PERMINTAAN MAAF

Gading yang tergolek di ranjang, mendengarkan semua perkataan adiknya. Dia terkejut dan tidak pernah mengira jika Fatma adalah putri Bik Sum.

Dia juga tidak menyangka jika teman-teman nya turut menderita, Apalagi Miko ? Sungguh kah dia sudah tewas?

" Sekarang dimana anak Bik Sum itu ? " Tanya Fajar.

" Naya nggak tahu Pa, mungkin Bik Sum bisa menjelaskan " Jawab Naya seadanya.

Fajar mengalihkan perhatiannya kepada Gading, dari sorot mata sang putra sulung tersirat kesedihan.

" Kita harus bawa Gading menemui gadis itu" Ujar Fajar mantap.

" Pa, nanti kalau mereka minta Gading menikahi anaknya gimana? Mama nggak mau ah punya mantu orang miskin " Potong Tania memberi perbandingan yang cukup memancing emosi.

" Lalu? Kau akan membiarkan Gading seperti ini selamanya? " Fajar menunjuk kondisi Gading meskipun sudah tentu Tania tahu akan hal itu.

" Ya,,,,, Nggak Pa " Tania merunduk.

Fajar mendengus pergi, ia akan menemui Dokter untuk meminta ijin agar Gading bisa pulang.

Sementara Naya mengantar Ustadz untuk pergi sembari memberikan upah selayaknya.

Tania kesal, ia menatap Gading dengan wajah merengut. Ingin sekali ia menyalahkan Gading atas kecerobohannya memacari orang miskin. Tapi karena Tania masih merasa kasian, jadi ia hanya bisa ngedumel sendiri.

Naya kembali ke kamar Kakaknya dirawat setelah mengantar Pak Ustadz.

" Ini semua gara-gara kamu Nay " Tania langsung mengumpati Naya .

" Kenapa Ma? " Naya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.

" Coba kamu nggak usah ngomong yang aneh-aneh, lagian kamu tahu dari mana sih? Atau kamu sengaja ingin Papa benci sama Kakakmu? Hah?"

Naya menarik nafas dalam-dalam, lalu ia menarik paksa Tania keluar dari ruangan itu.

" Nay!! Mau apa kamu? " Teriak Tania.

Naya tidak menjawab, ia malas menjelaskan ini dan itu. Lebih baik Naya menunjukkan langsung keadaan Tio dan Faisal kepada Tania.

Dan benar saja, disaat Tania melihat keadaan Tio dari balik kaca pintu, Dua bola matanya hampir melompat keluar.

Sedangkan disaat ia melihat keadaan Faisal , ia langsung muntah-muntah. Sesekali ia melompat-lompat karena geli sendiri dengan maggot yang mengerubungi mata Faisal .

" Udah jelas Ma? Atau kalau masih kurang yakin? Ayo kita lihat jenazah Miko yang masih belum dievakuasi dari batang pohon "

Tania melambaikan tangan menolak tawaran Naya . Nafasnya ngos-ngosan karena terlalu lelah mengeluarkan isi perutnya.

Sepanjang perjalanan kembali ke kamar tempat Gading di rawat, Tania selalu terbayang-bayang akan kondisi Faisal dan Tio . Sesekali ia bergidik ngeri dan sesekali ia meluat kembali.

Naya tersenyum miring menyaksikan kondisi Ibunya, ia rasa jengkel dengan sikap Ibunya yang membela Gading. Sayang sih Sayang, tapi bukan begitu caranya merguso.

Fajar mengapit Gading bersama istrinya duduk di jok tengah. Sementara Naya duduk di samping supir.

Mereka meluncur pulang untuk menemui Bibik.

Setibanya di rumah, Naya lah yang turun memanggil Bibik. Di sana sudah ada seluruh ahli keluarga mengerumuni Bibik termasuk Layla .

Jadi Naya tinggal menjemput Bibik saja untuk menunjukkan dimana tempat tinggal Fatma.

Bibik tidak memiliki pilihan lain, ia belum sempat memberi tahu Pak Zainal perihal ini. Karena Bibik ikut dan duduk di samping supir.

Naya akhirnya boncengan sama Udin mengikuti mobil yang membawa Gading. Gadis itu terlihat senang sekali, apalagi dapat memeluk Udin dari belakang. Rasanya bikin meleleh seluruh tubuh.

Rombongan sudah tiba di halaman rumah Pak Zainal. Sebuah rumah sederhana bercat putih yang banyak ditumbuhi lumut.

Dengan memakai kursi roda, Gading dibawa masuk ke dalam. Bibik lah yang menuntun jalan tanpa mengucapkan salam.

Baru pertama kali masuk, tercium aroma dupa yang menyengat. Bibik membuka pintu kamar satu persatu.

Di kamar kedua lah Pak Zainal dan Fatma terlihat bersemedi dengan memakai baju hitam-hitam.

Keduanya seperti tengah membaca mantra sembari menutup mata.

Tania terperangah melihat semua itu, emosinya membludak. Dalam pikirannya begitu tega dua manusia yang sudah menyantet anaknya.

" Ternyata kalian pelakunya" Pekik Tania seraya berlari hendak menyerang. Tapi Pak Zainal justru menghantam pukulan tenaga dalam hingga tubuh Tania terpental.

Hampir saja mengenai Gading, tapi untung Udin turun tangan menahan Tania menggunakan tenaga dalamnya juga.

Meskipun begitu, tenaga dalam yang mengenai Tania mampu membuat sesak dan susah bernafas.

Pak Zainal tersenyum miring, ia sudah tahu jika wajah orang yang ditiru nya tempo hari memang memiliki kekuatan supranatural yang hebat.

" Setelah semua terjadi, baru mau minta maaf" Tukas Pak Zainal seraya menabur dupa ke dalam bara.

Fajar maju, sebagai Ayah dialah yang paling bertanggung jawab atas didikan untuk putra-putri nya.

Ia berlutut dihadapan Pak Zainal dan Fatma yang masih tetap memejamkan matanya.

" Saya sebagai Ayah dari Gading, ingin minta maaf atas kelakuan Gading yang sudah melampaui batas" Ungkap Fajar sendu.

Pak Zainal tersenyum kelat, ia melirik putrinya yang masih konsentrasi bersemedi.

" Apa Tuan tahu bagaimana perbuatan anak Tuan kepada putri jelita saya ? " Gumam Pak Zainal.

Fajar mengalihkan perhatiannya kepada Fatma. Rupanya gadis itu sudah membuka matanya. Ia menoleh, menatap tamunya satu persatu.

Gading menggerakkan jemarinya, seolah-olah ingin melakukan sesuatu. Fatma menarik sudut bibirnya.

" Kau hanya datang untuk mengantar nyawa "

Pak Zainal meniup asap dari pembakaran dupa, tiupan itu berubah menjadi angin kencang yang menghantam tubuh semua orang.

Udin mengangkat tangan nya, serta merta angin itu langsung berhenti.

" Kenapa? Kenapa tidak kau serang balik kami ?" Pak Zainal bertanya kepada Udin yang sama sekali tidak melakukan perlawanan.

" Dia tidak akan pernah menyerang kalian" Fajar menjawab pertanyaan tersebut.

Pak Zainal tersenyum miring, sekali lagi ia melakukan penyerangan. Tangan kirinya mengambil sebuah boneka fudo, lalu dengan menggunakan tangan kanannya ia mencekik boneka itu.

Gading kejang-kejang, kedua bola matanya membeliak ke atas.

" Kakak " Pekik Naya , Tania yang masih kesakitan di samping putrinya ikut panik.

Fajar yang tengah berlutut segera beringsut maju lalu bersujud mencium lantai.

" Tolong jangan sakiti anak kami" Pinta Fajar memohon. Disini ia berusaha menunjukkan ketulusan nya mengharapkan maaf dari Fatma dan sang Ayah.

Udin tentu tidak tinggal diam, ia merobek ujung pakaian Gading menjadi kain panjang. Lalu ia membuat ikatan simpul, kemudian digenggamnya erat tali tersebut.

Tak disangka ternyata Udin menyambung teluh yang dipakai untuk Gading kepada Fatma. Sehingga gadis itu merasakan apa yang Gading rasa.

Ia memegang lehernya disebabkan tercekik.

Pak Zainal sontak melepaskan cekikikan nya, Tubuh Gading yang kejang-kejang pun berangsur pulih. Begitu pula dengan Fatma, gadis itu menatap Udin dengan nyalang. Ia murka karena Udin lah yang membuat teluh Bapaknya justru menyerang dirinya.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

seru .. Fajar harus di kasih tau perbuatan Gading pada Fatimah

2024-11-09

0

V3

V3

Si Tania bukan nya mnta maaf malah marah-marah 🤦🤦

2024-06-11

0

Lutfi Sukarna

Lutfi Sukarna

Maaf ya, dua hari yang lalu lagi apes. Ibu jari saya ketusuk duri ikan kering. Jadi saat ngetik tuh sakit banget, padahal rencananya udah kontrak hari ini. Tapi?? Tuhan berkehendak lain.

2023-08-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!