BAYI GADING

" Kamu teman Naya kan ?" Cahaya mengalihkan pandangannya kepada Layla .

" Iya Tante" Jawab Layla canggung, sinar kecantikan yang Cahaya miliki Membuat Layla grogi. Ia dapat tahu jika perempuan cantik itu adalah Ibu dari Udin.

" Kalau kamu kecapean, istirahat lah! Jika lapar jangan sungkan untuk minta makan sama Bibik yang ada di dapur. Jangan sungkan, ini sekarang adalah rumah mu juga " Cahaya menyentuh pundak Layla dengan lembut.

" Terimakasih Tante, maaf saya permisi dulu " Layla terpaksa undur diri, bisa ia rasakan atmosfer di tempat itu sedang tidak mendukung untuk nya berlama-lama tinggal.

Cahaya mengiyakan, Layla buru-buru cabut. Ia mendatangi tempat persembunyian Naya .

" Maaf Nay, Gue gagal " Ucap Layla penuh penyesalan.

" Nggak apa-apa Layla, Justru Gue minta maaf ya atas sikap nyokap gue sama Lo yang kurang menyenangkan " Naya sedih, hatinya kecewa terhadap sang Ibu.

" Nggak apa-apa, nanti gue coba lagi" Layla mengkuotakan janji agar Naya tidak terlalu kecewa.

Tapi Naya justru menolak, ia tidak sanggup lagi untuk lebih sakit hati. Dalam sehari sikap dua orang terdekat nya begitu mengecewakan baginya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Gading merendam tubuhnya di dalam bathtub, ia diselimuti busa wangi serta air hangat melegakan peredaran darah nya.

Hari ini terlalu banyak masalah, sehingga menjelang jam waktu nya tidur. Ia berinisiatif untuk melepaskan beban hidup dengan cara memanjakan tubuh nya disertai sebotol anggur merah kesukaan nya.

Tubuhnya kembali rileks, Gading jadi enggan untuk bangun. Ia menyukai suasana seperti ini.

Tiba-tiba lampu di kamar mandi nya mati, Gading celingukan. Dan tak lama kemudian lampu kembali menyala.

Ia heran, siapa yang berani mempermainkan nya? Hemmm hanya Naya yang berani keluar masuk kamarnya sesuka hati. Jadi dia yakin ini adalah kejahilan adiknya.

Tiba-tiba lampu mati lagi, kemudian hidup lagi. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, hingga kesabaran Gading habis.

" Nay!!" Seru Gading lantang. Tak ada jawaban, lampu terus saja mati hidup mati hidup.

" Awas kau ya!!!" Gading mengeluarkan ancaman, setidaknya bisa membuat Naya menghentikan keisengan nya.

Dan benar saja, Lampu di kamar mandi Kembali hidup dan tidak mati lagi. Gading tersenyum tipis, ia pikir adiknya takut juga dengan ancaman.

Akh

Gading menarik kaki nya, karena ia merasa ada sesuatu benda tajam menggigit ujung jarinya.

Gading panik menemukan Ibu jarinya terluka dan berdarah. Ia meraba bagian hulu Bathtub nya, Tapi tidak ada apapun yang ditemukan.

Lalu apa yang telah melukai Ibu jarinya??

Perasaan Gading tak nyaman, ia menyudahi

mandinya. Saat Gading bangkit dan hendak mengangkat kakinya keluar dari bathtub, Tiba-tiba kakinya seperti ditahan oleh sesuatu.

Gading panik, ia berusaha untuk mengangkat kakinya, tapi tak bisa.

" Papa"

Tubuh Gading membeku, kepalanya bergerak ragu menengok sesuatu yang seperti muncul dari permukaan air.

Ternyata dua bocah bayi yang masih berlajar duduk memeluk kaki Gading satu persatu. Bayi itu merengek memanggil nya Papa.

" Itu Papa ku " Bayi yang memegang kaki kanan Gading marah dengan bayi yang memegang kaki kiri.

" Papa ku " Bayi yang lain tidak terima, Lalu keduanya menangis bersama-sama.

Gading membulatkan matanya saat melihat bahwa bayi itu sudah tumbuh gigi, dan gigi mereka semua runcing seperti monster.

Tiba-tiba tangisan mereka terhenti bersama-sama dan berganti menjadi senyuman lebar. Mata bayi itu berubah putih.

Tubuh Gading bergidik ngeri, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Namun suaranya tercekat di tenggorokan.

" Papa, aku anakmu. Kenapa Papa takut padaku? Bukankah kau sengaja membu-nuh ku saat aku masih tidak berdaya di dalam perut Ibuku"

" Iya, dia juga memaksa Ibuku untuk meminum obat yang membuat ku terbakar" Tambah bayi yang lain.

" Gendong aku Pa... " Bayi itu berusaha memanjat kaki Gading, membuat Gading semakin ketakutan.

AAAAKHHH

Gading menjerit dan terjaga dari tidurnya, rupanya hanya mimpi. Ia tanpa sengaja terlelap di dalam bathtub.

Tapi kenapa terasa seperti nyata? Gading terengah-engah. Ia seperti habis melakukan lari maraton saja.

Cepat-cepat Gading keluar dari bathtub, ia merasa parno sekali. Untung hanya mimpi, itulah pikiran nya.

Tiba-tiba saat Gading memakai pakaian tidurnya, ia menemukan jempol kakinya berdarah. Pupil mata Gading melebar, darah segar mengalir deras dari luka bekas gigitan tersebut.

Tungkai kakinya lemas, tubuhnya ambruk. Tetiba seorang bayi merangkak keluar dari bawah ranjang, lalu disusul oleh bayi yang lain.

Gading menarik mundur tubuhnya, karena semakin banyak bayi yang keluar dari bawah tempat tidur merangkak ke arah nya.

Bayi itu semakin cepat dan banyak mengepung Gading dari segala penjuru. Mereka memanjat tubuh Gading untuk minta digendong.

" AAAA AAAAAKHHH TOLONG" Gading menjerit keras meminta tolong. Ia dikerubungi oleh bayi-bayi yang telah dipaksa gugur dengan dirinya.

Pintu kamar Gading terbuka pelan, Gading mengulurkan tangannya berusaha meminta tolong.

Rupanya Udin lah yang berada di ambang pintu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar Gading. Menyaksikan bagaimana tersiksa nya Gading dikerubungi bayi-bayinya sendiri?

TAK

Udin menjentikkan jarinya, bayi-bayi itu kompak menoleh lalu merangkak rapi berpindah ke sisi Udin.

Nafas Gading tersengal-sengal, matanya melotot dengan tatapan kosong. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka akibat gigitan-gigitan dari para bayi.

" Kalau kamu masih tidak ingin mempertanggung jawabkan perbuatan mu, maka aku akan menyuruh bayi-bayi ini memakan mu hidup-hidup" Ancam Udin seraya keluar meninggalkan Gading yang masih terkapar di lantai.

Para bayi pun mengikuti nya di belakang. Rupanya Udin sengaja membangkitkan mereka dari liang lahat untuk mengerjai Gading.

Agar pria itu berubah dan bertobat. Udin juga berharap Gading akan berani mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Naya yang hendak mengambil air minum, karena persediaan air di kamar nya habis. Heran melihat kamar Kakaknya terbuka. Padahal ini sudah larut malam, tidak biasanya Gading lupa menutup pintu.

Karena penasaran, Naya akhirnya memutuskan untuk melihat nya ke dalam kamar.

Betapa terkejutnya Naya menemukan Gading terkapar di lantai dengan mulut berbusa. Matanya melotot kosong, kakinya kejang-kejang.

" Toloooooooong" Naya berteriak minta tolong, ia berlari keluar kamar membangun kan seluruh penghuni rumah.

Dalam beberapa saat, Gading segera dilarikan ke RS. Tania sang Ibu menangis dalam pelukan Naya . Mereka takut terjadi apa-apa dengan Gading.

" Kenapa bisa begitu? " Tanya Idris lirih, Pangeran As'ad hanya bisa geleng-geleng kepala.

Fajar diam seribu bahasa, ia juga bingung Anak sulungnya itu kenapa? Karena tidak ditemukan tanda-tanda ia keracunan.

Cahaya memperhatikan anak kandungnya, Perempuan itu tahu jika ini perbuatan anaknya. Tapi dia yakin, Udin memiliki alasan tersendiri kenapa ia bertindak sekejam itu?

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

setelah kejadian itu Fajar akhir nya tau kelakuan bejad nya Gading

2024-11-08

0

V3

V3

itulah baru sentilan sedikit dr Udin tuk Gading 🤣🤣

2024-06-11

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

penderitaan ini belumlah berakhir.

2024-04-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!