BAB 18

Naya dan Clara di mintai keterangan oleh kepolisian. Mereka juga menyita surat terakhir yang ditulis oleh Rose. Clara mendampingi Naya yang kembali menjadi seperti mayat hidup. Meskipun Clara sendiri menghadapi syok, tapi ia harus bisa kuat. Mungkin lebih tepatnya, memaksakan dirinya untuk kuat.

Pemakaman Rose hanya dihadiri oleh Madam Riya. Naya dan Clara tidak diizinkan untuk ikut. Meskipun Naya meronta-ronta ingin pergi.

Malam setelah kejadian itu, Naya tidak tinggal diam, semua wanita penghibur ia datangi untuk bertanya. Siapa dan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rose. Naya bahkan mengabaikan tamu yang sudah memesan dirinya. Naya selalu sengaja menumpahkan alkohol, atau sengaja memecahkan gelas agar tamunya jengkel. Dengan begitu, tamunya akan meminta dirinya untuk di ganti. Ia tidak peduli jika Madam Riya akan memukulnya nanti.

Sayangnya, hampir tidak ada yang tau apa yang terjadi, hingga Vicky menarik pergelangan tangan Naya dan membawanya ke sebuah ruangan kosong.

“Jangan seperti orang gila begini, Ly” Vicky mengusap air mata Naya yang jatuh. Lily adalah panggilan Vicky untuknya.

“Ada kabar dari polisi? Pelakunya bagaimana? Sudah ditangkap?” Mata Naya yang sembab melotot memaksa Vicky menjawabnya.

Vicky menghela napas melihat Naya yang seperti itu. “Ly, ini adalah bisnis kotor yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang tidak bisa di beli dengan uang. Termasuk hukum. Madam Riya tidak akan membiarkan pemasukannya terhenti hanya untuk penyelidikan. Kasusnya sudah ditutup, polisi menyimpulkan sebagai bunuh diri biasa.”

Air mata Naya terjatuh lagi. Ia diam membisu mendengar jawaban itu. Bibir mungil itu tersenyum kecut.

“Rose, dia baik-baik saja sebelumnya. Dia sudah mulai tersenyum dan tertawa lagi. Tapi saat aku menemukannya, wajah dan tubuhnya penuh luka dan lebam, sebenarnya apa yang terjadi dalam satu malam. Bunuh diri biasa? INI PEMBUNUHAN!”

Vicky membekap mulut Naya yang berteriak. Mereka akan dapat masalah kalau seseorang mendengar mereka. Napas Naya masih memburu tapi ia sudah sedikit tenang, Vicky menjauhkan tangannya.

“Lily, kendalikan dirimu.” Sorot mata Vicky berubah. Seperti sedikit jiwa maskulinnya keluar.

“Kau ingin tau siapa tamu terakhir Rose, kan? Kasih aku waktu sampai besok. Aku akan membantumu mencari tau. Oke?” Lanjutnya.

Naya mengangguk. Ia tau, Vicky bisa ia andalkan.

“Sekarang, perbaiki makeup-mu dan kembali layani tamu, ya. Aku tidak suka kalau ada anakku yang dihukum lagi.”

Bagi Vicky, semua wanita yang menerima nama darinya adalah anaknya. Seperti Naya, Rose juga seperti itu. Vicky mau membantunya karena Rose adalah ‘anak’nya juga.

Untuk sementara, Naya akan menunggu kabar dari Vicky. Jika ia gagal, Naya sendiri yang akan mencari tau, sekalipun menyelinap ke ruangan Madam Riya atau Mira.

Keesokan malamnya, Vicky benar-benar menghampiri Naya dan Clara di ruang tunggunya.

Vicky mengunci pintu terlebih dahulu, sebelum memberikan sebuah kertas untuk Naya dan Clara.

“Ini informasi tentang pelanggan terakhir Rose. Dia juga yang menjual Rose kepada Riya.”

Naya membaca sebuah informasi di sana. Nama bajingan itu beserta alamat dan kerjaannya.

“Lily sayang. Meskipun dengan informasi itu, kita tidak bisa apa-apa.”

Vicky benar. Naya meremas kertas di tangannya. Ia terduduk dengan lemas.

“Nay.” Clara memegang bahu Naya yang merosot. Tatapannya melemah.

Naya kembali membaca semua hal di sana. Otaknya berpikir dengan sangat keras. Apa yang bisa ia lakukan untuk menghukum bajingan keparat itu.

Tiba-tiba Naya terpikirkan sesuatu. Satu orang yang memiliki kuasa dan uang. Satu orang yang menjanjikannya kebebasan. Satu orang yang mengirim pesan akan kembali dalam waktu seminggu lagi. Noah.

“Jam berapa tamu pertamaku datang?” tanya Naya yang tiba-tiba berdiri.

“Seharusnya masih sejam lagi. Ada apa?” Vicky tiba-tiba cemas melihat wajah Naya yang penuh semangat.

“Aku akan kembali ke asrama. Tenang aku tidak akan terlambat.” Naya segera melepas sepatu heelsnya dan berlari ke arah belakang gedung. Melewati jembatan yang menghubungkanya dengan gedung asramanya. Setelah membuka kunci kamar, dengan tergesa-gera ia membuka laci, mengeluarkan ponsel yang hanya sesekali ia buka. Lalu menghubungi satu-satunya nomor di sana.

Naya hanya menunggu dua kali deringan sampai seseorang mengangkat teleponnya.

“Saya membutuhkan bantuan anda.” Naya tidak bisa berbasa-basi lagi.

“Tunggu.” Suara rendah khas pria itu terdengar berbicara dengan seseorang dengan kata-kata asing. Naya tidak yakin bahasa dari negara mana.

“Ada apa? Kau tidak apa-apa?” Suara itu terdengar khawatir.

“Maaf, karena saya menghubungi anda dengan tiba-tiba.” Naya harus tau diri. Ia harus meminta maaf dulu.

“Aku sedikit sakit hati karena kau mengingkari janjimu.”

Naya terdiam sebentar. Ia berpikir apakah Noah masih akan membantunya setelah ia mengabaikannya.

“Saya akan membalas kesalahanku untuk itu. Apa pun yang anda inginkan akan saya lakukan. Saya benar-benar membutuhkan bantuan anda.”

“Oke, aku akan menagihnya nanti. Katakan.”

Naya terdiam sejenak, rencananya tadi adalah meminta Noah memenjarakan pria tua dari sebuah desa kecil. Namun saat ia menoleh ke ranjang Rose yang sudah kosong. Dadanya bergejolak hebat, matanya memanas. Tanpa sadar mulutnya mengucapkan hal lain. “Apakah anda bisa membunuh seseorang?”

Noah tentu terkejut di sana. Tapi kemudian, jawaban dari Noah membuat Naya melengkungkan bibirnya dengan sempurna.

“Kirimkan nama dan alamatnya.”

...****************...

Terpopuler

Comments

El

El

huhu main bunuh-bunuhan 🥲

2023-10-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!