Black Cat
Pagi itu, udara segar menyambut langkah seorang wanita muda bernama Luxia Deana. Usianya sudah menginjak 26 tahun, dan meskipun hidupnya belum sempurna, ia selalu menyikapinya dengan semangat dan senyum ceria. Rambutnya yang pendek di atas bahu, selalu terlihat rapi meski tampak sedikit acak-acakan akibat kesibukannya. Kepribadiannya yang periang membuat siapa pun yang berinteraksi dengannya merasa nyaman. Namun, di balik kebahagiaannya, ada satu hal yang terus mengganjal di hatinya—keinginannya untuk merubah nasib.
Luxia adalah seorang wanita yang tumbuh tanpa keluarga. Sejak kecil, ia hanya punya nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih. Setelah neneknya meninggal, Luxia tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana yang diwariskan oleh neneknya. Meskipun hidupnya serba terbatas, ia tetap berusaha menjalani hari-hari dengan senyum. Namun, seiring waktu, ia merasa seperti hidupnya terhenti di tempat yang sama. Tidak ada lagi kemajuan. Dan kini, saat kesempatan itu datang, ia tak ingin membiarkannya berlalu begitu saja.
Hari itu, ia tengah mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan besar yang iklannya ia temukan beberapa hari lalu. Meskipun hanya lulusan SMA, tekadnya bulat untuk membuktikan bahwa dirinya lebih dari cukup untuk pekerjaan itu. Luxia percaya, kesempatan adalah hal yang sangat berharga, dan ia tak ingin menyia-nyiakannya.
---
Saat ia berjalan cepat menuju lokasi wawancara, langkahnya sedikit tertatih, bukan karena lelah, tetapi karena kegugupan yang mulai menggerogoti. Di sepanjang jalan, ia menatap layar ponselnya, memastikan bahwa semua dokumen lamaran sudah lengkap. Ia melangkah dengan penuh semangat, bertekad untuk tidak melupakan apapun, meski ada sedikit keraguan yang menghantuinya. "Aku bisa melakukannya," bisiknya pelan.
----
Namun, dalam perjalanan itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Sebuah suara terdengar ketika Luxia tidak sengaja menabrak seseorang di depan sebuah kafe. Ia terpaku sejenak, terkejut, dan ketika ia menatap ke arah orang yang baru saja ia tabrak, ia melihat seorang pria muda yang memegang secangkir kopi panas. Kopinya tumpah mengenai jaket pria tersebut.
"Oh! Maafkan saya!" seru Luxia, terburu-buru untuk meminta maaf. Namun, karena terlalu panik dan terburu-buru, ia tidak sempat meminta maaf lebih banyak lagi. "Saya benar-benar minta maaf, saya harus pergi sekarang!" katanya tergesa-gesa sambil berbalik menuju tujuan yang sudah ada di depan matanya dengan berlari.
Pria itu tampak kebingungan, memandang Luxia yang sudah berlari pergi tanpa menyadari ketidaksengajaan yang baru saja terjadi. Namun, Luxia merasa cemas, bahkan sedikit takut. Dia tidak ingin terlambat ke tempat wawancara. Ia menyembunyikan perasaan gelisahnya, berusaha untuk tetap tenang.
---
Sesampainya di gedung perusahaan besar tempat wawancara itu akan berlangsung, Luxia berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam. Gedung itu terlihat sangat megah, dan ia tak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya. Di luar gedung, tampak orang-orang lain yang juga datang untuk melamar pekerjaan. Beberapa terlihat rapi dan profesional, sementara Luxia hanya mengenakan celana jeans dan kemeja lengan panjang yang sedikit kusut. Ia merasa dirinya sangat sederhana dibandingkan mereka yang sudah lebih berpengalaman.
"Aku bisa melakukannya," ulangnya dalam hati. Ini adalah kesempatan besar untuknya. Ia tidak akan membiarkannya lewat begitu saja.
Luxia mengantre dengan hati yang berdebar, menunggu gilirannya untuk memasuki ruang wawancara. Beberapa menit kemudian, ia dipanggil. Jantungnya berdegup kencang ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan wawancara.
