BAB 17 (Bag. 1)

Suara tangisan dan teriakan memekik telinga. Derap langkah yang kian beradu dengan bunyi sirene membuat Naya tidak bisa berhenti histeris. Clara sendiri sibuk menutupi goresan panjang dari pergelangan tangan seorang gadis yang sudah menutup matanya.

Madam Riya dan beberapa petugas dari rumah sakit melakukan pertolongan sebisanya. Wajah sang gadis tidak menunjukkan reaksi apa pun. Sebelum tubuh dinginnya di angkat ke atas tandu dan wajahnya ditutupi kain putih. Naya dan Clara, hanya bisa saling berpelukan sambil menangis tersedu. Saling memberikan kekuatan untuk menguatkan satu sama lain.

---

Tiga jam sebelumnya.

“Kak Clara.” Rose menghampiri Clara yang baru saja mengantar tamu terakhirnya ke pintu keluar.

“Udah selesai?” tanya Clara sambil mengusap sayang rambut Rose.

“Belum kak. Ini tinggal satu tamu lagi.”

“Oke. Aku duluan ke kamar ya. Kamu dari sini langsung ke kamar.”

Rose tersenyum sambil mengangguk. Clara lalu berjalan melewati Rose yang juga menuju ke ruang tamunya menunggu.

Rose membuka pintu itu dengan senyum di wajahnya. Namun saat melihat siapa yang sudah ada di sana, wajah rose menegang. Laki-laki itu, bukan, pria brengsek itu tertawa lebar. Pria yang membuat Rose harus mengingat semua traumanya kembali. Rose mundur selangkah. Ia ingin keluar dari sana. Tapi, sial, kakinya terpaku.

“Halo, Sayang.” Pria itu berjalan mendekat.

“Ke-kenapa anda ke sini?” Rose menunduk takut. Ia mencubit keras pahanya sendiri. Menyadarkan kakinya untuk segera berlari.

“Karena aku kangen, Sayang.”

Tangan pria itu membelai lengan rose yang tidak tertutup. Sementara Rose menggigit bibirnya, air matanya sudah luruh jatuh.

“Jangan … menyentuhku, brengsek.” Dengan keberanian yang secuil, Rose mendorong pria itu. Tapi sayang, dorongan itu terlalu lemah untuk pria besar di depannya.

Tiba-tiba rambutnya di tarik kasar. “Kau hanya jala*ng kecil disini. Siapa kau berani memerintahku hah?” Pria itu mengeraskan kepalannya, lalu menarik Rose dan mendorongnya hingga jatuh ke atas sofa.

Rose terisak. Ia berteriak meminta tolong, sayang sekali suaranya teredam oleh ruangan yang memang di rancang untuk kedap suara.

“Siapa yang mengambil perawanmu? Kau pasti menyukainya, kan?” Pria itu menindih Rose yang sedang memberontak disela tangisannya.

“Aku minta maaf. Aku minta maaf… lepaskan aku…” lirihnya. Dengan segenap hatinya ia meminta belas kasih orang itu.

“Harusnya kau berterima kasih, karena aku membayarmu untuk ini.”

Rose masih mencoba menghindar saat ia dipaksa untuk mencium bibir laki-laki itu. Namun, saat dirinya ditampar dengan keras berkali-kali hingga sudut bibirnya berdarah, Rose akhirnya sadar, ia tidak akan pernah bisa lepas dari manusia sampah itu.

Kenangan tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia akhirnya berakhir di rumah pelacuran itu melayang-layang dipikirannya. Ia, menutup matanya. Saat pria itu sudah melepas tali pinggangnya dan melayangkannya untuk mencambuk gadis tidak berdaya di bawahnya. Baginya sebuah kesenangan dan kepuasan melihat seorang gadis lemah menjerit kesakitan. Seperti sebuah obat pemuas nafsunya.

Enam bulan sebelumnya. Desa Antasari.

