11

Kini keduanya sudah selesai makan, Azilla pun segera pergi menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, atau lebih tepatnya mandi. Sedangkan Bunda dan juga Adiknya, mereka berkumpul di ruang utama untuk menceritakan keseharian mereka. Itulah rutinitas yang selalu mereka lakukan, hal itu dilakukan agar mereka selalu melakukan kegiatan yang bermanfaat.

" Ini adalah hari yang sangat melelahkan, dan besok pagi aku juga harus datang pagi ke kantor." ucapnya yang ini sambil mengeringkan rambutnya seusai mandi.

Tiba-tiba saja ada notifikasi dari handphonenya, ia pun segera melihat pesan notifikasi tersebut. Dan ternyata Ardi lah yang mengirim pesan, Ardi mengirim laporan yang akan mereka presentasikan esok hari.

" Dipelajari laporan tersebut, besok kita akan presentasi di depan klien." tulisnya di dalam pesan tersebut.

" Ardi ini sangat menyebalkan, kalau bukan karena dia pemilik perusahaan tempat aku magang. Mungkin saja udah aku jambak-jambak rambutnya, tapi sayangnya aku masih membutuhkan perusahaannya." ucapnya yang kesal.

Ia pun kini tidak keluar dari kamarnya, kini ia mempelajari laporan yang sudah dikirim oleh Ardi. Ia terus mempelajari laporan tersebut, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Dan ia pun segera tidur, karena esok hari ia harus berangkat pagi ke kantor.

Sebelum matanya terlambat, tiba-tiba saja ia teringat dengan Deni. Setelah mendengar kisah kehidupan Deni yang memang tidak seberapa banyak, ia pun menjadi kasihan kepada anak tersebut. Dan entah kenapa ia menjadi menyayangi anak itu, dan ingin selalu berada di sekitar anak tersebut.

" Kenapa aku jadi kepikiran tentang Deni ya, apa karena aku merasa kasihan dengannya ya. Ya mungkin begitu, anak sekecil itu sudah kekurangan kasih sayang. Sungguh aku tidak tega dengannya, aku yang sudah dewasa ketika di tinggal Ayah saja sudah menyediakan. Dan sekarang aku tau perasaan dia yang lebih menyedihkan." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.

...----------------...

" Ayo Deni, kita harus tidur. Ini sudah malam Nak, dan besok kau harus masuk sekolah." ucap Ardi yang membujuk Deni untuk tidur.

" Aku nggak mau tidur Ayah, aku mau ngomong sama Kak Azilla ila." ucapnya dengan merengek.

" Ini sudah malam Nak, mungkin Kak Azilla juga sudah tidur. Besok saja ya, besok kan masih bisa bertemu dengan Kak Azilla di kantor Ayah." ucapnya untuk membujuk.

" Nggak mau ayah, kalau Ayah nggak mau teleponkan Kak Azilla. Deni nggak akan mau tidur, biar aja besok Deni terlambat. Lagian yang ditegur sama ibu guru juga Ayah, karena Ibu guru pasti mikirnya Ayah kesiangan." ucapnya.

" Ya ampun Deni, kamu senang ya kalau Ayah dimarahin sama ibu guru kamu." ucap Ardi dengan menggelengkan kepalanya.

" Ya makanya ayah, cepetan dong hubungi Kak Azilla. Deni nggak mau bobo kalau belum ngobrol sama Kak Azilla, kalau Ayah memang sayang sama Deni sekarang cepat hubungi Kak Azilla." ucapnya dan membuat Ardi geleng-geleng kepala.

" Ya udah Ayah akan hubungi Kak Azilla, tapi Deni harus janji sama Ayah. Setelah ini dini harus tidur, karena besok Deni kan harus sekolah." ucap Ardi dengan mengulurkan jari kelingkingnya.

" Deni janji Ayah, setelah menelepon Kak Azilla Deni akan tidur." jawabnya dengan tersenyum.

Ardi pun segera mengambil telepon genggamnya, kemudian Ia pun segera menghubungi Azilla. Sambungan telepon pun tersambung, kini handphone Azilla berdering. ia pun yang sudah tertidur terpaksa harus mengangkat telepon tersebut, kini matanya sipit khas orang mengantuk.

Azilla tidak menyadari kalau panggilan tersebut merupakan panggilan video, ia mengangkat panggilan tersebut dengan santainya. Ardi terpana melihat wajah Azilla yang seperti itu, dan tiba-tiba saja ia berkhayal ketika harus melihat wajah Azilla setiap ia bangun pagi.

" Wajahnya sangat imut, jadi terbayang ketika harus melihat wajahnya setiap aku bangun pagi." batinnya.

" Ayah teleponnya sudah tersambung?" tanya Deni dengan mengguncang tubuh Ardi.

Azilla yang mendengar suara Deni, Ia pun tersentak dan langsung membuka matanya. Alangkah kagetnya ia, ternyata yang meneleponnya adalah Ardi. Dan telepon tersebut ternyata merupakan panggilan video, Azilla pun langsung mematikan teleponnya karena malu.

" Mengapa harus Pak Ardi yang menelpon, malah panggilan video lagi. Penampilanku sungguh urap-urakan, aduh malu banget." ucapnya yang kemudian langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.

Azilla pun langsung merapikan penampilannya, ia yakin setelah ini Ardi pasti akan menghubungi kembali. Karena itu ia tidak ingin wajah ura-urakannya dilihat oleh arti, karena itu sungguh sangat memalukan. Setelah penampilannya cukup rapi, ia pun segera keluar dari kamar mandi. Dan kini ia sedang menunggu panggilan telepon dari Ardi.

Dan benar saja sesuai dengan tebakannya, kini Ardi menelponnya kembali. Dan ia pun langsung mengangkatnya, karena ia takut Ardi akan marah kepadanya. Apalagi tadi ia sempat mematikan sambungan telepon, dan pastinya hal tersebut sudah membuat Ardi sangat marah.

" Selamat malam Pak Ardi." sapanya dengan senyuman dan sopan.

" Selamat malam Azilla, maaf karena harus mengganggumu malam-malam. Tetapi Deni tidak mau tidur, katanya ia ingin berbicara denganmu terlebih dahulu." jelas Ardi.

" Halo Kak Azilla." ucap Deni dengan tersenyum.

" Halo sayang, kenapa jam segini belum bobo?" tanya Azilla dengan tersenyum, tiba-tiba Ardi pun tersenyum tipis melihat tingkah Azilla dengan Deni.

" Deni nggak mau bobo Kak, Deni maunya dikasih dongeng dulu sama Kakak." jelasnya dengan langsung merebut handphone dari Ardi.

" Oke kalau itu mau Deni, sekarang Deni baringkan badannya. Kemudian letak handphonenya di samping bantal, Kakak akan ceritakan sebuah dongeng." ucapnya dengan tersenyum.

" Deni nggak hanya mau dengar suara kakak aja, Deni maunya juga lihat wajah Kakak." rengeknya.

" Kalau begitu gimana ya?" tanyanya yang bingung.

" Ya udah ini baringkan tubuhnya aja, biar Ayah yang akan pegang handphonenya. Jadi Deni masih bisa melihat wajah Kak Azilla, hingga akhirnya Deni terlelap." jelas Ardi dan Deni pun mengangguk.

Deni dan Ardi pun langsung membaringkan badannya di tempat tidur, kini Ardi pun menggenggam telepon tersebut. Kemudian ia mengarahkannya ke arah Deni, agar Deni bisa melihat gambar yang tertera di layar yaitu wajah Azilla.

" Kakak akan menceritakan tentang cerita seorang gadis yang suka berbohong, sebut saja namanya Wawa. Wawa ini adalah gadis yang sangat suka berbohong, ia suka sekali membohongi orang-orang di sekitar. Suatu hari Wawa pun membohongi seorang wanita tua yang sedang menanyakan alamat, wanita itu sangat marah karena tidak kunjung menemukan alamat yang ia tuju. Akhirnya wanita itu pun berbalik, dan ia menemui Wawa lagi. Kau adalah anak yang sangat bakal, dengan tegah kau membohongi wanita tua seperti ku. Aku akan mengutuk mu, setiap kau berbohong kau akan jatuh sakit." ucap wanita tua itu kemudian langsung menghilang.

# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.

1. Naura Abyasya

2. Derai Yang Tak Terbendung

3. Sepahit Sembilu

4. Rela Walau Sesak

Episodes
1 Hilang
2 Pemecatan Azilla
3 Mencari Tempat Magang
4 Hari Pertama Magang
5 Pertemuan Dengan Deni
6 Rumah Azilla
7 Kisah Hidup Deni
8 Permintaan Maaf
9 Deni Gambek
10 Seperti Anak-Anak
11 11
12 Malapetaka
13 Kemarahan Arman
14 Kedatangan Riko
15 Riko Jadi CEO
16 Ruby Sang Asisten
17 Pertemuan Kembali
18 18
19 Sikat Gigi
20 Kamu Siapa?
21 Aku Bukan Orang Miskin
22 Aku Setuju Ayah
23 Aku Rindu
24 Terima Kasih Mas
25 Tito Sedih
26 Tetangga Baru
27 pengumuman 1
28 Penghianatan
29 Masalalu
30 Tingkah aneh
31 Apa Iya?
32 33
33 Penasaran
34 Pura-pura
35 Bimbang
36 Kemarahan Ardi
37 Pasrah
38 Murka
39 Bahagia
40 Jangan ngambek
41 Mengerikan
42 Sedih
43 Kakak Tau
44 Terima kasih kak
45 Bestie
46 aku.
47 bertemu
48 uui
49 kebohongan dan pernyataan
50 Yang benar?
51 Eyang Arman
52 Rencana
53 Kakak Adik Kompak
54 Siapa Dia?
55 Afni
56 Ternyata Kau
57 Panggil Ayah
58 Bertemu Cinta
59 Minta Cucu
60 Aku Lelah
61 Disiplin
62 pilu
63 Apa ini
64 Tidak Mungkin
65 Bagaimana
66 Curiga
67 Maaf
68 Tidak Mungkin
69 Apa kabar?
70 Mengapa mirip?
71 Jadi begitu
72 Mana Deni
73 kau pasti sudah sangat menderita
74 Enak
75 Tengahnya dia
76 Takdir tidak ada yang tau
77 Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78 Lalu Apa?
79 Apa Maksudmu?
80 Itu tidak penting
81 Kita sama-sama berjuang
82 Enak tidak?
83 Yang benar?
84 Kau Harus Cepat
85 Melodi terindah
86 Bahaya
87 Apa...
88 Rencana
89 Sungguh
90 Maaf Ma
91 Semengerihkan itu?
92 Aku Ingin Bertemu
93 Sudah Siap
94 Kuat Ya Cinta
95 Tenang ya
96 Eyang
97 Bagaimana bisa?
98 Rencana yang bagus
99 Aku sungguh tidak menyangka
100 Sudahlah
101 Belangnya
102 Istighfar
103 Terimakasih
104 Bagaimana?
105 Apa Iya?
106 siapa dia
107 Gejolak
108 Sulit
109 Pengumuman
110 Pilihan yang sulit
111 Kau merebutnya
112 Benarkah Seperti itu?
113 Awas aja dia
114 tak menyangka mereka berdua ternyata...
115 Berharap
116 Tak ku sangka
117 Apa...Yang bener aja
118 Jangan Gitu Dong
119 Menyebalkan
120 Tentunya
121 Mencurigakan
122 Rencana dimulai
123 Ada Apa Sebenarnya?
124 Sungguh Menyenangkan
125 lucunya
126 Pertunangan
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Hilang
2
Pemecatan Azilla
3
Mencari Tempat Magang
4
Hari Pertama Magang
5
Pertemuan Dengan Deni
6
Rumah Azilla
7
Kisah Hidup Deni
8
Permintaan Maaf
9
Deni Gambek
10
Seperti Anak-Anak
11
11
12
Malapetaka
13
Kemarahan Arman
14
Kedatangan Riko
15
Riko Jadi CEO
16
Ruby Sang Asisten
17
Pertemuan Kembali
18
18
19
Sikat Gigi
20
Kamu Siapa?
21
Aku Bukan Orang Miskin
22
Aku Setuju Ayah
23
Aku Rindu
24
Terima Kasih Mas
25
Tito Sedih
26
Tetangga Baru
27
pengumuman 1
28
Penghianatan
29
Masalalu
30
Tingkah aneh
31
Apa Iya?
32
33
33
Penasaran
34
Pura-pura
35
Bimbang
36
Kemarahan Ardi
37
Pasrah
38
Murka
39
Bahagia
40
Jangan ngambek
41
Mengerikan
42
Sedih
43
Kakak Tau
44
Terima kasih kak
45
Bestie
46
aku.
47
bertemu
48
uui
49
kebohongan dan pernyataan
50
Yang benar?
51
Eyang Arman
52
Rencana
53
Kakak Adik Kompak
54
Siapa Dia?
55
Afni
56
Ternyata Kau
57
Panggil Ayah
58
Bertemu Cinta
59
Minta Cucu
60
Aku Lelah
61
Disiplin
62
pilu
63
Apa ini
64
Tidak Mungkin
65
Bagaimana
66
Curiga
67
Maaf
68
Tidak Mungkin
69
Apa kabar?
70
Mengapa mirip?
71
Jadi begitu
72
Mana Deni
73
kau pasti sudah sangat menderita
74
Enak
75
Tengahnya dia
76
Takdir tidak ada yang tau
77
Jadi Harus Sendiri-Sendiri?
78
Lalu Apa?
79
Apa Maksudmu?
80
Itu tidak penting
81
Kita sama-sama berjuang
82
Enak tidak?
83
Yang benar?
84
Kau Harus Cepat
85
Melodi terindah
86
Bahaya
87
Apa...
88
Rencana
89
Sungguh
90
Maaf Ma
91
Semengerihkan itu?
92
Aku Ingin Bertemu
93
Sudah Siap
94
Kuat Ya Cinta
95
Tenang ya
96
Eyang
97
Bagaimana bisa?
98
Rencana yang bagus
99
Aku sungguh tidak menyangka
100
Sudahlah
101
Belangnya
102
Istighfar
103
Terimakasih
104
Bagaimana?
105
Apa Iya?
106
siapa dia
107
Gejolak
108
Sulit
109
Pengumuman
110
Pilihan yang sulit
111
Kau merebutnya
112
Benarkah Seperti itu?
113
Awas aja dia
114
tak menyangka mereka berdua ternyata...
115
Berharap
116
Tak ku sangka
117
Apa...Yang bener aja
118
Jangan Gitu Dong
119
Menyebalkan
120
Tentunya
121
Mencurigakan
122
Rencana dimulai
123
Ada Apa Sebenarnya?
124
Sungguh Menyenangkan
125
lucunya
126
Pertunangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!