" Segera kembali ke kantor secepatnya!" pernyataannya.
" Baik Pak." jawab Azilla.
" Kalau memang Deni tidak mau pulang sekarang juga GPP, tapi Sherlock sekarang." ucapnya.
" Saya akan membawa Tuan muda Deni kembali ke kantor Pak." jawabnya dengan tegas.
" Kalau begitu saya tunggu." balasnya kemudian sambungan telepon pun terputus.
Azilla segera menemui Deni, dan mengajak Deni untuk pulang ke kantor. Awalnya Deni tidak mau, tetapi dengan bujukan dan rayuan dari Azilla akhirnya Deni mau. Kini mereka pun segera kembali ke kantor, tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka sampai di kantor. Mereka pun langsung masuk ke ruangan Ardi, dan tampaklah Ardi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Dari mana saja kalian?" tanya Ardi tanpa melihat ke arah mereka.
" Dari taman bermain Ayah." jawab Deni yang langsung memeluk Ardi.
" Oh rupanya begitu, jadi putra kesayangannya Ayah senang tidak?" tanya Ardi dengan tersenyum tipis.
" Ternyata Pak Ardi sangat tampan ketika tersenyum." batin Azilla yang tanpa sadar ikut tersenyum.
" Tampaknya kau sedang bahagia?" tanya Ardi yang menyadarkan Azilla.
" Maaf Pak." ucapnya dengan menunduk.
" Ayah, jangan marahi Kak Azilla." ucap Deni yang membela Azilla, dan hal tersebut membuat Ardi kaget.
" Deni sampai membelanya, sepertinya hubungan mereka sudah sangat dekat. Padahal mereka baru bertemu hari ini, dia sangat pandai mengambil hati Deni." batinnya.
" Mengapa kau membelanya?" tanya Ardi.
" Ya karena Kak Azilla sangat baik, dan karena Kak Azilla juga aku bisa merasakan hal yang belum pernah ku rasakan." jawabnya dan Ardi pun menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh putranya itu.
" Memangnya apa yang dilakukan ia, sampai kau bilang tidak pernah merasakannya?" tanya Ardi yang penasaran.
" Itu hal rahasia." jawabnya kemudian langsung berlari memeluk Azilla.
" Tuan muda tidak boleh seperti itu, Pak Ardi adalah ayah Tuan. Jadi Tuan muda harus sopan kepada, sekarang coba minta maaf." ucapnya yang menasehati Deni.
" Iya Kak, maaf." ucapnya dengan menunduk.
Ardi sangat kaget melihat tingkah putranya itu, dia sudah sangat dekat dengan Azilla. Anak yang bandel dan susa dibilangin tersebut, ia tampak sangat patuh kepada Azilla. Sang sekretaris yang memang sejak awal sudah memikat hatinya, kini niatnya untuk menjadi Azilla sebagai Ibu dari putranya menjadi sangat kuat.
" Minta maafnya ke Ayah ya." ucapnya dengan lembut.
Deni langsung menghampiri Ardi, ia langsung meraih tangan Ardi. Kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak pernah ia katakan sebenarnya, karena bagiannya yang ia lakukan adalah hal yang wajar.
" Maafkan Deni ya Ayah." ucapnya dengan memohon.
" Yauda, tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya." ucapnya dengan mengelus kepala Deni.
" Tergantung." jawabnya dengan tersenyum dan Ardi menjadi terkejut.
" Kenapa tergantung?" tanyanya yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh putranya itu.
" Semuanya tergantung sama sikap Ayah, Ayah harus janji nggak ada marahi Kak Azilla." jelasnya dan Azilla menjadi kaget mendengar hal tersebut.
" Tuan muda, apa yang Tuan muda katakan." ucapnya yang merasa takut dengan amarah Ardi.
" Sebel banget deh, uda di bilang jangan panggil Tuan muda. Kak Azilla cuma boleh panggil aku Deni, tanpa embel-embel Tuan muda." ucapnya dengan tegas dan Azilla pun menjadi panik dengan melihat ke arah Ardi.
" Kenapa Kakak malah lihat Ayah, yang lagi ngomong itu aku." ucapnya yang kesal.
" Turuti saja kemauannya." ucap Ardi dan Azilla pun mengangguk.
" Kak Azilla nggak enak, Kakak cuma mau dengar omongan Ayah saja." ucapnya yang kesal.
" Deni jangan begitu, ini masih di kantor." ucap Ardi dengan tatapan sinis.
" Iya Ayah." jawabnya dengan menunduk.
" Sekarang Deni duduk di sana, dan kau Azilla silakan kembali ke ruangan mu dan lanjutkan pekerjaan yang belum selesai." ucap Ardi, Deni pun langsung duduk di tempat yang sudah dikatakan oleh Ardi. Sedangkan Azilla, ia langsung pergi menuju ruangannya.
" Terimakasih Deni, mudah-mudahan saja dia bisa luluh dan akhirnya mau menjadi Ibu mu." batinnya dengan tersenyum dan menatap kepergian Azilla.
" Sepertinya Ayah jatuh cinta sama Kak Azilla, aku harus bantu Ayah. Aku nggak mau punya mama kayak Tante Tevi, lebih enak juga Kak Azilla." batinnya.
...----------------...
" Kau kenapa pulang sendiri?" tanya Bunda yang melihat Azitta sendirian.
" Kak Azilla sedang ada urusan Bunda, jadi Azitta pulang sendirian." jawabnya dan sang Bunda pun mengangguk.
" Kalau begitu Deni sudah ikut bersama dengan kakakmu ya?" tanyanya yang tidak melihat Deni.
" Ya begitulah Bunda, dan sepertinya tadi yang menelpon adalah orang tua dari Deni." jawabnya.
" Ya sudah kalau memang begitu ceritanya." jawab Bunda yang memang sangat masih menginginkan bersama Deni.
" Oh iya Bunda, aku jadi penasaran siapa sebenarnya Deni. Sepertinya Dini bukan hanya anak dari temannya Kak Azilla saja, kalau tebakanku mengatakan Deni adalah anak dari bosnya Kak Azilla." ucapnya dan Bunda pun memikirkan hal tersebut.
" Yang kau katakan masuk akal juga, tetapi kita tidak boleh mengatakan hal yang masih belum pasti kebenarannya. Untuk mengetahui lebih lanjutnya, lebih baik kita tanyakan kepada kakakmu nanti malam." ucap Bunda dan Azitta pun mengangguk.
...----------------...
Tanpa disadari kini waktu sudah menunjukkan sore hari, Azilla pun segera membereskan berkas-berkas yang sudah tidak berkepentingan lagi. Setelah membereskan semua berkas-berkas, Azilla pun handak untuk pulang. Tetapi tiba-tiba saja Ia dipanggil oleh Ardi ke dalam ruangannya, santai saja ia menjadi heran dan kebingungan dan juga penasaran apa yang akan terjadi.
" Pak Ardi memanggil saya." ucapnya yang baru tiba di dalam ruangan Ardi.
" Iya benar, saya memang memanggil dirimu." jawabnya dengan wajah datar.
" Ada yang bisa saya bantu Pak." ucapnya dengan sopan karena Ardi adalah bosnya.
" Besok pagi jam 07.00 pagi kamu sudah harus ada di sini, jam 07.30 kita akan berangkat untuk menemui klien penting." ucapnya dan Azilla pun terkejut.
" Maaf Pak Ardi, bukannya saya ingin menolak perintah Bapak. Tetapi bukannya menemui klien bapak seharusnya bersama dengan Pak Fahmi ya?" tanyanya yang penasaran mengapa Ardi mengajak dirinya.
" Yang kau katakan memang benar, tetapi Fahmi sedang ku kirim untuk mengurus kantor cabang. Aku tidak mungkin mengirim kau ke sana, karena kau masih adalah anak magang. Karena itu kau yang akan menemaniku untuk bertemu dengan klien, jadi tolong jangan sampai terlambat." ucapnya dengan tegas, dan Azilla pun menjadi merinding mendengar penuturan Ardi.
" Baik Pak, saya akan berusaha datang di waktu yang sudah bapak katakan." ucapnya dengan sesopan mungkin.
" Jangan hanya mengatakan usaha, jika besok pagi di jam yang sudah saya tentukan kamu tidak ada. Maka jangan salahkan saya jika kamu saya keluarkan dari kantor ini, yang itu tandanya kalau harus mencari tempat magang baru." ancam Ardi dan Azilla pun menjadi ketakutan.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Derai Yang Tak Terbendung
4. Sepahit Sembilu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Nurul Fatimah
semangat Thor💪💪
2024-09-12
0