Setelah beberapa hari penuh dengan kecemasan, akhirnya Luxia menerima panggilan yang mengubah hidupnya. Suara di ujung telepon mengabarkan bahwa ia diterima untuk tahap berikutnya di PT. Blackm Meow. Namun, tak lama setelah pengumuman itu, sebuah tes keterampilan diminta untuk dilaksanakan. Luxia merasa cemas namun juga antusias. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.
---
Pagi itu, Luxia kembali menuju gedung besar yang mengesankan itu, kali ini lebih percaya diri meski sedikit gugup. Sesampainya di ruang pengujian, ia disambut oleh seorang pria muda yang menuntunnya ke ruang dapur. "Selamat datang, Luxia. Hari ini, kami ingin melihat kemampuan memasak Anda. Kami percaya Anda memiliki keahlian ini," katanya sambil menunjukkan berbagai bahan makanan yang tersedia.
Luxia terkejut, meskipun dia tidak tahu apa yang akan diuji, ia merasa sedikit lega. Memasak adalah keahliannya, terutama nasi goreng yang sudah menjadi hidangan andalannya sejak kecil. Tanpa ragu, ia mulai menyiapkan bahan-bahan dengan penuh keyakinan.
Di tengah proses memasak, ketenangan Luxia terjaga. Gerakannya lincah dan terampil, mencampurkan bahan-bahan dengan kecepatan yang pas, dan memastikan rasa nasi gorengnya sempurna. Aroma dari wajan yang sedang ditumis pun memenuhi ruangan, mengundang perhatian orang yang ada di sekitarnya.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun siap. Luxia menyajikan hidangan tersebut dengan penuh percaya diri. "Ini dia, nasi goreng ala saya," katanya dengan senyum.
Pria muda yang mengujinya mencicipi nasi goreng itu dengan seksama, dan seketika wajahnya berubah. "Ini... luar biasa," ujarnya, terkejut dengan kualitas rasa yang sederhana namun begitu enak. "Tidak buruk sama sekali. Kamu bisa memasak dengan sangat baik."
Luxia merasa sedikit lega, meskipun hatinya masih diliputi keraguan. Namun, tidak lama setelah itu, pintu ruang dapur terbuka dengan keras. Seorang pria muda yang tampaknya sangat berwibawa masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya langsung menarik perhatian semua orang di sekitarnya, dan pria muda itu langsung berbicara dengan nada tinggi.
"Tunggu dulu, aku belum mencobanya!" kata pria itu dengan nada tegas, tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk berbicara. Semua mata tertuju padanya, dan Luxia pun merasa terkejut.
Tiba-tiba, pria itu melangkah lebih dekat ke meja, langsung menatap nasi goreng yang baru saja disajikan. "Aku tidak suka nasi goreng," katanya dengan nada sedikit tinggi. "Aku ingin kamu masak daging yang enak. Sesuatu yang bisa menunjukkan kemampuanmu lebih dari itu."
Luxia merasa bingung, bahkan sedikit terpojok. "S-saya... baiklah," jawabnya terbata-bata, mencoba mengatur pikirannya. Ia baru saja merasa yakin, namun tuntutan baru ini membuatnya sedikit ragu.
Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah ekspresi penguji pria muda yang sebelumnya mendampinginya. Wajahnya tiba-tiba terlihat cemas, bahkan sedikit takut. Sepertinya, dia merasa terhimpit antara kewajiban dan situasi yang mendadak ini. Seolah-olah pria yang baru saja masuk ke ruangan itu adalah seseorang yang sangat penting—bahkan lebih dari sekadar penguji biasa.
Saat pria itu menatap Luxia dengan tajam, Luxia tiba-tiba merasakan sesuatu yang familiar di wajahnya. Ada sesuatu yang mengingatkannya. Perlahan, kenangan akan wajah itu muncul dalam ingatannya—pria yang baru saja memasuki ruangan itu adalah orang yang ia tabrak saat terburu-buru pergi ke perusahaan ini.
Luxia membelalakkan mata, sedikit bingung. Pria itu... apakah dia...? Ya, sepertinya benar. Wajahnya tidak bisa salah. Pria itu adalah Lacky Blackm, presiden PT. Blackm Meow. Kejadian itu semakin jelas dalam benaknya, dan ia mulai merasa sedikit cemas. Dia tak bisa memungkiri, pria ini tampaknya memiliki kekuasaan penuh di perusahaan ini pikirnya.
"Apa kamu tidak tahu siapa saya?" tanya Lacky Blackm, menyadari bahwa Luxia terdiam, tampak kaget. "Aku Lacky Blackm. Aku presiden di sini," lanjutnya dengan nada yang tidak bisa ditawar lagi.
Luxia terkejut, tubuhnya terasa kaku mendengar pernyataan tersebut. Tentu saja dia tahu siapa Lacky Blackm, meskipun sebelumnya ia tak menyangka akan bertemu langsung dengan presiden perusahaan di tengah tes keterampilannya. Momen ini terasa sangat luar biasa baginya.
Penguji sebelumnya yang berdiri di samping mereka, terlihat semakin cemas dan tidak tahu harus berkata apa. Wajahnya tampaknya sedikit takut, menundukkan pandangannya. Semua orang tahu bahwa Lacky Blackm adalah sosok yang sulit ditebak dan terkenal keras di perusahaan ini. Bahkan, di kalangan karyawan, tak banyak yang berani berurusan langsung dengan presiden.
Lacky menatap Luxia sejenak dengan sorot mata tajam, yang kemudian beralih ke penguji yang terlihat semakin gelisah. "Aku ingin melihat lebih dari sekadar nasi goreng. Coba tunjukkan keahlianmu dalam masakan daging. Aku ingin tahu apa yang kamu bisa lakukan di dapur," tegasnya, memecah keheningan.
Luxia mengangguk cepat. "Baik Pak, saya akan coba," jawabnya, mencoba menenangkan dirinya.
Lacky hanya tersenyum tipis, menilai reaksinya. "Pastikan kamu bisa membuat sesuatu yang luar biasa," ujarnya, memberi perintah yang jelas, meskipun ada sedikit rasa ingin tahu di balik tatapannya yang tajam.
Luxia, meskipun sempat terkejut dan ragu, merasa semakin mantap untuk membuktikan kemampuannya. Dapur adalah dunia yang ia kenal baik. Jika ini adalah ujian yang lebih berat, ia akan menghadapinya dengan tekad yang sama. Ia mulai menyiapkan bahan untuk hidangan daging yang diminta, mencoba fokus pada apa yang harus ia lakukan.
Dalam hati, Luxia berpikir, Ini bukan hanya soal makanan. Ini adalah peluang untukku. Aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.
Dengan keahlian yang ia miliki, dan kepercayaan pada dirinya sendiri, ia melangkah maju. Kini, di hadapan Lacky Blackm, bukan hanya kemampuannya yang diuji, tetapi juga masa depannya di PT. Blackm Meow yang akan ditentukan, ya meskipun ia juga takut atas apa dengan kesalahannya waktu itu.
---
Dengan hanya sepuluh menit lebih, Luxia bekerja dengan penuh konsentrasi, berusaha menyiapkan hidangan yang diminta oleh Lacky. Waktu terasa sangat singkat, namun ia tahu ini adalah kesempatan besar. Ia mengambil daging ayam yang ada di meja, memotongnya dengan hati-hati, dan mengolahnya dengan bumbu sederhana yang ia yakin bisa menghasilkan rasa yang enak. Ia memadukan teknik memasak yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun, menyiapkan ayam dengan rempah yang seimbang.
Aroma dari ayam yang sedang dimasak mulai memenuhi ruangan, dan Luxia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak pernah merasa setegang ini sebelumnya, apalagi dengan sosok besar seperti Lacky yang sedang mengamatinya.
Setelah sepuluh menit berlalu, Luxia menyajikan hidangan ayam yang sederhana namun penuh rasa, disertai sedikit garnish yang membuatnya terlihat lebih menarik. "Ini dia, masakan saya," ujarnya, berusaha tampil tenang meskipun dalam hati penuh keraguan dan ketakutan.
Lacky, yang sejak tadi mengawasi dengan tatapan tajam, mencicipi daging ayam itu dengan hati-hati. Seketika, ekspresi wajahnya berubah. Ia mengunyah dengan serius, menilai rasa dengan cermat. Meskipun ia sangat menikmati rasa ayam yang begitu sederhana namun menggugah selera, ia tetap berusaha menjaga wibawanya.
"Lumayan," kata Lacky dengan nada datar, mencoba tidak memperlihatkan ketertarikannya yang sebenarnya. Ia menatap Luxia sejenak, lalu berdiri dan melangkah pergi. "Silakan lanjutkan tesnya," tambahnya sambil berbalik, berjalan keluar dari ruang dapur dengan langkah santai.
Luxia terdiam di tempatnya, sedikit terkejut dengan reaksi Lacky. Meskipun dia mengucapkan kata "lumayan," ada perasaan puas dalam diri Luxia karena tahu dia berhasil membuat sesuatu yang bisa menyentuh selera orang yang sangat sulit dipuaskan. Namun, tidak ada waktu untuk merasa bangga. Ia tahu ujian ini belum berakhir, dan ia harus tetap fokus.
---
Sementara itu, setelah keluar dari ruang dapur, Lacky langsung menuju ruangan pribadinya. Begitu memasuki ruangannya, pintu tertutup rapat di belakangnya, dan ekspresinya langsung berubah drastis. Di dalam kesendirian itu, ia tidak bisa menahan perasaannya lagi.
"Astaga... rasanya luar biasa!" gumam Lacky dengan nada terbata, terengah-engah seperti seseorang yang baru saja disergap kenikmatan luar biasa. "Ini... ini bahkan lebih enak dari yang aku bayangkan."
Dalam sekejap, sosok tampaknya berubah. Lacky yang biasanya terlihat tegas dan penuh kendali, kini tampak seperti orang yang terjebak dalam kegembiraan tanpa batas. Ia terus bergumam sambil berjalan mondar-mandir di ruangan, tampak seperti orang gila yang sedang merayakan penemuan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku ingin lagi memakannya! Cepat!" teriaknya, hampir seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu camilan favoritnya. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan ke penguji yang tadi mengawasi Luxia, memintanya untuk segera membawa lebih banyak dari hidangan itu.
Namun, meskipun ia tampak seperti orang yang sangat menikmati masakan itu, Lacky cepat sadar akan sikapnya yang sedikit berlebihan. Ia kembali duduk, mencoba meredakan kegembiraannya, menyadari bahwa ia harus tetap menjaga citra diri dan profesionalismenya. Tapi, di dalam dirinya, perasaan puas dan ingin lebih itu tetap menggerogoti.
Penguji yang sebelumnya datang membawakan daging tadi yang sebelumnya belum Lacky habiskan keruangan pribadi presiden, atas permintaan Lacky sebelumnya. Setelah penguji itu pergi jauh meninggalkan ruangan itu.
---
"Ini benar-benar... luar biasa," ucap Lacky dengan suara pelan, sambil menatap piring kosong yang ada di mejanya. "Luxia... wanita ini benar-benar menarik perhatian."
Senyum tipis muncul di wajahnya. Meskipun ia tidak ingin mengakui secara terbuka, ia merasa terkesan dengan masakan sederhana namun begitu enak yang berhasil disiapkan oleh Luxia. Ia mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan dirinya ke dalam keadaan normal, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa kehadiran Luxia di perusahaan ini bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ujian masakan.
---
Sementara itu, di dapur, Luxia melanjutkan tesnya dengan cemas, namun juga dengan sedikit rasa lega. Dia telah berhasil melewati bagian pertama dengan baik. Kini, ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang. Namun, ia tak bisa menahan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya—apakah keberhasilannya dalam memasak benar-benar memberikan kesempatan besar untuknya di PT. Blackm Meow ini?
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments