Pagi itu, Luxia bangun dengan kepala berat dan mata sembab. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak, pikirannya masih dipenuhi bayangan neneknya. Rumah ini begitu sepi tanpa suara orang lain. Biasanya, neneknya sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan, atau sekadar duduk di kursi kayu sambil menyeruput teh hangat.
Tapi kini, yang ada hanya kesunyian.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai kayu yang dingin di bawah kakinya. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa terus begini.
Dengan tekad yang mulai tumbuh dalam dirinya, ia bangkit dan beranjak keluar rumah. Ia berjalan menuju pusat desa, tempat para pedagang mulai membuka warung mereka. Aroma masakan pagi mulai menyebar, menciptakan suasana yang lebih hidup dibandingkan dengan kesunyian yang ia tinggalkan di rumah.
Di antara banyaknya warung, langkahnya terhenti di depan sebuah warung sederhana yang menjual makanan hangat. Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di depan warung itu, menyambut pelanggan yang datang.
"Luxia?" wanita itu terkejut melihatnya. "Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?"
Luxia menundukkan kepala sedikit, merasa canggung. "Bibi Rena… aku ingin mencari pekerjaan. Aku… aku tidak ingin terus berdiam diri di rumah."
Bibi Rena, pemilik warung tersebut, menatapnya dengan lembut. Ia mengenal Luxia sejak kecil dan tahu betapa berat hidup gadis itu setelah kepergian neneknya. Ia menarik napas dan tersenyum.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau membantuku di sini?"
Luxia menatapnya dengan mata sedikit membesar. "Benarkah?"
"Tentu saja! Aku selalu membutuhkan tangan tambahan. Kau bisa mulai membantu membersihkan meja dan mengantar pesanan. Kalau kau mau belajar memasak, aku juga bisa mengajarkanmu sedikit demi sedikit."
Luxia merasa dadanya menghangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama. "Terima kasih, Bibi Rena! Aku tidak akan mengecewakanmu!"
---
Hari pertama Luxia bekerja di warung Bibi Rena menjadi awal baru baginya. Awalnya ia hanya membantu membersihkan meja dan mengantarkan makanan, tetapi lambat laun, ia mulai ikut memasak di dapur kecil warung tersebut. Tangannya yang dulu gemetar kini mulai terbiasa menggenggam pisau dan meracik bumbu.
Setiap hari ia bertemu dengan banyak orang—pelanggan yang datang dengan wajah ceria, bercerita tentang keseharian mereka sambil menikmati makanan hangat yang disajikan. Beberapa pelanggan mulai mengenalnya dan sering menyapanya dengan ramah.
"Luxia! Aku suka sup buatanmu kemarin! Hari ini ada lagi?"
"Hei, gadis muda! Kau bekerja di sini sekarang? Bagus sekali! Warung ini jadi lebih ceria!"
Awalnya, Luxia tidak terbiasa dengan perhatian seperti itu. Namun seiring waktu, ia mulai menikmati suasana di warung. Tawa pelanggan, aroma masakan yang menggugah selera, serta suara bibi Rena yang selalu bersemangat—semua itu membuatnya merasa tidak terlalu kesepian lagi.
Saat pulang ke rumah, meski tetap sunyi, hatinya tidak seberat sebelumnya. Ia kini memiliki tempat untuk kembali, tempat di mana ia merasa dibutuhkan.
Luxia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian neneknya, ia merasa bahwa hidupnya masih memiliki arah.
Hari-hari berlalu dengan cepat, dan Luxia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaannya di warung Bibi Rena. Pagi-pagi sekali, ia datang sebelum matahari terbit, membantu menyiapkan bahan masakan, meracik bumbu, dan menyalakan kompor. Setiap kali pelanggan datang, ia menyambut mereka dengan senyum tulus, meskipun dalam hatinya terkadang masih terselip kesedihan yang sulit dihilangkan.
Namun, semakin hari, ia merasa dirinya berubah. Ada sesuatu yang hangat di dalam dirinya setiap kali melihat pelanggan menikmati masakannya. Setiap kali mereka tersenyum dan berterima kasih, Luxia merasa seperti menemukan bagian kecil dari dirinya yang sempat hilang.
Suatu hari, saat warung sedang sepi, Bibi Rena duduk di sampingnya. Ia menatap gadis muda itu dengan penuh perhatian sebelum akhirnya berkata, “Kau tahu, Luxia… Aku melihat nenekmu dalam dirimu.”
Luxia terkejut. Ia menoleh, matanya sedikit membesar. “Maksud Bibi?”
“Nenekmu adalah orang yang kuat. Meski ia kehilangan banyak hal dalam hidupnya, ia tetap berjalan ke depan. Ia tidak pernah membiarkan kesedihan menguasainya. Kau juga seperti itu, Luxia.”
Luxia menggigit bibirnya, menahan rasa haru yang tiba-tiba menyelinap di dadanya.
“Dulu, aku sering melihat nenekmu duduk di beranda rumahnya sambil merajut. Aku pernah bertanya padanya, ‘Apakah kau kesepian?’ Dan kau tahu apa jawabannya?”
Luxia menggeleng pelan.
“Ia berkata, ‘Kesepian itu hanya ada jika kita membiarkannya bertahan. Jika kau terus bergerak, bertemu dengan orang-orang, maka kesepian itu akan pudar dengan sendirinya.’”
Air mata menggenang di sudut mata Luxia. Ia menggenggam erat kain celemek yang dikenakannya. Kata-kata neneknya itu terasa begitu dekat dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Bibi Rena tersenyum lembut. “Kau sudah melakukan hal yang benar, Luxia. Aku yakin nenekmu bangga padamu.”
Luxia menunduk, menghapus air matanya secara diam-diam. Ia tidak ingin menangis lagi, tidak di depan orang lain. Tapi kali ini, air matanya bukan karena kesedihan.
Ia adalah air mata seseorang yang akhirnya mulai menemukan jalannya kembali.
---
Pada suatu sore, setelah warung tutup, Luxia berjalan pulang dengan langkah ringan. Jalanan mulai sepi, langit dihiasi warna oranye keemasan yang indah. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan angin sepoi-sepoi yang mengusap wajahnya.
Setibanya di rumah, ia menyalakan lampu dan menatap sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tapi kali ini, kesunyian itu tidak terasa begitu menyesakkan.
Ia membuka jendela, membiarkan udara segar masuk. Lalu, dengan hati-hati, ia berjalan ke sebuah lemari tua di sudut ruangan. Tangannya terulur, membuka laci yang sedikit berdebu. Di dalamnya, tersimpan selendang rajut yang pernah dibuat neneknya.
Dengan penuh kasih, ia mengangkat selendang itu dan membawanya ke dadanya, memeluknya erat.
“Nenek…” bisiknya pelan. “Aku akan baik-baik saja.”
Di luar jendela, angin berhembus lembut, seolah membawa jawaban dari kejauhan.
Luxia menutup matanya dan tersenyum kecil.
----
Malam itu, Luxia duduk di teras rumahnya, memandangi langit yang dipenuhi bintang. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Selendang rajutan neneknya masih melilit di bahunya, memberikan kehangatan yang entah mengapa terasa lebih dari sekadar kain biasa.
Hatinya terasa lebih tenang dibanding sebelumnya. Tidak sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya ia bisa bernapas lebih lega.
Dari kejauhan, suara jangkrik bersahutan dengan suara gemerisik dedaunan. Kesunyian ini tidak lagi terasa menekan. Kali ini, ia menerimanya sebagai bagian dari kehidupannya.
Namun, saat ia menatap ke arah ruang tamu yang kosong, kesadaran itu kembali menghantamnya—ia masih sendirian. Tidak ada suara nenek yang menenangkannya, tidak ada tawa hangat yang menyambutnya saat pulang.
Tetapi… bukankah ia sudah berjanji untuk tidak membiarkan kesepian itu bertahan?
---
Pagi harinya, Luxia kembali bekerja di warung Bibi Rena. Senyum pelanggan dan kesibukan di dapur membantunya mengalihkan pikiran. Setiap adukan dalam panci, setiap potongan sayur yang ia siapkan, ia lakukan dengan sepenuh hati.
Namun, ada sesuatu yang mulai berubah dalam dirinya.
“Luxia, kau semakin mahir memasak,” kata Bibi Rena suatu hari saat mereka berdua menyiapkan makanan sebelum warung buka. “Aku tahu kau berbakat, tapi aku tidak menyangka kau bisa belajar secepat ini.”
Luxia tersenyum kecil. “Aku hanya ingin melakukan yang terbaik, Bibi.”
Bibi Rena tertawa kecil. “Itu bagus. Tapi kau tahu, aku bisa melihat sesuatu dalam caramu memasak. Kau tidak hanya sekadar memasak untuk pelanggan. Kau seperti… memasak dengan perasaan.”
Luxia terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu sebelumnya.
“Setiap kali kau membuat sup, kau memastikan rasanya benar-benar pas, seolah-olah kau ingin menyampaikan sesuatu melalui makanan itu. Mungkin ini yang membuat banyak pelanggan menyukainya.”
Luxia menunduk, menatap tangannya yang penuh bumbu. Apakah benar begitu? Apakah tanpa sadar ia telah menuangkan perasaannya dalam setiap hidangan yang ia buat?
Bibi Rena menepuk pundaknya. “Jika kau terus seperti ini, aku yakin kau bisa menjadi koki hebat suatu hari nanti.”
Luxia mengangkat wajahnya, matanya sedikit melebar. “Koki… hebat?”
Bibi Rena mengangguk. “Iya. Aku tidak tahu apakah kau pernah memikirkannya, tapi aku bisa melihat masa depan yang cerah untukmu di dunia kuliner.”
Untuk pertama kalinya, Luxia mulai mempertimbangkan kemungkinan itu.
Mungkin, ini adalah jalannya.
Mungkin, memasak bukan hanya tentang mencari kesibukan atau sekadar bekerja.
Mungkin, ini adalah sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menemukan kembali kebahagiaannya.
---
Malamnya, Luxia kembali duduk di teras, kali ini dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ia memikirkan semua yang dikatakan Bibi Rena.
Dulu, ia tidak pernah berpikir jauh tentang masa depannya. Setelah kehilangan keluarganya, ia hanya hidup dari satu hari ke hari lainnya, mencoba bertahan. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda.
Ia memiliki tujuan.
Ia memiliki sesuatu yang ingin ia capai.
Luxia menyesap tehnya perlahan, merasakan kehangatannya menyebar di tubuhnya.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak lama, ia membayangkan dirinya di masa depan—seorang koki yang berdiri di dapur yang lebih besar, dengan banyak pelanggan yang menikmati masakannya.
Dan yang paling penting, ia membayangkan dirinya tersenyum.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments