Di sebuah rumah kecil yang sederhana, Luxia duduk di atas sofa dengan tangan menopang dagu. Matanya terus menatap layar ponsel yang masih sunyi tanpa notifikasi.
"Huh… kok belum ada kabar juga?"
Ia menghela napas panjang, lalu merebahkan diri di sofa. Rumahnya tak besar, hanya terdiri dari ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, satu kamar tidur, dan kamar mandi. Tak ada perabotan mewah, hanya beberapa barang fungsional dan tumpukan buku resep di meja.
Sejenak, ia menatap langit-langit. "Aku diterima kerja, kan? Jadi… mereka pasti akan menghubungiku cepat atau lambat…"
Tiba-tiba, Luxia duduk tegak. Matanya berbinar-binar.
"Kalau nanti gaji pertama cair… berapa ya jumlahnya?"
Ia buru-buru mengambil kalkulator di ponselnya dan mulai mengetik angka dengan penuh semangat.
"Oke, misalnya gaji pokoknya segini… ditambah bonus segini… dikurangi pajak…"
Sambil menghitung, Luxia tersenyum licik. "Hmm… kalau kupotong sedikit buat ditabung, lalu sisanya kupakai buat beli… BANYAK HAL MENARIK!"
Bayangan berbagai barang muncul di kepalanya—set peralatan dapur premium, oven baru, bahan-bahan mahal untuk eksperimen resep, hingga sekadar camilan-camilan favorit yang selama ini hanya bisa ia beli sesekali.
"AHAHAHA! AKU AKAN JADI KAYA!"
Namun, kebahagiaannya langsung redup saat melihat layar ponselnya yang tetap sepi.
"Hiks… tapi tetap saja, kapan mereka akan menghubungiku…?"
Dengan malas, ia berguling di sofa, menatap ponselnya dengan penuh harapan. "Aku cuma ingin memastikan gajiku akan cair tepat waktu…"
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama—menunggu kabar, menghitung ulang gajinya, lalu kembali mengkhayal tentang barang-barang yang akan ia beli.
Tanpa ia sadari, sementara ia sibuk berandai-andai… di perusahaan, seseorang sudah mulai merancang sesuatu yang akan membuat hari pertamanya nanti jauh lebih menantang dari yang ia bayangkan.
---
Di rumah sederhana miliknya, Luxia sedang bersantai di sofa dengan piyama lusuh dan rambut acak-acakan. Ia menggulir layar ponselnya, berharap ada sesuatu yang menarik.
Lalu…
"TING!"
Notifikasi pesan masuk.
Dengan cepat, Luxia meraih ponselnya dan membaca pesan itu.
[HRD PT. Blackm Meow]
"Kepada Luxia Deana,
Setelah mempertimbangkan hasil wawancara Anda, kami dengan ini menginformasikan bahwa Anda telah DITERIMA sebagai KOKI di PT. Blackm Meow. Harap datang besok pagi pukul 08.00 ke kantor untuk orientasi dan perjanjian kerja."
Sejenak, Luxia terdiam.
Matanya berkedip sekali. Dua kali.
Lalu…
"YESSS!!! AKU AKHIRNYA!!!"
Ia langsung melompat dari sofa dan berlari keliling rumah sambil bersorak kegirangan.
"Akhirnya! Gaji tetap! Hidup nyaman! Aku bisa beli bahan makanan mahal! Aku bisa makan enak setiap hari! Hahaha!"
Setelah puas merayakan, Luxia buru-buru membuka lemari dan mulai memilih pakaian terbaik untuk hari pertamanya.
"Harus tampil profesional! Harus terlihat keren! Harus membuat bos terkesan!"
Namun, sebelum ia kembali larut dalam kegembiraan, sebuah pemikiran muncul di kepalanya.
"Tunggu… aku bakal masak untuk siapa, ya? Kenapa perusahaan sebesar ini butuh koki?"
Namun, Luxia mengangkat bahu.
"Ah, yang penting aku bisa masak dan dibayar! Besok aku tinggal datang dan mulai bekerja! Pasti semuanya akan baik-baik saja!"
Dengan penuh percaya diri, Luxia kembali bersiap untuk hari besar esok.
Tanpa menyadari… bahwa hari pertamanya di PT. Blackm Meow akan jauh lebih kacau dari yang ia bayangkan.
Pagi yang cerah.
Luxia berdiri di depan gedung megah PT. Blackm Meow dengan wajah penuh semangat.
"Akhirnya! Kerja tetap dengan gaji stabil! Aku bakal masak setiap hari dan dibayar untuk itu! Hidupku akan penuh makanan enak!"
Dengan langkah percaya diri, ia masuk ke dalam gedung.
Suasana di dalam sangat sibuk. Para karyawan berjalan cepat sambil membawa dokumen, telepon berdering di sana-sini, dan beberapa orang tampak berdiskusi serius.
"Wow… tempat ini nggak kelihatan seperti perusahaan makanan sama sekali. Eh, memang bukan, sih."
Ia mendekati resepsionis—seorang wanita berkacamata yang tampak sibuk mengetik.
"Halo! Aku Luxia Deana, koki baru di sini!" Resepsionis menoleh sekilas, lalu memeriksa sesuatu di layar komputernya.
"Oh, Anda koki baru? Silakan menuju lantai enam, dapur staf."
Luxia mengangguk cepat. "Oke! Terima kasih!"
Setelah naik lift, ia tiba di lantai enam dan langsung disambut aroma masakan yang menggoda.
Dapurnya luas dan bersih, penuh dengan peralatan memasak kelas atas. Beberapa staf dapur sudah bekerja, tetapi suasananya jauh lebih santai dibandingkan kantor di bawah.
Di tengah dapur, seorang pria berambut hitam pendek dengan ekspresi dingin menatapnya.
"Kau koki baru?" tanyanya dengan nada datar.
Luxia langsung berdiri tegap dan tersenyum lebar. "Ya! Aku Luxia Deana! Siap bekerja!"
Pria itu menghela napas. "Aku Roland, kepala dapur di sini. Tugasku memastikan staf dan karyawan perusahaan ini mendapat makanan yang layak. Jangan bikin masalah, mengerti?"
"Tenang aja, bos! Aku jago masak!" ujar Luxia penuh percaya diri.
Roland hanya mendecak. "Kita lihat saja nanti. Pakai seragammu dan mulai bekerja."
Luxia segera bersiap.
Hari pertamanya sebagai koki di PT. Blackm Meow akhirnya dimulai!
Tanpa menyadari… bahwa tantangan besar sudah menunggunya.
Hari Pertama – Resep Rahasia Luxia
Suasana dapur PT. Blackm Meow berjalan seperti biasa—hiruk-pikuk dengan suara panci yang berdenting, api kompor yang menyala, dan aroma makanan yang memenuhi ruangan. Para koki bekerja dengan fokus, menyelesaikan pesanan makan siang untuk karyawan dan staf perusahaan.
Namun, keadaan tiba-tiba berubah saat Roland, kepala dapur, menerima sebuah memo langsung dari kantor Presiden. Ia membacanya dengan ekspresi serius, tapi semakin lama matanya membulat karena terkejut.
Para koki yang berada di dekatnya penasaran melihat ekspresi tersebut. Salah satu dari mereka mendekat. “Ada apa, Chef?”
Roland mengerutkan kening sebelum membaca memo itu dengan suara lantang:
"Menu utama hari ini: Masakan berbasis daging. Resep dari: Luxia Deana."
Hening.
Beberapa koki berhenti bekerja sejenak dan saling bertukar pandang. Beberapa lainnya menoleh ke arah seorang gadis dengan celemek yang masih baru—Luxia Deana.
Salah satu koki berbisik, “Apa aku salah dengar? Resepnya dari koki baru?”
“Bagaimana bisa Presiden langsung menerima ide dari orang yang bahkan belum sehari bekerja?” seorang koki lain menambahkan dengan nada heran.
Roland menatap Luxia dengan ekspresi tajam. “Kau yang mengusulkan ini?”
Luxia tersenyum cerah tanpa sedikit pun tampak terintimidasi. “Ya! Aku cuma memberi beberapa saran saat wawancara kemarin. Kupikir tidak akan dianggap serius. Tapi ternyata, Presiden Lacky menyetujuinya?”
Seorang koki wanita yang lebih senior mendekat dengan ekspresi skeptis. “Tunggu dulu. Apa kau koki bersertifikat? Jangan-jangan kau memiliki gelar dari akademi kuliner terkenal?”
Koki lain menimpali, “Atau mungkin… kau koki bintang lima emas?”
Seorang lagi menggumam, “Atau setara master?”
Bisik-bisik semakin ramai. Beberapa koki mulai menilai Luxia dari atas ke bawah dengan ekspresi penasaran. Gadis itu tampak biasa saja, tetapi jika sampai Presiden menerima resepnya, pasti ada sesuatu yang spesial.
Roland menghela napas dalam. “Baiklah. Jika Presiden sudah menyetujui resepmu, kau harus bertanggung jawab penuh atas menu ini.”
“Tentu saja! Serahkan padaku!” Luxia menjawab dengan penuh percaya diri.
Namun, Roland tidak mudah percaya begitu saja. Ia menatapnya dengan tajam. “Dengar, ini bukan sekadar masak untuk karyawan biasa. Hidangan ini akan disajikan langsung ke meja Presiden. Jika rasanya tidak sesuai harapannya, kau mungkin tidak akan bertahan lama di sini.”
Para koki lain mengangguk setuju. Tidak mudah memasak untuk orang sekelas Lacky, Presiden PT. Blackm Meow. Standarnya tinggi, dan jika ada kesalahan kecil, seseorang bisa kehilangan pekerjaannya dalam sekejap.
Tetapi, bukannya gentar, Luxia malah tersenyum lebih lebar. “Santai saja, Chef! Aku janji rasanya akan bikin semua orang ketagihan!”
Roland menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk. “Baik. Kita lihat seberapa hebat kau sebenarnya.”
Persiapan Memasak Dimulai
Luxia segera melangkah menuju meja kerja, mengambil pisau dapur, dan mulai mengolah bahan-bahan dengan kecepatan yang mengejutkan banyak orang.
Tangannya lincah saat memotong daging dengan presisi sempurna, potongan seragam yang menunjukkan keahlian luar biasa. Beberapa koki yang sedang mengawasinya mulai terkesan.
“Dia memotongnya sangat rapi…”
“Teknik pisaunya cepat dan presisi. Ini bukan skill pemula.”
Luxia tersenyum mendengar bisikan-bisikan itu, tetapi ia tetap fokus. Setelah mempersiapkan daging, ia mengambil beberapa bumbu yang tidak biasa digunakan di dapur ini.
Salah satu koki mendekat dengan penasaran. “Tunggu, ini rempah apa? Biasanya kita tidak memakai ini.”
Luxia terkekeh. “Rahasia kecilku. Percayalah, ini akan meningkatkan cita rasa daging.”
Roland melipat tangan di dada, mengawasi dari jauh. Matanya menyipit sedikit, menganalisis setiap gerakan Luxia. "Dia tahu apa yang dia lakukan," gumamnya dalam hati.
Tak lama, wangi masakan mulai memenuhi ruangan. Aroma daging yang dipanggang sempurna dengan bumbu khas membuat banyak koki tanpa sadar menelan ludah.
Salah satu dari mereka mendekat lebih dekat. “Baunya… luar biasa!”
“Serius, aku belum pernah mencium aroma seperti ini sebelumnya.”
Roland akhirnya mendekati Luxia dan melirik panci serta grill yang sedang digunakan. Matanya mengamati tingkat kematangan daging, warna karamelisasi yang sempurna, dan saus yang sedang diaduk dengan tenang oleh gadis itu.
Ia lalu menatap Luxia. “Apa nama hidangan ini?”
Luxia tersenyum bangga. “Steak Daging Panggang dengan Saus Rahasia Luxia.”
Para koki yang mendengar nama itu semakin penasaran.
Setelah semuanya siap, Luxia mulai menyusun hidangan di piring dengan teliti.
Daging yang juicy dengan permukaan kecoklatan sempurna, disiram saus beraroma kaya, dan disajikan dengan pendampingan yang tidak berlebihan, namun tampak menggugah selera.
Roland memegang garpu dan pisau, lalu memotong sepotong daging dan mencicipinya.
Satu detik. Dua detik.
Mata Roland sedikit melebar.
“…”
Semua koki menahan napas, menunggu reaksinya.
Lalu, tanpa peringatan, Roland mengambil potongan kedua, lalu ketiga.
Seorang koki bergumam, “Tunggu… Dia tidak berhenti makan?”
Koki lain berbisik, “Berarti… rasanya benar-benar enak?”
Roland akhirnya menaruh garpunya dan menatap Luxia dalam-dalam. Ia lalu mengangguk. “Hidangan ini layak disajikan untuk Presiden.”
Luxia bersorak pelan. “Yay! Aku tahu bakal sukses!”
Roland menghela napas, kali ini lebih santai. “Jujur, aku tidak menyangka. Tapi dengan kemampuan seperti ini… kau benar-benar bukan koki biasa.”
----
Lalu, tiba-tiba mata Roland sedikit membesar. “Ini… luar biasa.”
Mendengar itu, beberapa koki lain langsung berebut untuk mencicipi. Dalam sekejap, satu per satu mereka mulai bereaksi dengan berbagai ekspresi keterkejutan.
“Astaga, ini enak banget!”
“Dagingnya lembut, bumbu meresap sempurna!”
“Aku belum pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya!”
Sementara yang lain sibuk menikmati, Nana mengambil sendoknya dengan ragu. Ia mencicipi sedikit, dan dalam hitungan detik, ekspresinya berubah. Lidahnya menangkap kombinasi rasa yang sempurna—gurih, manis, dan sedikit rempah yang membuat hidangan ini begitu unik.
Namun, alih-alih memuji, ia hanya mendesah pelan. “Tsk… terlalu berlebihan.” Tapi tetap saja, tangannya kembali mengambil suapan kedua, ketiga… hingga ia sadar piringnya sudah hampir kosong.
Melihat itu, Luxia hanya tersenyum puas.
Sementara itu, di luar dapur, kabar tentang menu spesial hari ini sudah sampai ke telinga Lacky. Duduk santai di ruangannya, ia membaca laporan singkat yang dikirimkan oleh asisten pribadinya yang baru.
“Hmph. Menarik,” gumamnya sambil menyeringai.
Hari ini, dapur PT. Blackm Meow bukan hanya sekadar tempat memasak. Ini adalah panggung bagi Luxia untuk menunjukkan kemampuannya—dan ia baru saja membuat gebrakan besar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments