Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia

Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia

Luxia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya setelah ujian memasak yang mendebarkan tadi. Kini, ia duduk di sebuah ruangan berbeda, berhadapan dengan seorang pewawancara yang terlihat lebih senior dari penguji sebelumnya. Pria itu berwajah tenang, tetapi tatapan matanya tajam, seolah bisa membaca isi hati seseorang hanya dengan melihat ekspresi mereka.

"Baik, Luxia," pria itu memulai, sambil melihat berkas di tangannya. "Kita akan melanjutkan ke tahap terakhir. Tes ini tidak lagi tentang keahlian teknis, tetapi lebih kepada niat dan semangat kerjamu."

Luxia mengangguk pelan. Ia sudah menduga akan ada bagian seperti ini dalam proses seleksi.

"Kenapa kamu melamar ke PT. Blackm Meow?" tanya pewawancara itu dengan nada serius.

Luxia berpikir sejenak sebelum menjawab. "Saya ingin bekerja di sini karena saya merasa perusahaan ini adalah tempat yang tepat bagi saya untuk berkembang. Saya menyukai tantangan, dan saya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang besar."

Pewawancara itu menatapnya sejenak, lalu mengajukan pertanyaan berikutnya. "Jujur saja, apakah kamu bekerja hanya demi gaji yang besar?"

Luxia sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu, tetapi ia segera menjawab dengan yakin. "Saya butuh pekerjaan, tentu saja gaji adalah faktor penting. Namun, bukan hanya itu alasan saya. Saya ingin bekerja di tempat yang bisa menghargai kemampuan saya dan memberi saya kesempatan untuk belajar lebih banyak."

Pria itu mengangguk, tampaknya cukup puas dengan jawaban tersebut.

"Tapi bekerja di sini tidak akan mudah. Kami tidak mencari orang yang hanya ingin bertahan sebentar lalu pergi. Apa kamu yakin bisa berkomitmen?" tanyanya lagi.

Luxia menatapnya dengan penuh keyakinan. "Saya tidak akan membuang kesempatan yang telah saya perjuangkan sejauh ini. Saya ingin membuktikan bahwa saya pantas berada di sini."

Senyum kecil muncul di wajah pewawancara itu. Namun, sebelum ia bisa mengatakan sesuatu lagi, ponselnya berbunyi pelan. Ia melihat layar sebentar, lalu ekspresinya sedikit berubah.

Pesan itu berasal dari Lacky Blackm.

> "Luluskan saja Luxia. Jadikan dia koki perusahaan."

Pewawancara itu menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Ia tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik perintah ini—apakah murni karena keahlian Luxia atau ada faktor lain? Tapi yang pasti, ia sendiri pun mengakui bahwa masakan Luxia tadi memang luar biasa, penguji sebelumnya memberikan beberapa masakan dari Luxia kepadanya juga.

Namun, ia tetap harus menjalankan tes ini dengan adil. Tidak bisa terlihat seolah Luxia mendapat perlakuan istimewa.

"Baiklah, Luxia. Itu saja pertanyaan dari saya," katanya, menutup berkasnya. "Kami akan memberi tahu hasilnya nanti."

Luxia mengangguk, merasa lega karena sudah melewati tahap ini. Namun, di dalam benaknya, ia tetap bertanya-tanya—apakah ia benar-benar sudah cukup memenuhi syarat?

Sementara itu, di ruangannya, Lacky Blackm duduk dengan ekspresi gelisah. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan, tetapi tetap saja, bayangan rasa ayam yang dimasak oleh Luxia masih melekat di pikirannya.

"Sial... aku benar-benar ingin makannya lagi," gumamnya pelan.

Namun, ia tahu tidak bisa bertindak gegabah. Jika ia tiba-tiba meminta lebih banyak makanan dari Luxia, itu akan terlihat mencurigakan. Jadi, ia harus bersabar.

Sambil menatap layar ponselnya, ia tersenyum kecil.

"Yah, setidaknya dia sudah lulus," katanya pelan, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya—meskipun pikirannya masih saja dipenuhi dengan rasa makanan yang luar biasa itu.

