Layla masuk ke dalam kelas, ia tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Lalu terhenti di sudut paling belakang.
Udin tengah duduk di sana mendengarkan musik menggunakan airphone yang menutup telinga.
Dengan canggung akhirnya Layla memilih untuk duduk di barisan nomor dua dari depan. Ia duduk bersebelahan dengan Naya.
" Hay " Layla menyapa " Gue Layla, nama Lo siapa ?"
Naya tak menjawab, ia melirik penampilan Layla dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lalu membuang muka.
Hal itu sudah lumrah bagi Layla jika ia masuk ke sekolah baru. Jadi Layla pun tidak mengambil hati.
" Eh " Layla mencolek lengan Naya, seketika itu ia mendapatkan penerawangan.
" Apa an sih ? " Naya menepis tangan Layla dengan kasar.
" Lo saudara-an ya sama tuh cowok? " Layla menunjuk ke belakang tepat dimana Udin berada.
Naya tercengang, dari mana gadis ini tahu jika dirinya sepupu Udin.
Layla tersenyum simpul mendapatkan tatapan yang membangongkan dari Naya.
" Lo sangat beruntung terlahir dari keluarga yang sangat istimewa. Lo indigo kan ?"
Sekali lagi Naya dibuat terpana oleh ramalan Layla. Namun semuanya teralihkan oleh kehadiran wali kelas 10. Mereka serentak membenarkan posisi duduk masing-masing, kemudian mengucapkan salam kepada guru mereka.
Karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, jadi tidak ada pelajaran. Hanya perkenalan saja serta ospek alakadarnya.
Di sekolah ini memang dilarang mengadakan ospek berlebihan. Disebabkan banyaknya kasus pembulian.
Jadi bagi murid baru hanya wajib melakukan perkenalan kepada para senior yang diadakan di aula sekolah.
Naya menghampiri Layla yang tengah duduk menyendiri menatap langit. Gadis itu tengah sibuk memprediksi keadaan alam dari gesture gerak angin dan kelembaban udara.
" Nih... " Naya menyodorkan sebotol teh kemasan yang dibelinya di kantin baru saja.
Layla cukup tersentak, tapi ia langsung merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman.
" Terimakasih" Layla menerima pemberian Naya.
Naya duduk di samping Layla, matanya turut memperhatikan langit yang lumayan cerah. Namun angin terasa dingin menusuk kulit.
" Dari mana Lo tahu gue saudara an sama Udin? " Naya mulai bertanya, karena itu adalah tujuan nya mendekati Layla
Gadis peramal itu tersenyum simpul sembari meneguk minuman teh pemberian Naya.
" Gue peramal " Jawab Layla jujur, Sontak Naya terperanjat mendengar nya.
Apakah masih ada manusia seperti itu di zaman sekarang??
" Gue bisa meramal siapa saja yang gue sentuh, tapi cowok itu berbeda" Imbuh Layla.
Kening Naya mengerut, siapa yang dimaksud Layla?
" Sepupu Lo, siapa tadi namanya? "
" Udin " Naya menyebutkan satu nama. Layla membenarkan.
" Emang kenapa Lo nggak bisa meramal dia ?" Naya jadi ingin tahu.
" Dia memiliki kehebatan yang sangat luar biasa. Kita manusia biasa takkan mampu membayangkan seperti apa kehebatan nya. Karena itu Gue penasaran sama dia, dia satu-satunya manusia yang baru gue temuin "
Layla menjelaskan tanpa rahasia, tapi satu hal yang tidak bisa ia sampaikan. Yaitu pesan Neneknya yang meminta nya untuk menjaga Udin. Si manusia terpilih.
Naya mengangguk mengerti, ia tahu Udin memang hebat. Beberapa kali Naya melihat Udin melayang di udara seperti hantu.
Tapi hal itu tidak lah aneh, karena dulu Fajar selalu bercerita tentang Cahaya, Kakaknya sekaligus Ibu dari Udin sendiri.
" Gue meskipun saudara-an sama dia, tapi kayak nggak kenal" Naya mengeluh.
" Kok bisa gitu? " Layla jadi penasaran.
" Entah, dia itu dingin banget. Sejak awal dia datang ke rumah kami, dia emang udah gitu. Tapi anehnya, Bokap gue sayang banget sama dia, melebihi anaknya sendiri. Mangkanya Sampek Kak Gading benci sebenci-bencinya sama Udin "
Layla manggut-manggut tanda mengerti. Hal itu sudah biasa dalam kehidupan, meskipun Udin memiliki kehebatan, tapi dia tetap lah manusia biasa yang pasti ada yang suka dan tidak suka.
Emang menjadi hukum alam, manusia paling baik aja tanpa cela dan dosa. Tetap aja memiliki haters.
" Ohya, menurut Lo boleh nggak saudara sepupu menikah? " Tiba-tiba Naya nyelutuk. Membuat Layla tidak bisa menahan senyumnya.
" Kok Lo senyam-senyum gitu? Jangan-jangan Lo sudah tahu perasaan gue ?"
Layla mengiyakan, Sontak wajah Naya berubah kemerahan. Ia malu sekali, karena selama ini. Meskipun Udin sangat dingin kepadanya, Naya tetap menyukai pria itu.
" Sayangnya Lo nggak bisa baca pikiran dia "
Layla menepuk pundak si Naya.
" Meskipun gue nggak bisa baca pikiran Udin, tapi gue bisa menganalisa ekspresi wajah "
Naya mengerutkan dahinya.
" Ya tetep aja lah, wong ekspresi wajahnya kayak gitu-gitu aja. Datar nggak pernah senyum " Tukas Naya.
" Iya sih... Eh itu dia " Layla tanpa sengaja melihat kelibat Udin.
Cowok itu memang keren, style nya macho banget. Jaket Hoodie lengkap menutupi kepala, pakek airphone plus kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
Berjalan cuek di antara siswa yang lalu lalang dan selalu menjadi pusat perhatian.
" Ganteng banget kan ? Entah siapa wanita yang beruntung mendapatkan nya " Gumam Naya mengagumi sang sepupu.
Layla tersenyum, ia tahu ini tidak pantas untuk seorang cenayang. Karena Layla merasakan gemuruh kecil berputik di dalam hatinya.
" Nek, kenapa harus orang seperti ini yang harus ku lindungi? " Pekik hati Layla.
" Jangan sekali-kali kamu mencintai pria itu. Yang harus kamu lakukan adalah melindunginya, Ingat Lay..."
Suara si Nenek terngiang dengan jelas meskipun itu sudah lama sekali.
" Yuk kita masuk kelas" Tepukan tangan Nya di pahanya mengagetkan Layla. Ia segera tersadar dari lamunannya.
Dua gadis itu berjalan beriringan menuju kelas, mereka terlihat sudah akrab untuk menjadi seorang teman.
" Kamu tinggal dimana? " Tanya Naya .
" Di Blok Alfred no 5 " Layla menjawab secara detail.
" Nanti pulang sekolah ada acara nggak? " Naya berniat untuk lebih dekat lagi dengan Layla. Karena ia pasti akan diuntungkan jika berteman dengan seorang peramal.
" Emmm sebenarnya di rumah gue buka praktek, jadi pulang sekolah pasti akan sangat sibuk" Layla menjawab dengan jujur, refleks Naya menghentikan langkahnya.
" Maksud Lo, Lo gunakan kekuatan Lo itu untuk cari uang? "
Layla mengiyakan.
" Hemm tidak masalah sih, yang penting Lo nggak nipu orang "
" Ya nggak lah... Kalau Lo berniat mampir? Datang aja ke rumah. Gue selalu standby di rumah kok "
Naya tersenyum simpul, ia mengangguk sebagai tanda setuju.
Udin menjeling tajam ke arah Naya dan Layla yang baru saja masuk kelas. Kujang yang berada di samping nya sudah memberi tahu jika gadis yang menabraknya pagi tadi bukan gadis biasa.
Ia dan Udin memiliki takdir untuk saling membutuhkan. Anehnya, Meskipun Layla seorang peramal, dia bukanlah seorang Indigo
Dia hanya bisa melihat masa depan seseorang, tapi tidak mampu melihat makhluk tak kasat mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
neng ade
semakin seru nih
2024-11-08
0
V3
Layla akan mjd Partner Udin 🤣
2024-06-11
0
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
ya eyalah masa dah jadi peramal indigo juga alias bisa liat hantu ...atuh di borong semua dong sama Layla 🤣🤣
2024-06-03
1