" Yang Papa Deni bilang memang benar, dan karena itu Deni harus menghabiskan makanan yang dimasak sama Nenek." ucap Azilla dengan tersenyum.
" Tentu dong Deni akan menghabiskannya, orang masakan ini sangat enak." jawabnya dengan memberikan kedua jempolnya.
" Kalau begitu nanti Nenek akan sering masak deh buah Deni, Deni juga sering main ke rumah nenek ya." ucap Bunda Azilla yang tersenyum.
" Tentu saja Nek, nanti Deni akan minta Kakak cantik buat bawa Deni ke sini. Deni juga mau merasakan masakannya Kakak cantik, apakah rasa masakannya sama dengan nenek atau tidak." ucapnya dengan menatap ke arah Azilla.
" Jadi Deni mau nyoba masakan Kakak, ya udah deh besok Kakak bawain ke kantor." jawabnya dengan mengacak-acak rambut Deni.
" Beneran ya Kak, besok pulang sekolah Deni langsung ke kantor dan menagih nya sama kakak." ucapnya dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
" Iya beneran Deni, Kakak nggak akan bohong." jawab Azilla dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Deni.
Tiba-tiba saja suasana menjadi berubah, kini terdengar suara ketukan pintu. Deni pun langsung melihat ke arah pintu, alangkah terkejutnya Deni ketika melihat siswi SMA yang wajahnya sangat mirip dengan Azilla.
" Dia siapa Kak?" tanya Deni dengan menunjuk ke arah pintu.
" Itta udah pulang, sini dek." ucap Azilla dengan meminta adiknya untuk mendekat.
" Ini namanya Azitta, dan dia adalah adik Kakak." jelas Azilla dan Deni pun mengangguk.
" Halo Kak azita, kenalin nama aku Deni." ucapnya yang langsung menghampiri Azitta.
" Halo juga anak manis." jawab Azitta dengan mencubit pipi Deni yang menurutnya gemas.
" Jangan dicubit pipinya Itta, kau ini selalu saja seperti itu dari dulu." ucap Azilla.
" Maaf Kak, habisnya pipi si Deni menggemaskan. Itta kan jadi nggak tahan pengen nyubit." jawabnya dengan tersenyum.
" Kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan, entah kenapa aku bisa merasakannya di dalam rumah sederhana ini. Dengan kehadiran keadilan dan juga adiknya beserta dengan Nenek, Oma dan Opa saja tidak pernah peduli denganku. Tetapi mereka semua sangat peduli denganku, walaupun aku baru mengenal mereka." batin Deni.
" Ya udah deh, kali ini kakak akan maafin. Tapi lain kali jangan dicubit ya, nanti bisa-bisa kakak dimarah sama bapaknya." ucap Azilla dengan menggelengkan kepalanya.
Kini ketiganya tertawa melihat tingkah Azilla, Azitta yang tidak pernah melihat kakaknya ketakutan merasa hal itu sangatlah lucu. Kini Azitta menjadi penasaran dengan ayah dari Deni, karena menurut Azitta Deni bukanlah anak orang biasa. Dari penampilannya saja Deni sudah tampak seperti orang yang berkehidupan mewah, tetapi ia masih sangat heran mengapa Deni bisa berakhir di dalam rumahnya.
" Kakak tenang saja, Itta nggak akan mungkin nyubit anak yang imut ini lagi. Tapi dengan satu syarat, Kakak harus sering bawa dia ke sini soalnya Itta sangat sayang sama dia." ucapnya kemudian langsung memeluk Deni.
" Itta…" teriak Azilla.
" Pelukannya sangat hangat, kini aku merasa kalau mereka adalah keluargaku. Mudah-mudahan saja Ayah mau sama Kak Azilla, aku lebih nyaman bersama dengan Kak Azilla daripada tante Tevi." batin Deni yang tidak menyukai tunangan dari Ardi.
" Kak Azilla jangan marah-marah dong, nanti cantiknya bisa hilang." ucap Deni dan membuat gelak tawa keluar dari mereka bertiga.
" Iya deh Kakak nggak akan marah-marah lagi, Kakak cuma sedikit kesal sama Adik Kakak. Dia ini kerjaannya kalau dilarang makin dibuat, siapa coba yang nggak kesal sama dia." jelas Azilla dan Deni pun mengangguk.
" Deni pun sering dimarahi sama Oma dan Opa, soalnya Deni sering bandel. Kata Oma sama Opa kalau Deni bandel Deni mau disuruh keluar dari rumah, apakah kalau Azilla juga mau mengusir Adik Kakak dari rumah?" tanyanya dan membuat Azilla tersentak.
" Ternyata orang tua Pak Ardi sangat mengerikan, dengan teganya mereka ingin mengusir Deni dari rumahnya. Padahal Deni kan masih anak kecil, sungguh sangat kasihan isi Deni di sana." batin Azilla yang kemudian langsung memeluk Deni.
" Tentu saja tidak akan seperti itu Deni sayang, Kakak marah itu artinya Kakak sayang sama Kak Azitta. Kakak tidak akan pernah melakukan hal yang akan menyakitinya, Kakak hanya menggertaknya saja agar ia tidak berulah kembali. Kakak yakin yang dikatakan oleh Oma dan Opa Deni juga hal yang sama, jadi Deni jangan membenci Oma dan Opa Deni ya." jelas Azilla dan Deni pun tersenyum dengan sangat lebar.
" Oh jadi begitu ya." ucapnya.
" Tetapi kasihlah masih belum mengenal Oma dan Opa, Oma dan Opa mengatakan hal seperti itu bukan karena ingin menggaruk aku saja. Tetapi karena aku bukanlah anak Ayah Ardi, Oma dan Opa sangat benci kepada ayahku karena ia telah memilih untuk keluar dari rumah dan menikah dengan mamaku." batin Deni yang memang sudah mengetahui segala cerita kehidupannya.
" Ya begitulah sayang, tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. Begitu juga dengan hubungan Kakak dan Adik, walaupun keduanya sering bertengkar tetapi mereka saling menyayangi." jelas Azilla dan Deni pun mengangguk.
" Yang Kak Azilla katakan memang benar, ayah dan juga Ayah Ardi memang selalu bertengkar. Bahkan dulu Ayah Ardi sempat ingin mengusir kami, tetapi setelah meninggalnya Ayahku, Ayah Ardi langsung mengambil tanggung jawab atas diriku. Bahkan ia mengatakan kepada publik kalau aku adalah anaknya, bukanlah keponakannya." batin Deni dengan tersenyum.
" Apa yang sedang dipikirkan oleh Deni sejak tadi, sepertinya ia mengalami kehidupan yang sangat sulit. Dan sepertinya ia tidak sekali atau dua kali mengalami penindasan, tetapi hal itu sudah berlangsung sejak setia masih sangat kecil. Sebenarnya kehidupan apa yang dijalani oleh Pak Ardi, hingga membuat putra semata wayangnya menjadi seperti ini." batin Azilla yang menatap dini dengan tatapan teduh.
Deni pun melanjutkan makannya, seusai selepas makan Deni pun main bersama dengan Azilla dan juga Azitta. Tanpa mereka sadari kini waktu sudah menunjukkan sore hari, dan kini tiba-tiba saja handphone haji lah pun berdering. Ia pun langsung mengangkat telepon itu, ketika melihat nama yang tertera adalah Pak Ardi yang merupakan Ayah dari Deni.
" Kalian ada di mana?" tanya sebuah suara bariton dari seberang telepon.
" kami sedang bermain di luar Pak." jawabnya yang merasa takut.
" Kak Azilla, jangan main telepon dong. sini main bareng sama Deni, di sini sangat menyenangkan." ucap Deni yang terdengar sampai ke seberang telepon.
" Sebentar ya sayang, Kakak sedang mengangkat telepon dulu." jawab Azilla.
" Tampaknya Deni sangat bahagia bersama dengan Azilla, hal itu sangat berbeda ketika ia bersama dengan Tevi." batin Ardi.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Derai Yang Tak Terbendung
4. Sepahit Sembilu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments