" Wah, sepertinya ada pahlawan kesiangan." ucapnya yang masih belum melihat Ardi, kini ia pun berbalik. Dan alangkah kagetnya ia ketika melihat Ardi.
" Pa-pak Ardi." tampaknya yang gugup ketika melihat Ardi.
" Kerjasama kita batal." ucapnya dan membuat Dandelion terkapar mendengar.
" Maafkan saya Pak, tolong jangan batalkan kerja sama dengan perusahaan kami." ucapnya.
" Itu sangat tidak bisa, orang yang tidak memiliki sopan santun seperti dirimu tidak pantas menjalin kerjasama dengan perusahaan saya. Karena itu, kerja sama kita saya batalkan." ucapnya.
" Saya mohon Pak, jangan batalkan kerja sama kita." ucap Dandelion.
" Tidak bisa, ayo kita kembali ke perusahaan." ucap Ardi yang langsung menarik tangan Azilla.
" Pak Ardi tunggu, ini semua adalah urusan pribadi saya. Jangan buat perusahaan merugi Pak, saya merasa tidak enak hati kepada Bapak." ucap Azilla.
" Kamu tenang saja Azilla, perusahaan kita tidak akan merugi. Lagian perusahaan mereka memang tidak pantas untuk bekerja sama dengan kita, awalnya saya mempertimbangkan dengan cukup keras. Tetapi kini saya yakin untuk tidak bekerja sama dengan mereka, apalagi setelah melihat sikapnya kepada dirimu tadi. Hal itu semakin memperhatikan saya untuk tidak bekerja sama dengan mereka, karena pastinya hal itu akan menghancurkan image perusahaan saya." jelasnya untuk menenangkan Azilla.
" Kalau memang begitu kata Bapak, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tetapi saya berharap, perusahaan tidak akan merugi Pak. apalagi saya masih kena magang di sana, saya merasa tidak enak dengan bapak dan teman-teman yang lain." jelasnya.
" Kamu tenang saja Azilla, perusahaan kita tidak akan merugi. Justru perusahaan kita akan untung besar, karena kita berhasil menghindari kerjasama dengan perusahaan yang licik seperti mereka." jelas Ardi.
" Perusahaan yang licik, padahal perusahaan itu dulunya ada kerja keras ayahku. Tetapi kini semuanya sia-sia saja, dan pandangan orang-orang kepada perusahaan menjadi berubah semenjak dipegang oleh Paman Yudi." batin Azilla.
" Kau sedang memikirkan apa Azilla? kau tidak usah merasa bersalah, perusahaan itu memang sudah lama anjlok. Perusahaan itu menjadi hancur karena dipegang oleh orang yang salah, awalnya perusahaan itu maju dengan sukses. Aku sungguh sangat menyengat mengasihani perusahaan itu, semenjak Pak Rizki meninggal perusahaan itu menjadi hancur." jelas Ardi dan tanpa sadar Azilla pun meneteskan air mata.
" Apa yang terjadi kepadamu, mengapa kau sampai menangis?" tanya Ardi yang memang tidak mengetahui siapa Azilla sebenarnya.
" Kalau begitu ingat perusahaan itu sudah hancur ya Pak, sungguh sangat kasihan Pak Rizki kerja kerasnya hancur." ucap Azilla.
" Yang kau katakan memang sangat benar, bahkan kini aku tidak mendengar keberadaan istri dan juga kedua anaknya. Semenjak Pak Rizki meninggal, perusahaan diambil alih oleh adiknya yang bernama Yudi. Dan bahkan kabar keberadaan istrinya Pak Rizki bernama Ibu Cinta sampai kini masih belum diketahui, ada yang mengatakan kalau mereka pindah ke luar kota. Tetapi kabar itu masih belum pasti, kami sungguh sangat mengasihi nasib Ibu Cinta." jelas Ardi.
" Seandainya Bapak tahu siapa saya Pak, mungkin Bapak tidak akan menceritakan hal ini kepada saya. Karena sejujurnya hal ini sangat menyakiti hati saya, apalagi perusahaan yang dibangun oleh Ayah saya kini telah hancur." batin Azilla.
" Tampaknya ia sedang melamun lagi, kira-kira Apa yang sedang ya pikirkan. Sepertinya yang ia pikirkan sangat menyedihkan, hingga matanya sampai berkaca-kaca seperti itu." batin Ardi yang hanya memperhatikan saja.
" Ini, lap air mata kamu. Kita akan segera kembali ke kantor, akan sangat berbahaya jika mereka mengetahui kamu menangis." jelaskan Ardi dengan memberikan sapu tangannya.
" Maafkan saya Pak Ardi." ucapnya yang langsung mengambil sapu tangan Ardi dan mengelap air matanya.
" Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi, yang terjadi biarlah terjadi. Sekarang kau tenangkan dirimu, sebentar lagi kita akan segera sampai di kantor. Dan kita akan melanjutkan pembahasan mengenai hal ini, dan mungkin saja saya harus berhadapan dengan ayah saya karena kerjasama ini batal." jelasnya dan membuat Azilla kaget.
" Maafkan saya Pak." ucapnya dengan menunduk.
" Kau usa meminta maaf." ucapnya.
" Seandainya kalau perusahaan itu masih milik Pak Riski, mungkin perusahaan tidak akan seperti itu. dan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi, lagian saya juga masih bisa memberikan alasan kepada Ayah saya. Kalau Ayah saya tidak terima, saya akan menunjukkan Vidio ini." ucap Ardi dan sontak saja Azilla kaget.
" Kapan Bapak mengambilnya Vidio itu?" tanyanya yang penasaran.
" Oh tadi saya minta sama pemilik restoran, kebetulan saya kenal sama dia. Jadi untuk mendapatkan Vidio ini sangatlah mudah." jawabnya dengan tersenyum.
" Ternyata Pak Ardi bukanlah orang biasa, sepertinya aku tidak pernah merasa bersalah kepada dirinya. Apalagi yang ia katakan memang adalah kebenarannya, walaupun aku merasa sakit karena perusahaan Ayahku akan hancur dibuat oleh mereka. Tetapi setidaknya aku tidak akan merugikan perusahaan tempat aku kerja, dan biarlah memang kalau itu harus hancur. Mungkin itu sudah jalan takdir, dan aku tidak bisa ikut campur ke dalam hal tersebut." batin Azilla.
Kini suasana menjadi hening, dan tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sudah tiba di halaman kantor. Bagus pun bukan pintu untuk keduanya, kemudian Ia pun memarkirkan mobil milik Ardi. Kini Ardi dan Azilla pun langsung masuk ke dalam, mereka pun berniat untuk membicarakan mengenai kerjasama yang batal.
Belum sempat mereka berbicara, tiba-tiba saja ada lelaki paruh baya yang datang. Dan ternyata lelaki tersebut adalah Ayah dari Ardi, tampaknya kini ia sangat marah karena kerja sama dengan perusahaan Yudi batal. Azilla tidak berani ikut campur dalam hal tersebut, dia pun segera kembali ke ruangannya.
" Mengapa kau membatalkan kerjasama dengan perusahaan Yudi?" tanya lelaki itu.
" Mereka sangat tidak memiliki etika Ayah." jawab Ardi.
" Kamu tidak usah mencari alasan, bilang saja kalau kamu tidak mau karena Dandelion adalah mantan tunanganmu." ucap lelaki paruh baya itu.
" Ini tidak ada hubungannya dengan hal itu Ayah, bagian yang sebenarnya adalah tunanganku bukanlah Dandelion. Aku bisa bertunangan dengan Dandelion itu semua karena ulah Ayah, yang sebenarnya bertunangan dengan diriku adalah anak dari Pak Rizki. Dan sampai kini ia masih belum ditemukan, dan untungnya aku bisa melarikan diri dari pertentangan tersebut. Tetapi Ayah justru mempertunangan diriku dengan Tevi, dan aku akan tetap mencari tunanganku yang sebenarnya." jelasnya.
" Kamu jangan macam-macam Ardi, posisi iya saja masih diketahui di mana. Dan Tevi adalah orang yang cocok untuk dirimu, dia adalah anak dari kolega bisnis Ayah. Dan dengan kau bersama dengannya maka perusahaan kita akan berkembang dengan sangat pesat, dan itu akan sangat menguntungkan bagi keluarga kita." ucap Arman untuk memperingati Putranya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Sepahit Sembilu
4. Derai Yang Tak Terbendung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments