Saat waktu makan siang tiba, karyawan PT. Blackm Meow berbondong-bondong ke kafetaria perusahaan. Hari ini ada menu spesial—hidangan daging dengan resep rahasia yang langsung direkomendasikan oleh Presiden Lacky.
Aroma gurih dan menggoda menyebar ke seluruh ruangan, membuat semua orang menelan ludah bahkan sebelum menyendok makanan mereka. Para staf dapur bekerja ekstra cepat karena antrean panjang mulai terbentuk.
“Ini yang katanya resep spesial dari koki baru?” seorang karyawan bertanya sambil melirik piring orang lain.
“Iya, dan kabarnya Presiden sendiri yang meminta menunya.”
“Serius? Koki baru bisa bikin sesuatu yang langsung menarik perhatian Presiden?”
Awalnya ada keraguan, tetapi begitu mereka menyuap makanan itu ke dalam mulut, ekspresi mereka berubah drastis.
“Gila… ini luar biasa!”
“Teksturnya sempurna, bumbunya meresap sampai ke dalam daging…”
“Aku belum pernah makan makanan seperti ini sebelumnya!”
Tidak butuh waktu lama sebelum desas-desus tentang hidangan ini menyebar ke seluruh gedung. Karyawan yang tadinya tidak peduli soal makan siang, kini buru-buru datang sebelum kehabisan.
Di meja eksekutif, Lacky menyantap makanannya dengan santai, sesekali mengamati reaksi orang-orang di sekelilingnya. Di sampingnya, asisten pribadinya—yang masih belum memiliki nama baru—ikut makan dengan ekspresi tenang.
“Teknik memasaknya sangat presisi,” komentarnya.
Lacky mengangkat alis. “Dan yang lebih menarik, tidak ada yang tahu siapa pencipta aslinya.”
Memang, resep ini tidak tertulis di mana pun, dan tidak ada satu pun yang tahu siapa yang pertama kali menciptakannya. Namun, satu hal yang pasti—Luxia bisa menirunya dengan sempurna, dan itu saja sudah cukup untuk membuat orang-orang kagum.
---
Ketegangan di Dapur
Sementara di dalam dapur, suasana sedikit berbeda.
Luxia sedang membersihkan meja ketika Nana tiba-tiba berdiri di dekatnya dengan tangan terlipat. Tatapan matanya penuh kecurigaan.
“Kau… dapat resep ini dari mana?”
Luxia menoleh dengan santai. “Aku menemukannya sendiri.”
Nana mendengus. “Tsk. Jangan bohong. Resep seperti ini bukan sesuatu yang bisa dibuat sembarangan.”
Luxia hanya tersenyum misterius.
“Kenapa? Penasaran?” tanyanya jahil.
Nana langsung merengut. “Siapa juga yang peduli?!”
Namun, sebelum mereka bisa berdebat lebih lanjut, Roland masuk ke dapur dengan ekspresi serius.
“Luxia, Presiden Lacky meminta bertemu denganmu di ruangannya.”
Seketika, suasana dapur menjadi hening. Para koki lain yang sibuk bekerja langsung berhenti dan menoleh.
“Presiden?”
“Kenapa tiba-tiba?”
Luxia hanya mengangkat bahu santai. “Wah, aku bakal dapat kenaikan gaji langsung, nih?”
Nana mendengus. “Dasar gila uang.”
Tanpa membuang waktu, Luxia melepas apron-nya dan berjalan menuju ruangan Lacky. Apa pun alasannya, satu hal yang pasti—hari pertamanya sebagai koki di PT. Blackm Meow benar-benar penuh kejutan.
---
Pertemuan dengan Presiden Lacky
Luxia berjalan menuju ruangan Presiden Lacky dengan langkah santai. Para karyawan lain tidak terlalu memperhatikannya—mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang sibuk berbicara di telepon, mengetik laporan, atau berdiskusi dengan rekan kerja.
Begitu sampai di depan ruangan, asisten pribadi Lacky, Evan, menunggunya dengan ekspresi tenang.
"Presiden sudah menunggu," kata Evan sambil membuka pintu.
Luxia masuk dan melihat Lacky sedang duduk di kursinya dengan santai. Di depannya ada piring kosong bekas makan siang tadi.
"Kau yang membuatnya, kan?" tanya Lacky tanpa basa-basi.
Luxia tersenyum. "Tentu saja."
Lacky mengetuk meja dengan jarinya. "Menarik. Aku tidak menyangka menu hari ini bisa sepopuler itu."
Luxia hanya diam, menunggu kelanjutan perkataannya.
"Aku ingin kau membuat menu spesial lain. Sesuatu yang lebih baik dari hari ini," lanjut Lacky.
Luxia menautkan jari di belakang kepalanya. "Wah, permintaan yang cukup sulit. Tapi..." ia tersenyum lebar. "Kalau bayarannya naik, aku akan melakukannya."
Evan hanya bisa menggeleng pelan melihat sikap santai Luxia, sementara Lacky malah tersenyum kecil.
"Kau benar-benar gila uang," gumamnya.
"Tentu saja! Itu alasan kenapa aku bekerja," jawab Luxia tanpa ragu.
Lacky menghela napas. "Baiklah, aku akan mempertimbangkan kenaikan gaji jika kau berhasil membuat menu yang lebih baik."
Mata Luxia langsung berbinar. "Siap, Presiden! Serahkan padaku!"
Setelah pembicaraan itu selesai, Luxia meninggalkan ruangan dengan ekspresi puas. Ia kembali ke dapur dengan langkah ringan, siap untuk memikirkan resep baru yang bisa kembali menghebohkan PT. Blackm Meow.
Kembali ke Dapur
Begitu Luxia kembali ke dapur, para koki langsung menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Nana, yang berdiri bersandar di meja, menatapnya dengan ekspresi skeptis.
“Apa katanya?” tanya Nana tanpa basa-basi.
Luxia menatap mereka sejenak, lalu menyeringai. “Aku dapat tugas baru.”
“Tugas baru?” Roland ikut angkat alis.
“Yep. Presiden Lacky mau aku buat menu spesial yang lebih gila dari yang tadi.” Luxia menaruh tangannya di pinggang. “Dan kalau berhasil, gajiku bakal naik.”
Para koki lain langsung berbisik-bisik. Beberapa dari mereka terlihat iri, sementara yang lain hanya menggeleng kagum.
“Tch. Dasar rakus,” gumam Nana sambil memutar matanya.
Luxia terkekeh. “Hei, kalau kerja keras bisa bikin dompet tebal, kenapa tidak?”
Roland mendesah pelan. “Baiklah, kalau begitu, kau butuh bantuan untuk menyiapkan sesuatu yang lebih spesial?”
Luxia mengangkat bahu. “Hmm… Aku belum tahu mau buat apa, tapi aku pasti butuh bahan premium.”
Seorang koki lain, pria berkepala plontos bernama Rico, menyahut. “Maksudmu daging yang lebih berkualitas?”
“Ya, tapi bukan cuma soal kualitas daging. Aku butuh sesuatu yang benar-benar unik.” Luxia menepuk meja. “Sesuatu yang belum pernah dicoba di sini sebelumnya.”
Nana menyipitkan mata, merasa tertantang. “Jangan bilang kau mau buat sesuatu yang lebih misterius dari resep tadi?”
Luxia terkekeh. “Kenapa? Takut aku bikin hidangan yang bikin orang-orang makin jatuh cinta sama masakanku?”
Nana mendengus. “Seperti itu tidak akan terjadi kalau aku bisa membuat yang lebih baik darimu.”
“Oh? Jadi kau mau saingan denganku?” Luxia melipat tangan, tersenyum lebar.
Nana menyilangkan tangan di dada. “Siapa takut?”
Roland hanya bisa mengusap wajahnya. “Dua koki jenius di satu dapur… Aku harus bersiap menghadapi kekacauan.”
Luxia dan Nana saling berpandangan, keduanya tersenyum penuh tantangan.
“Baiklah,” Luxia akhirnya berkata. “Mari kita lihat siapa yang bisa menciptakan hidangan paling spektakuler di PT. Blackm Meow.”
Dapur mulai dipenuhi dengan aura persaingan yang membara.
Mampukah Luxia menciptakan menu yang lebih dahsyat dari sebelumnya? Atau justru Nana yang akan mencuri perhatian? Satu hal yang pasti—PT. Blackm Meow akan segera menyaksikan pertarungan kuliner yang luar biasa.
Persaingan Memanas di Dapur
Suasana di dapur PT. Blackm Meow mulai terasa lebih tegang dari biasanya. Para koki lainnya hanya bisa saling melirik, melihat dua wanita yang jelas-jelas tidak mau kalah satu sama lain.
Luxia menyandarkan diri ke meja dapur dengan ekspresi percaya diri, sementara Nana menyilangkan tangan di dada dengan tatapan tajam.
“Aku tidak menyangka kau bakal seterprovokasi ini,” ucap Luxia dengan nada menggoda.
Nana mendengus. “Jangan salah. Aku hanya tidak mau membiarkan seorang koki baru seperti kamu merebut semua perhatian.”
Beberapa koki lain mulai berbisik-bisik.
“Kau lihat ini? Mereka bukan sekadar bersaing soal masakan… Ini lebih dari itu.”
“Yah, keduanya memang koki berbakat, tapi rasanya mereka juga berusaha memenangkan hati Presiden Lacky.”
“Apa ini semacam… perang dingin untuk mendapatkan pengakuan Presiden?”
Rico, koki berkepala plontos, menyenggol salah satu rekannya. “Aku bertaruh kalau ini bukan cuma soal masakan. Mereka ingin menjadi koki favoritnya.”
“Koki favorit atau wanita favorit?” rekan di sebelahnya menyeringai.
Luxia, yang mendengar bisik-bisik itu, tertawa kecil. “Hei, hei, jangan asal menuduh. Aku hanya ingin gaji naik, bukan Presiden.”
“Tapi anehnya, setiap kali kau memasak sesuatu yang istimewa, Presiden Lacky selalu memberikan perhatian lebih,” goda seorang koki perempuan bernama Mira.
Nana melotot ke arah Mira. “Jadi maksudmu aku ini tidak cukup menarik perhatian?”
Mira mengangkat tangan tanda menyerah. “Eh, aku tidak bilang begitu…”
Roland akhirnya berdeham keras, mencoba mengembalikan fokus semua orang. “Baiklah, cukup! Aku tidak peduli apakah kalian ingin menarik perhatian Presiden atau siapa pun. Yang aku tahu, kalau dua koki terbaik di dapur ini mulai bertarung, maka kita semua harus bersiap untuk dapur yang lebih sibuk.”
Luxia tersenyum tipis, menatap Nana dengan tatapan penuh tantangan. “Jadi, bagaimana? Siap membuktikan siapa yang lebih unggul?”
Nana menyeringai. “Tentu saja. Aku tidak akan kalah dari seseorang yang hanya mengincar uang.”
“Bagus. Kita lihat siapa yang bisa membuat Presiden Lacky—dan semua orang di perusahaan ini—tidak bisa melupakan masakannya.”
Dengan itu, perang kuliner resmi dimulai.
Para koki lainnya hanya bisa menghela napas panjang. Mereka tahu satu hal pasti—dapur PT. Blackm Meow akan segera menjadi medan perang yang luar biasa panas.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments