Evan menatap penguji lain yang melaporkan kepadanya bahwa ia mendengar sedikit keributan diruang wawancara, melihat wajah serius itu dengan ekspresi tak terbaca. Setelah beberapa detik, ia akhirnya berdiri dan merapikan jasnya sebelum berkata, "Baiklah, aku akan melaporkannya kepada presiden."
Dengan langkah tenang, Evan berjalan menuju ruangan Presiden Lacky. Ia mengetuk pintu dengan sopan, lalu masuk setelah mendengar suara dari dalam yang mengizinkannya. Lacky duduk di belakang meja, tampak sibuk membaca dokumen di tangannya. Tanpa mengalihkan pandangan, ia bertanya, "Ada apa, Evan?"
Evan melangkah mendekat dan berkata dengan nada datar, "Ada pelamar yang sedang berdebat dengan pewawancara kita. Pewawancara mulai kehilangan kesabaran."
Lacky mengangkat alis, akhirnya mengalihkan perhatian dari dokumen. "Lalu kenapa tidak langsung ditolak saja?" tanyanya santai. "Bukankah kita mencari orang yang mau bekerja di perusahaan ini, bukan yang suka membantah?"
Evan menghela napas kecil sebelum menjawab, "Pelamar ini tidak bisa ditolak begitu saja."
Lacky menyipitkan matanya. "Maksudmu?"
Evan menatapnya sekilas sebelum menjawab, "Dia pelamar khusus."
Ekspresi Lacky langsung berubah. Pikirannya berputar cepat, dan ia langsung berasumsi bahwa ini adalah orang yang direkomendasikan oleh ayahnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi, lalu bangkit dari kursinya. "Jangan bilang ini orang yang disiapkan oleh Ayah?"
Evan tidak menjawab, hanya mengangkat bahu. Namun, itu sudah cukup bagi Lacky. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dengan ekspresi serius.
---
Begitu ia tiba di ruang wawancara, suasana di dalam masih panas. Luxia berdiri dengan tangan terlipat di dada, wajahnya dipenuhi ketegasan, sementara pewawancara terlihat frustrasi.
Namun, begitu Lacky masuk, bukannya suasana mereda, justru semakin memanas.
Luxia menoleh ke arah pria yang baru saja datang dan langsung mengenali siapa dia. Namun, alih-alih bersikap lebih sopan atau berhenti membantah, ia justru kembali bersuara dengan nada yang sama tegasnya. "Apakah Anda presiden perusahaan ini? Bagus. Bisa Anda jelaskan kenapa saya tiba-tiba dimasukkan ke posisi yang tidak saya lamar?"
Lacky mengerutkan kening. Biasanya, orang akan langsung bersikap lebih sopan ketika bertemu dengannya, tetapi perempuan ini? Dia justru terlihat lebih berani.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu," balas Lacky sambil melipat tangannya. "Kenapa kau menolak posisi yang sudah diputuskan untukmu? Kalau kau tidak mau, kau bisa pergi."
Luxia mendengus. "Kalau memang begitu, kenapa saya tidak langsung ditolak saja sejak awal? Kenapa saya harus melewati wawancara yang bahkan tidak ada hubungannya dengan posisi yang saya lamar?"
Lacky mulai kehilangan kesabarannya. "Karena kau memiliki bakat di bidang kuliner! Ini bukan keputusan sembarangan. Aku sendiri sudah mencicipi masakanmu, dan aku yakin kau lebih cocok jadi koki daripada pegawai kantoran."
Luxia menatapnya tajam. "Tapi saya tidak mau. Saya melamar untuk pekerjaan administrasi, bukan koki."
"Apa kau sadar betapa banyak orang yang ingin mendapatkan kesempatan ini?" suara Lacky semakin tajam. "Kau punya bakat luar biasa, dan kau mau menyia-nyiakannya hanya karena keinginan keras kepalamu?"
"Keras kepala?" Luxia mendekat sedikit, menantang. "Atau mungkin Anda yang terlalu memaksakan kehendak?"
Keduanya saling menatap tajam, masing-masing tidak mau mengalah.
Sementara itu, Evan dan beberapa pegawai lain yang menyaksikan perdebatan itu hanya berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi datar, seolah mereka sudah terlalu terbiasa dengan situasi semacam ini.
