni
8 Permintaan Maaf
9 Deni Gambek
10 Seperti Anak-Anak
11 11
12 Malapetaka
13 Kemarahan Arman
14 Kedatangan Riko
15 Riko Jadi CEO
16 Ruby Sang Asisten
17 Pertemuan Kembali
18 18
19 Sikat Gigi
20 Kamu Siapa?
21 Aku Bukan Orang Miskin
22 Aku Setuju Ayah
23 Aku Rindu
24 Terima Kasih Mas
25 Tito Sedih
26 Tetangga Baru
27 pengumuman 1
28 Penghianatan
29 Masalalu
30 Tingkah aneh
31 Apa Iya?
32 33
33 Penasaran
34 Pura-pura
35 Bimbang
36 Kemarahan Ardi
37 Pasrah
38 Murka
39 Bahagia
40 Jangan ngambek
41 Mengerikan
42 Sedih
43 Kakak Tau
44 Terima kasih kak
45 Bestie
46 aku.
47 bertemu
48 uui
49 kebohongan dan pernyataan
50 Yang benar?
51 Eyang Arman
52 Rencana
53 Kakak Adik Kompak
54 Siapa Dia?
55 Afni
56 Ternyata Kau
57 Panggil Ayah
58 Bertemu Cinta
59 Minta Cucu
60 Aku Lelah
61 Disiplin
62 pilu
63 Apa ini
64 Tidak Mungkin
65 Bagaimana
66 Curiga
67 Maaf
68 Tidak Mungkin
69 Apa kabar?
70 Mengapa mirip?
71 Jadi begitu
72 Mana Deni
73 kau pasti sudah sangat menderita
74 Enak
75 Tengahnya dia
76 Takdir tidak ada yang tau
77 Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78 Lalu Apa?
79 Apa Maksudmu?
80 Itu tidak penting
81 Kita sama-sama berjuang
82 Enak tidak?
83 Yang benar?
84 Kau Harus Cepat
85 Melodi terindah
86 Bahaya
87 Apa...
88 Rencana
89 Sungguh
90 Maaf Ma
91 Semengerihkan itu?
92 Aku Ingin Bertemu
93 Sudah Siap
94 Kuat Ya Cinta
95 Tenang ya
96 Eyang
97 Bagaimana bisa?
98 Rencana yang bagus
99 Aku sungguh tidak menyangka
100 Sudahlah
101 Belangnya
102 Istighfar
103 Terimakasih
104 Bagaimana?
105 Apa Iya?
106 siapa dia
107 Gejolak
108 Sulit
109 Pengumuman
110 Pilihan yang sulit
111 Kau merebutnya
112 Benarkah Seperti itu?
113 Awas aja dia
114 tak menyangka mereka berdua ternyata...
115 Berharap
116 Tak ku sangka
117 Apa...Yang bener aja
118 Jangan Gitu Dong
119 Menyebalkan
120 Tentunya
121 Mencurigakan
122 Rencana dimulai
123 Ada Apa Sebenarnya?
124 Sungguh Menyenangkan
125 lucunya
126 Pertunangan
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Hilang
2
Pemecatan Azilla
3
Mencari Tempat Magang
4
Hari Pertama Magang
5
Pertemuan Dengan Deni
6
Rumah Azilla
7
Kisah Hidup Deni
8
Permintaan Maaf
9
Deni Gambek
10
Seperti Anak-Anak
11
11
12
Malapetaka
13
Kemarahan Arman
14
Kedatangan Riko
15
Riko Jadi CEO
16
Ruby Sang Asisten
17
Pertemuan Kembali
18
18
19
Sikat Gigi
20
Kamu Siapa?
21
Aku Bukan Orang Miskin
22
Aku Setuju Ayah
23
Aku Rindu
24
Terima Kasih Mas
25
Tito Sedih
26
Tetangga Baru
27
pengumuman 1
28
Penghianatan
29
Masalalu
30
Tingkah aneh
31
Apa Iya?
32
33
33
Penasaran
34
Pura-pura
35
Bimbang
36
Kemarahan Ardi
37
Pasrah
38
Murka
39
Bahagia
40
Jangan ngambek
41
Mengerikan
42
Sedih
43
Kakak Tau
44
Terima kasih kak
45
Bestie
46
aku.
47
bertemu
48
uui
49
kebohongan dan pernyataan
50
Yang benar?
51
Eyang Arman
52
Rencana
53
Kakak Adik Kompak
54
Siapa Dia?
55
Afni
56
Ternyata Kau
57
Panggil Ayah
58
Bertemu Cinta
59
Minta Cucu
60
Aku Lelah
61
Disiplin
62
pilu
63
Apa ini
64
Tidak Mungkin
65
Bagaimana
66
Curiga
67
Maaf
68
Tidak Mungkin
69
Apa kabar?
70
Mengapa mirip?
71
Jadi begitu
72
Mana Deni
73
kau pasti sudah sangat menderita
74
Enak
75
Tengahnya dia
76
Takdir tidak ada yang tau
77
Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78
Lalu Apa?
79
Apa Maksudmu?
80
Itu tidak penting
81
Kita sama-sama berjuang
82
Enak tidak?
83
Yang benar?
84
Kau Harus Cepat
85
Melodi terindah
86
Bahaya
87
Apa...
88
Rencana
89
Sungguh
90
Maaf Ma
91
Semengerihkan itu?
92
Aku Ingin Bertemu
93
Sudah Siap
94
Kuat Ya Cinta
95
Tenang ya
96
Eyang
97
Bagaimana bisa?
98
Rencana yang bagus
99
Aku sungguh tidak menyangka
100
Sudahlah
101
Belangnya
102
Istighfar
103
Terimakasih
104
Bagaimana?
105
Apa Iya?
106
siapa dia
107
Gejolak
108
Sulit
109
Pengumuman
110
Pilihan yang sulit
111
Kau merebutnya
112
Benarkah Seperti itu?
113
Awas aja dia
114
tak menyangka mereka berdua ternyata...
115
Berharap
116
Tak ku sangka
117
Apa...Yang bener aja
118
Jangan Gitu Dong
119
Menyebalkan
120
Tentunya
121
Mencurigakan
122
Rencana dimulai
123
Ada Apa Sebenarnya?
124
Sungguh Menyenangkan
125
lucunya
126
Pertunangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!