Deni Gambek

" Baik Pak, saya mengerti." jawabnya.

Ardi dan Deni pun segera pulang, kini Azilla mengekor di belakang Ardi. Dan ia pun juga siap-siap untuk pulang, kini Azilla dan Ardi serta Deni sudah sampai di parkiran. Azilla pun segera berjalan menuju gerbang, karena ia ingin menunggu angkot.

Ardi dan Deni yang melihat Azilla sedang berada di pinggir jalan, keduanya pun langsung menghampiri Azilla. Ardi berniat untuk mengantar azilah pulang, karena Azilla telah menjaga Deni.

" Kak Azilla, aku antar pulang yuk." ucap Deni dari kaca mobilnya.

" Tidak usah Deni, nanti Kak Azilla merepotkan." jawabnya yang rasa tidak enak dengan Ardi.

" Sudahlah Azilla, kebetulan juga sidang tidak ada angkot yang lewat." ucap Ardi dengan nada ketusnya.

Tiba-tiba saja sebuah angkot pun melintas di hadapan mereka, Azilla pun langsung menghentikan angkot tersebut. Ia pun memberikan salam perpisahan kepada Deni, kemudian ia segera masuk ke dalam angkot tersebut.

" Saya duluan dulu." ucapnya dengan tersenyum kemudian menaiki angkot tersebut.

" Ada apa dengan dirinya, apakah semengerikan itu saya. Sampai-sampai ia lebih rela naik angkot yang sempit daripada mobil saya." batin Ardi yang kesal.

" Ayo Ayah kita pulang, Kak Azilla juga sudah naik angkot." ucapnya dengan membangunkan bibirnya.

" Ya udah kita pulang, tapi kenapa anak Ayah sampai manyun?" tanya Ardi yang menggoda Deni.

" Deni kesal Ayah, kenapa sih Kak Azilla lebih milih naik angkot daripada naik mobil kita." ucapnya dan membuat Ardi tersenyum.

" Mungkin keadilan sedang ada urusan lagi, jadi ia tidak mau merepotkan kita sayang." ucap Ardi dengan mengelus kepala Deni.

" Ya sudahlah, tapi kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Deni akan marah-marah sama Kak Azilla, karena keadilan telah menyakiti hati Deni." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

" Kesayangan Ayah tenang aja ya, nanti ayah bakal bilang sama Kak Azilla. Jadi kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, dan putra kesayangan Ayah ini tidak akan kesal kepadanya lagi." ucapnya untuk merayu Deni.

" Ayah janji ya!" ucapnya dengan mengulurkan jari kelingkingnya.

" Iya sayang, nanti ayah akan bilang sama Kak Azilla." jawabnya dan langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Deni.

Mobil Ardi pun segera pergi meninggalkan parkiran kantor, tampak seorang satpam sedang tertawa. Ia masih saja mengingat tingkah Tuan mudanya yang menurutnya sangat lucu, tiba-tiba saja satpam yang lainnya pun datang. Satpam itu langsung menepuk pundak sama tersebut, sontak saja satpam itu kaget dan menjatuhkan tongkatnya. Dan akhirnya tongkat tersebut jatuh menimpa satpam yang mengagetkannya, satpam itu langsung menjerit kesakitan.

" Auuuu…sakit tau." ucap Bagus merasa kesakitan.

" Lagian siapa suruh ngagetin." ucap Ikbal.

" Ya kau juga, ngapain senyum-senyum sendiri. Kan aku kira kesambet." ucapnya dan Ikbal pun langsung memukul lengannya.

" Enak aja kesambet, kau si tadi tidak di sini. Aku tuh lagi mengingat tingkah lucu Tuan muda Deni." ucapnya.

" Aku nggak salah denger, sejak kapan Tuan muda Deni itu lucu?" tanyanya yang penasaran.

" Itu karena kau tidak melihatnya Bagus, tetapi bukan berarti Tuan muda Deni tidak bisa lucu." ucapnya.

" Memangnya tadi Tuan muda Deni ngapain?" tanya Bagus yang penasaran.

" Asal kau tahu ya bagus, tadi itu Tuan muda Deni sedang ngambek. Dia itu memajukan bibirnya, dan jujur itu sangat menggemaskan. kau kan tahu pipi Tuan muda Deni itu gembul, rasanya aku jadi ingin mencubitnya tahu." ucap Ikbal.

" Kamu yang benar Ikbal, itu adalah momen yang sangat langka. Kau ada mau videonya atau tidak?" tanya bagus yang penasaran.

" Sayangnya aku nggak kedalam videonya, tetapi aku yakin Tuan muda Deni pasti akan sering manja-manjaan." ucapnya dengan sangat yakin.

" Tampaknya kau sangat yakin dengan perkataanmu, memangnya siapa yang berhasil menaklukkan Tuan muda Deni?" tanya Bagus yang penasaran.

" Bukankah kamu mendengar berita tadi siang." ucapnya dan membuat bagus berpikir dengan sangat keras.

" Berita tadi siang ya, berita apa ya kenapa aku bisa lupa…aku ingat sekarang, jangan bilang tentang anak magang itu lagi." ucapnya.

" Benar sekali, anak magang itu telah berhasil mencuri hati tuan muda Deni. Ntah kenapa aku juga merasa dia justru akan berhasil mengambil hati Pak Ardi, kau tahulah sifat Pak Ardi walaupun dia cuek dia sangat sayang kepada Tuan muda Deni. Dan pastinya apapun yang diinginkan oleh Tuan muda Deni, pastinya akan dituruti oleh Pak Ardi." ucap Ikbal dan Bagus pun mengangguk.

" Yang kau katakan emang sangat benar, aku jadi tidak sabar melihat anak magang itu menjadi pendamping Pak Ardi. Walaupun usia mereka terpaut cukup lumayan jauh, tetapi sepertinya mereka cocok-cocok aja tuh." ucap Bagus membayangkan Azilla bersanding dengan Ardi.

" Yang kau katakan memang sangat benar, apalagi Pak Ardi dan anak magang itu sama-sama berinisial A. Aku jadi penasaran deh, kira-kira kalau mereka jadi bersanding nama anak mereka siapa ya?" ucap Ikbal yang sangat penasaran.

" Kita tidak akan mengetahui namanya siapa, lebih baik jangan membayangkan tentang namanya. Bagaimana kalau kita bayangkan rupanya, seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Pak Ardi. Pasti akan sangat lucu, pipinya yang chubby dan juga gayanya yang sedikit mirip dengan Pak Ardi." ucap Bagus membayangkan kembali.

" Astaga sangat lucu, kalau begitu kita berdoa saja semoga mereka jadian." ucap Ikbal dan bagus pun mengangguk.

...----------------...

Azilla kini sudah sampai di rumahnya, ketika ia masuk ia langsung dihadang oleh Bunda dan juga adiknya. Kini ia duduk di ruang tamu, adiknya memberikan sebuah teh kemudian keduanya duduk di kanan dan kiri Azilla. Azilla tampak panik dengan posisi tersebut, pikirannya mulai melayang membayangkan kalau Bunda dan adiknya akan mengintrogasinya.

" Illa tatap mata Bunda!" perintahnya dan membuat Azilla terkejut.

" Haduh, sepertinya sesuai dengan tebakanku." batinnya yang merasa tidak nyaman.

" Kamu tidak dengar ya, sekarang tatap mata Bunda!" ucapnya kembali dengan nada lantang.

" Aku nggak bisa mata-mata Bunda, aku kan nggak bisa bohong kalau udah natap mata Bunda." batinnya yang sedang kebingungan.

" Azilla Aksabil Husna." panggil Bunda dengan nama lengkapnya dan akhirnya ia pun mau tidak mau menatap mata bundanya.

" Iya Bunda." jawabnya dengan lembut.

" Sekarang jawab pertanyaan Bunda, siapa sebenarnya Deni?" tanya Bunda yang penasaran.

" Se-sebenarnya, Deni itu anak bos Kakak di kantor Bun." jawabnya yang gugup.

" Astaghfirullah, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal. Bunda pakai ngasih makan kampung lagi, gimana kalau Ayahnya sampai tahu." ucap Bunda dengan menepuk kepalanya.

" Bunda tenang aja ya, bos Kakak nggak akan tahu kok. Lagian tadi Kakak udah buat kesepakatan sama Deni, dan Deni sangat menyukai masakan Bunda. Jadi mungkin Deni akan sering main ke sini, tapi Bunda pura-pura aja nggak tahu ya kalau dia itu anak bosnya Kakak." ucapnya dan sedikit menenangkan Bunda.

# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.

1. Naura Abyasya

2. Derai Yang Tak Terbendung

3. Sepahit Sembilu

4. Rela Walau Sesak

Terpopuler

Comments

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Maaf kk ada typo.

2024-09-12

1

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Macam nak dihipnotis 😁

2024-09-12

0

lihat semua
Episodes
1 Hilang
2 Pemecatan Azilla
3 Mencari Tempat Magang
4 Hari Pertama Magang
5 Pertemuan Dengan Deni
6 Rumah Azilla
7 Kisah Hidup Deni
8 Permintaan Maaf
9 Deni Gambek
10 Seperti Anak-Anak
11 11
12 Malapetaka
13 Kemarahan Arman
14 Kedatangan Riko
15 Riko Jadi CEO
16 Ruby Sang Asisten
17 Pertemuan Kembali
18 18
19 Sikat Gigi
20 Kamu Siapa?
21 Aku Bukan Orang Miskin
22 Aku Setuju Ayah
23 Aku Rindu
24 Terima Kasih Mas
25 Tito Sedih
26 Tetangga Baru
27 pengumuman 1
28 Penghianatan
29 Masalalu
30 Tingkah aneh
31 Apa Iya?
32 33
33 Penasaran
34 Pura-pura
35 Bimbang
36 Kemarahan Ardi
37 Pasrah
38 Murka
39 Bahagia
40 Jangan ngambek
41 Mengerikan
42 Sedih
43 Kakak Tau
44 Terima kasih kak
45 Bestie
46 aku.
47 bertemu
48 uui
49 kebohongan dan pernyataan
50 Yang benar?
51 Eyang Arman
52 Rencana
53 Kakak Adik Kompak
54 Siapa Dia?
55 Afni
56 Ternyata Kau
57 Panggil Ayah
58 Bertemu Cinta
59 Minta Cucu
60 Aku Lelah
61 Disiplin
62 pilu
63 Apa ini
64 Tidak Mungkin
65 Bagaimana
66 Curiga
67 Maaf
68 Tidak Mungkin
69 Apa kabar?
70 Mengapa mirip?
71 Jadi begitu
72 Mana Deni
73 kau pasti sudah sangat menderita
74 Enak
75 Tengahnya dia
76 Takdir tidak ada yang tau
77 Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78 Lalu Apa?
79 Apa Maksudmu?
80 Itu tidak penting
81 Kita sama-sama berjuang
82 Enak tidak?
83 Yang benar?
84 Kau Harus Cepat
85 Melodi terindah
86 Bahaya
87 Apa...
88 Rencana
89 Sungguh
90 Maaf Ma
91 Semengerihkan itu?
92 Aku Ingin Bertemu
93 Sudah Siap
94 Kuat Ya Cinta
95 Tenang ya
96 Eyang
97 Bagaimana bisa?
98 Rencana yang bagus
99 Aku sungguh tidak menyangka
100 Sudahlah
101 Belangnya
102 Istighfar
103 Terimakasih
104 Bagaimana?
105 Apa Iya?
106 siapa dia
107 Gejolak
108 Sulit
109 Pengumuman
110 Pilihan yang sulit
111 Kau merebutnya
112 Benarkah Seperti itu?
113 Awas aja dia
114 tak menyangka mereka berdua ternyata...
115 Berharap
116 Tak ku sangka
117 Apa...Yang bener aja
118 Jangan Gitu Dong
119 Menyebalkan
120 Tentunya
121 Mencurigakan
122 Rencana dimulai
123 Ada Apa Sebenarnya?
124 Sungguh Menyenangkan
125 lucunya
126 Pertunangan
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Hilang
2
Pemecatan Azilla
3
Mencari Tempat Magang
4
Hari Pertama Magang
5
Pertemuan Dengan Deni
6
Rumah Azilla
7
Kisah Hidup Deni
8
Permintaan Maaf
9
Deni Gambek
10
Seperti Anak-Anak
11
11
12
Malapetaka
13
Kemarahan Arman
14
Kedatangan Riko
15
Riko Jadi CEO
16
Ruby Sang Asisten
17
Pertemuan Kembali
18
18
19
Sikat Gigi
20
Kamu Siapa?
21
Aku Bukan Orang Miskin
22
Aku Setuju Ayah
23
Aku Rindu
24
Terima Kasih Mas
25
Tito Sedih
26
Tetangga Baru
27
pengumuman 1
28
Penghianatan
29
Masalalu
30
Tingkah aneh
31
Apa Iya?
32
33
33
Penasaran
34
Pura-pura
35
Bimbang
36
Kemarahan Ardi
37
Pasrah
38
Murka
39
Bahagia
40
Jangan ngambek
41
Mengerikan
42
Sedih
43
Kakak Tau
44
Terima kasih kak
45
Bestie
46
aku.
47
bertemu
48
uui
49
kebohongan dan pernyataan
50
Yang benar?
51
Eyang Arman
52
Rencana
53
Kakak Adik Kompak
54
Siapa Dia?
55
Afni
56
Ternyata Kau
57
Panggil Ayah
58
Bertemu Cinta
59
Minta Cucu
60
Aku Lelah
61
Disiplin
62
pilu
63
Apa ini
64
Tidak Mungkin
65
Bagaimana
66
Curiga
67
Maaf
68
Tidak Mungkin
69
Apa kabar?
70
Mengapa mirip?
71
Jadi begitu
72
Mana Deni
73
kau pasti sudah sangat menderita
74
Enak
75
Tengahnya dia
76
Takdir tidak ada yang tau
77
Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78
Lalu Apa?
79
Apa Maksudmu?
80
Itu tidak penting
81
Kita sama-sama berjuang
82
Enak tidak?
83
Yang benar?
84
Kau Harus Cepat
85
Melodi terindah
86
Bahaya
87
Apa...
88
Rencana
89
Sungguh
90
Maaf Ma
91
Semengerihkan itu?
92
Aku Ingin Bertemu
93
Sudah Siap
94
Kuat Ya Cinta
95
Tenang ya
96
Eyang
97
Bagaimana bisa?
98
Rencana yang bagus
99
Aku sungguh tidak menyangka
100
Sudahlah
101
Belangnya
102
Istighfar
103
Terimakasih
104
Bagaimana?
105
Apa Iya?
106
siapa dia
107
Gejolak
108
Sulit
109
Pengumuman
110
Pilihan yang sulit
111
Kau merebutnya
112
Benarkah Seperti itu?
113
Awas aja dia
114
tak menyangka mereka berdua ternyata...
115
Berharap
116
Tak ku sangka
117
Apa...Yang bener aja
118
Jangan Gitu Dong
119
Menyebalkan
120
Tentunya
121
Mencurigakan
122
Rencana dimulai
123
Ada Apa Sebenarnya?
124
Sungguh Menyenangkan
125
lucunya
126
Pertunangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!