" Mengapa kau menguping pembicaraan?" tanya Ardi yang kesal.
" Maafkan saya Pak, saya hanya takut terjadi sesuatu pada Azilla." jelasnya dengan menundukkan kepala.
" Memangnya saya makan orang?" tanya Ardi.
" Kau memang makan orang, tetapi dengan cara kau bentak hingga ia akhirnya pergi dari sini." batin Fahmi.
Brak
" Jawab Fahmi." ucap yang dengan menatap tajam ke arah Fahmi.
" Ti-tidak Pak." jawabnya gugup.
" Ya sudah, sana keluar." ucapnya dengan mengacak rambutnya.
Fahmi pun keluar dari ruangan Ardi, ia tidak mau menjawab santapan Ardi. Karena hal itu sangat melelahkan, dan membuat muak.
" Siapa sebenarnya kau Azilla, mengapa aku merasa teduh ketika menyebut nama mu." batinnya yang sedang melihat CV Azilla.
Tiba-tiba saja pintu di ketuk, dan ternyata ada yang masuk. Ardi tampak sangat bahagia ketika melihat wajah itu, ia memang sangat menyayangi pemuda kecil itu. Bahkan ia sudah menganggap pemuda kecil itu sebagai anaknya.
" Ayah." ucapnya kemudian langsung memeluk Ardi.
" Kesayangan Ayah sudah datang." ucapnya.
" Kan Ini udah pulang sekolah ya, jadi Deni main ke kantor Ayah." jelasnya.
" Oh iya Ayah lupa, kalau di jam segini Deni udah pulang ya." ucapnya dengan menepuk kepalanya.
" Tapi ayah minta maaf ya, Ayah masih ada kesibukan setelah ini. Oh iya kebetulan ada asisten baru, nanti kamu dijaga aja ya sama asisten ayah." jelas Ardi dan Deni pun mengangguk.
" Azilla, segera ke ruangan saya sekarang." ucap Ardi dari sambungan telepon.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Azilla telah sampai di ruangan Ardi. Alangkah kagetnya Azilla, iya tidak menyangka kalau di ruangan Ardi ada anak kecil. Walaupun azila sudah tahu kalau umur Ardi sudah menginjak 30-an, tetapi hingga kini Azilla masih belum pernah mendengar cerita mengenai Ardi dan juga keluarganya.
" Maaf kalau saya mengganggu Pak." ucapnya yang merasa tidak enak.
" Kau tidak mengganggu Azilla, kebetulan saya ada meeting di luar. Tolong jaga anak saya ya, karena saya tidak mungkin membawanya keluar." jelasnya dengan mengacak-acak rambut Deni.
" Baik Pak." jawabnya dengan tersenyum palsu.
" Aku kira awalnya aku salah sangka, ternyata anak ini memang anaknya Pak Ardi." batin Azilla.
" Kalau begitu Ayah sama Om Fahmi pergi dulu ya, Deni baik-baik aja di kantor ya. Kan ada Kak Azilla yang menemani, ingat jangan bandel, jangan buat Kak Azilla repot." ucap Ardi mewanti-wanti.
" Ayah tenang aja ya, Deni nggak akan buat aneh-aneh. Deni akan baik-baik sama Kak Azilla, jadi Ayah bisa kerja dengan tenang." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalau begitu Ayah pergi dulu ya." ucap Ardi dengan melenggangkan kakinya menuju keluar ruangannya.
Deni pun ikut melambaikan tangan untuk mengiringi kepergian Ardi, kini di dalam ruangan tersebut hanya tersisa Azilla dan juga Deni. Azilla tampak bingung harus melakukan apa, dan tiba-tiba saja Deni pun merasa lapar. Azilla pun akhirnya memutuskan untuk membawa Deni pergi ke kantin, agar Deni dapat menghilangkan rasa laparnya.
" Gimana kalau kita ke kantin." usul Azilla dan Deni pun mengangguk.
" Ayo kak, kebetulan aku juga laper." ucapnya dengan mengelus perutnya.
Kini mereka pun segera pergi ke kantin, setibanya mereka di kantin. Tampak semua orang terkejut dengan kehadiran Deni, semua orang pun berhamburan pergi meninggalkan kantin. Sontak saja Azilla merasa heran dengan situasi tersebut, ia pun ikut ikut menjadi panik. Dan dalam sekejap ia pun membawa lari Deni, ia sangat panik akan terjadi sesuatu kepada ia dan juga Deni.
