Suasana dapur PT. Blackm Meow sudah tidak bisa disebut normal lagi. Tiga puluh ronde pertarungan kuliner telah berlangsung, dan hanya satu ronde terakhir yang tersisa untuk menentukan pemenangnya.
Namun, bukan hanya jumlah ronde yang membuat semua orang tercengang. Yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa Luxia dan Nana masih berdiri tegak, penuh semangat dan siap bertarung.
Berbeda dengan para juri yang kini terkapar di berbagai sudut dapur.
Mira terduduk di lantai dengan punggung bersandar ke lemari dapur, wajahnya penuh kelelahan. Ia memegangi perutnya yang sudah terasa sesak karena terlalu banyak makan. “Aku… sungguh… tidak bisa lagi…” gumamnya lemah.
Di sebelahnya, Rico berbaring dengan tangan di atas perut, menatap kosong ke langit-langit. “Aku ingin pulang… Aku ingin tidur…”
Di meja panjang, beberapa koki lain tergeletak seperti orang yang baru saja kalah perang. Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa berbicara lagi, hanya bisa memegang perut mereka sambil meringis.
Sementara itu, dua orang yang menjadi penyebab bencana ini masih penuh energi.
Luxia berdiri dengan santai, meskipun pakaiannya sedikit kusut dan keringat mengalir di dahinya. Senyum jahilnya tidak pernah hilang, dan matanya masih berkilat penuh semangat. “Jadi, kita lanjut sekarang?” tanyanya dengan nada main-main.
Di sisi lain, Nana berdiri dengan tangan terlipat, ekspresi seriusnya tidak berubah. “Tentu saja. Aku tidak akan mundur.”
Dua orang ini benar-benar tidak normal.
Mira, yang masih kelelahan, mengangkat kepalanya sedikit dan menatap keduanya dengan mata lelah. “Apakah mereka… monster?” gumamnya dengan suara hampir tidak terdengar.
Rico, yang terbaring di lantai, mengangkat satu tangan dengan lemah. “Aku… setuju… Mereka bukan manusia biasa…”
Roland, yang selama ini menjadi moderator tak resmi, hanya bisa memegangi kepalanya. Ia adalah kepala dapur yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, tapi belum pernah melihat pertarungan seperti ini.
Dia menatap meja-meja yang penuh dengan piring kosong. Tiga puluh hidangan sudah dibuat, tiga puluh hidangan sudah dinilai, dan hasilnya masih saja seri.
Tidak ada yang lebih enak dari yang lain.
Setiap ronde, juri mencicipi masakan mereka dengan harapan menemukan pemenang, tetapi setiap kali mereka terjebak dalam dilema yang sama. Kedua masakan selalu berada di tingkat yang sama.
Bukan berarti keduanya buruk. Sebaliknya, justru terlalu sempurna.
Mira mengeluh, “Aku pikir salah satu dari mereka akan membuat kesalahan… Tapi ternyata tidak…”
Roland menatap kedua koki itu dengan lelah. “Oke… Aku harus mengambil keputusan sebelum kita semua mati kekenyangan.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya dengan tegas.
“Ronde 30 akan ditunda.”
Semua koki lainnya langsung menghembuskan napas lega.
Mira hampir menangis. “Oh… syukurlah…”
Rico tersenyum kecil sambil tetap berbaring. “Aku benar-benar berpikir aku akan mati di sini.”
Namun, meskipun para juri sudah menyerah, persaingan antara Luxia dan Nana belum berakhir.
Nana mendengus, menatap Roland dengan tatapan tidak puas. “Kenapa harus ditunda? Aku masih bisa bertanding sekarang.”
Luxia mengangkat bahu dengan santai. “Aku juga, tapi kalau juri-juri kita sudah menyerah, buat apa?”
Roland menunjuk para juri yang sudah terkapar. “Lihat mereka. Kalau kita lanjut sekarang, mereka bisa-bisa pensiun dini karena trauma. Kita harus menunggu sampai mereka siap lagi.”
Mira mengangguk cepat. “Betul! Kami butuh waktu untuk pulih!”
Nana mendesah dan melipat tangan. “Tsk. Baiklah. Tapi ini belum selesai.”
Luxia tersenyum jahil. “Tentu saja. Aku tidak akan puas sebelum menang.”
Mata mereka saling bertemu, percikan persaingan masih menyala di antara mereka.
Sementara para juri berusaha pulih dari neraka kekenyangan, dua koki terbaik di PT. Blackm Meow masih haus akan kemenangan.
Luxia menepuk perutnya dan berkata, “Sebenarnya aku juga agak lapar lagi.”
Nana meliriknya tajam. “Jangan bercanda.”
Roland menatap mereka dengan ekspresi horor. “Kalian ini apa?! Baru saja kalian masak dan makan 30 hidangan! Bagaimana bisa kalian masih lapar?!”
Luxia tertawa. “Yah, ini sudah jadi kebiasaan. Lagipula, aku selalu punya ruang ekstra untuk makanan enak.”
Nana hanya mendecakkan lidah. “Aku juga. Kalau makanan enak, aku tidak akan menolaknya.”
Mira menghela napas panjang. “Mereka benar-benar monster…”
Rico mengangguk. “Monster kuliner…”
Semua orang yang ada di dapur tahu satu hal yang pasti—ronde ke-30 mungkin akan menjadi pertarungan terakhir, tapi itu tidak akan menjadi akhir dari persaingan mereka.
----
Malam telah larut ketika Lacky akhirnya tiba di rumah utama keluarganya. Bangunan klasik yang megah itu berdiri dengan kokoh di atas lahan luas, dikelilingi taman yang tetap hijau meski diterangi cahaya temaram. Udara di sekitar rumah terasa lebih sejuk dibandingkan di kota, membawa nuansa ketenangan setelah hari yang melelahkan.
Saat memasuki ruang keluarga, ia melihat ibunya, seorang wanita anggun dengan rambut panjang keperakan, sedang duduk di sofa menikmati teh hangat. Di sebelahnya, sang ayah duduk dengan tenang, membaca koran dengan tongkat kayu berukir yang tergeletak di sampingnya. Meski usianya telah lanjut, auranya tetap berwibawa dan berkarisma.
Ibunya melirik ke arah Lacky dan tersenyum lembut.
"Lacky, kau akhirnya pulang."
Lacky melepas dasinya dan duduk di sofa, menghela napas panjang.
"Hari yang cukup melelahkan."
Sang ayah hanya meliriknya sekilas dari balik korannya, sebelum kembali membaca dengan tenang. Ia bukan tipe yang banyak bertanya, kecuali jika ada sesuatu yang benar-benar penting.
Ibunya, sebaliknya, menatapnya dengan penuh perhatian.
"Lacky, kau makan dengan baik hari ini?" tanyanya lembut.
Lacky tersenyum kecil. "Tentu saja, Ibu. Aku tidak pernah melewatkan makan."
Ibunya mengangguk puas, lalu menyesap tehnya lagi.
"Bagus. Ibu tidak ingin kau terlalu sibuk sampai lupa menjaga kesehatanmu."
Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana rumah yang tenang. Lacky menyandarkan punggungnya ke sofa, menikmati sedikit kedamaian setelah hari yang panjang.
Tiba-tiba, ibunya menaruh cangkir tehnya dan menatapnya dengan sorot mata penuh arti.
"Lacky, kapan kau akan memperkenalkan seseorang kepada Ibu?" tanyanya dengan nada santai, namun jelas menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Lacky langsung menghela napas.
"Ibu... jangan mulai lagi."
Sang ibu hanya tersenyum penuh misteri.
"Ibu hanya penasaran. Kau sudah dewasa, Lacky. Setidaknya beri tahu Ibu jika ada seseorang yang menarik perhatianmu."
Lacky mengusap wajahnya, seakan tahu bahwa percakapan ini tidak akan mudah dihindari.
"Ibu, pekerjaanku cukup menyita waktu. Aku belum berpikir sejauh itu."
Sang ayah akhirnya melipat korannya dan menaruhnya di meja.
"Biarkan saja dia, istriku. Lacky pasti akan membawa seseorang saat waktunya tiba." katanya dengan nada tenang.
Ibunya mendesah pelan.
"Ibu hanya ingin kau bahagia. Itu saja."
Lacky menatap ke luar jendela, membiarkan kata-kata ibunya menggantung di udara. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi satu hal yang pasti—hidupnya tidak akan pernah benar-benar tenang.
----
Lacky mengira percakapan mereka akan segera berakhir, tetapi ibunya malah menatapnya dengan senyum penuh arti.
"Kalau kau tidak membawa seseorang dalam waktu dekat…" katanya pelan, "Ibu akan menjodohkanmu dengan anak bibimu."
Lacky yang sedang menikmati teh hampir tersedak.
"Tunggu, apa?"
Ibunya mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.
"Anak bibimu. Kalian dulu teman masa kecil, bukan? Ibu dan bibimu sudah membicarakannya sejak lama."
Lacky mengernyit, berusaha mengingat sesuatu dari masa kecilnya, tetapi ingatannya terasa kabur.
"Siapa?"
"Ah… kau pasti sudah lupa. Wajar saja, terakhir kali kalian bertemu, kalian baru berusia tujuh tahun."
Lacky mengusap wajahnya, mencoba mengingat sosok itu, tetapi hanya bayangan samar yang muncul di kepalanya. Yang ia tahu, keluarga bibinya tinggal cukup jauh dari rumah mereka, sehingga mereka jarang bertemu.
"Dan sekarang dia berusia berapa?" tanya Lacky akhirnya.
"Seusiamu, tentu saja. Dia juga sudah dewasa dan—menurut bibimu—seorang wanita yang baik."
Lacky menatap ibunya dengan ekspresi sulit ditebak.
"Ibu, aku bahkan tidak ingat wajahnya. Lagipula, zaman sudah berubah. Kita tidak hidup di era di mana perjodohan itu sesuatu yang harus diterima begitu saja."
Ibunya hanya tersenyum, tetapi tatapannya tetap lembut dan tegas.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Lacky. Kau sudah 28 tahun. Setidaknya, pertimbangkan ini jika kau benar-benar tidak memiliki seseorang yang spesial."
Lacky menghela napas panjang, lalu menatap ayahnya, berharap mendapatkan dukungan.
Namun, sang ayah hanya mengambil korannya kembali dan berkata dengan nada datar, "Keputusan ada di tanganmu."
Lacky menutup matanya sesaat. Hari ini sudah cukup melelahkan, dan sekarang ia harus menghadapi ancaman perjodohan dari ibunya.
"Baiklah, Ibu. Aku akan mempertimbangkannya," katanya akhirnya.
Ibunya tersenyum puas.
Namun, jauh di dalam hati Lacky, ada perasaan aneh yang muncul.
Siapa sebenarnya teman masa kecil yang tidak diingatnya itu? Dan apakah benar ia harus bertemu dengannya lagi setelah sekian tahun?
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments