Trigger Warning!
Mohon bijak dalam membaca. Jika kalian tidak nyaman atau memiliki trauma dengan self harm, silahkan melewatkan bagian ini. Terima kasih. Author.
---
Setelah puas dengan tubuh Rose yang sudah dipenuhi luka lebam dihampir seluruh tubuh gadis itu, sang juragan memaksa Rose untuk mendengarkan kalimatnya.
“Tunggu aku, Sayang. Aku akan datang setiap malam untuk menikmatimu lagi. Oh, tidak. Bagaimana kalau aku membawamu kembali? Akan lebih nikmat jika bisa menikmati tubuhmu kapan saja.” Pria terkutuk itu tertawa keras sementara Rose hanya mendengarnya dengan tidak berdaya. Apakah ia akan kembali ke desa itu? Menjalani penyiksaan setiap hari? Rasanya Rose tidak sanggup lagi.
“Persiapkan barang-barangmu. Aku akan kembali besok malam,” ucapnya sambil memakai kembali pakaian dan celananya.
Suara pintu dibuka, lalu ditutup. Pria itu sudah meninggalkan Rose yang masih menatap langit-langit ruangan temaram. Air matanya sudah kering. Tidak ada yang tersisa lagi.
Rose mengingat apa satu alasan yang membuatnya ingin hidup sekarang. Kepalanya berputar-putar mencari alasan itu. Rose tersenyum lirih, ia menyadari, ia tidak punya alasan apa pun. Ia lalu menolehkan wajahnya ke atas meja kaca di sampingnya. Ia bangun dengan badan yang terasa sakit di semua bagiannya. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil gelas kaca, dan membantingnya dengan keras.
Salah satu pecahan yang memiliki ukuran yang tidak terlalu besar namun memiliki ujung yang tajam, ia pilih, sebagai alat untuk membuatnya melarikan diri dari takdirnya.
Dengan langkah kaki yang lemah, ia menuju kembali ke asramanya. Ia membuka pintu dengan perlahan, sudah ada Naya dan Clara yang terlelap. Matanya menatap sendu ke arah kakak-kakaknya itu. Untuk sesaat, ia merasa berharga. Untuk sesaat, ia merasa memiliki keluarga. Dan untuk sesaat juga, untuk pertama kalinya, ia merasa dicintai.
Air matanya luruh. Ia tidak ingin pergi. Ia ingin tinggal bersama mereka. Meskipun menjadi pelacur. Tapi, jika ia harus dipaksa tinggal di neraka bersama pria brengsek itu lagi, maka ia memilih tinggal di neraka yang sesungguhnya.
Rose berjalan ke arah meja, mengambil selembar kertas dan pulpen milik Clara. Menulis sebuah pesan singkat tentang perasaan terima kasih dan cintanya untuk kedua kakaknya itu. Ia meredam suara tangisannya dengan menutup mulutnya dengan kuat. Ia tidak ingin membangunkan mereka.
Tangannya gemetar saat melipat kertas itu. Ia tidak berbalik lagi, ia takut kehilangan keberaniannya. Setelah mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan air dari pancuran, ia duduk dengan lemas, menatap sekali lagi ke pecahan gelas yang sudah ia genggam. Rose menutup matanya bersamaan dengan goresan yang ia buat. Air matanya jatuh, tapi bibirnya melengkung indah. Akhirnya, ia bebas.
-----
Naya terusik oleh air yang jatuh di kamar mandi, masalahnya air itu terus mengalir selama hampir tiga puluh menit. Naya duduk di ranjangnya dan melihat ke ranjang Rose yang kosong. Naya mengusap wajahnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.
“Rose, nanti flu, Dek. Jangan kelamaan mandinya.” Tangan Naya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Tapi, tidak ada jawaban. Hanya gemercik air yang terus jatuh.
“Rose?” Naya mengetuk lagi.
Naya mulai merasa ada yang tidak beres. Benar saja, saat ia melihat sebuah kertas yang sudah dilipat rapi di atas meja, ia langsung meraihnya, lalu membaca kalimat pertama di sana. Kaki Naya melemas, ia langsung berlari lalu menabrakan lengannya ke pintu yang terkunci itu.
“ROSE!” teriak Naya dengan air mata yang sudah jatuh. Napasnya tercekat. Clara bangun dengan kaget.
“Nay, kenapa?”
“ROSE! PLEASE, KAKAK MOHON.” Naya berteriak dengan lirih. Ia masih menabrakan dirinya ke pintu yang tertutup rapat itu.
“NAYA!” Clara beranjak dan menahan Naya yang seperti kesetanan.
“Ra, Bantu buka pintunya.”
Clara sadar sesuatu terjadi saat melihat wajah panik Naya. “Oke, sama-sama. Satu … dua … tiga….”
Pintu berhasil terbuka. Tubuh mereka menegang, Naya berteriak dengan histeris. Clara dengan pandangan yang mengabur mencari sesuatu untuk menghentikan pendarahan itu. Diraihnya handuk, lalu menekan luka yang menganga bersamaan dengan aliran merah pekat yang menutupi lantai putih itu.
Karena teriakan keras Naya, beberapa wanita yang baru pulang menghampiri mereka di kamar. Hanya butuh beberapa menit hingga kamar Naya menjadi tontonan. Seorang wanita yang melihat apa yang terjadi, segera berlari mencari Madam Riya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
rista_su
dari begitu banyak novel disini. kebanyakan ceritanya pasti mirip". novel ini ga sengaja nemu, masih dikit kayaknya yg baca. tp berhasil bikin porak poranda yg baca..
2024-01-29
0
AR Althafunisa
😭😭😭😭😭😭😭😭
2023-10-24
0