" Mengapa Kakak membawaku pergi dari kantin?" tanya Deni yang heran.
" Maaf mungkin ini tidak sopan, tetapi ketika melihat para karyawan berhamburan tiba-tiba saja aku menjadi khawatir. Karena aku takut engkau akan tertinggal, jadinya tadi langsung ke gendong aja." ucap Azilla yang masih dengan ekspresi khawatir.
" Ternyata kakak ini baik juga, sepertinya aku telah salah sangka kepadanya. Dan mulai sekarang aku akan mengidolakan dia, karena sepertinya ia bukanlah orang yang egois." batin Deni.
" Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, tetapi sepertinya percuma saja Kakak mengkhawatirkanku. Karena kejadian tadi bukan karena akan terjadi sesuatu, melainkan karena mereka kaget akan kehadiranku." jelasnya dan membuat Azilla terkejut.
" Jadi aku salah sangka dong?" tanyanya yang baru saja tersadar.
" Hahaha." tawa Deni yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.
" Kenapa engkau tertawa?" tanya Azilla yang merasa aneh.
" Habisnya Kak Azilla sangat lucu, aku belum pernah bertemu dengan orang seperti ini sebelumnya. Ngomong-ngomong udah berapa lama Kakak kerja di sini?" ucap Deni yang sangat penasaran dengan karakter Azilla.
" Aku baru masuk tadi pagi, itupun hanya menjadi anak magang." jelasnya dengan jujur.
" Jadi kakaknya anak magang di sini, lalu Mengapa Kakak bisa menjadi asisten Ayahku?" tanya Deni yang sangat penasaran.
" Kalau untuk soal itu aku juga tidak tahu, kebetulan aku tadi sempat dipanggil oleh HRD. Ya maaf aku terlalu berbelit-belit menjelaskannya, padahal kan kamu belum mengerti hal seperti itu." ucap Azilla dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Aku mengerti dengan apa yang kakak bilang, walaupun aku belum masuk ke dalam dunia bisnis. Tetapi Ayah sudah sering menceritakannya kepadaku, jadi aku sudah tidak asing dengan istilah yang kakak sebutkan tadi." ucapnya dengan tersenyum lebar.
Tiba-tiba saja Okta melewati tempat tersebut, iya sangat kaget melihat Tuan mudanya itu tersenyum. Akhirnya ia pun memfoto Tuan indahnya tersebut, dan merencanakan untuk menjadikan hal tersebut sebagai gosip baru di kantor.
" Teman-teman aku ada berita baru." ketiknya di dalam forum kantor dan juga mengirim foto Tuan mudanya itu.
" Ini beneran tuan muda Deni?" tanya salah satu karyawati yang tidak percaya.
" Aku tahu ini sulit dipercaya, tetapi itulah yang terjadi. Bukan hanya kalian saja yang terkejut ketika melihatnya, bahkan aku juga terkejut ketika melihatnya pertama kali." jelas Okta.
" Tampaknya sebentar lagi kita akan memiliki noda muda." ketik salah satu karyawan.
" Ya mudah-mudahan saja yang kau katakan memang benar, karena semua siswa magang itu telah meluluhkan hati tuan muda kita. Ketika sudah meluluhkan hati Tuan muda Deni, pastinya bisa dapat dengan mudah mendekati hati Tuan Ardi." jelas seorang karyawan.
" Tunggu dulu, bukannya Tuan Ardi sudah memiliki tunangan ya?" ucap salah satu karyawati dan membuat semuanya kaget dan akhirnya mereka pun teringat dengan sebuah nama.
" Yang kau katakan memang benar, Pak Ardi memang memiliki tunangan. Tetapi dari yang aku dengar, padi bertunangan bukan karena keinginannya sendiri. Kalau begitu mulai sekarang aku akan menjadi fans anak magang itu, jujur saja aku tidak suka dengan nona Tevi. Dia sangat sombong dan sering menindas kita, apakah kalian mau dia menjadi Ibu bos kita." jelas karyawan tersebut dan kini semua karyawan pun mulai membuka pikirannya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Derai Yang Tak Terbendung
4. Sepahit Sembilu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments