Naya menarik tangan Udin pergi menepi saat semua keluarga menunggu Gading yang tengah ditangani oleh Dokter.
" Mas, apa yang kamu lakukan sama Kak Gading? " Naya menginterogasi Udin dengan penuh penekanan.
Si tersangka seperti biasa, bersikap cuek dan tidak perduli.
" Tanya sama peramal mu " Cetus Udin.
" Kenapa Mas nggak mau jawab sendiri? Hah? " Naya mulai emosi, karena setiap ia bertanya Udin menjawab untuk bertanya kepada Layla saja.
" Apa kamu akan percaya??"
Naya terpegun, Udin pergi begitu saja tanpa mau membahas panjang lebar masalah ini.
Layla mendekat, ia mengusap pundak sahabatnya itu.
" Nanti kita cari tahu apa yang terjadi dengan Kakak mu "
Naya mengangguk setuju, amarah nya mulai mereda.
Setelah ditindak lanjuti, Dokter menemui keluarga besar Idris yang sudah menunggu hampir dua jam di luar UGD.
Ia menjelaskan jika tidak ditemukan penyakit apapun dalam diri Gading, dan lebih anehnya lagi Gading saat ini mengalami Coma.
Tania shock, ia nyaris pingsan jika Fajar tidak sigap menangkap tubuh nya. Tania menangis meraung-raung, apalagi saat tubuh Gading sudah di dorong keluar untuk dipindahkan ke ruang ICU.
Sebagai seorang Ibu ia sangat terpukul melihat kondisi anaknya, mata Gading melotot, mulutnya menganga dan tidak bisa ditutup. Dari celah bibir keluar air liur berbau anyir.
Dokter memasang selang infus untuk memberikan nutrisi selama Gading Coma. Naya beberapa kali terlihat meraup wajahnya, ia frustasi melihat keadaan sang Kakak. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang? Sedangkan seluruh keluarga tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada Gading. Ini aneh sangat aneh.
Udin sendiri ragu, apakah sampai seperti ini akibat dari orang yang ketakutan akan dosanya sendiri ?
" Pa, sebaiknya Papa istirahat di rumah ya " Tukas Fajar menanggapi keadaan Idris yang sering kali batuk.
" Aku ingin menunggu Gading sadar" Idris menolak, ia sangat mencemaskan cucunya itu.
" Ayah, Kalau Ayah nanti sakit, keadaan akan bertambah buruk. Ayo, Caca temani Ayah pulang" Cahaya mendukung inisiatif adiknya untuk membawa Idris pulang.
" Makasih ya Kak, sebaiknya Pangeran dan Udin pun pulang saja. Biar kami yang menunggu Gading disini, nanti kita bisa gantian " Fajar menambahkan, Yang langsung disetujui oleh Cahaya.
Seperginya Cahaya, Pangeran As'ad, Udin dan Idris, Suster datang untuk memanggil Fajar serta istrinya. Ada hal yang perlu dibicarakan secara pribadi oleh Dokter diruangan nya.
Alhasil, kini di ruangan Gading dirawat hanya tersisa Naya dan Layla . Pada saat itu lah, Naya memerintahkan Layla untuk meramal apa yang terjadi kepada Gading.
Layla patuh, ia mulai menyentuh tangan Gading lalu memejamkan matanya.
Layla meringis saat melihat bagaimana bayi-bayi itu mengerumuni Gading? Tapi tiba-tiba dia melihat Udin datang, ia seperti memimpin para bayi-bayi itu.
Tapi tunggu, Layla merasa ada yang aneh. Itu bukan Udin, lalu siapa dia?
Penerawangan Layla terhenti di saat Udin keluar dan pintu tertutup. Karena hanya sampai disitu saja Gading melihat.
Layla ngos-ngosan, ia panik. Matanya bergerak liar.
" Lay, kenapa ? " Tanya Naya penasaran, ia menemukan wajah Layla memucat.
" Gue.. gue nggak tahu... Apa yang sebenarnya terjadi? "
" Maksud Lo apa ?"
" Kita bicarakan ini sama Udin, pasti ada yang salah disini "
" Tapi nggak mungkin kita ninggalin Kak Gading disini sendiri an " Naya mengalihkan pandangannya kepada Gading, rupanya saat itu Gading menggerakkan matanya melirik sang adik.
" Kakak... " Sontak Naya lebih mendekat lagi, ia sungguh senang karena Gading mampu menggerakkan bola matanya.
" Aku akan kasih tahu Dokter" Naya begitu bersemangat, tapi tangan Gading yang lemah menarik ujung kain baju sang adik.
Naya terhenyak, ia tidak tahu kenapa Kakaknya menarik kain bajunya?
" Sebaiknya Lo diem dulu Nay, Gading ingin Lo tetap disini" Ujar Layla .
" Benarkah? Kenapa? Kan Dokter harus tahu perkembangan Kak Gading " Naya bingung sendiri.
" Gue juga nggak tahu, tapi itu yang diinginkan oleh Gading "
Naya menatap sang Kakak lekat, bola mata Gading bergerak seolah-olah membenarkan ucapan Layla .
DI RUANG DOKTER\=^\=
" Pak,,, Bu,,, Kami sangat minta maaf sebelumnya jika analisa kami ada kekeliruan. Setelah kami periksa keadaan Pasien yang bernama Gading, secara keseluruhan, pasien sangat sehat. Tidak ditemukan apapun penyebab ia Coma. Tes darah pun sudah kami lakukan, dan semua nya normal "
Penjelasan Dokter membuat Tania dan Fajar saling berpandangan satu sama lain. Jika memang Gading tidak apa-apa, kenapa dia Coma?
Naya menoleh ke arah pintu saat ada orang yang masuk, ternyata itu adalah kedua orang tuanya.
" Gimana kata Dokter Pa? " Tanya Naya , Fajar menggeleng lemah. Ia berdiri di samping putrinya menatap sendu sang anak laki-lakinya.
" Apa kita pergi ke orang pintar aja Pa? " Usul Tania.
Naya mengerutkan keningnya.
" Memang nya Kak Gading kenapa Ma? Kok mau dibawa ke orang pintar? "
Tania mengusap punggung Naya , berusaha menenangkan nya.
" Nay, Mama tidak tahu gimana menjelaskan. Tapi tolong kamu jangan banyak bertanya dulu ya, Mama sama Papa pusing"
Naya akhirnya memilih diam,
" Kalau begitu, Naya pamit pulang dulu ya Ma, Pa... Besok Naya harus sekolah"
Fajar menjawab dengan anggukan kepala.
" Hati-hati di jalan ya Nay " Ucap Tania.
Naya dan Layla keluar dari rumah sakit, saat di perjalanan menuju tempat parkir. Tanpa sengaja Layla kesandung lalu menubruk seorang pengunjung wanita yang memakai masker.
Otomatis keduanya bersentuhan, Layla langsung mendapatkan gambaran tentang perempuan itu. Namun gambaran itu terputus karena si perempuan bermasker melepaskan tangan Layla seraya minta maaf dan Pergi.
" Lo nggak apa-apa Lay? " Tanya Naya , ia sedikit khawatir melihat Layla tertegun sesaat.
Layla menggeleng pelan, bayangan yang baru saja Layla dapat kan seperti mengingat pada sesuatu. Tapi Layla lupa apa itu?
" Lay, ayo... " Naya menarik tangan Layla untuk segera pergi" Kita harus menemui Udin sekarang juga, masalah ini kita harus bicarakan dengan nya "
Layla mengangguk setuju, keduanya segera meninggalkan area rumah sakit menuju kediaman keluarga Idris.
Setibanya di rumah, Naya tidak menemukan Udin. Di kamarnya sepi, Kujang pun tidak terlihat.
" Pergi kemana sih? Pasti dah kelayapan lagi, Ikh Mas Udin nih, dah tahu keadaan sekarang lagi urgent , malah keluyuran " Naya ngedumel sendiri.
Sedangkan Layla memperhatikan ke sekeliling kamar pribadi milik Udin. Auranya Membuat ia merinding.
Tiba-tiba Cahaya muncul dari balik pintu, ia menatap Naya dan Layla secara bergantian.
" Eh Tante, maaf Tante kami masuk ke kamar Mas Udin tanpa ijin. Kami sedang mencari Mas Udin Tante " Naya jadi salah tingkah mendapatkan tatapan yang menurut nya penuh kecurigaan.
" Kan bisa besok Nay, ini sudah hampir pagi loh. Cepat kembali ke kamar mu " Cahaya memang risih sekali jika ada yang bersikap kurang beretika seperti itu.
Naya mengangguk gugup, ia pun segera keluar dari kamar Udin di ikuti oleh Layla . Cahaya menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari luar.
" Tante harap kamu tidak mengulangi nya lagi " Cetus Cahaya memberikan peringatan.
" Baik Tante " Naya menundukkan kepalanya begitu mendalam, ia memperhatikan kepergian Cahaya dengan melihat bayangannya di lantai.
HHUUFFFFHHHH
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
neng ade
Emang sih terlalu lancang Naya masuk kamar Udin apalagi disaat Udin nya ga ada
2024-11-08
0
V3
Gading ktnya Koma , tp bola mata nya msh bergerak-gerak ,, dn tangan nya bisa narik baju Naya walaupun pelan ,, berarti kn itu bukan Koma nama nya ❓❓🤦
2024-06-11
0
Cut SNY@"GranyCUT"
Eh?!
2024-01-11
1