Satu bulan sebelumnya.
Kedua pasangan suami istri itu sedang memohon agar rumah mereka tidak di sita. Sedangkan ketiga preman yang sedang berdiri itu tidak menunjukkan belas kasihannya.
“Tuan, saya mohon. Jangan ambil rumah ini. Ini salah satu peninggalan mertua saya untuk kami,” lirih wanita di depannya yang sedang memeluk suaminya yang terluka.
Tiba-tiba bunyi deringan telepon terdengar, pria preman itu melihat nama yang tertera di sana dan segera mengangkatnya.
“Jika mereka tidak mau menyerahkan rumahnya, paksa istrinya untuk ikut kalian.” Suara bas di ujung telepon memerintah tegas.
“Baik bos.” Hanya itu balasan dari preman yang menerima perintah.
———
Mike Anderson, pria yang baru saja mematikan telepon itu, tersenyum senang. Pandangannya menerawang ke arah gedung-gedung tinggi lain dari jendela ruang kantornya. Akhirnya dendam dan sakit hatinya terhadap temannya sewaktu SMA sebentar lagi terbalas. Brian. Teman sekelasnya dulu, yang pernah mempermalukannya karena melapor atas kecurangannya sewaktu ujian sekolah.
Ayah Mike harus dipanggil ke sekolah dan menerima peringatan keras. Ayahnya, seorang pengusaha terpandang harus malu dengan apa yang dilakukan anaknya itu. Ia tidak bisa menghindar saat ayahnya melayangkan tongkat golf berkali-kali untuk memukulnya.
Sejak saat itu, ia bersumpah akan menghancurkan hidup Brian. Ternyata takdir berpihak padanya, saat Brian menghubunginya tentang masalah keuangan perusahaan yang baru ia rintis. Mike berhasil meyakinkan Brian menandatangani dokumen perjanjian yang sudah ia atur.
Mike tertawa nyaring. Semua berjalan mulus. Sangat mulus. Hari itu, terasa sangat menyenangkan untuknya.
Tiba-tiba, seorang wanita muda masuk ke ruangannya dengan hati-hati dan menunduk, mengambil alih perhatian pria itu. “Tuan. Anda sudah di tunggu di ruang rapat.”
Mike berbalik lalu menyuruh wanita cantik itu mendekat ke arahnya. Wanita itu ketakutan, tangannya ia remas dengan erat, kakinya seperti terkunci, tidak bisa bergerak. Mike yang menunggu wanita itu kehilangan kesabaran. Ia sendiri yang maju mendekati wanita itu lalu melayangkan tamparan keras.
Wanita itu meringis memegang pipinya.
“Lain kali, ketuk pintu sebelum kau masuk.”
“Saya sudah mengetuk, Tuan. Tapi tidak ada jawaban.”
“Bodoh!” Mike melayangkan tamparan lagi. Yang lebih keras. “Kau benar-benar merusak moodku.”
Mike lalu mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor yang sama. “Tutup mata wanita itu. Saya akan ke sana.”
Mike lalu menyimpan ponselnya ke saku jasnya dan melangkah keluar dari ruangannya, meninggalkan wanita yang masih menangis itu dan orang-orang yang menunggunya di ruang rapat.
———
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Mike dan Riya. Pintu mobil terbuka, menampilkan seorang wanita yang matanya sudah di tutup kain. Senyum Mike mengambang lebar. Mike tau siapa wanita itu. Naya, pacar Brian sewaktu sekolah. Seingatnya, ia tidak mempunyai masalah dengan Naya. Satu-satunya kesalahan Naya adalah menikahi orang yang menjadi musuhnya.
Saat melangkah keluar Naya terjatuh, dan Riya langsung melangkah cepat menampar preman yang sedang menuntun Naya.
Riya kembali menghampiri Mike setelah Naya di bawa masuk.
“Kau tidak mau mencicipinya dulu?”
Mike meludah. “Tidak akan pernah.”
Riya malah tertawa. “Terima kasih untuk mainan barumu.”
...----------------...
Sudah hampir dua minggu Naya bersikap sangat aneh. Ketika kerja ia menjadi lebih agresif dan ketika jam kerjanya selesai, ia akan kembali ke asrama dan tidur sampai menjelang sore. Clara dan Rose juga sudah kehabisan cara menghibur Naya.
Hingga suatu hari, Clara benar-benar kehabisan kesabarannya. Melihat Naya yang seperti mayat hidup sangat membuat hatinya ikut remuk.
“Sampai kapan kau akan seperti ini, Nay?!” bentak Clara saat melihat Naya membuka pintu kamar mereka dan bersiap untuk tidur.
“Aku lelah, Ra,” gumamnya sambil berbaring membelakangi Clara yang sudah berkacak pinggang.
“Tentu saja kau lelah. Kau berlari kesana kemari menggoda hampir semua tamu. Kau bahkan tidak keberatan lagi saat mereka meraba-raba tubuhmu dengan kurang ajar.”
“Kak Clara.” Rose menarik Clara untuk duduk, menenangkannya. Tapi Clara tidak bergeming.
Naya bangun dari tidurnya lalu melemparkan gelas kaca yang berada di atas nakasnya dengan kuat ke lantai. Rose tersentak kaget. Sementara Clara tidak bereaksi sama sekali.
“Kau ingin kau melakukan apa, hah? Aku pelacur. Mereka mengeluarkan uang untuk tubuhku. Kenapa kalau aku melayani mereka dengan baik? Kau iri karena aku mengambil semua pelangganmu?”
Clara tidak tahan, ia mendekat lalu melayangkan tamparan untuk Naya. Clara terpaksa. Untuk membuat Naya sadar.
“Kak!” Rose protes. Sementara Clara dan Naya sama-sama diam. Hening. Tiba-tiba bahu Naya bergetar.
“Suamiku selingkuh dengan sahabatku, dia hamil. Aku … tidak punya siapa-siapa lagi. Aku ingin mati, Ra. Aku ingin pergi.”
Air mata Clara mengalir deras. Akhirnya Naya mau mengatakannya. Ia menarik Naya dan memeluknya erat. Naya menangis dengan sangat pilu di pelukannya.
Naya memukul dadanya sendiri. Napasnya seperti sudah hampir habis, sementara jantungnya dipaksa untuk terus berdetak di tengah semua luka itu. Kakinya melemas, ia runtuh dan jatuh.
“Kau selalu bilang untuk bercerita ketika kami memiliki masalah. Tapi, kenapa kau menanggung semuanya sendiri, Nay.”
Naya masih terisak, begitu juga dengan Rose sambil memegang erat bahu Naya menyalurkan ketenangan.
“Aku harus bagaimana sekarang? Tidak ada yang menginginkanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Untuk apa aku harus hidup?”
“Naya. Kau harus hidup. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kelak, tapi aku mohon bertahanlah.” Clara mencoba menatap manik Naya. Membuatnya berjanji.
Naya tidak tau apakah harus berjanji seperti itu. Setiap detik dalam hidupnya terasa sangat menyakitkan.
“Naya.” Clara menangkup kedua pipi Naya, memaksanya. Ia tidak akan berhenti sampai Naya mau mengangguk.
Naya bisa melihat ketulusan di mata Clara, ia pun mengangguk kecil. Clara tersenyum puas lalu memeluk Naya kembali.
Kini hanya suara tangisan yang terdengar, hingga rasa sakit itu bisa mereda dengan sendirinya.
“Kau menamparku sangat keras,” protes Naya.
“Mau aku pukulin Kak Clara, Kak?”
“Oh, jadi sudah berani ya sekarang?”
“Ampun kak, nggak…nggak….”
Naya dan Clara tertawa melihat tingkah Rose yang bersembunyi di belakang Naya, dan Rose juga tertawa bersama mereka.
Di sela-sela tawanya, Naya meremas saku bajunya. Menggenggam sebuah benda yang berada di sana sejak tadi. Sebuah silet kecil yang harusnya ia gunakan malam ini untuk melukai pergelangan tangannya sendiri. Naya sudah memutuskan, untuk sementara, mungkin ia bisa tinggal lebih lama. Untuk bersama Clara dan Rose.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
rista_su
masih penasaran senyumnya si brijingan
2024-01-29
0