----
Lacky menatap Luxia dengan tajam. “Baiklah,” katanya, suaranya terdengar lebih tenang, tapi penuh tantangan. “Kalau kau menolak karena tidak tahu nilai posisi ini, biar aku jelaskan.”
Ia melangkah mendekat, menyilangkan tangan di dada. “Sebagai koki di perusahaan ini, gajimu akan tiga kali lipat dari posisi administrasi yang kau inginkan.”
Luxia masih menatapnya dengan ekspresi keras kepala, tapi matanya sedikit bergerak, menunjukkan ketertarikan.
Lacky melanjutkan dengan santai, seakan-akan hanya sedang mendikte fakta. “Belum termasuk bonus bulanan, tunjangan, serta kesempatan menghadiri acara eksklusif yang bisa memperluas koneksimu. Jika performamu bagus, ada kemungkinan naik gajih dan bonus, dengan tambahan insentif.”
Ruangan langsung hening.
Mata Luxia berkedip sekali. Lalu dua kali.
“Ehem.” Dia berdeham pelan, tiba-tiba sikapnya berubah. Bahunya yang tadi tegang mulai sedikit rileks, dan ekspresi wajahnya berangsur-angsur melunak. “Jadi… sebenarnya saya memang menyukai tantangan baru,” katanya, suaranya terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya. “Tapi tentu saja, saya hanya ingin memastikan bahwa ini keputusan yang terbaik untuk saya.”
Lacky menyipitkan matanya curiga. “Oh?”
Luxia tersenyum tipis, sikapnya kini lebih sopan—bahkan sedikit… terlalu manis. “Saya hanya ingin bekerja di tempat yang benar-benar menghargai saya, dan sepertinya perusahaan ini memang punya standar yang tinggi kepada bakat memasak saya.”
Pewawancara yang sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka hanya bisa mendengus dengan ekspresi kesal. Ia melirik Luxia dengan tatapan seolah ingin meninju mukanya.
“HEH. Sialan,” gumamnya sambil memijat pelipisnya. “Bukannya tadi kau menolak mati-matian?!”
Luxia berdeham lagi, pura-pura tidak mendengar gumaman itu. Ia malah berdiri lebih tegak, tersenyum ramah ke arah Lacky, bahkan sedikit mengibaskan rambut pendeknya seperti mencari perhatian. “Tuan Lacky, saya rasa kita bisa membahas ini lebih lanjut secara profesional, bukan?”
Lacky menatapnya lama, lalu tiba-tiba merasa sedikit kesal. “Kau ini…”
Evan yang berdiri di dekat pintu hanya menatap adegan itu dengan wajah datar. Jujur saja, dia sudah bisa menebak ini akan terjadi.
Lacky menatap Luxia dengan ekspresi sulit dijelaskan. Baru beberapa menit lalu, wanita ini menatapnya seolah ingin menantangnya berduel di ring tinju, dan sekarang?
Sekarang dia tersenyum manis, kepalanya sedikit dimiringkan dengan ekspresi penuh perhatian—hampir seperti sedang mencoba menarik simpatinya.
Pewawancara masih belum bisa menerima kenyataan. Dengan ekspresi seperti baru ditipu hidup-hidup, dia menggerutu, “Baru aja mau nyuruh satpam ngusir dia, eh sekarang malah jadi calon pegawai?!”
Evan tetap berdiri di sudut ruangan dengan wajah datar, tapi di dalam kepalanya, dia merasa seperti sedang menonton opera sabun dengan plot twist konyol.
Lacky menyandarkan tangan di pinggangnya, lalu mendengus. “Jadi, sekarang kau berubah pikiran?”
Luxia mengerjapkan mata polos. “Saya hanya ingin melihat seberapa besar perusahaan ini menghargai karyawan mereka.”
“Uh-huh.” Lacky memutar matanya. “Bukan karena gajinya lebih besar ya?”
Luxia memasang ekspresi seolah tuduhan itu sangat menyakitkan hati kecilnya. “Tentu saja bukan! Saya ini orang yang menjunjung tinggi prinsip.”
Pewawancara, yang sudah di ambang kehilangan akal sehatnya, menunjuk Luxia sambil berkata, “YA ELAH! TADI NGOTOT BANGET! NGOMONGNYA ‘SAYA TIDAK TAKUT PADA SIAPA PUN!’ SEKARANG SENYUM-SENYUM GITU?! LO SIAPA SEBENARNYA SIH?!”
Luxia hanya tersenyum makin manis. “Saya orang yang fleksibel.”
Pewawancara hampir tersedak ludahnya sendiri. “Fleksibel, PALALU!”
Lacky memijat pelipisnya, merasa ini adalah pertama kalinya seorang pelamar membuatnya bingung seperti ini.
Sementara itu, Evan melihat semuanya dengan ekspresi bosan. Dia sudah bisa membayangkan skenario ke depannya. Luxia akan diterima bekerja, lalu entah bagaimana caranya, dia akan membuat hidup Lacky lebih berwarna… atau lebih penuh stres. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Evan merasa kasihan pada bosnya sendiri.
Lacky menyilangkan tangan di dadanya, menatap Luxia dengan ekspresi penuh pertimbangan. Lalu, dengan nada tenang tapi penuh maksud tersembunyi, ia berkata, “Sebenarnya… setelah kupikirkan lagi, aku tidak bisa menerimamu bekerja di sini.”
Luxia langsung menegang. “Eh?”
Pewawancara yang sejak tadi menahan kekesalan langsung bersorak dalam hati. Ia bahkan tanpa sadar mengepalkan tangan dengan penuh semangat. “YA! AKHIRNYA KEADILAN DATANG!”
Lacky menghela napas panjang, memasang ekspresi serius. “Bagaimana mungkin aku bisa menerima seseorang yang tadi berani membentakku, mempertanyakan keputusan perusahaan, dan bahkan meragukan otoritasku sebagai presiden disini?”
Pewawancara hampir ingin bertepuk tangan. “Betul! Sangat tidak profesional!”
Luxia, yang tadi tampak percaya diri, tiba-tiba panik. “Tunggu, tunggu, saya bisa jelaskan!”
Lacky menaikkan alis. “Jelaskan apa? Bahwa kau tadi hampir meneriaki seorang presiden perusahaan hanya karena tidak suka dengan posisinya?”
Pewawancara berusaha menahan tawa. “Heh, rasakan itu!”
Luxia cepat-cepat memasang ekspresi menyesal, matanya berkedip dengan penuh kepolosan. “Itu tadi hanya… uhm… semangat kerja saya yang terlalu berlebihan!”
Lacky pura-pura berpikir. “Oh? Jadi membentak pewawancara itu termasuk semangat kerja?”
“Bukan membentak!” Luxia buru-buru mengoreksi. “Itu… komunikasi yang kuat! Agar perusahaan tahu saya adalah orang yang tegas dan berdedikasi!”
Pewawancara hampir tersedak. “LO SERIUS NIH?!”
Lacky menekan senyumnya, lalu menambahkan, “Lalu, bagaimana dengan sikapmu yang tadi berani mendebatku? Bukankah itu menunjukkan bahwa kau tidak menghormati atasan?”
Luxia tiba-tiba berdiri tegap, tersenyum penuh kepatuhan. “Itu karena saya percaya bahwa di perusahaan ini, ada kebebasan berpendapat, dan sebagai pemimpin yang hebat, Anda pasti menghargai pegawai yang berani menyampaikan pendapatnya!”
Pewawancara menatapnya dengan wajah penuh keheranan. “GILA, MULUTNYA LICIN BANGET! TADI KAYAK SINGA, SEKARANG JADI SIPUT LUCU?!”
Lacky pura-pura berpikir lebih lama, menikmati ekspresi Luxia yang kini seperti anak kecil yang takut dihukum. Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi Luxia, ia akhirnya tersenyum kecil. “Baiklah.”
Luxia langsung menegakkan badan penuh harapan. “Jadi saya diterima?”
Lacky menatapnya tajam, lalu mengangkat bahu. “Aku belum bilang begitu.”
Luxia menahan napas. “Tuan Lacky, saya mohon, jangan bercanda.”
Lacky tertawa kecil. “Aku memang tidak bercanda.”
Luxia langsung memasang wajah paling menyedihkan yang bisa ia buat. “Tuan Lacky… Anda tidak tega menolak seseorang yang penuh dedikasi seperti saya, kan?”
Pewawancara menggelengkan kepala, nyaris frustasi. “ASTAGA! KENAPA JADI BEGITU?!”
Evan, yang sejak tadi menyaksikan semuanya dengan wajah datar, hanya menghela napas panjang. Sepertinya dia harus mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari-hari penuh kekacauan setelah ini.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments