Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan

 

Lacky menyadari sesuatu—ini menyenangkan. Melihat Luxia yang tadinya begitu keras kepala, kini berubah menjadi seseorang yang mencoba mencari muka, memberikan hiburan tersendiri baginya.

Jadi, kenapa harus berhenti sekarang?

Ia memasang ekspresi serius dan menghela napas panjang, seolah sedang mengambil keputusan berat. “Aku mengerti dedikasimu, Luxia.”

Luxia langsung mengangguk penuh harapan. “Betul! Saya sangat berdedikasi!”

“Tapi,” Lacky menambahkan, “aku tetap tidak bisa menerimamu.”

Luxia langsung membeku. “Hah?!”

Pewawancara hampir melompat kegirangan setelah mendengarkannya. “YES! KEMENANGAN UNTUKKU!”

Lacky berpura-pura melihat Luxia dengan penuh penyesalan. “Aku harus mempertimbangkan reputasi perusahaan. Kalau aku menerima seseorang yang tadi hampir meneriakiku di ruang wawancara, bagaimana nanti kalau kau bertengkar dengan atasan lain juga?”

Luxia memasang ekspresi syok. “Saya tidak akan bertengkar! Saya hanya… terlalu antusias!”

“Hmm,” Lacky pura-pura berpikir. “Kau bilang begitu, tapi bagaimana kalau nanti aku tiba-tiba melihatmu berdebat dengan kepala chef?”

“TIDAK AKAN!” Luxia buru-buru bersumpah. “Saya akan menjadi pegawai paling patuh dan ramah!”

Pewawancara mulai tersenyum lebih lebar. “Akhirnya keadilan menang, HAHAHA, langsung tolak saja bos!”

Lacky menekan tawa di dalam hatinya, lalu menghela napas panjang lagi. “Sebenarnya aku ingin memberimu kesempatan, Luxia, tapi aku harus mendengar pendapat staf lain dulu.”

Pewawancara langsung berdiri tegap. “Saya menolak!” katanya cepat, penuh semangat.

Luxia menoleh tajam. “WOI! Kok cepat banget?! Setidaknya pura-pura mikir dulu, kek!”

“Tidak perlu mikir!” Pewawancara berkacak pinggang. “Sejak awal kau tidak mau kerja di sini, terus sekarang mau? Tidak konsisten!”

“Tadi saya hanya salah paham!” Luxia membela diri. “Sekarang saya sudah tercerahkan!”

Lacky akhirnya tidak bisa menahan senyum kecil. Ini lebih menghibur dari yang ia bayangkan.

Tapi dia belum selesai.

“Aku mengerti,” katanya perlahan, membuat semua orang menunggu dengan tegang. “Tapi tetap saja… aku tidak bisa menerima seseorang yang tadi sudah membuat cukup keributan di ruangan ini.”

Pewawancara hampir bersorak lagi. “YA AMPUN! TERIMA KASIH, TUHAN!”

Luxia panik. “TUNGGU! Saya bisa membuktikan bahwa saya pegawai yang pantas!”

Lacky menaikkan alis. “Oh? Bagaimana?”

Luxia berpikir keras. Lalu, tiba-tiba ia berseru, “SAYA BISA MASAK SEKARANG JUGA! BERIKAN SAYA DAPUR, DAN SAYA AKAN MEMBUAT HIDANGAN TERBAIK UNTUK ANDA!”

Ruangan langsung hening.

Evan akhirnya mengangkat wajahnya dari ponselnya, menatap Lacky dengan ekspresi datar. “Kau puas sekarang?”

Pewawancara, yang tadinya sudah merasa menang, kini menatap Luxia dengan syok. “Tunggu… KENAPA MALAH JADI KAYAK TES MASTER CHEF SIH?!”

 

Lacky menyandarkan diri di kursinya, menatap Luxia dengan ekspresi penuh tantangan. “Baiklah. Kalau kau memang memaksa mau membuktikan dirimu, kita buat ini lebih menarik.”

Luxia langsung menegakkan badan. “Apa maksudnya?”

Lacky tersenyum licik. “Kau akan diuji dalam kompetisi memasak. Aku akan jadi juri pertama.”

Evan, yang sejak tadi hanya menonton dengan ekspresi malas, menghela napas panjang. “Aku juri kedua?”

Lacky mengangguk santai. “Tentu saja.”

Lalu, ia menoleh ke arah orang yang paling tidak siap menerima kenyataan ini.

Pewawancara langsung menegang. “Jangan bilang—”

“Kau juri ketiga.”

“HAH?!”

Pewawancara hampir tersedak. “Tadi katanya dia ditolak, kok sekarang malah jadi acara Master Chef perusahaan?!”

Lacky mengabaikan protes itu, malah bertepuk tangan. “Baiklah! Ayo ke dapur. Kita lihat apakah Luxia memang layak mendapat posisi ini, atau dia hanya bicara besar.”

Luxia langsung mengepalkan tangan penuh semangat. “Saya tidak akan mengecewakan Anda!”

Sambil berjalan menuju dapur perusahaan, Lacky masih belum selesai mempermainkannya.

“Kau yakin mau lanjut? Kalau gagal, aku akan langsung mengusirmu dari gedung perusahaan ini.”

Luxia menelan ludah. “Saya… tetap lanjut pak!”

Lacky menghela napas dramatis. “Kalau masakanmu gagal, bukan hanya pekerjaan ini yang hilang. Aku juga akan menyebarkan berita bahwa kau bukan koki yang hebat.”

Luxia tersentak. “ITU KEJAM BANGET!”

Lacky mengangkat bahu dengan santai. “Maka dari itu, menyerahlah saja.”

Luxia menggeleng cepat. “Tidak! Saya akan menunjukkan bakat saya!”

Lacky hampir tertawa. Masih belum menyerah? Bagus.

Evan, yang berjalan di sebelahnya, berbisik pelan, “Kau benar-benar menikmati ini, ya?”

Lacky tersenyum tipis. “Tentu saja.”

Pewawancara, yang masih belum sadar bahwa ini semua hanyalah permainan Lacky, justru makin semangat ingin melihat Luxia gagal. Dalam hati ia bersorak. “YES! AKHIRNYA AKU BISA BALAS DENDAM! MASAKANNYA HARUS JADI YANG TERBURUK KETIKA MASUK KE MULUTKU!”

Mereka tiba di dapur perusahaan.

Lacky bersedekap dan berkata dengan santai, “Baiklah. Masaklah hidangan terbaikmu. Jika kami tidak terkesan, kau gagal.”

Luxia menarik napas dalam. “Baik! Saya akan membuktikan diri saya.”

Sementara itu, Lacky menyandarkan dirinya, menyeringai kecil. “Kita lihat sampai sejauh mana dia bisa bertahan.”

Luxia berdiri di tengah dapur, matanya menyala penuh tekad.

Di sisi lain meja, tiga juri duduk siap menilai:

Lacky, yang tersenyum licik seperti singa yang siap memangsanya, ia sangat tidak sabar untuk memuaskan tenggorokannya lagi.

Evan, yang tetap tenang dan pasrah, seperti biasa melihat bosnya yang selalu bermain baik itu di perusahaan maupun diluar.

Pewawancara, yang pura-pura percaya diri, padahal dalam hatinya menjerit, “Kalau dia beneran jago, aku tamat!”

Lacky mengetuk meja. “Baiklah, Luxia. Ini kesempatan terakhirmu. Buatlah hidangan yang bisa membuktikan bahwa kau pantas menjadi koki di perusahaan ini.”

Pewawancara cepat-cepat menimpali.

“Dan ingat! Kami adalah juri yang sangat kritis! Jadi jangan berharap bisa lolos dengan mudah.”

Evan hanya menghela napas, sudah tahu bosnya pasti akan mempermainkan Luxia lagi.

Luxia mengepalkan tangan. “Saya tidak akan mengecewakan Anda!”

Pewawancara menahan napas. “Astaga… ini akan jadi lebih buruk dari yang kubayangkan…”

 

Pertunjukan Dimulai

Begitu waktu dimulai, Luxia langsung bergerak. Pisau menari di tangannya, memotong bahan dengan kecepatan luar biasa.

TAK! TAK! TAK!

Evan sedikit mengangkat alis. “Teknik pisaunya cukup profesional.”

Lacky tersenyum kecil. “Menarik.”

Pewawancara mulai panik sambil menggigit jarinya.

“Tunggu… Kenapa dia terlihat seperti koki profesional?! Bukannya sebelumnya dia masih biasa-biasa saja di penguji pertama ya?!”

Aroma luar biasa mulai memenuhi ruangan. Lacky melirik ke arah Evan.

“Sepertinya dia benar-benar serius kali ini.”

Evan mengangguk pelan. “Kelihatannya begitu.”

Sementara itu, Pewawancara mulai semakin panik.

“INI BUKAN MAIN-MAIN! DIA BENARAN MASTER CHEF ATAU APA?!”

 

Waktu Habis – Saatnya Menilai

Luxia menyelesaikan hidangannya dengan gaya dramatis, meletakkan piring di depan para juri. “Hidangan saya sudah siap.” Di depan mereka tersaji makanan yang tampak seperti keluar dari restoran mewah.

Pewawancara nyaris pingsan.

“SIAL! DIA SERIUS SEKALI! KENAPA DI TES SEBELUMNYA DIA TIDAK SEHEBAT INI?!”

Lacky mengambil sendok, menatap Luxia dengan tatapan tajam. “Baiklah. Mari kita coba masakannya apakah sesuai dengan aromanya atau tidak.”

Evan dengan santai ikut menyendok makanan itu.

Pewawancara? Dia ragu. Dia takut. “Kalau aku makan ini dan ternyata enak, berarti aku harus mengakui kekalahanku…” Dengan tangan gemetar, ia juga menyendok sedikit.

Lalu, mereka mengunyah.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Lacky menghentikan gerakannya.

Evan melirik ke arah piringnya, lalu ke Luxia.

Pewawancara langsung membeku. “ASTAGA. INI TERLALU ENAK.”

Lacky berdeham pelan.

Pewawancara langsung melihat peluang. Ia buru-buru berakting. “Eh… sebenarnya, aku rasa ada sesuatu yang kurang…” katanya, pura-pura berpikir untuk membuat Luxia gagal.

Luxia mengernyit. “Apa?”

Lacky langsung ikut-ikutan. “Benar juga. Ada yang kurang…” katanya, sambil berpura-pura merenung.

Pewawancara mengangguk semangat. “Iya, iya! Kayaknya kurang… aura makanan mewah?!”

Luxia melotot. “APA?!”

Evan menatap mereka berdua dengan ekspresi malas. “Aura makanan mewah?”

Pewawancara makin semangat. “IYA! Seharusnya makanan ini… lebih, eh… BERKILAU!”

Luxia: “???”

Lacky langsung masuk mode akting level dewa. “Benar! Coba lihat, makanan ini terlalu ‘biasa’. Seharusnya ada efek berkilau seperti makanan-makanan lain!”

Pewawancara langsung mengangguk seperti burung pelatuk. “Iya, iya! Harusnya kalau kita menatap makanan ini, mata kita otomatis berbintang-bintang!”

Evan menutup wajahnya pikirannya di penuhi rasa malu. “Bosku juga ikut-ikutan konyol sekarang.”

Luxia mulai berasap. “Makanan ini sudah sempurna! Aku tidak perlu membuatnya terlihat berkilau, seperti pelatuk, bangau, burung gereja, ini sudah tampilannya!”

Lacky berdiri dari kursinya dan menunjuk Luxia dengan ekspresi drama berlebihan.

“KAU TIDAK SERIUS DENGAN PEKERJAAN INI, LUXIA! SEORANG KOKI SEJATI SEHARUSNYA BISA MEMBUAT MAKANANNYA BERSINAR DENGAN AURA KELEZATAN!”

Pewawancara nyaris menangis karena terharu. “Bos, aku sangat bangga padamu!”

Luxia: “…KALIAN BERDUA GILA Ya?!”

Lacky menyilangkan tangan. “Ya sudah, kalau begitu… kita harus menilai makanan ini dengan metode lain.”

Pewawancara tersenyum jahat. “Betul! Kita akan menilainya berdasarkan… SUARA KRUNCH?”

Luxia mencoba memahami kebodohan ini. “Suara… apa kalian bilang?”

Lacky menepuk meja. “IYA! Kami akan menilai makanan ini berdasarkan seberapa KRUNCHY suaranya saat dikunyah!”

Pewawancara mengangguk seperti pakar kuliner. “Iya, iya! Makanan enak harus ada efek ‘KRRRUNCH KRRRUNCH’ kayak di iklan-iklan itu!”

Luxia langsung frustrasi. “INI SUP! GIMANA CARANYA ADA SUARA KRUNCHNYA JAMAL?!”

Lacky menghela napas pura-pura kecewa. “Astaga… berarti kau gagal, Luxia.”

Pewawancara langsung ingin lompat kegirangan. “BENAR! DIA GAGAL!”

Luxia mengeram. “KALIAN BERDUA MAIN-MAIN, KAN DARI TADI?!”

Lacky menatapnya dengan tatapan pura-pura bijak. “Bukan main-main, Luxia… ini adalah ujian keempat.”

Pewawancara langsung berbisik ke Lacky. “Bos, ini ujian keempat ya?”

Lacky berbisik balik. “Aku juga nggak tahu. Aku asal ngomong aja.”

Evan hanya memijat pelipisnya. “Ini bukan perusahaan… ini sirkus.”

Luxia menghentakkan kakinya. “AKU TIDAK PEDULI! YANG PENTING, KALIAN SUDAH MENGAKUI MASAKANKU ENAK!”

Lacky tersenyum kecil. “Itu benar.”

Pewawancara panik. “Tunggu, tunggu! Jadi dia…”

Lacky menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu berkata dengan santai— “Selamat, Luxia. Kau diterima.”

Pewawancara langsung ambruk di meja. “TIDAAAAAAAAK! KENAPA AKU IKUT-IKUTAN MENYENANGI PERMAINAN INI?!”

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2 Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3 Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4 Bab 4: Debat yang Panjang
5 Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6 Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7 Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8 Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9 Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10 Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11 Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12 Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13 Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14 Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15 Bab 15: Rumah yang Hampa
16 Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17 Bab 17: Langkah yang Kembali
18 Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19 Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20 Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21 Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22 Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23 Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24 Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25 Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26 Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27 Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28 Bab 28: Rencana Balas Dendam
29 Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30 Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31 Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32 Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33 Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34 Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35 Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36 Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37 Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan
2
Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru
3
Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia
4
Bab 4: Debat yang Panjang
5
Bab 5: Tidak jadi Marah dan Menjadi Tes Dadakan
6
Bab 6: Drama Presiden Perusahaan
7
Bab 7: Perubahan yang Tiba-tiba
8
Bab 8: Menanti Kabar dengan Penuh Harapan
9
Bab 9: Sesuatu yang Luar Biasa
10
Bab 10: Audisi Dadakan di Dapur
11
Bab 11: Apakah Mereka Monster?
12
Bab 12: Rahasia Keluarga Besar
13
Bab 13: Asal-Usul Negeri Kucing
14
Bab 14: Masa Lalu yang Kelam
15
Bab 15: Rumah yang Hampa
16
Bab 16: Cahaya di Tengah Kesendirian
17
Bab 17: Langkah yang Kembali
18
Bab 18: Kesuksesan yang Manis
19
Bab 19: Jalan Keluar yang Kecil
20
Bab 20: Bayangan di Balik Kegelapan
21
Bab 21: Bayangan di Balik Konspirasi
22
Bab 22: Permainan di Balik Dapur (Season 2)
23
Bab 23: Bonus Adalah Teman Baikku
24
Bab 24: Koki Dadakan di Rumah Utama
25
Bab 25: Bayangan yang Tak Terhindarkan
26
Bab 26: Rasa yang Tak Terungkap
27
Bab 27: Bos Gila dan Koki Pemarah
28
Bab 28: Rencana Balas Dendam
29
Bab 29: Bos Setan yang Luar Biasa
30
Bab 30: Luxia dan kutukan bonus
31
Bab 31: Terbakarnya Rasa Persaingan
32
Bab 32: Penentuan Juara Koki Terhebat
33
Bab 33: Hal Baru Sedang Terjadi
34
Bab 34: Ada Apa Dengan perasaan ini!
35
Bab 35: Apa yang Terjadi dengan Hati ini!
36
Bab 36: Kejahilan Pak Bos
37
Bab 37: Sore Hari, Ruang Pribadi Lacky

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!