Luxia Deana mungkin dikenal sebagai koki berbakat dengan senyum percaya diri dan sikap santai, tetapi di balik itu semua, ia menyimpan masa lalu yang pahit dan menyakitkan. Tidak ada yang menyangka bahwa gadis yang kini berdiri teguh di dapur PT. Blackm Meow pernah mengalami tragedi besar di masa kecilnya.
---
Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Saat Luxia berusia lima tahun, keluarganya masih utuh dan hidup dengan bahagia. Ia memiliki ayah dan ibu yang penuh kasih sayang, serta seorang kakak laki-laki yang selalu melindunginya. Mereka bukan keluarga kaya, tetapi mereka hidup sederhana dan harmonis.
Suatu hari, keluarganya berencana pergi ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga. Ayahnya mengendarai mobil dengan santai, sementara ibunya duduk di kursi penumpang depan, berbincang hangat dengannya dan kakaknya yang duduk di belakang. Luxia kecil, dengan kepolosannya, sesekali tertawa melihat pemandangan di luar jendela.
Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik.
Di tengah perjalanan, seekor kucing tiba-tiba melintas di jalan. Ayah Luxia, yang terkejut, spontan membanting setir untuk menghindari menabrak kucing tersebut. Namun, keputusan itu berujung fatal. Ban mobil kehilangan kendali, dan sebelum ada waktu untuk menyelamatkan diri, mobil mereka tergelincir dari jalanan dan jatuh ke dalam jurang.
Suara dentuman keras menggema di tengah hutan.
Luxia kecil tidak ingat banyak setelah itu. Ia hanya ingat suara ibunya yang berteriak, tangan kakaknya yang berusaha meraih dirinya, dan rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya sebelum semuanya menjadi gelap.
Ketika ia sadar, ia sudah berada di rumah sakit, tubuhnya penuh dengan perban dan rasa sakit menyelimuti setiap inci tubuhnya.
Namun, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenyataan yang harus ia hadapi setelahnya.
Orang tuanya… kakaknya… semuanya telah pergi. Ia adalah satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu.
---
Masa Kecil Bersama Nenek
Setelah kehilangan keluarganya, Luxia tinggal bersama neneknya—satu-satunya keluarga yang tersisa. Neneknya adalah wanita tua yang bijaksana, meskipun hidup dalam kesederhanaan, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Luxia.
Meskipun kehilangan keluarganya meninggalkan luka yang mendalam, Luxia tumbuh menjadi anak yang kuat. Neneknya mengajarkannya banyak hal, termasuk cara memasak. Setiap hari, mereka memasak bersama, dan itulah saat-saat yang membuat Luxia merasa damai.
Namun, hidup tidak pernah benar-benar memberi kemudahan bagi Luxia.
Saat ia berusia 20 tahun, neneknya jatuh sakit. Meskipun sudah berusaha merawatnya sebaik mungkin, Luxia akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit—neneknya meninggal dunia, meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini.
---
Bertahan Hidup Sendiri
Kini, Luxia tidak memiliki siapa pun. Tidak ada keluarga, tidak ada tempat untuk pulang.
Namun, ia tidak menyerah. Dengan tekad yang kuat, ia mulai bekerja di berbagai tempat, berusaha menghidupi dirinya sendiri. Ia bekerja sebagai asisten dapur, pelayan restoran, bahkan sempat bekerja di jalanan menjual makanan kecil yang ia buat sendiri.
Setiap tantangan yang ia hadapi membuatnya semakin kuat. Setiap pengalaman, baik atau buruk, membentuk dirinya menjadi seseorang yang tidak mudah menyerah.
Hingga akhirnya, ia mendapatkan kesempatan besar—pekerjaan di PT. Blackm Meow.
Di tempat ini, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya tidak akan kalah oleh takdir. Ia akan menjadi koki terbaik, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengenang keluarganya yang telah pergi.
Dan mungkin, di suatu tempat di dunia ini, ada alasan mengapa ia satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu.
----
Hidup sendirian bukanlah hal yang mudah. Setiap malam, Luxia menatap langit malam, berharap bisa berbicara dengan seseorang yang tidak lagi ada.
Ada saat-saat di mana ia merasa kuat, mampu menghadapi dunia dengan kepala tegak. Namun, ada pula malam-malam di mana kesepian begitu menyiksa, membuatnya merasa seolah-olah dunia ini tidak memiliki tempat untuknya.
---
Rumah yang Tak Lagi Hangat
Setelah neneknya meninggal, rumah kecil tempat mereka tinggal menjadi tempat yang begitu sunyi. Tidak ada lagi suara langkah nenek yang berusaha menyiapkan sarapan untuknya. Tidak ada lagi suara batuknya di pagi hari. Tidak ada lagi kehangatan tangan yang mengelus kepalanya ketika ia pulang bekerja dalam keadaan lelah.
Sekarang, rumah itu hanya berisi dirinya dan bayang-bayang kenangan yang terus menghantuinya.
Setiap sudut rumah mengingatkannya pada masa lalu yang tak bisa ia kembalikan. Dapur kecil di mana ia dulu belajar memasak bersama neneknya, kursi tua tempat neneknya sering duduk sambil merajut, dan bahkan tempat tidur nenek yang kini kosong dan berdebu—semua itu adalah sisa-sisa kehidupan yang dulu begitu berarti baginya.
Luxia sering duduk di depan tempat tidur neneknya, menatap selimut lusuh yang masih berbau wangi khas orang tua. Ia ingin berbicara, ingin menceritakan harinya seperti dulu.
Namun, tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang akan pernah menjawab lagi.
---
Surat Terakhir dari Nenek
Beberapa hari setelah neneknya dimakamkan, Luxia menemukan sesuatu di dalam laci meja—sebuah surat yang ditulis dengan tangan gemetar neneknya.
> "Luxia sayang,
Jika kau membaca ini, berarti nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maafkan nenek karena tidak bisa menemanimu lebih lama.
Kau telah kehilangan begitu banyak dalam hidupmu, dan nenek tahu betapa berat beban yang kau pikul. Tapi kau harus ingat satu hal, Nak…
Kau tidak sendiri. Kau tidak pernah sendiri.
Ada dunia luas di luar sana yang menunggumu. Ada orang-orang yang akan menyayangimu jika kau mau membukakan hatimu. Jangan takut untuk mencari kebahagiaanmu sendiri.
Jangan biarkan masa lalu menahanmu, Luxia. Kau masih memiliki hidup yang panjang untuk dijalani.
Nenek selalu mencintaimu. Sampai kapan pun."
Tangannya gemetar saat membaca surat itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia ingin membalas surat itu. Ia ingin berteriak bahwa ia merindukan neneknya, bahwa ia tidak siap sendirian, bahwa dunia terlalu kejam untuknya.
Tapi tidak ada gunanya. Surat itu hanyalah pesan dari masa lalu, sementara neneknya telah pergi selamanya.
Malam itu, Luxia menangis hingga tertidur dengan surat neneknya dalam genggamannya.
---
Berjalan Tanpa Arah
Beberapa bulan setelah kepergian neneknya, Luxia kehilangan arah. Ia mencoba bekerja di berbagai tempat, tetapi tidak pernah bertahan lama.
Ia merasa kosong. Seakan-akan tidak ada lagi alasan untuk bangun di pagi hari.
Suatu malam, ia berjalan tanpa tujuan di jalanan kota. Lampu-lampu redup menerangi trotoar yang sepi, angin dingin menusuk kulitnya. Ia melihat orang-orang melewati dirinya, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Tidak ada yang peduli padanya.
Tidak ada yang akan menyadari jika ia menghilang.
Pikiran itu menyesakkan dadanya. Ia menggigit bibir, menahan air mata yang ingin jatuh. Ia ingin menemukan alasan untuk tetap bertahan.
Namun, yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
---
Sebuah Perjumpaan yang Mengubah Segalanya
Di tengah keputusasaannya, Luxia tidak menyadari bahwa hidupnya masih memiliki jalan yang belum ia temukan. Bahwa di suatu tempat, takdir telah menyiapkan sesuatu untuknya.
Dan tanpa ia sadari, langkah kakinya saat itu perlahan membawanya ke tempat yang akan mengubah hidupnya selamanya—menuju PT. Blackm Meow.
Di tempat itulah, perlahan-lahan, ia akan menemukan arti dari keberadaannya lagi.
Namun, jalan menuju kebahagiaan tidak pernah mudah.
Karena luka yang ia bawa masih terlalu dalam untuk sembuh begitu saja.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments