Suasana dapur PT. Blackm Meow kembali dipenuhi kesibukan. Panci dan wajan beradu, aroma masakan memenuhi udara, dan para koki bekerja dalam ritme yang teratur. Luxia berdiri di tempatnya, tangannya cekatan mengiris sayuran tanpa ragu sedikit pun. Hari pertamanya kembali bekerja setelah beberapa hari izin berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan.
"Jangan melamun, Luxia," suara tegas Roland terdengar di sampingnya. Kepala dapur itu melipat tangan di dada, menatapnya dengan mata tajam. "Kita tidak punya waktu untuk kesalahan."
"Dimengerti, Chef!" jawab Luxia sigap.
Ia tahu betul bahwa dapur ini bukan tempat untuk berpikir terlalu banyak. Di sini, hanya ada kerja keras dan hasil yang berbicara. Dalam diam, ia berjanji untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan padanya.
Di sisi lain dapur, Nana melirik sekilas ke arah Luxia sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Meski persaingan di antara mereka tidak lagi terbuka seperti dulu, ketegangan masih terasa di udara. Tidak ada kata-kata, hanya saling membuktikan diri lewat masakan.
Ketika makan siang tiba, para staf perusahaan mulai memenuhi ruang makan. Menu hari ini telah disiapkan dengan hati-hati, termasuk hidangan yang sebagian besar diolah oleh Luxia. Ia memperhatikan dari jauh saat para pegawai mulai menikmati makanan mereka.
Salah satu staf yang duduk di meja makan mengangguk puas setelah mencicipi suapannya. "Masakan hari ini enak. Ada rasa yang lebih… hangat dari biasanya."
"Benar," sahut yang lain. "Entah bagaimana, rasanya lebih seimbang dan lebih mengingatkan pada masakan rumahan."
Mendengar komentar itu, Luxia merasa dadanya menghangat. Ia tidak butuh pujian langsung—cukup dengan melihat orang-orang menikmati hasil kerjanya, itu sudah lebih dari cukup.
Sementara itu, di lantai atas, Lacky sedang menikmati makan siangnya di ruangannya sendiri. Ia mengambil sendok dan mencicipi hidangan tanpa ekspresi. Namun, saat rasa makanan memenuhi lidahnya, gerakannya sempat terhenti sesaat.
Ada sesuatu dalam rasa ini. Sesuatu yang tidak asing.
Namun, seperti biasa, ia tetap tenang. Setelah beberapa saat, ia melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dapur, Luxia melanjutkan pekerjaannya dengan lebih percaya diri. Ia tahu bahwa ini baru permulaan, dan masih banyak tantangan di depan. Tapi satu hal yang pasti—ia sudah kembali, dan ia akan terus melangkah ke depan.
----
Kesibukan di dapur PT. Blackm Meow semakin meningkat menjelang acara khusus yang akan diadakan dalam beberapa hari. Roland telah mengumumkan bahwa seluruh tim dapur harus bekerja lebih keras untuk memastikan semua hidangan disajikan dengan sempurna.
Luxia tetap fokus, tangannya cekatan saat mempersiapkan bahan-bahan. Namun, tekanan mulai terasa semakin berat. Tidak hanya karena volume pekerjaan yang meningkat, tetapi juga karena kehadiran Nana yang tampaknya berusaha membuktikan dirinya lebih unggul.
"Luxia," panggil Roland tiba-tiba. Ia berdiri di tengah dapur, menatapnya dengan ekspresi serius. "Kau yang akan menangani hidangan utama untuk jamuan direksi nanti."
Suasana dapur mendadak hening. Beberapa koki melirik ke arah Luxia dengan terkejut, termasuk Nana yang tampak tidak senang dengan keputusan itu.
"Saya?" Luxia memastikan, meski ia sudah mendengar dengan jelas.
"Ya," jawab Roland tegas. "Aku ingin melihat apakah kau benar-benar pantas berada di sini."
Luxia merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat. Ini bukan sekadar tugas biasa. Hidangan utama untuk jamuan direksi adalah ujian besar, dan jika ia gagal, reputasinya sebagai koki di perusahaan ini bisa dipertanyakan.
Namun, ia tidak boleh ragu. Dengan mengangguk mantap, ia menjawab, "Saya akan melakukannya sebaik mungkin, Chef."
Di sudut lain dapur, Nana tersenyum kecil, tapi bukan dalam arti yang baik.
—
Selama beberapa hari berikutnya, Luxia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Ia bereksperimen dengan berbagai bahan dan mencoba beberapa kombinasi rasa untuk menemukan keseimbangan yang sempurna. Roland tidak memberi banyak petunjuk, hanya mengamati dan mengoreksi ketika perlu.
Di sela-sela itu, Nana juga sibuk. Meski Roland telah memberikan tugas kepada Luxia, ia tidak tinggal diam. Sebagai koki senior, ia masih ingin membuktikan bahwa ia lebih baik.