“Bapak. kenapa aku, Pak?”

“Maaf, Nak. Kakak-kakakmu butuh uang, dan kami butuh makan. Tidak ada lagi yang tersisa.”

“Aku tidak mau. Aku tidak mau…,” Mawar histeris di bawah kaki bapaknya. Ia tidak ingin di bawa pergi oleh juragan tanah yang sudah menyiapkan uang sebagai pengganti dirinya.

“Mawar bisa cari uang, Pak. Mawar bisa ke kota dan menjadi pengemis di sana. Mawar akan lakukan apa saja, tapi Mawar mohon, jangan jual Mawar.”

Bapaknya tidak bersuara, meskipun sedikit hatinya merasa tidak tega harus menjual anak bungsunya itu. Tapi, apa pilihan lagi yang ia punya. Anaknya ada enam, sementara kebutuhan untuk makan dan sehari-hari tidak bisa ia penuhi lagi. Kebunnya gagal panen selama dua tahun. Barang-barang pentingnya sudah habis di jual. Sementara, anak-anaknya yang lain yang merantau ke kota, tidak ada yang bisa diharapkan. Mereka rata-rata hanya berpendidikan hanya sampai sekolah dasar.

Saat seorang juragan tanah datang menemuinya untuk meminta Mawar ikut dengannya, tentu saja sang Bapak menolak. Tapi ketika tawaran itu datang dengan sejumlah uang dengan jumlah besar. Bapaknya hanya berpikir sekali, untuk menyanggupi tawaran itu.

Mungkin sang Bapak akan dihakimi sebagai Ayah yang tega. Tapi, baginya yang sudah hidup dalam garis kemiskinan selama hidupnya, kesempatan untuk memiliki uang seratus juta tidak akan datang dua kali. Mengorbankan seorang anak, bukanlah hal yang sulit.

“Bawa!” perintah juragan berperut buncit dan berkumis tebal itu.

“Pak! Bapak!” pekik Mawar saat dirinya dipaksa masuk ke mobil.

Sementara bapaknya menyalami si tuan tanah dengan sebuah paper bag berwarna cokelat di tangannya.

Luruh sudah pertahanan Mawar. Ia hanya bisa melihat bapaknya untuk terakhir kali dari jendela mobil. Ia hanya menangis, tidak lagi berteriak atau memanggil-manggil sang Bapak. Ia pasrah. Sedari kecil, ia memang sudah tidak diharapkan. Gara-gara dirinya lahir, sang Ibu harus meninggal setelah persalinan. Setiap ulang tahunnya, sang Bapak akan mengungkit masalah kelahirannya yang membawa sial untuk istrinya.

Tidak ada kebahagian untuk Mawar sebelum dan sesudah meninggalkan rumah bapaknya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sang juragan memperlakukannya seperti budak. Kadang ia dipukul hingga pingsan, atau tidak diberi makan berhari-hari.

Anehnya, meskipun berkali-kali ia dilecehkan, tapi tidak pernah sampai si juragan tidur dengannya. Semua alasannya terungkap, saat Mawar mendengar percakapan dari sambungan telepon pria itu.

“Sudah siap … iya benar, masih perawan … hanya beberapa luka sedikit, bisa sembuh beberapa hari.”

Air mata Mawar jatuh. Takdir sangat kejam untuknya. Hingga suatu hari, ketika ia melihat peluang, dengan sedikit saja keberanian yang ia punya, ia berhasil kabur dari neraka itu.

Sekali lagi, takdir sangat kejam kepadanya. Di desa yang kecil, tidak ada yang tidak mengenal sang juragan. Apalagi sukarela menjadi musuhnya. Dengan kekuasaan dan uang yang ia punya, ia memiliki koneksi dan orang-orang yang menjadi mata dan telinganya. Naasnya, Mawar, hanya butuh lima jam untuk kembali ke nerakanya.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!