----

Di tempat lain, pewawancara yang menerima pesan dari Lacky menghela napas kecil sambil tersenyum.

"Apa yang sebenarnya diinginkan bos dari gadis ini?" pikirnya.

Namun, terlepas dari itu, ia tahu satu hal dengan pasti—Luxia memang pantas mendapatkan posisi jadi koki perusahaan ini pikirnya.

---

Luxia duduk di ruang tunggu setelah wawancara, berusaha menenangkan dirinya. Meski ia merasa telah memberikan jawaban terbaiknya, bayangan ekspresi tajam pewawancara masih menghantuinya. Ia tidak tahu apakah dirinya cukup meyakinkan atau masih ada keraguan dalam jawaban-jawabannya.

Namun, satu hal yang tidak ia sadari adalah bahwa keputusan mengenai dirinya sudah dibuat bahkan sebelum wawancara itu selesai.

Di ruangan pribadi Lacky Blackm, sang presiden duduk di kursinya dengan tangan bertaut, menatap kosong ke layar komputer. Matanya tidak benar-benar membaca dokumen yang ada di depannya. Pikirannya terus melayang pada satu hal—masakan Luxia.

"Kenapa rasanya seperti ini?" gumamnya, mengingat rasa ayam yang begitu lezat. Ada sesuatu dalam masakan itu yang membuatnya ketagihan, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak tahan lagi, ia meraih ponselnya dan menghubungi penguji kedua tadi.

"Kau sudah memberitahu hasilnya?" tanyanya langsung begitu panggilan tersambung.

"Belum, Tuan. Saya masih ingin memastikan semua prosedur dijalankan dengan adil," jawab penguji dengan hati-hati.

Lacky menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku tidak peduli dengan prosedur. Aku ingin dia bekerja di sini. Mulai sekarang."

Penguji itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Baik, Tuan. Saya akan mengumumkan hasilnya segera."

Lacky mengakhiri panggilan itu dengan ekspresi puas. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu tersenyum kecil.

"Aku ingin makan masakannya setiap hari," gumamnya.

Beberapa menit kemudian, Luxia dipanggil kembali ke dalam ruangan wawancara. Ia berdiri dengan gugup, mencoba menyiapkan mentalnya untuk hasil apapun yang akan diberikan.

Penguji itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Namun, ada sesuatu dalam matanya yang membuat Luxia merasa sedikit aneh—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

"Lakukan yang terbaik, Luxia," katanya pelan sebelum akhirnya membuka berkas di hadapannya.

"Dengan ini, kami menyatakan bahwa Anda… lulus seleksi. Selamat, mulai besok Anda resmi menjadi bagian dari PT. Blackm Meow sebagai koki perusahaan."

Luxia terdiam sejenak, mencoba memproses kata-kata itu.

"A-apa?" tanyanya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Ya, Anda diterima. Presiden perusahaan secara langsung menyetujui hasil ini."

Luxia membelalakkan mata. Presiden? Lacky Blackm yang memutuskan ini?!

Jantungnya berdebar lebih cepat. Kenapa? Apa alasan sebenarnya? Apakah karena masakannya? Atau ada hal lain yang ia tidak ketahui?

Namun, sebelum Luxia bisa mengajukan pertanyaan lebih lanjut, penguji itu hanya tersenyum tipis dan menutup berkasnya. "Besok pagi, datanglah ke kantor utama untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. Kami harap Anda siap untuk pekerjaan ini."

Luxia mengangguk cepat, meskipun dalam hatinya masih dipenuhi dengan tanda tanya.

Sementara itu, di ruangan pribadi Lacky, ia kembali melihat ponselnya setelah menerima konfirmasi bahwa Luxia telah diberi tahu hasilnya.

Ia tersenyum sendiri.

"Tidak sabar untuk makan masakanmu lagi, Luxia," gumamnya pelan, suaranya mengandung sedikit kegembiraan yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun.

Namun, di dalam hatinya, ia tahu… ini bukan hanya soal makanan. Ada sesuatu tentang wanita itu yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak. Dan dia berniat untuk mencari tahu.

---

Luxia duduk di meja wawancara dengan ekspresi bingung. Tangannya mencengkeram ujung kursi dengan gugup, sementara pikirannya penuh pertanyaan.

Koki perusahaan? Tapi… bukankah aku melamar untuk posisi administrasi?

Ia menatap penguji di depannya dengan penuh kebingungan. "Maaf, Tuan. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini, tapi… bukankah saya melamar untuk posisi di kantor? Kenapa tiba-tiba saya ditempatkan sebagai koki perusahaan?"

Penguji itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

"Ya, itu benar. Berdasarkan berkas lamaranmu, kamu memang mendaftar untuk posisi administrasi," katanya dengan nada santai. "Namun, setelah tes keterampilan tadi, pihak perusahaan melihat potensi yang lebih besar darimu di bidang kuliner."

Luxia mengerutkan kening. "Tapi… saya tidak memiliki pengalaman profesional sebagai koki. Saya memang bisa memasak, tapi itu hanya hobi. Kenapa tiba-tiba saya dipindahkan ke posisi ini?"

Penguji itu menatapnya dengan penuh arti, lalu meletakkan tangannya di atas meja. "Sejujurnya, keputusan ini berasal langsung dari presiden perusahaan, Tuan Lacky Blackm."

Luxia terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat. Lagi-lagi dia…

Melihat ekspresinya yang semakin bingung, penguji itu melanjutkan, "Aku juga tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas, keputusan ini tidak sembarangan. Presiden jarang ikut campur dalam seleksi karyawan, apalagi sampai memberikan instruksi khusus."

Luxia merasa ada sesuatu yang janggal. Kenapa presiden perusahaan, seseorang yang bahkan tidak mengenalnya secara pribadi, tiba-tiba ingin dirinya menjadi koki? Apakah karena masakannya tadi?

"Apa… dia benar-benar menyukai masakan saya?" tanyanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Penguji itu tersenyum samar. "Sepertinya begitu."

Luxia menggigit bibir. "Tapi saya ingin bekerja di kantor. Saya sudah mempersiapkan diri untuk pekerjaan administrasi. Jika tiba-tiba harus menjadi koki, saya tidak yakin… apakah saya bisa menjalaninya dengan baik."

Penguji itu menghela napas pelan. "Kau tidak perlu menjawab sekarang, Luxia. Jika kau benar-benar ingin menolak, kami bisa membicarakannya lagi. Tapi kupikir, ada alasan kenapa Tuan Lacky memilihmu. Mungkin ini adalah kesempatan yang lebih besar daripada yang kau bayangkan."

Luxia terdiam, pikirannya semakin kacau. Ia tidak tahu apakah ini keberuntungan atau justru cobaan. Namun satu hal yang pasti—keputusan ini bukan keputusan biasa.

Di tempat lain, di ruangan pribadinya, Lacky Blackm duduk bersandar di kursinya sambil memutar ponselnya dengan jari. Ia tidak bisa fokus bekerja.

Pikirannya masih dipenuhi dengan rasa ayam yang tadi ia makan. "Dia pasti akan menerimanya," gumamnya sendiri, yakin dengan keputusannya. Namun, jika Luxia menolak… apa yang harus ia lakukan?

Tentu saja, ia tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja.

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2 Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3 Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4 Bab 4: Debat yang Panjang
5 Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6 Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7 Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8 Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9 Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10 Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11 Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12 Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13 Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14 Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15 Bab 15: Rumah yang Hampa
16 Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17 Bab 17: Langkah yang Kembali
18 Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19 Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20 Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21 Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22 Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23 Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24 Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25 Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26 Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27 Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28 Bab 28: Rencana Balas Dendam
29 Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30 Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31 Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32 Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33 Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34 Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35 Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36 Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37 Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2
Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3
Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4
Bab 4: Debat yang Panjang
5
Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6
Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7
Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8
Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9
Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10
Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11
Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12
Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13
Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14
Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15
Bab 15: Rumah yang Hampa
16
Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17
Bab 17: Langkah yang Kembali
18
Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19
Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20
Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21
Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22
Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23
Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24
Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25
Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26
Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27
Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28
Bab 28: Rencana Balas Dendam
29
Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30
Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31
Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32
Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33
Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34
Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35
Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36
Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37
Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!