Di meja besar yang ada di ruangan itu, duduk seorang pria muda yang tampaknya sangat sibuk. Ia menatap Luxia dengan tatapan yang tajam dan serius. Meskipun ia tidak tahu siapa pria itu, Luxia merasa sedikit cemas. "Nama saya Luxia Deana," ucapnya dengan suara yang sedikit gemetar. "Saya datang untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini."
Pria muda itu menatapnya sejenak, seakan mengamati Luxia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beberapa detik kemudian, ia membuka berkas yang ada di depannya, memeriksa dokumen yang Luxia serahkan.
Namun, di balik tatapannya yang serius, pria itu tiba-tiba tersenyum kecil, mengenali wajah Luxia. Ini dia, pikirnya. Wajah yang tadi pagi dengan tergesa-gesa menabrak bosnya, dan kini ia berdiri di hadapannya, mencoba untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam sekejap, kenangan itu kembali hadir dalam ingatannya.
Lelaki muda itu menghela napas sejenak. Ada rasa geli yang muncul dalam dirinya, tak bisa menahan sedikit tawa. Namun, di balik rasa ingin membalas kejadian tadi pagi, ia merasa sedikit kagum dengan tekad Luxia yang meskipun hanya lulusan SMA, tetap berusaha melangkah menuju impian besar.
"Baiklah," kata pria itu, akhirnya memecah keheningan. "Kami akan menghubungi Anda jika Anda terpilih untuk melanjutkan ke tahap berikutnya," jawabnya dengan nada yang profesional, meski senyum tipis masih terlihat di sudut bibirnya.
Luxia keluar dari ruangan wawancara dengan sedikit kecewa, namun ia berusaha menenangkan dirinya. “Tidak masalah. Yang penting aku sudah mencoba,” katanya dalam hati. Meskipun ia merasa sedikit ragu, ia tahu bahwa peluang ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
---
Di ruang lain, di dalam gedung yang sama, Lacky Blackm duduk dengan santai, membaca beberapa berkas lamaran karyawan baru yang ia terima. Sebagai presiden perusahaan besar itu, ia biasanya tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil, namun hari ini agak berbeda. Ada banyak pelamar yang cukup menarik untuk dipertimbangkan. Ketika ia membuka berkas yang baru saja diberikan oleh asistennya, matanya tertuju pada foto yang ada di dalamnya.
"Wah, ini wanita yang tadi pagi..." gumamnya dengan tawa kecil. Ia mengenali wajah Luxia dengan jelas—wanita yang tadi menabraknya di jalan. Ia mengingat betul kejadian itu, di mana ia merasa sedikit terganggu oleh sikap terburu-buru Luxia. Namun, kini melihatnya datang melamar di perusahaannya, ada rasa terhibur yang muncul. Ia tersenyum sedikit, berpikir sejenak.
"Apa aku harus memberinya kesempatan?" pikirnya, sambil membaca berkas Luxia lebih teliti. Di sisi lain, ia merasa geli, karena mengetahui bahwa Luxia bukan lulusan dari universitas bergengsi, namun tekad dan keinginan kuatnya untuk maju justru membuatnya tertarik.
"Ah, kenapa tidak," ia berkata pada dirinya sendiri. "Aku akan memberinya kesempatan, meskipun... dia hanya lulusan SMA." Dengan senyum tipis di wajahnya, Lacky memutuskan untuk menerima Luxia, mungkin sebagai cara untuk sedikit meluapkan kekesalannya di pagi hari.
"Siapa tahu, dia bisa menjadi karyawan yang luar biasa," pikirnya sambil melanjutkan membaca berkas lainnya. Keputusan itu sudah diambil—dan mungkin, dalam perjalanan hidup mereka yang tak terduga, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
----
Lacky Blackm, meskipun terlahir dengan segala kemewahan sebagai anak bungsu dari keluarga konglomerat, tak pernah benar-benar merasa tertarik dengan dunia bisnis yang dijalankannya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan segala kenyamanan hidup yang disediakan oleh orang tuanya, terutama ayahnya yang merupakan seorang pengusaha sukses. Ayahnya selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan menganggap bisnis keluarga harus diteruskan oleh keturunan yang tepat. Tapi bagi Lacky, dunia bisnis itu lebih terasa seperti beban daripada sebuah peluang.
Sebagai anak bungsu, Lacky tumbuh dalam bayang-bayang kakak-kakaknya yang lebih ambisius dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan. Sementara itu, Lacky selalu merasa lebih santai, menikmati hidup tanpa terlalu memikirkan tanggung jawab besar yang menanti di depannya. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya yang jauh dari dunia perusahaan—membaca buku, bermain, atau bahkan hanya bersantai di kedai kopi favoritnya.
Namun, sejak ayahnya mulai menuntut agar ia lebih serius dalam menjalankan perusahaan keluarga, Lacky merasa terpaksa untuk terjun ke dalamnya. Ayahnya, yang selalu memandang bisnis keluarga sebagai hal yang sangat penting, tidak memberikan ruang bagi Lacky untuk bersantai atau mengejar mimpi pribadi. Baginya, tugasnya sebagai anak bungsu adalah untuk memastikan kelangsungan bisnis yang sudah dibangun dengan susah payah oleh ayahnya.
Meskipun Lacky memiliki segalanya—harta, fasilitas, dan akses ke dunia bisnis yang luas—ia merasa hampa. Tidak ada gairah atau semangat untuk mengejar tujuan besar dalam hidup. Ia melakukannya hanya karena itu adalah kewajibannya, bukan karena hasrat atau impian pribadi. Setiap kali berada di ruang rapat, ia merasa seperti berada di tempat yang salah. Keputusan-keputusan besar yang ia buat terasa seperti beban yang harus dihadapi, bukan peluang untuk berkembang.
Namun, meskipun Lacky terlihat malas dan acuh tak acuh terhadap perusahaan, ada satu hal yang menarik minatnya—permainan. Dunia bisnis baginya bukanlah tentang visi atau misi perusahaan, melainkan tentang strategi dan permainan psikologis. Ia tidak begitu peduli dengan keberhasilan atau kegagalan, tetapi lebih kepada bagaimana ia bisa memenangkan setiap permainan yang ia ciptakan dalam interaksi dengan orang lain, terutama para karyawan yang harus ia pimpin. Dan ini adalah alasan mengapa ia mulai merasa tertarik dengan Luxia.
Luxia adalah tantangan yang menarik baginya, meskipun dia merasa sedikit geli dan terganggu dengan insiden tumpahan kopi pagi itu. Bagi Lacky, ini lebih dari sekadar kesalahan kecil—ini adalah kesempatan untuk menguji seseorang yang berbeda dari orang-orang yang biasa ia hadapi. Meskipun Luxia hanya lulusan SMA, tekad dan semangatnya yang terlihat begitu kuat bisa menjadi bahan permainan yang menarik. Ia tidak berniat memberikan Luxia kesempatan karena empati, melainkan karena merasa itu bisa menjadi cara untuk mengisi waktu dan mungkin mengalihkan perhatian dari rutinitasnya yang membosankan.
Dalam hatinya, Lacky tahu bahwa ia tidak punya banyak gairah untuk menjalankan perusahaan, namun ia merasa terjebak dalam peran yang diberikan padanya. Di sisi lain, permainan ini—menguji dan mungkin sedikit mengelabui Luxia—adalah cara bagi Lacky untuk menemukan kegembiraan dalam dunia yang ia anggap membosankan. Seiring berjalannya waktu, meskipun ia mulai merencanakan hal-hal kecil untuk "balas dendam", ia juga mulai merasakan ada ketertarikan lain yang tak terduga pada Luxia.
Namun, sampai saat itu, Lacky hanya ingin menikmati permainan yang ia buat—mengendalikan situasi di mana Luxia, dengan segala tekadnya yang tulus, bisa menjadi bagian dari dinamika yang lebih besar, yang mungkin hanya ia pahami.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments