Seperti Anak-Anak

" Kenapa Bunda harus nggak tau Kak?" tanya Bunda yang penasaran.

" Itu semua karena Kakak sudah membuat kesepakatan dengan Deni Bunda, dan karena dia tidak mau kalau Bunda akan bersikap aneh kepadanya. Padahal ia sangat menyukai Bunda, jadi kakak mohon ya Bunda." jelasnya dan Bunda pun mengangguk.

" Jadi karena itu alasannya, kalau memang begitu Bunda tidak masalah. Kebetulan Bunda juga sangat menyukai Deni, kalaupun dia mau menginap di sini Bunda juga tidak masalah." ucapnya dan Azilla pun tersenyum.

" Alhamdulillah kalau begitu Bunda, nanti lain kali Illa akan bawa Deni main ke sini lagi. Dan Illa yakin, kalau Deni pasti akan sangat menyukainya. Apalagi ia sangat menyukai masakan Bunda, lama-lama kalau dia di sini terus pasti dia akan gembul." ucapnya dengan membayangkan jika Deni menjadi gembul.

" Yang Kakak katakan emang benar, dan pastinya dia akan sangat lucu jika gembul." ucap Itta yang juga membayangkannya.

" kalian berdua ini, Bunda sih tidak masalah kalau dia jadi gembul. Tapi gimana kalau orang tuanya marah sama kita, anaknya udah dirawat sampai tampan begitu eh malah kita buat jadi gembul." ucap Bunda.

" Yang Bunda katakan benar juga, apalagi bos Kakak tuh orangnya sangat galak. Jujur saja kalau bukan demi nilai, Kakak males banget magang di sana bunda." jelasnya yang tiba-tiba saja mengingat wajah Ardi.

" Yang sabar ya Kak, seandainya Ayah kalian tidak meninggal. Pasti hidup kalian tidak akan seperti ini, kalian berdua pasti akan hidup bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Dan khususnya untuk Kakak, Kakak tidak akan perlu magang di perusahaan lain karena dulunya Ayah kalian memiliki perusahaan sendiri." jelas Bunda yang tanpa sadar berderai air mata.

" Sudahlah Bunda, semuanya sudah terjadi. Dan mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita, jadi kita tidak boleh menyesali semuanya. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, dan dengan ini semua Kakak bisa menjadi anak yang mandiri." ucapnya dengan tersenyum dan ketiganya pun langsung berpelukan.

" Yang Kakak katakan emang benar Bunda, jadi Bunda tidak perlu menyesali semuanya. Kami berdua sangat bahagia dengan keberadaan Bunda, walaupun Ayah sudah ada tidak ada di samping kami. Tetapi Bunda selalu saja membuat kami merasa tidak kekurangan, dan hal itu sudah cukup membuat kami bahagia Bunda." ucap Azitta yang gini sudah berpikiran dewasa.

" Ternyata adik kecil kesayangan Kakak sudah dewasa ya, sekarang ia sudah memiliki pola pikir yang cukup dewasa." ucapnya dengan mengacak-acak rambut Adiknya.

" Jangan dirusakin Kak, nanti rambut aku jadi kusut. Padahal kan aku baru keramas, dan rencananya besok pagi aku tidak mau keramas lagi." ucapnya.

" Bisa gitu ya, padahal Kakak sudah sangat ingin mengacak-acak rambutmu." ucap Azilla dengan mengedipkan bola matanya.

" Semuanya bisa diatur Kak, apa sih nggak bisa aku atur." ucapnya dengan menyombongkan dirinya sendiri.

" Iyalah tuh anak pintar, tapi jangan jadi anak yang sombong ya Dek." ucapnya mengingatkan.

" Kakak tenang aja, aku tidak akan seperti itu. Lagian kita hanya tinggal bertiga, dan aku tidak ingin membuat Bunda menjadi repot." jelasnya.

" Ternyata kedua Putri Bunda sudah dewasa ya, Bunda sangat bahagia melihat kalian yang sudah memiliki pola pikir dewasa. Kalau begitu sebentar lagi Bunda akan punya mantu nih, kira-kira siapa duluan ya akan ngasih Bunda bantu ya." udah Bunda dengan menghadirkan bola matanya kemudian mengirim kedua Putrinya.

Keduanya tidak ada yang menjawab perkataan Bunda, mereka hanya saling menunjuk. Udah pun tersenyum karena telah berhasil menggoda kedua putrinya, dan ia sangat menyukai hal tersebut.

" Kak Azilla yang akan ngasih Bunda mantu duluan." ucap Azitta ta dengan menunjuk kakaknya.

" Kakak yakin kamu duluan justru yang akan ngasih, Kakak masih mau fokus sama karir." ucapnya dengan tersenyum.

" Tidak bisa begitu dong Kak, kan Kakak yang lebih tua. Kadi Kakak yang harus nikah duluan baru aku, jadi Kakak yang harus kasih bantu duluan buat bunda." ucapnya dengan tersenyum.

" Kamu ini ya Dek, kalau soal yang berhubungan dengan uang atau apapun kamu cepat, tapi kalau ditanya soal mantu Kakak duluan yang kamu suruh maju paling depan." ucap Azilla.

" Hehehe, kan Kakak memang anak yang paling tua jadi Kakak yang harus nikah duluan." ucapnya dan mau tidak mau Azilla pun hanya mengangguk saja.

" Ya sudah kalau keputusannya memang begitu, tetapi untuk saat ini Kakak masih mau fokus sama karir dulu." jelasnya.

" Ya nggak masalah, lagian Adek juga masih SMA." ucapnya.

" Kalian berdua ya, selalu saja bertengkar. Dan ujung-ujungnya pasti Kakak yang harus mengalah, padahal terkadang ia duluan yang menang." ucap Bunda dengan menggelengkan kepalanya.

" Itu kan uda tanggung jawab Kakak sebagai anak pertama Bun." ucap Azitta yang membuat Azilla kesal.

" Bagus ya, sekarang pola pikirnya seperti itu. Mau kakak tonjok." ucap Azilla dengan tatapan tajam.

" Ampun Kak, Adek cuma bercanda." ucapnya.

" Tapi bercanda Adek uda keterlaluan, klitik-klitik." ucapnya dengan menggelitik sang Adik.

Bunda tidak berkata apa-apa, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putrinya. Keduanya adalah semangat hidupnya, karena kehadiran keduanya membuat hidupnya menjadi bahagia. Apalagi semenjak kepergian sang suami.

" Kalian ini, Kakak uda makan belum?" ucap Bunda.

" Hehehe, belum Bun." jawabnya.

" Yauda, kalau begitu makan dulu sana. Kebetulan Bunda tadi masak tumis kangkung kesukaan Kakak." jelas Bunda dan kedua putrinya itu langsung berlari menuju meja makan.

Keduanya berebutan untuk menyantap makanan tersebut, Bunda tertawa melihat tingkah kedua putrinya itu. Walaupun keduanya sudah dewasa, tetapi tingkahnya masih seperti anak-anak. Karena itu Bunda sangat khawatir dengannya, Bunda sangat takut jika mereka dekat dengan orang yang salah.

Selama beberapa tahun belakangan, Bunda sudah merawat keduanya sendirian. Karena itu Bunda tidak ingin kedua putrinya bersedih, Bunda hanya ingin kedua putrinya nya hidup dengan bahagia. Hanya itu saja yang ia inginkan, karena putrinya sudah hidup menderita selama beberapa tahun ini.

" Kalian berdua ini, masih saja seperti anak kecil." ucap Bunda dengan menjalankan kepalanya.

" Kami berdua kan memang anak kecil Bunda." jawab keduanya serentak.

" Terserah kalian saja kalau begitu, sekarang kalian berdua duduk. Biar Bunda saja yang mengambilkan makanan kalian, kalau tidak seperti itu kalian akan terus bertengkar dan tidak akan selesai makannya." ucap Bunda yang langsung mengambil alih segalanya.

Kini Bunda pun membagi sayur di dalam piring kedua putrinya, ia salah saja sangat bahagia ketika melihat kedua putrinya tersenyum. Senyuman itu adalah harta yang berharga bagi dirinya, dan hal tersebut sangat sulit untuk dicari. Karena itu, ia selalu berusaha untuk menjaganya dengan sebaik-baik mungkin.

# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.

1. Naura Abyasya

2. Rela Walau Sesak

3. Sepahit Sembilu

4. Derai Yang Tak Terbendung

Episodes
1 Hilang
2 Pemecatan Azilla
3 Mencari Tempat Magang
4 Hari Pertama Magang
5 Pertemuan Dengan Deni
6 Rumah Azilla
7 Kisah Hidup Deni
8 Permintaan Maaf
9 Deni Gambek
10 Seperti Anak-Anak
11 11
12 Malapetaka
13 Kemarahan Arman
14 Kedatangan Riko
15 Riko Jadi CEO
16 Ruby Sang Asisten
17 Pertemuan Kembali
18 18
19 Sikat Gigi
20 Kamu Siapa?
21 Aku Bukan Orang Miskin
22 Aku Setuju Ayah
23 Aku Rindu
24 Terima Kasih Mas
25 Tito Sedih
26 Tetangga Baru
27 pengumuman 1
28 Penghianatan
29 Masalalu
30 Tingkah aneh
31 Apa Iya?
32 33
33 Penasaran
34 Pura-pura
35 Bimbang
36 Kemarahan Ardi
37 Pasrah
38 Murka
39 Bahagia
40 Jangan ngambek
41 Mengerikan
42 Sedih
43 Kakak Tau
44 Terima kasih kak
45 Bestie
46 aku.
47 bertemu
48 uui
49 kebohongan dan pernyataan
50 Yang benar?
51 Eyang Arman
52 Rencana
53 Kakak Adik Kompak
54 Siapa Dia?
55 Afni
56 Ternyata Kau
57 Panggil Ayah
58 Bertemu Cinta
59 Minta Cucu
60 Aku Lelah
61 Disiplin
62 pilu
63 Apa ini
64 Tidak Mungkin
65 Bagaimana
66 Curiga
67 Maaf
68 Tidak Mungkin
69 Apa kabar?
70 Mengapa mirip?
71 Jadi begitu
72 Mana Deni
73 kau pasti sudah sangat menderita
74 Enak
75 Tengahnya dia
76 Takdir tidak ada yang tau
77 Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78 Lalu Apa?
79 Apa Maksudmu?
80 Itu tidak penting
81 Kita sama-sama berjuang
82 Enak tidak?
83 Yang benar?
84 Kau Harus Cepat
85 Melodi terindah
86 Bahaya
87 Apa...
88 Rencana
89 Sungguh
90 Maaf Ma
91 Semengerihkan itu?
92 Aku Ingin Bertemu
93 Sudah Siap
94 Kuat Ya Cinta
95 Tenang ya
96 Eyang
97 Bagaimana bisa?
98 Rencana yang bagus
99 Aku sungguh tidak menyangka
100 Sudahlah
101 Belangnya
102 Istighfar
103 Terimakasih
104 Bagaimana?
105 Apa Iya?
106 siapa dia
107 Gejolak
108 Sulit
109 Pengumuman
110 Pilihan yang sulit
111 Kau merebutnya
112 Benarkah Seperti itu?
113 Awas aja dia
114 tak menyangka mereka berdua ternyata...
115 Berharap
116 Tak ku sangka
117 Apa...Yang bener aja
118 Jangan Gitu Dong
119 Menyebalkan
120 Tentunya
121 Mencurigakan
122 Rencana dimulai
123 Ada Apa Sebenarnya?
124 Sungguh Menyenangkan
125 lucunya
126 Pertunangan
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Hilang
2
Pemecatan Azilla
3
Mencari Tempat Magang
4
Hari Pertama Magang
5
Pertemuan Dengan Deni
6
Rumah Azilla
7
Kisah Hidup Deni
8
Permintaan Maaf
9
Deni Gambek
10
Seperti Anak-Anak
11
11
12
Malapetaka
13
Kemarahan Arman
14
Kedatangan Riko
15
Riko Jadi CEO
16
Ruby Sang Asisten
17
Pertemuan Kembali
18
18
19
Sikat Gigi
20
Kamu Siapa?
21
Aku Bukan Orang Miskin
22
Aku Setuju Ayah
23
Aku Rindu
24
Terima Kasih Mas
25
Tito Sedih
26
Tetangga Baru
27
pengumuman 1
28
Penghianatan
29
Masalalu
30
Tingkah aneh
31
Apa Iya?
32
33
33
Penasaran
34
Pura-pura
35
Bimbang
36
Kemarahan Ardi
37
Pasrah
38
Murka
39
Bahagia
40
Jangan ngambek
41
Mengerikan
42
Sedih
43
Kakak Tau
44
Terima kasih kak
45
Bestie
46
aku.
47
bertemu
48
uui
49
kebohongan dan pernyataan
50
Yang benar?
51
Eyang Arman
52
Rencana
53
Kakak Adik Kompak
54
Siapa Dia?
55
Afni
56
Ternyata Kau
57
Panggil Ayah
58
Bertemu Cinta
59
Minta Cucu
60
Aku Lelah
61
Disiplin
62
pilu
63
Apa ini
64
Tidak Mungkin
65
Bagaimana
66
Curiga
67
Maaf
68
Tidak Mungkin
69
Apa kabar?
70
Mengapa mirip?
71
Jadi begitu
72
Mana Deni
73
kau pasti sudah sangat menderita
74
Enak
75
Tengahnya dia
76
Takdir tidak ada yang tau
77
Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78
Lalu Apa?
79
Apa Maksudmu?
80
Itu tidak penting
81
Kita sama-sama berjuang
82
Enak tidak?
83
Yang benar?
84
Kau Harus Cepat
85
Melodi terindah
86
Bahaya
87
Apa...
88
Rencana
89
Sungguh
90
Maaf Ma
91
Semengerihkan itu?
92
Aku Ingin Bertemu
93
Sudah Siap
94
Kuat Ya Cinta
95
Tenang ya
96
Eyang
97
Bagaimana bisa?
98
Rencana yang bagus
99
Aku sungguh tidak menyangka
100
Sudahlah
101
Belangnya
102
Istighfar
103
Terimakasih
104
Bagaimana?
105
Apa Iya?
106
siapa dia
107
Gejolak
108
Sulit
109
Pengumuman
110
Pilihan yang sulit
111
Kau merebutnya
112
Benarkah Seperti itu?
113
Awas aja dia
114
tak menyangka mereka berdua ternyata...
115
Berharap
116
Tak ku sangka
117
Apa...Yang bener aja
118
Jangan Gitu Dong
119
Menyebalkan
120
Tentunya
121
Mencurigakan
122
Rencana dimulai
123
Ada Apa Sebenarnya?
124
Sungguh Menyenangkan
125
lucunya
126
Pertunangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!