Suatu malam, ketika dapur sudah hampir kosong, Luxia masih berdiri di stasiunnya. Ia mencicipi saus yang baru saja ia buat, tapi rasanya masih belum seperti yang ia harapkan.
"Aku harus menemukan rasa yang tepat," gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari arah pintu. "Masih di sini?"
Luxia menoleh dan melihat Roland berdiri dengan tangan di sakunya.
"Ya, Chef. Saya merasa belum menemukan rasa yang pas untuk hidangan utama nanti," jawabnya jujur.
Roland mengamati piring-piring di meja sebelum akhirnya berbicara, "Masakan bukan hanya tentang teknik. Kau bisa memiliki keterampilan yang baik, tapi jika tidak memahami esensi rasa, hasilnya akan terasa kosong."
Luxia mendengarkan dengan saksama.
"Masakan terbaik adalah yang memiliki cerita di dalamnya," lanjut Roland. "Apa yang ingin kau sampaikan melalui hidangan ini?"
Luxia terdiam, merenung sejenak.
Setelah beberapa saat, ia mengambil kembali bahan-bahannya dan mulai memasak lagi, kali ini dengan lebih banyak keyakinan.
Roland hanya mengangguk kecil sebelum meninggalkan dapur.
Di luar, ia berpikir dalam hati.
—Mungkin gadis ini memang memiliki sesuatu yang berbeda.
Hari jamuan direksi akhirnya tiba. Dapur PT. Blackm Meow sibuk seperti biasanya, tapi ada tekanan tambahan yang terasa di udara. Semua koki bekerja dengan cepat dan efisien, memastikan setiap hidangan disajikan dengan sempurna.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Luxia berdiri di stasiunnya, mempersiapkan hidangan utama yang telah ia latih selama berhari-hari. Setiap gerakannya terukur, setiap bumbu yang ia tambahkan sudah diperhitungkan dengan matang.
Dari sudut dapur, Nana mengamati dengan tatapan tajam, tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Semua harus siap dalam lima belas menit!" seru Roland, suaranya tegas dan berwibawa.
"Siap, Chef!" jawab para koki serempak.
Luxia menuangkan saus terakhir ke atas daging yang telah dipanggang sempurna. Aroma harum menyebar, membuat beberapa koki di sekitarnya melirik dengan penasaran. Ia mengambil napas dalam, lalu mengangkat piring dengan hati-hati.
"Sudah siap," ucapnya mantap.
Roland menatapnya sekilas, lalu mengangguk. "Bawa ke ruang jamuan. Dan ingat, masakan ini harus berbicara untuk dirinya sendiri."
Luxia mengangguk, lalu mengikuti salah satu pelayan menuju ruang makan direksi.
—
Di ruang makan utama, para direksi sudah duduk dengan tenang. Mereka adalah orang-orang penting yang memiliki pengaruh besar dalam perusahaan, termasuk Presiden Direktur yang duduk di tengah meja dengan ekspresi serius.
Hidangan utama disajikan di hadapan mereka. Pelayan dengan cekatan menuangkan saus di atas daging, lalu mundur dengan sopan.
Beberapa direksi mulai mencicipi, dan dalam sekejap, atmosfer di ruangan berubah.
Salah satu dari mereka, pria berusia sekitar lima puluhan dengan jas mahal, menaruh garpunya dan menatap hidangan itu dengan penuh minat. "Siapa yang memasak ini?"
Seorang pelayan membungkuk sedikit dan menjawab, "Hidangan ini dibuat oleh salah satu koki dapur kami, Tuan."
Presiden Direktur mengangkat alisnya. "Menarik."
Ia mengambil garpunya, mencicipi potongan daging dengan tenang. Setelah beberapa detik, ekspresinya tetap tak terbaca, tapi ia akhirnya berbicara, "Ini lebih baik dari yang saya kira."
Beberapa direksi lain mengangguk setuju. Salah satu dari mereka bahkan berkomentar, "Bumbunya meresap sempurna. Tidak terlalu kuat, tapi juga tidak terlalu ringan. Seimbang."
Luxia, yang berdiri di sudut ruangan, menggenggam kedua tangannya erat.
Ia tahu bahwa ini adalah momen penentuan.
—
Setelah jamuan selesai, Roland menemui Luxia di dapur.
"Kau berhasil," katanya singkat, tapi ada sedikit nada puas dalam suaranya.
Luxia menghela napas lega. "Terima kasih, Chef."
Roland menatapnya sebentar sebelum berkata, "Tapi ini baru permulaan. Jika kau ingin bertahan di sini, kau harus terus berkembang. Dunia kuliner tidak akan memberi tempat bagi mereka yang berhenti belajar."
Luxia mengangguk mantap. Ia tahu, perjalanannya masih panjang.
Namun, untuk saat ini, ia telah membuktikan dirinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments