Bab 15: Rumah yang Hampa

Rumah kecil itu berdiri di sudut desa, jauh dari keramaian. Dulu, tempat ini penuh dengan tawa dan kehangatan. Tapi sekarang, hanya suara angin yang berdesir di antara dinding-dinding kayunya.

Luxia duduk di lantai kayu yang dingin, menatap sebuah foto lama yang sudah mulai pudar. Ia memegangnya dengan hati-hati, jari-jarinya menyusuri setiap wajah dalam gambar itu—ayahnya, ibunya, neneknya, dan dirinya sendiri yang masih kecil. Mereka semua tersenyum, begitu bahagia, seolah dunia tidak akan pernah berubah.

Namun, kenyataan jauh lebih kejam daripada yang bisa dibayangkan seorang anak kecil berusia lima tahun.

Dulu, ia selalu pulang ke rumah dengan disambut pelukan ibunya, dengan aroma masakan yang memenuhi udara. Ayahnya akan menggendongnya tinggi-tinggi dan tertawa, sementara neneknya duduk di sudut, menganyam keranjang sambil bercerita tentang kehidupan.

Sekarang, rumah ini terasa seperti tempat yang tidak berpenghuni. Dingin. Sunyi. Kosong.

Luxia menelan ludah, matanya mulai panas. "Kalau saja waktu bisa diulang…"

Namun, ia tahu itu hanya harapan kosong. Tidak peduli berapa kali ia mengatakannya, tidak ada yang akan berubah. Mereka sudah pergi. Dan ia sendirian.

---

Mimpi Buruk yang Tak Pernah Berhenti

Setiap malam, Luxia dihantui mimpi yang sama.

Ia kembali berada di dalam mobil keluarganya, duduk di bangku belakang sambil memainkan boneka kesayangannya. Malam itu gelap, dan hanya lampu jalan yang menerangi perjalanan mereka. Ayahnya menyetir dengan santai, sementara ibunya bercanda tentang sesuatu yang kini tak bisa ia ingat.

Neneknya duduk di sampingnya, mengusap kepalanya dengan lembut.

"Luxia, kamu mengantuk?" suara neneknya terdengar menenangkan.

Ia menggeleng kecil. "Tidak, Nek. Aku ingin mendengar cerita lagi."

Sang nenek tersenyum dan mulai bercerita, tapi cerita itu terhenti ketika sesuatu terjadi.

Cahaya lampu mobil menyorot seekor kucing hitam kecil yang tiba-tiba melintas di jalan.

"Cepat, rem!" teriak ibunya.

Ayahnya, dalam kepanikan, membanting setir ke kanan. Ban mobil tergelincir di atas jalan yang basah, lalu segalanya terasa berputar. Suara logam yang beradu, kaca pecah, dan jeritan memenuhi udara.

"LUXIA!!"

Itu adalah suara ibunya—penuh kepanikan dan ketakutan.

Lalu, semuanya menjadi gelap.

Ketika Luxia membuka mata, ia sudah berada di luar mobil. Tubuh kecilnya terasa sakit di mana-mana, darah mengalir dari luka-lukanya. Ia mencoba bangkit, tapi kakinya lemas.

Matanya mencari keluarganya.

Di depan sana, mobil mereka terbalik, hancur berantakan di dasar jurang.

Dan di dalamnya…

Ia melihat mereka.

Ayahnya. Ibunya. Neneknya.

Mereka tidak bergerak.

"Mama…?" suaranya gemetar.

Tidak ada jawaban.

"Ayah…? Nenek…?"

Keheningan menjawabnya.

Ia berusaha merangkak ke arah mereka, tangannya gemetar saat menyentuh jari ibunya yang sudah mulai dingin.

"Ayo bangun…"

Air matanya jatuh.

"Ayo kita pulang…"

Tidak ada yang bangun.

Tangisan Luxia memenuhi udara malam, tapi tidak ada yang datang menolong. Tidak ada yang bisa mengembalikan mereka.

---

Rasa Bersalah yang Menyelimuti

Luxia tumbuh dengan pertanyaan yang terus menghantuinya.

"Kenapa aku yang selamat?"

"Kenapa bukan aku yang pergi?"

Ia ingin sekali menukar nyawanya. Jika itu memungkinkan, ia lebih memilih untuk mati bersama mereka daripada hidup sendirian di dunia yang tidak memberinya alasan untuk bertahan.

Saat ia masih kecil, ia sering duduk di depan makam keluarganya, berbicara sendiri seolah mereka masih bisa mendengar.

"Aku makan dengan baik hari ini, Nek…"

"Ayah, aku belajar memasak seperti yang Mama dulu ajarkan…"

"Apa kalian masih bisa melihatku dari sana?"

Tapi tidak ada jawaban.

Tidak ada yang pernah menjawab.

Saat ia tumbuh semakin dewasa, kesedihan itu tidak berkurang. Hanya saja, ia mulai lebih pandai menyembunyikannya.

Di depan orang lain, ia tersenyum.

Di belakang mereka, ia menangis sendirian.

---

Kehilangan yang Tak Tergantikan

Saat neneknya masih hidup, Luxia masih memiliki tempat untuk pulang. Masih ada seseorang yang menunggunya.

Namun, saat Luxia berusia 20 tahun, neneknya jatuh sakit.

Hari-hari terakhir neneknya dipenuhi dengan batuk yang tidak kunjung reda. Tubuhnya semakin kurus, dan senyumnya semakin lemah.

"Jangan menangis, sayang…" kata neneknya sambil mengelus rambut Luxia. "Aku hanya akan beristirahat sebentar."

Namun, Luxia tahu itu tidak benar.

Suatu malam, ia terbangun dan menemukan tangan neneknya sudah dingin.

Ia menangis, memeluk tubuh renta itu, berharap keajaiban terjadi.

----

Perpisahan Terakhir

Hari itu, langit mendung seakan ikut berduka bersama Luxia. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan suara angin berhembus lirih di antara pepohonan di halaman belakang rumah kecilnya. Warga desa berkumpul, membantu proses pemakaman neneknya.

Luxia berdiri di samping liang lahat, tubuhnya gemetar, bukan karena udara dingin, melainkan karena hatinya yang terasa kosong. Ia memandangi jasad neneknya yang telah dibungkus kain kafan dengan rapi. Para warga dengan hati-hati menurunkan tubuh neneknya ke dalam liang, dan Luxia menahan napas.

Pak Tua Fa, tetangga sebelah yang sudah mengenalnya sejak kecil, menepuk pundaknya dengan lembut. "Kau yakin ingin memakamkan nenekmu di sini, Luxia?"

Luxia menunduk, suaranya lirih. "Nenek ingin tetap dekat denganku, Pak. Aku ingin memenuhi keinginannya."

Para warga tidak bertanya lebih lanjut. Mereka tahu, bagi Luxia, kehilangan ini bukan sekadar kepergian biasa. Ini adalah kehilangan terakhir yang benar-benar membuatnya sendirian di dunia ini.

Setelah jasad neneknya telah dikuburkan, satu per satu warga mulai membacakan doa pengantar untuk kepergian neneknya. Suara mereka bergema di udara, membawa ketenangan, tetapi di hati Luxia, semuanya terasa begitu sunyi.

"Nenekmu wanita yang baik," ucap salah satu ibu tua di desa setelah selesai berdoa. "Dia pasti mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya."

Pak Tua Fa menambahkan, "Jika kau butuh apa pun, Luxia, jangan ragu untuk datang ke rumah kami. Kau tidak sendirian."

Luxia hanya mengangguk pelan, meskipun ia tahu, dalam hatinya, perasaan kesendirian itu begitu dalam dan nyata.

Setelah semua orang pergi, ia tetap berdiri di sana. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi tanah yang masih basah di hadapannya.

Ia berlutut di depan makam itu, jemarinya menyentuh tanah dengan lembut. "Terima kasih, Nek… sudah merawatku. Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpamu sekarang..."

Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh. Isakan pelan terdengar di antara rintik hujan. Ia tidak peduli meski tubuhnya basah, tidak peduli meski malam mulai mendekat.

Kini, tidak ada lagi yang menunggunya di rumah. Tidak ada suara lembut yang menyambutnya, tidak ada tangan yang membelai kepalanya dengan kasih sayang.

Rumah itu hanyalah bangunan kosong sekarang.

Dan dirinya… hanyalah seseorang yang tersesat dalam kesendirian.

---

Hidupnya kini benar-benar kosong. Sejak kecil, neneknya adalah satu-satunya tempat ia bersandar. Ketika semua orang telah pergi, hanya neneknya yang tetap ada. Tapi sekarang… bahkan neneknya pun meninggalkannya.

Ia tidak memiliki siapa pun lagi.

Ia memejamkan mata, membiarkan air hujan bercampur dengan air matanya yang terus mengalir. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Dulu, ketika kehilangan orang tuanya, ia masih memiliki nenek. Namun kini, ia benar-benar sendirian.

Luxia tidak tahu berapa lama ia tetap duduk di sana, sampai suara seseorang memanggilnya.

"Luxia! Kau harus masuk ke dalam, nanti kau sakit!"

Pak Tua Fa berdiri di ujung halaman, memayunginya dengan mantel tua yang selalu ia pakai. Pria tua itu menatapnya dengan khawatir.

"Tidak ada gunanya kau duduk di sini terus," lanjutnya. "Ayo masuk."

Luxia ingin menolak, ingin tetap di sini sedikit lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melawan. Dengan langkah lunglai, ia bangkit dan berjalan menuju rumahnya yang sunyi.

Ketika ia masuk, keheningan menyambutnya. Tidak ada suara neneknya yang biasanya memanggilnya dari dapur. Tidak ada aroma teh hangat yang selalu disiapkan neneknya setiap malam.

Semua terasa kosong.

Luxia berdiri di tengah ruangan, memandangi meja kayu yang selalu dipakai mereka untuk makan bersama. Biasanya, neneknya akan duduk di sana, tersenyum dan menyuruhnya makan lebih banyak.

Tapi sekarang… kursi itu kosong.

Tanpa sadar, Luxia melangkah ke arah meja itu dan duduk di kursi yang biasa diduduki neneknya. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang mulai usang, seolah berharap masih bisa merasakan kehangatan dari sosok yang telah pergi.

"Terlalu sepi..." bisiknya.

Hatinya terasa hampa. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali ingin pecah. Namun sekuat apa pun ia menahannya, air matanya tetap jatuh, membasahi kedua tangannya.

Aku tidak ingin sendirian…

Malam itu, Luxia duduk di meja makan dalam keheningan. Ia tidak menyentuh makanan yang sudah disiapkan oleh salah satu warga desa untuknya. Nafsu makannya hilang, digantikan oleh rasa sakit yang menyelimuti hatinya.

Ia mengangkat wajah, menatap ke luar jendela. Hujan masih turun, menciptakan suara gemericik yang menggema di seluruh rumah.

Rumah ini terasa terlalu besar untuknya sekarang. Terlalu sunyi.

Luxia menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tahu neneknya pasti ingin ia tetap hidup dengan baik, meski tanpanya. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup ketika satu-satunya alasan ia bertahan telah pergi?

Malam itu, Luxia tidur dalam pelukan kesedihan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama… ia merasa benar-benar sendirian di dunia ini.

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2 Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3 Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4 Bab 4: Debat yang Panjang
5 Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6 Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7 Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8 Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9 Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10 Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11 Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12 Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13 Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14 Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15 Bab 15: Rumah yang Hampa
16 Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17 Bab 17: Langkah yang Kembali
18 Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19 Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20 Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21 Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22 Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23 Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24 Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25 Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26 Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27 Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28 Bab 28: Rencana Balas Dendam
29 Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30 Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31 Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32 Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33 Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34 Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35 Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36 Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37 Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2
Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3
Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4
Bab 4: Debat yang Panjang
5
Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6
Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7
Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8
Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9
Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10
Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11
Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12
Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13
Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14
Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15
Bab 15: Rumah yang Hampa
16
Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17
Bab 17: Langkah yang Kembali
18
Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19
Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20
Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21
Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22
Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23
Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24
Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25
Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26
Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27
Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28
Bab 28: Rencana Balas Dendam
29
Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30
Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31
Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32
Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33
Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34
Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35
Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36
Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37
Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!