" Sum, bisakah kita bertemu? " Ucap Pak Zainal via telepon.
Bibik diam, ia mendadak bingung kenapa tiba-tiba mantan suami nya mengajak nya bertemu?
Biasanya jangan kan bertemu, bicara pun dia seperlunya saja. Setiap Bibik nelfon, langsung diangkat oleh Fatma, anak mereka.
" Ada apa Nal? Apa Fatma sakit? " Pikiran si Bibik langsung tertuju pada Fatma.
" Aku tunggu di rumah Sum " Pak Zainal tidak menjelaskan apapun, ia langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
Bibik menatap penuh tanda tanya ponsel yang digenggamnya. Tiba-tiba perasaan nya jadi tidak enak.
Ia gegas minta ijin kepada rekan kerjanya untuk keluar sebentar. Teman Bibik langsung setuju saja, sudah biasa bagi mereka jika ada urusan mendadak dan mustahak, ke empat pembantu itu akan saling membantu mengerjakan tugas yang lainnya.
Bibik mendatangi rumah sang mantan suami dengan menaiki ojek online. Ia tergopoh-gopoh masuk ke dalam karena pintu rumah sudah terbuka lebar.
Di sebuah kursi kayu, Pak Zainal dan Fatma duduk. Melihat putrinya baik-baik saja Bibik sedikit merasa lega.
" Ada apa Nal? Aku pikir Fatma kenapa-napa? " Bibik membelai wajah putrinya , ia dapat tahu jika tubuh sang anak menyusut dan wajah nya pucat.
" Fatma, kok kamu kurusan Nak? "
Fatma enggan menatap, ia tidak mau kesedihan nya dapat diketahui oleh sang Ibu.
" Sum... " Suara Pak Zainal datar mendalam.
" Apa kamu masih ingat, bagaimana aku sangat bahagia? Putri kita bisa sekolah di tempat Favorit dan terbaik "
Bibik menautkan kedua alisnya, menunggu Pak Zainal melanjutkan kalimat nya.
" Apa kamu masih ingat Sum? Bagaimana aku membuang seluruh ilmu hitam yang ku miliki, karena aku ingin menjadi Ayah yang baik untuk putri kita ? "
Bibik semakin bingung, ke arah mana percakapan Pak Zainal ini ?
" Nal, kamu ini mau bicara apa sih ? yang jelas dong ngomong nya "
Pak Zainal membelai lembut pucuk kepala Fatma, anak itu menangis ia sudah tidak tahan menahan air matanya sejak tadi.
Ucapan sang Ayah seperti pukulan keras baginya, Ia teringat bagaimana raut wajah sang Ayah disaat Fatma memberi tahu jika ia lulus seleksi masuk sekolah terbaik.
Dan Fatma juga ingat seperti apa perjuangan Pak Zainal membesarkan nya tanpa seorang istri.
Meskipun memang sang Ibu selalu membantu dalam urusan keuangan, tapi kasih sayang? Ibunya kurang memperhatikan.
Setiap Fatma sakit, Ayahnya yang selalu ada untuk nya. Sampai kejadian yang baru saja berlalu, Ayahnya lah yang menjaganya hingga Fatma keluar dari rumah sakit.
" Kenapa? Kenapa Fatma menangis? " Bibik bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan putri nya.
Wajah Fatma yang tertunduk ia bingkai lembut.
" Kenapa Nak? "
" Maafkan Fatma Bu " Rintih Fatma lirih.
" Sudah Nak, berhenti minta maaf. Sudah Bapak bilang, yang salah bukan Fatma. Tapi bajing4n itu " Pak Zainal membelai rambut anaknya dengan lembut.
Jujur di lubuk hatinya yang terdalam, terasa perih oleh air mata putri nya.
Bibik semakin bingung, akhirnya Pak Zainal menjelaskan keadaan Fatma dan rentetan peristiwa yang menimpa putri mereka.
Dua bola mata yang sudah terlihat mengeriput itu membeliak lebar. Rasanya sangat tidak mungkin, anak majikannya yang tampan itu bisa menjalin hubungan dengan putrinya yang hanya seorang gadis sederhana.
Apalagi sampai menghamilinya, dan memperk0sa secara bergilir? Itu sangat tidak manusiawi.
" Sekarang aku mohon bantuan mu Sum" Pinta Pak Zainal mengutarakan maksud kenapa ia meminta sang mantan istri untuk bertemu?
" Apa yang ingin kamu lakukan Nal? " Tanya Bibik.
" Aku ingin sehelai rambut seorang anak laki-laki disana"
Bibik mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti siapa yang dimaksud Pak Zainal.
" Di sana, selain dari Gading, ada seorang anak laki-laki lainnya bukan? "
Ah Bibik mengerti sekarang.
" Maksud mu Den Udin ? Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Ini Nal, kenapa kamu menginginkan rambut nya ?"
" Lakukan saja permintaan ku Sum, ini demi anak kita "
Bibik menatap wajah Fatma begitu mendalam, tak tega rasanya melihat keadaan putrinya itu.
Gading sudah keterlaluan, memang sudah sepantasnya ia mendapatkan balasan.
" Akhirnya Bibik memenuhi permintaan Zainal, Den. Bibik mengambil beberapa helai rambut Den Udin saat Bibik membersihkan kamar Den Udin ". Bibik mengakhiri ceritanya.
" Din " Tiba-tiba Cahaya sudah terlihat diambang pintu" Eh Bibik, kok tumben ada disini? "
Bibik jadi salah tingkah, ia takut Udin akan mengatakan kepada sang Ibu.
" Bibik mau pinjam uang Bu " Udin menjawab cepat yang otomatis membuat Bibik termangu. Ia bingung saat Udin mengulurkan uang kepada nya. Anak itu tersenyum simpul seraya meraih tas sekolah lalu memanggul nya.
" Udin ke sekolah dulu ya Bik " Pamit Udin, Cahaya tersenyum mendampingi sang anak keluar untuk pergi ke sekolah.
" Ini Ibu sudah siapkan bekal, kamu belum sempat sarapan" Ucap Cahaya.
Udin mengiyakan, ia menerima pemberian sang Ibu sembari terus melangkah pergi.
Bibik memperhatikan punggung Udin yang semakin menjauh, ia tidak menyangka jika Udin bisa menjaga rahasia nya tanpa diminta.
KITA KEMBALI KE RUMAH SAKIT
Fatma diam-diam memperhatikan Gading dari balik kaca yang ada di daun pintu kamar tempat Gading di rawat. Ia tersenyum mistis, lalu duduk di kursi pengunjung.
Fatma melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Zainal. Ia membaca mantra yang sudah di tulis oleh Bapaknya di atas secarik kertas.
Saat Fatma sudah membacanya, ia meniup kan udara melalui lubang kunci.
Tiba-tiba Tania dan Fajar merasa ngantuk sekali. Keduanya terkapar begitu saja tanpa sadar.
Fatma menyaksikan semua itu, ia tersenyum puas. Pelan ia mendorong daun pintu lalu masuk ke dalam.
Gading yang melihat kedatangan Fatma langsung terbelalak kaget. Ia yang tidak bisa menggerakkan badannya berusaha untuk membangun kan Tania yang tertidur di tepi ranjang.
" Hay sayang... Lama yah nggak jumpa, Gimana kabar kamu? " Sapa Fatma disertai senyuman manis, senyuman yang begitu mengerikan bagi Gading.
Fatma mengendapkan punggungnya di bagian samping kepala Gading. Ia mencium kening Gading begitu lembut.
" Kangen nggak sama aku? Aku kangen loh sayang"
Gading membeliak ketakutan, bola matanya bergulir panik.
" Kangen desahanmu di ranjang HAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Tawa Fatma cukup membuat bulu kuduk meremang, Hingga kening Gading meleleh keringat dingin.
Fatma berpindah tempat ke bagian bawah kaki Gading. Ia merangkak naik dengan wajah tersenyum manis.
Gading semakin panik, padahal dulu ia paling suka melihat perempuan menaiki nya lalu melahap lolipop milik nya.
Seperti yang dilakukan Fatma saat ini, perempuan itu membuka celana Gading lalu mengeluarkan senjata andalan pria itu.
Ia melahapnya penuh hasrat, Gading memejamkan matanya. Meskipun ketakutan, tapi rasa nikmat itu bagai aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhnya.
Tapi tiba-tiba Gading terbelalak lebar, Mulutnya menganga seolah menahan sakit yang luar biasa.
Rupanya Fatma menggigit batang yang sudah mengeras itu dengan kuat hingga berdarah.
HAHAHAHAHAHAHAHAHA
Fatma tertawa lantang, ia sengaja tidak membuat putus kepalanya. Darah yang memenuhi mulut nya ia jilat habis.
Gading terengah-engah, air matanya mengalir. Kepalanya bergerak sedikit seolah-olah menolak dengan apa yang dilakukan oleh Fatma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
neng ade
Fatma udah dikendalikan sm pak Zainal utk membalaskan dendam nya
2024-11-09
0
V3
di buntungin ja aset nya ,,, baru jg SMA tp dh jd Casanova 🤦🤬😡
2024-06-11
0
Suharnani
Kapok. laki"seperti memang harus di potong, di buat tidak berdiri
2024-05-03
1